NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga & Kasih Sayang / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:244.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Pulang sekolah, Shela melangkahkan kakinya menuju ruang kesenian. Ini kedua kalinya dia datang ke ruangan ini setelah pulang sekolah. Seperti sebelumnya, Shela tidak terlalu berharap jika Dion akan menepati janjinya dan dia akan langsung pulang jika laki-laki itu tidak datang lebih dari lima belas menit.

Shela bukan orang yang memiliki kesabaran lebih, dan ia paling benci menunggu, apalagi menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sambil menunggu Dion, dia mendengarkan musik melalui earphone-nya. Banyak orang yang berlalu lalang di hadapannya, beberapa dari mereka melirik penasaran ke arah Shela. Setelah dia berubah, ia merasa menjadi pusat perhatian dan Shela membenci itu.

Tak lama seseorang menghampirinya, awalnya dia pikir itu adalah Dion nyatanya bukan. Shela menatap sinis Marvin yang berada di sampingnya, lalu ia kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel.

"Ngapain Lo di sini? Pulang nanti Dika marah kalau lo pulang telat," ujar Marvin.

Shela tidak menggubris ucapan Marvin, dia bersikap seolah-olah laki-laki itu tidak ada di sana. Marvin menatap Shela, dia tidak suka jika diabaikan seperti ini. Banyak perempuan yang berlomba-lomba mencari perhatiannya, termasuk Shela, tapi itu dulu sebelum gadis itu berubah menjadi dingin seperti sekarang.

"Kalau diajak ngobrol sama orang tuh respon," ujar Marvin berusaha mencari perhatian Shela.

Shela membuka earphone di telinganya, menatap dingin laki-laki itu. " Suka-suka gue," ujarnya lalu kembali memasang earphone-nya.

Marvin berdecak kesal, bisa-bisanya gadis itu mengabaikannya dan bersikap dingin seperti ini. Lihat saja, dia akan membuat gadis itu kembali bertekuk lutut padanya. Ia hendak pergi,namun urung begitu melihat seorang laki-laki menghampiri Shela, dia tau laki-laki itu, si ketua OSIS yang banyak di sukai oleh para gadis di sekolahnya dan ya Marvin menganggap laki-laki itu adalah saingannya.

Marvin tersenyum remeh, dia yang dulu di sukai Shela saja diacuhkan, apalagi ketua OSIS seperti Dion. Matanya membulat begitu melihat keduanya berbicara, meski masih memperlihatkan sisi dinginnya tapi mereka terlihat akrab.

"Jadi gimana? Di rumah gue ada beberapa gitar si, kalau lo mau," ujar Dion.

Shela menimang sebentar, selama dia bersekolah sekalipun gak pernah mengunjungi rumah teman-temannya, jika ada pekerjaan kelompok pasti mereka akan bertemu di suatu tempat ramai seperti kedai atau taman. Sekarang dia malah diajak untuk mengunjungi rumah orang lain yang notabennya bukan teman akrabnya dan dia adalah seorang laki-laki.

"Gue gak maksa si, kalau lo gak mau, gue mau balik sekarang. Mungkin kita bisa belajar lagi Minggu depan, karena mulai besok gue sibuk rapat OSIS."

Shela mendengus." Sok sibuk," gumamnya namun masih bisa didengar oleh Dion.

Laki-laki itu tersenyum kecil." Gue sibuk beneran,bukan sok sibuk."

Shela terkejut jika Dion mendengar gumannya, ia lalu kembali memasang wajah datar." Yaudah gue ikut, gak jauh kan?"

Dion menggeleng." Engga, paling lima belas menit dari sini."

Shela mengangguk lalu dia berjalan mengikuti Dion di belakang, begitu melewati Marvin, dari ekor matanya dia bisa melihat laki-laki itu menatapnya tajam.

Shela menatap risih orang-orang yang dia lewati, pasalnya sebagain besar dari mereka menatapnya. Shela memperlambat tempo langkahnya, membiarkan Dion berjalan agak jauh di depannya.

Menyadari Shela yang tertinggal jauh di belakang, Dion menghentikan langkahnya untuk menunggu gadis itu.

Dion berdecak." Buruan lama banget si!" Ujarnya.

Shela mendesis ia ikut mengentikan langkahnya, gadis itu merogoh ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.

Anda| Jalan duluan, gue nyusul. Gue risih diliat orang-orang gara-gara jalan bareng lo.

Dio menarik napasnya, begitu melihat pesan dari Shela. Laki-laki itu menghampiri Shela dan langsung menggandeng tangan gadis itu menuju ke parkiran. Tentu saja perlakuan Dion membuat orang-orang yang melihatnya terkejut.

