Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Tarik Ulur
Entah kenapa, Sheril merasa begitu hampa akhir-akhir ini. Ia tidak tahu, apa karena kedua orangtuanya yang sudah bercerai atau karena Arion yang akhir-akhir ini menghindarinya. Semenjak pertanyaan Sheril di bandara saat kepulangannya dari kota Yogyakarta, Sheril merasa bahwa Arion terus menghindari dirinya.
Ah, Sheril jadi takut untuk menanyakan mengenai status hubungan mereka. Tapi Sheril memang sangat butuh kepastian dari Arion.
Selama ini hubungan mereka itu apa?
Memikirkannya saja, sudah ingin membuat Sheril garuk-garuk kepala.
"Arion!"
Langkah kaki Sheril semakin cepat menyusul Arion menuju lapangan basket, kabarnya, beberapa bulan lagi Arion sebagai tim basket tahun ajaran ini akan membawa timnya menuju lomba basket tingkat Jabodetabek.
Padahal Sheril sangat yakin jika suaranya cukup keras untuk memanggil Arion dengan jarak lima meter. Ralat, sangat keras hingga orang yang sedang diam di koridor saja telinganya sampai pengang mendengar suara cempreng milik Sheril.
Bukannya menoleh ke belakang, justru Arion berjalan semakin cepat meninggalkan Sheril.
"ARION!" Sheril meninggikan suaranya, tapi Arion tidak menghiraukannya.
"Si jamal emang ya minta gue yasinin," gerutu Sheril kemudian segera berlari kecil mengejar Arion.
"Sheril!" Langkah kaki Sheril otomatis berhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.
"APA LO MANGGIL-MANGGIL GUE? PULANG LO!" Balas Sheril kelewat galak.
"Galak amat buset. Ikut gue sebentar, gue mau ngomong sama lo," tanpa izin, Rivano langsung menarik tangan Sheril.
Terkejut karena tangannya di pegang tiba-tiba, Sheril melototkan matanya, memasang tatapan galak.
"GAK USAH PEGANG-PEGANG! LEPAS!" Sheril berusaha melepaskan cekalan tangan Rivano, namun lelaki itu terlalu kencang mencekalnya.
"LEPAS *****!" Semakin kuat Sheril menarik tangannya dari genggaman Rivano, semakin kuat juga tangan Rivano mencekal tangan Sheril.
"Makannya ngomong dulu sama gue sebentar, baru gue lepas. Kalau lo gak mau ngomong sama gue, sampai ganti presiden juga gak bakal gue lepas," ancam Rivano.
Tak heran jika Rivano berkelakuan seperti ini, sudah satu jam lewat sejak bel pulang sekolah berbunyi, sekolah sudah sepi dan hanya tersisa anak basket saja.
Namanya juga murid teladan. Telat datang pulang duluan.
Sheril membuka mulutnya, hendak berkata kasar sebagai bentuk pemberontakkan. Sebelum Sheril mengatakannya, Rivano sudah jatuh dengan satu tendangan.
Dengan tatapan ngeri, Sheril menoleh ke samping untuk melihat pelaku yang menendang Rivano hingga jatuh terlentang seperti itu.
"Arion?" Sheril menaikkan kedua alisnya, bingung kenapa Arion bisa ada di sini sebab ia kira Arion sudah berada di lapangan basket sejak tadi.
Arion tidak melirik Sheril sedikitpun, tatapannya terfokus kepada Rivano yang berada di lantai. Merasa tak terima mendapat tendangan, Rivano segera bangkit, hendak membalsnya. Tetapi sebelum kepalan tangan Rivano sampai di pipi Arion, Rivano sudah kembali jatuh dengan tendangan kaki Arion yang panjang.
Melihat kejadian Rivano jatuh tersungkur, membuat Sheril harus menahan diri agar tidak tertawa saat ini juga.
"If you touch her, I'll kill you." Ancam Arion, sorot matanya begitu serius mengartikan bahwa ia sedang tidak bercanda.
Setelah memberikan tendangan terakhir, Arion menarik tangan Sheril dan pergi menuju lapangan basket. Arion tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk memberi peringatan kepada orang yang sudah mengganggu Sheril.
"Arion!" Sheril berjalan cepat berusaha menyesuaikan langkah kaki Arion yang begitu lebar.
