kehadiran dosen baru di kampus key, membuat key frustasi. mengutuk, mencaci dosen tersebut menjadi kebiasaannya dan menyantet adalah pilihan terakhir yang sedang key pertimbangkan.
SEASON 2 !!! di gabungkan, baca di sini!!
jangan lupa jadikan favorite, like, comment and vote..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deby Widiastuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
spesial arka 3.
Arka mencoba memperlihatkan raut wajah tak sukanya. " KEYSA !! APA-APAAN INI??" Teriak arka. Arka mencoba mulai terlihat muak dengan kerusuhan yang aji buat, ia juga jadi terbawa jengah dengan situasi di mana key selalu membuatnya gemas. Pusing, frustasi, marah, dan hampir gila. “ kenapa gue jadi emosi beneran sih??” tanya arka ketika ia melihat ekspresi key yang berubah semakin sendu.
Adiknya tiba-tiba melihat ke arah arka tak enak, raut wajahnya terlihat marah.
" Eh kok bapak teriak-teriak ke kakak saya?" pertanyaan itu sontak membuat arka terkejut. “ kenapa jadi gue yang
di marahin?” batin arka.
"Jangan macem-macem ya pak, key ini Kaka saya !!" adiknya merasa tak terima dengan tingkah arka yang berteriak ke arah kakaknya.
“ waduhh, bisa nggak di restuin nih..” gumamnya.
Arka mencoba melanjutkan apayang seharusnya ia lakukan, berwibawa dan tegas. " Kamu ini udah asal masuk kelas saya, sekarang kamu marah-marah ke saya? Wah kakak adik sama aja ya kelakuannya !!" kalimat arka sedikit menghentakan hatinya, arka tiba-tiba di hujat dengan perasaan tak enak saat ia melihat raut wajah key.
Key akhirnya memberanikan diri berdiri dan keluar dari barisan kursi , ia menggenggam tangan aji. “ ji please pulang, gue lagi nggak mood berdebat...”
" lu kenapa pergi nggak izin ke gue sih, Eh eh bentar, lu pucet banget. Ya ampun lu sakit ya gara-gara nggak makan dari kemarin ? Key maafin gue key.. gue bisa di jadiin sate sama ayah, kalo ayah tau lu sakit.."
Arka yang mendengar dna melihat adegan kakak beradik yang saling menyayangi ini hanya bisa mengelus dadanya mencoba untuk sabar. Kali ini ia kembali di buat malau dan tak punya wibawa sebgai dosen di mata para mahasiswinya.
“ ya ampun kok gue jadi semakin nggak ada wibawanya gini ya...”
" Key pulang aja yuk key, kita ke dokter !!" lanjut aji. Key dan aji kini bahkan mengabaikan tatapan kesal dari arka. Dunia berasa milik mereka berdua kali ini.
" Ji balik sanah, lu bikin malu gue aja ya ampun.." suara key semakin pelan. Naya ikut berdiri dan mendekatkan diri pada dua manusia yang sedang berdebat kecil itu. “ ji mending lu pulang sanah buruan, key bisa dapet masalah lagi ji..” sahut naya.
“ tapi key sakit nay, liat deh pucet banget dia...” sahut aji.
Arka kembali ke mejanya, ia jadi merasa muak beneran melihat tingkah key yang semakin tidak mengahargai dan menghormatinya. “ bodo mata dah mau dia sakit atau apalah itu...” gerutunya.
Arka mulai mengangkat tangannya mengusap-usap dahinya, rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun. Setiap berada di kelas key, key selalu saja berulah. Membuat darahnya mendidih dan otaknya terbakar. " Kelas hari ini, selesai sampai di sini saja. Terimakasih !!" Ucap arka kesal menatap kedua manusia yang tak berdosa itu.
Aji dan key sontak menengok ke arah arka. " Tuh key udah kelar, buru balik yu..."
" Ambil tas lu.." aji mulai tak memperdulikan arka yang sebagai dosen, ia kini khawatir dengan kakaknya itu.
Key masih terdiam, aji akhirnya berjalan ke arah kursi yang key duduki untuk mengambil tas key. Naya, reza dan bryan meliriknya penuh tanda tanya ke arah aji.