"Lepasin, semua mata sedang menatap kita," bisik Shela dengan nada berbisik namun penuh ketegangan.

Dion, dengan sikap yang penuh keberanian, hanya menggeleng. "Biarkan saja. Memangnya kenapa? Mereka juga punya mata" ujarnya dengan acuh tak acuh.

Ketika keduanya mencapai area parkiran, Dion akhirnya melepaskan genggamannya. Shela menatap Dion dengan sorot mata tajam, penuh kekesalan. "Apa-apaan sih, Dion? Kita pasti akan jadi buah bibir di sekolah gara-gara ulah lo tadi!" sentaknya dengan suara yang meninggi. Dion hanya mendongakkan satu alisnya dengan tingkah laku yang menantang.

"Terus kenapa dengan itu?" tanyanya sambil tersenyum sinis.

"Masih bertanya? Lo gak merasa terganggu dengan menjadi topik pembicaraan di kalangan mereka?" balas Shela dengan nada meningkat.

Dion tertawa kecil, penuh dengan nada mengerdilkan. "Gak masalah. Lagipula, ingat masa-masa ketika lo masih menjadi si 'bad girl'? Lo juga tidak pernah peduli dengan omongan orang. Lantas, mengapa sekarang tiba-tiba lo mempermasalahkannya?" ujarnya, sambil tersenyum miring.

Shela terdiam sejenak, menyadari kebenaran dalam kata-kata Dion. Memang, ia dulu sering menjadi pusat perhatian dan bahan gosip karena perilakunya yang liar dan tak terkendali, namun ia tidak pernah menghiraukannya. "Iya, lo benar," sahutnya akhirnya dengan nada pasrah.

"Lagian buat apa mikirin omongan orang lain? Kita hidup bukan untuk orang lain. Cuek aja,kayak yang lo lakuin dulu." Dia kembali memandang Shela, kali ini dengan tatapan yang lebih tenang dan penuh pemahaman.

Keduanya berjalan bersama meninggalkan area parkiran, siap menghadapi dunia luar dengan cara mereka sendiri, tanpa beban pikiran tentang pandangan orang lain.

Shela merotasi matanya." Iya-iya."

"Tunggu si sini sebentar, gue mau ambil jalu dulu," ujar Dion.

"Jalu?"

"Sepeda gue." Dion melangkah meninggalkan Shela lalu tak lama dia kembali dengan sepeda miliknya.

"Dion, lo ke sekolah naik sepeda?" Dion mengangguk dengan bangga. Shela memperhatikan dengan raut keheranan.

"Kenapa, lo pikir gue norak ya karena ke sekolah cuma naik sepeda?"

Shela segera menggeleng, rona wajahnya mengungkapkan penasaran. "Bukan begitu, hanya terkesan saja. Sekarang jarang yang bawa sepeda kayak lo."

Dion tersenyum."Ya, menurut gue kita, para pelajar, seharusnya menghargai kesederhanaan. Naik sepeda, berjalan kaki, atau naik angkutan umum—itulah cara yang layak. Memang sih, membawa kendaraan pribadi gak ada salahnya, tapi di usia kita yang masih terlalu muda untuk memiliki SIM, kadang-kadang bisa jadi kurang bijaksana, sebagian dari mereka pasti bawa kendaraan itu seenaknya," jelas Dion, semangatnya terlihat jelas dalam sorot matanya.

"Pantesan lo jadi ketua OSIS," ujar Shela, kagum terhadap prinsip Dion.

"Kenapa?"tanya Dion.

"Hal sekecil itu aja lo pikirin,"jawab Shela.

Dion hanya tersenyum lebar. "Bagi gue, setiap detail kecil itu penting untuk dipertimbangkan, kecuali hal-hal seperti cinta dan kasih sayang."

"Gombal lo?" cibir Shela.

"Gak kok, gue hanya berusaha menyampaikan pendapat."

Shela mengangkat bahu, namun dalam hatinya dia merasa ada kekaguman yang mulai tumbuh, "Iya-iya," ujarnya dengan nada yang sudah tidak seserius tadi. Sebuah senyum tipis menghias bibirnya saat dia mengekor langkah Dion, mulai melihatnya dengan pandangan yang berbeda..

"Naik! Nanti keburu sore," titah Dion.

"Iya," Shela mulai menaiki bagain belakang sepeda Dion dan laki-laki itu mulai menggayuh sepedanya keluar area sekolah. Kedua tangan Shela memegang bahu Dion, tentu dalam situasi ini ia tidak mungkin tidak berpegangan sama sekali.