Arion mendorong bahu Sheril pelan, memberi isyarat agar Sheril duduk di bangku tribun penonton. Sheril menatap Arion penuh tanda tanya, sikap Arion yang tanpa kata-kata membuat Sheril bingung bukan kepalang.
"Jangan pergi kemana-mana, duduk di sini, nanti gue anterin pulang," Arion menatap lekat iris mata cokelat Sheril.
Sebelum Sheril menjawab, Arion langsung berlari ke tengah lapangan dan langsung memulai latihan karena sejak tadi anggota timnya menunggu kedatangan sang kapten untuk memulai latihan.
Sheril masih terdiam kaku di tribun, kelakuan dan kata-kata Arion memang sangat di luar nalar Sheril. Semuanya begitu mengejutkan. Arion abu-abu, tidak jelas, tidak terkira namun selalu berhasil mengejutkan Sheril dengan berbagai macam tingkah laku atau kata-kata yang di ucapkan.
Mau sampai kapan hubungan mereka tarik ulur tanpa kepastian?
🌞🌞🌞
"Sheril, wake up!" Arion mengguncangkan bahu Sheril agar segera terbangun.
Jika terlalu lama menunggu dan terlalu lama kebosanan, Sheril akan lebih cepat mengantuk. Benar saja, latihan basket Arion sampai jam 7 malam sementara bel pulang sekolah pukul 3 sore. Baru satu jam menunggu, Sheril sudah tertidur di tribun penonton dengan tas sebagai bantalan.
Tanpa Sheril tahu, Arion sudah menghubungi Dewi sebelum latihan jika Sheril akan pulang telat. Dewi mengizinkan saja dengan syarat Sheril harus tetap dalam pengawasan. Setelah satu tahun berteman dekat dengan Sheril, akhirnya Dewi mempercayai Sheril kepada Arion.
"Sheril, wake up!" Arion menepuk-nepuk pelan pipi Sheril.
Perlahan Sheril membuka matanya, ia terkejut ketika membuka mata, tatapannya langsung bertubrukan dengan tatapan Arion. Sadar jika posisi mereka terlalu dekat, Sheril mengubah posisinya menjadi duduk tegak.
Sheril masih belum berbicara apa-apa selagi mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Arion berjongkok di depan Sheril, kemudian menepuk punggungnya sendiri, memberi isyarat.
Mata Sheril menyapu area lapangan, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sini selain mereka berdua dan hari sudah gelap. Teringat sesuatu, Sheril melototkan matanya.
"Nyokap gue! Gue belum kabarin nyokap gue kalau gue pulang telat. Aduh, hp gue abis batre lagi, gembel. Yon, pinjem hp, Yon. Mau telpon emak," Sheril mengguncang-guncangkan bahu Arion dari belakang.
"Gue udah telfon nyokap lo. Ayo cepetan, nanti makin malam." Arion kembali menepuk punggungnya sendiri.
Sheril tersenyum sendiri, setelah menggendong tasnya ia segera mengaitkan kedua tangannya di leher Arion dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Arion. Kemudian, Arion membawa Sheril pergi menuju parkiran sekolah.
Ternyata hubungan tanpa status seperti ini tidak terlalu buruk jika tidak terus-terusan membahas tentang status hubungan mereka.
🌞🌞🌞
Sheril mengernyit ketika Arion membelokkan motor berlawanan arah rumahnya. Ia kira, Arion akan langsung mengantarkannya pulang karena hari semakin malam.
Just for your information, Arion tidak mempunyai mobil selama ini. Mobil yang ia gunakan sesekali hanyalah mobil sewaan saja.
Meskipun terheran-heran, Sheril tetap diam saja, tidak bertanya Arion hendak membawanya pergi kemana. Senyuman Sheril terbit ketika Arion memarkirkan motornya di salah satu restauran ternama.
Fix, sudah pasti inimah Arion ngajak kencan!
Sheril hanya senyam-senyum sendiri seraya mengikuti langkah kaki Arion membawanya pergi ke tempat duduk yang akan mereka tempati selama di restauran. Tapi senyuman Sheril luntur seketika saat Arion mengeluarkan buku dari tas dan meletakkannya di atas meja.