Arka yang sedari tadi memperhatikan mahasiwi yang selalu berhasil membuatnya malu dan tak berwibawa itu meliriknya sadis. Baru saja kemarin lusa ia di buat tersenyum tak jelas saat melihat foto gadis itu tertidur dan hari ini ia kembali di buat kesal, marah dan geram oleh gadis yang sa,ma.
Key yang merasa di tatap oleh sang dosen, akhirnya berjalan mendekati arka. Wajahnya terus menunduk " pak .. saya minta maaf atas kerusuhan yang terjadi.."
Arka sudah mulai malas memaafkan tingkah ajaib gadis di depannya itu.
" Pak saya mohon maaf telah mengganggu kelas bapak .."
" Kamu i-..." arka yang akan membuka suara di buat kembali mengatup.
" Mohon maaf saya potong pak, besok key akan menghadap bapak . Untuk sekarang saya akan bawa key pulang dulu, bapak bisa liat muka jelek Kaka saya yang semakin jelek karena wajahnya pucet dan raut wajahnya nggak enak sama sekali di pandang. Jadi saya izin, bawa dia pulang ya pak.."
Arka menatapnya datar, sinis, tajam dan penuh dengan tanda tanya lainnya. “ sekali lagi saya
mohon maaf dengan kerusuhan yang saya buat, saya sangat menghormati anda pak arka..” sahut aji sembari menundukan kepalanya pelan. Aji langsung membawa key keluar kelas sembari di gandeng. “ ya allah dua manusia macam apa sih mereka? Kok bisa-bisanya mereka buat gue pengen ngarungin mereka terus gue buang ke parangtriis...” batin arka.
**
Arka mengggarukan kepalanya berkali-kali saat harus berurusan dengan gadis mungil yang belakangan ini selalu membuatnya geram. “ ya tuhan kenapa gue selalu kelimpungan ngehadapin satu manusia mungil bernama keysa ini?” gerutunya.
“ kenapa chat gue nggak ada satupun di bales sih? Gue dosen dia loh !! tapi kok dia nggak ada takut-takutnya gitu loh sama gue? Ya tuhan berasa nggak ada wibawanya gue.” Keluh arka lagi di depan meja kerjanya sembari menekan-nekan layar ponselnya yang terkunci.
“ bisa-bisa gue mati muda ..” lanjutnya.
Sasa yang memperhatikannya sejak tadi hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dengan berkomat-kamit mengomentari tingkah kakaknya yang mulai terserang bucin.
“ tuh handphone di pantengin mulu, nunggu chat siapa sih??” tanya sasa yang mengejutkan arka. Arka segera meletakan handpone berwarna silver itu di meja.
“ rena atau key ?” pertanyaan itu sontak membuat arka semakin gelagapan.
‘” apaan sih? Kenapa bawa-bawa key? Lu dari kapan sih di sini sa?” tanya arka dengan mata sinisnya.
“ dari tadi, dari lo ngoceh sendiri nggak jelas..” jawab sasa santai tanpa perduli dengan tatapan sadis dari kakaknya yang memang sudah anggap biasa saja olehnya.
Arka semakin menganga. “ lu nggak sopan banget sih !!”
“ key yang katanya nggak sopan aja lu masih mikirin dia Kok..” sahut sasa mencoba mencari alasan.
“ apaan sih..”
“ lu demen kan sama si key?” pertanyaan sasa mmembuat arka yang baru saja akan membuka laptopnya terhenti. “ ck, apaan sih. Bocah nggak usah ikut campur deh. Sanah tidurr..”
“ inget lu udah punya tunangan, kalo emang lu nggak serius sama rena berhenti aja gih, gue tau kok lu nggak suka sama si rena.” Sasa mengabaikan usiran arka. Ia kini terduduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja arka. “ tingkah lu aja udah keliatan kali waktu key datang ke sini..” lanjut sasa. “ mana ada dosen yang perhatian gitu
sama mahasiswinya..” perkataan sasa sontak membuat arka semakin terperangkap oleh pertanyaan-pertanyaan yang semakin memburunya. Setelah sekian detik arka teridam, ia menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan semua pertanyaan yang mengiang di otaknya.