Shela tersenyum tipis, jadi begini rasanya di bonceng sepeda oleh seseorang. Seumur hidupnya dia selalu bermain sendiri, bahkan ketika dia mendapat sepeda pertamanya pun, mbok Inah yang mengajarkannya. Dia cukup berterima kasih karena laki-laki ini membuatnya bisa merasa rasanya dibonceng sepeda oleh seseorang.

Keduanya mulai memasuki sebuah perumahan, setelah mengitari beberapa blok, Dion menghentikan sepedanya di depan gerbang sebuah rumah dua tingkat dengan gaya minimalis. Meski urutan rumahnya tidak sebesar rumah Shela,namun halamannya cukup luas,belum lagi model rumah minimalis yang terlihat nyaman dan aesthetic.

Dilihat dari rumahnya pun Shela bisa menilai jika Dion merupakan orang berada, tapi dia memilih untuk menggunakan sepeda daripada kendaraan lain. Hal itu cukup membuatnya kagum.

Dion membuka gerbang rumahnya, dia mendorong sepedanya masuk kedalam diikuti dengan Shela di belakangnya. Laki-laki itu menyimpan sepedanya di pekarangan rumah.

Sesampainya di depan pintu rumah, Dion mempersilahkan Shela masuk. Ia semakin dibuat kagum begitu melihat interior rumah laki-laki itu. Benar-benar aesthetic, bahkan rumah mewah Shela saja kalah aesthetic dengan rumah laki-laki itu.

Saat tiba di depan rumah megah yang berdiri dengan gagahnya, Dion dengan sopan mengajak Shela masuk. Mata Shela terbelalak kagum menyaksikan setiap sudut interior rumah itu yang dipenuhi estetika tinggi, jauh melampaui keindahan rumah mewahnya sendiri.

"Lo mau belajar gitar di sini atau di kamar gue?" tanya Dion, penuh antusiasme.

"Di rumah ini nggak ada orang lain selain kita?" Shela balik bertanya dengan nada ragu.

"Gak ada, kakak gue pulang nanti setelah magrib, adik gue juga lagi main di luar," jawab Dion, berusaha meyakinkan.

Shela menatap Dion, mencari tanda-tanda ketulusan di wajahnya.

"Jangan khawatir, gue nggak akan berbuat macem-macem. Lagipula, gue gak mau jadi papah muda," kata Dion mencoba menjernihkan suasana dengan candaannya.

"Bisa aja, gak ada salahnya kan gue waspada," timpal Shela, tidak mudah untuk percaya begitu saja.

"Lo selalu berpikir negatif tentang gue ya. Padahal, gue ini anak baik-baik, pacaran saja belum pernah," keluh Dion.

"Gak nanya," balas Shela dengan nada datar, menunjukkan rasa tidak peduli.

Mendengar respons dingin Shela, Dion merasa geram, namun dia menahan rasa kesalnya.

"Yaudah, ayo ke kamar gue saja. Biar nanti lo bisa lihat sendiri bahwa gue serius nggak akan macem-macem," ajak Dion, menawarkan bukti langsung.

"Oke," jawab Shela singkat, akhirnya mengikuti Dion menuju ruangan pribadinya, masih dengan setumpuk keraguan yang bersarang di benaknya.

Keduanya berjalan menuju anak tangga, hingga Dion membawanya ke sebuah ruangan yang dia yakini adalah kamar laki-laki itu. Shela berdecak kagum, ternyata kamar laki-laki itu cukup luas. Jika dipikir lagi, rumah Dion seperti menipu karena jika dilihat dari luar terlihat kecil padahal di dalam cukup luas.

"Liat-liat dulu aja, kalau udah kita belajar di balkon, biar tetangga gak curiga. Gue mau kebawah dulu bentar."

1
Risma Yanti
Dika kamu harus sengsara seperti yg adikmu rasakan.
Risma Yanti
😭😭😭😭
Fitrian
ciiiihhhh 😤
kan lo yang mendorong shella sampe jatuh😤😤
dasar otak kudanilll🤮🤮🤮🤮🤮💩
nesiew fatt
secret admire regan
Elin Argotince
sangat menarik cerita mengumpulkan sejumlah perasaan yang tergambar jelas di dalam novel ini ada rasa marah, sedih, kecewa, bahagia namun di sisi lain saya mengambil saya satu pembelajaran dari Shela dia sangat kuat, dewasa, dalam menjalani kehidupannya yang di bilang masih SMA bagaimana ia mengambil keputusan sampai pada dia memaafkan orang- orang yang terus membuatnya kecewa, dan pada saat dunia menyebutnya pembunuh
Jirokiyouka
Yang mau ngajarin siapa coba, orang di gak dipeduliin
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
falea sezi
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
falea sezi
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
falea sezi
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
falea sezi
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
falea sezi
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!