“ lu lagi nyoba ngusir sebuah pertanyaan dan fakta kan?” suara sasa membuat arka melotot ke arahnya. “ masuk kamar sa !!” titahnya.
“ key cantik kok, gue suka sama sikap dia yang jujur bahkan terlalu jujur..” sahut sasa lagi.
“ dia itu bukan jujur, tapi kurang ajar !!” ujar arka sembari memainkan kursinya ke kanan dan kiri.
“ yang bikin gue bingung kenapa ya dia tuh ke elu nggak ada gitu raut wajah memujanya? Nggak kayak cewek- cewek yang berkeliaran di sekitar lu yang lain. Heran aja gue..” tanya sasa dengan tangan yang di jadikan tumpuan dagunya.
“ ya karena mata dia itu nggak normal..” jawab arka melempar bolpoin yang ia baru saja ia genggam.
“ tapi lu suka kan?” arka hanya bisa terdiam, ia sendiri masih di buat bingung dengan hatinya.
“ bang arka masih bingung kan? Nggak usah bingung nyari jawaban. Tengok aja sikap bang arka ke dia gimana? Gimana cara bang arka mandang dia? Di situ bang arka pasti nemuin jawab yang tepat.” Ujar sasa sembari menyenderkan bahunya.
“ lu nggak usah nyoba nyeramahin gue deh, kayak lu ngerti aja urusan beginian. Lagian sikap gue ke dia masih sama, gue masih sering marahin dia, teriak-teriak dan cerewet ke dia. ” Arka mencoba memfokuskan dirinya pada layar laptop di depannya.
“ ya ngerti lah, susah ya bucin kalo di ceramahin ! nggak ngaruh..” sasa cemberut karena kakaknya selalu meremehkannya untuk hal ini.
“ dia cewek tengil yang berhasil bikin gue selalu geleng-geleng kepala, geram, kesal, dan sakit kepalanya. Tapi yang bikin gue heran, tingkah konyol dia itu bikin gue jadi ketawa dan senyum-senyum nggak jelas.” Gerutu arka sembari membuka handphone yang berisikan foto gadis itu yang sudah ia punya beberapa bulan yang lalu.
Arka yang sedang fokus pada ponselnya mulai kembali mengembangkan sudut bibirnya, sasa yang melihat arka bertingkah semakin tak waras menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“ mending lu jujur aja deh sama key, dari pada lu makin nggak waras karena mandengin foto dia yang lagi tidur terus..” sahut sasa yang membuka mata arka berpindah.
“ bisa-bisa gue di ketawain sama dia lah, liat aja kelakuannya yang ajaib . gue aja nggak bisa ngebayangin nasib gue gimana kalo dia tau gue suka sama dia,..” sahut arka dengan mengacak-ngacak rambutnya kesal saat teringat tingkah menyebalkan dari sosok yang sedang ia bicarakan.
“ nohhh tuh lu ngakui kalo lu suka sama dia!!” ujar sasa sembari menahan tawanya.
“ itu contoh sa !!” arka semakin jengkel karena adiknya terus menerus menyudutkannya.
“ lah contoh gimana sih??”
“ orang yang jatuh cinta itu harus punya dua ruang. Yang pertama itu Ruang untuk cinta dan yang ke
dua itu ruang untuk jatuh. Jadi lu nggak usah takut sama jawaban yang bakal lu denger, karena jatuh cinta itu beresiko. Kalo emang nggak mau jatuh ya jangan demen sama anak orang bang. Sesimple itu sebenernya. ” Jawaban sasa membuat alis arka bertautan.
“ eh lu kok pinter sih ngomongin beginian? Lu kuliah materinya beginian ya? Terus gue juga belum berada di titik gue mencintainya. Gue belum sejauh itu sa.” ujar arka.
“ ya kagak lah, ini tuh pengetahuan umum bang..”
“ pengetahuan umum apanya? Lu pikir sejarah umum indonesia apa !!” arka semakin kesal karena kalimat-kalimat sasa membuatnya semkain tersudut dna merasa takut.
“ bentar napa gue belum selesai ngoceh. Lu belum di titik di mana lu mencintainya? Lu hanya sebatas suka? Kagum atau lu cuman mau buat dia jatuh di saat lu nggak pernah jatuh ?”
“ lu ngomong apaan sih? Jatuh? Mana ada yang mau jatuh!!”
“ ih maksud gue jatuh cinta bang..” pembicaraan mereka semakin lama semakin asyik dan arka
perlahan mulai terbuka pada adiknya sasa.
“ gue nggak mau jatuh sa, gue mau bangun. Kita sama-sama bangun, bukan sama-sama jatuh dan berakhir patah..”
“ widihhhh gila, omongan orang yang lagi kasmaran mah beda ya..” ujar sasa sembari tertawa.
“ giliran gue serius, malah di anggap bercanda...” sahut arka jadi cuek.
“ bang mau tau nggak? Cara mencintai paling romantis?”
“ apaan?” tanya arka terlihat penasaran.
“ mendoakannya...” jawab sasa sembari memperlihatkan barisan gigi rapihnya.
“ wihh gila, nggak kuat gue dengernya..” yang di jawab oleh arka dengan sudut bibir yang terangkat.
“ gue serius bang, doain dia di tengah malam...”
“ tengah malam? Mau ngapain? Jadi babi ngepet?” ujar arka bercanda.
“ dasar dodol, sholat lah !! maksud gue sepertiga malam. ”
“ iya-iya bercanda kali..”
Arka kembali pada raut wajah serius.“ masalahnya gini loh, dia itu mahasiswi gue sa..” arka mulai
sedikit terbuka. Ia juga sudah mulai geram dengan perasaan aneh terhadap mahasiswinya itu. Ia ingin segera mengakhiri kegelisahan yang membuat dia sulit tidur.
“ lah emang kenapa kalo dia mahasiswi lu? Lu kan belum nikah. Terus lu juga nggak ngelakuin hal negative. Dosen itu cuman profesi lu bang..” ujar sasa.
Arka terfokus pada dinding- dinding putih yang kosong. “ ya emang sih, tapi gue taku itu jadi
masalah besar buat key..”
“ jalanin aja dulu bang, belum mulai udah takut aja. payah banget sih lu bang..” sahut sasa yang merasa kesal melihat tingkah kakaknya yang menjadi pesimis.
“ lu ngomong enak sih, karena lu nggak ada di posisi gue sa..”
“ ihh bang ya karena dari itu. Di coba !! mulai dulu dari hal kecil, contoh ya. Lu bersikap manis ke dia, jangan sewot terus kerjaannya. Terus muji dia, nah dari situ gue yakin key mulai luluh. Cewek itu gampang baper bang...”
“ masa? Key kayaknya bukan tipikal cewek baperan deh.”
“ percaya sama gue !!” ujar sasa penuh percaya diri. “ pertanyaan terakhir dari gue bang, lu pernah cemburu enggak liat dia bareng cowok?” tanya sasa yang membuat arka langsung bungkam.
Setelah terdiam beberapa saat arka mengelengkan kepalanya beberpa kali, “ pokoknya gue nggak bisa bersikap manis sama dia key, tingkah dia itu loh hampir selalu buat otakgue mendidih. Lagian ngapain gue harus cemburu? dia jalan sama cowok atau makan berduan juga gue nggak perduli” sahut arka sembari menggelengkan
kepalanya.
“ gue sih nggak percaya kalo lu nggak pernah cemburu tapi yaudah lah ya terserah. Emang susah ya kalo harus nasehatin orang yang keras kepala, gue cuman mau lu segera mutusin siapa orangnya. Inget ya ada rena di hidup lu.”
“ gue kan udah bilang gue nggak pernah anggap rena itu lebih !!”
“ bang jangan egois dong, kalo rena engga lu anggap ya kasih kepastian lah. Jangan buat dia berharap sama lu bang !!” ujar sasa kesal yang langsung beranjak dari sofanya. Lalu melangkahkan pergi dari ruangan arka.
Arka kini semakin di buat pusing dengan urusan dua manusia yang sebenarnya bukan siapa-siapa dia, tapi berhasil buat arka pusing dan sakit kepala.