"Lo ngapain ngeluarin buku?" Perasaan Sheril mulai tak enak setelah duduk di kursi makan.
"Belajar?" Arion menjawabnya dengan nada bertanya.
"Hah?" Sheril menganga, tak menyangka jika Arion akan tetap mengajaknya belajar walau suasananya begitu pas untuk berkencan.
"Gak salah lo ngajak gue belajar di tempat sebagus ini?"
Sheril tidak pernah mengerti dengan jalan pikir Arion. Mereka sudah pergi ke restauran ternama yang Sheril tidak pernah kunjungi sebelumnya, dan Arion masih mengajaknya belajar di tempat romantis seperti ini.
"Emangnya kenapa?" Balas Arion tanpa ekspresi setelah meletakkannya buku di atas meja.
Sheril memasang tatapan memohon kepada Arion, menatap Arion lekat-lekat lalu menggeleng kepalanya dengan gerakan pelan namun tegas. Memberi kode bahwa Sheril sama sekali tidak ingin belajar malam ini, terutama di tempat sebagus dan instagramable ini.
Arion menaikkan alisnya sebelah dengan ekspresi datar.
"Yon," tatapan Sheril semakin memelas.
"Sheril." balas Arion dengan nada tegas, seperti ayah yang sedang memberi larangan kepada anaknya.
"Iyon," bujuk Sheril dengan nada manja sambil mengercutkan bibirnya.
"Arion, gak usah belajar dulu ya malam ini," Sheril menangkupkan kedua telapak tangannya, sebagai tanda memohon.
"No." Tolak Arion tegas.
Sheril mengerjap-ngerjapkan matanya. "Martinez Arion Williams, please,"
Setelah menatap Sheril cukup lama secara lekat-lekat, akhirnya Arion menghela napas panjang. Artinya, malam ini Arion mengalah kepada Sheril.
"Fine," Arion kembali memasukkan bukunya ke dalam tas membuat Sheril bersorak gembira.
"Yes! Lo traktiran? Pasti dong, orang sekaya elo gak boleh pelit ngeluarin uang karena udah kebanyakan uang," tanpa menunggu izin Arion, Sheril mengangkat tangannya memanggil pelayan.
Di saat seperti ini, Sheril sangat menyayangkan kekurangan dirinya yang selalu makan sedikit karena semua makanan di menu terlihat sangat lezat. Sebenarnya bukan alasan cantik Sheril sering menyamakan dirinya dengan Kendall Jenner, melainkan karena tubuhnya yang sama-sama kurus seperti model seksi ternama tersebut.
Meskipun dari perkataan Sheril terkadang tidak tahu diri, tapi Sheril juga cukup tahu diri ketika beraksi. Ia hanya memesan makanan secukupnya saja tidak berlebihan, begitu juga dengan Arion.
Awalnya pelayan itu sedikit terkejut karena ada murid yang masih menggunakan rok abu-abu makan di restauran berbintang Jakarta. Jelas saja, Arion masih menggunakan baju basketnya karena itu tidak membuat Arion merasa kegerahan.
Sejak turun dari motor, Arion dan Sheril sudah menjadi pusat perhatian karena menggunakan seragam ke restauran bintang Jakarta. Orang seperti Arion begitu terbuka pikirannya dan tidak ingin mengurus privasi orang lain. Sheril juga menjadi ikut terbawa berpemikiran seperti Arion.
Setelah menunggu selama sepuluh menit di temani celotehan Sheril yang tidak berhenti, akhirnya Sheril berhenti berceloteh bersamaan dengan datangnya pesanan mereka.
Sheril makan dengan lahap. Hidangan mahal, restauran berbintang, dan di temani oleh pujaan hati.
Nikmat mana yang kau dustakan.
Berbeda dengan Sheril yang sedang menyantap makanannya sambil senyam-senyum sendiri, sementara Arion terlihat biasa saja tanpa berekspresi yang berlebihan.
"Sheril," panggil Arion secara tiba-tiba membuat Sheril menjadi terkejut sendiri.
Sheril tersedak dan terbatuk-batuk, refleks, Arion langsung meletakkan alat makannya lalu mengubah posisinya menjadi di sebelah Sheril. Menepuk pelan punggung Sheril dan memberi pijatan lembut. Di lain sisi, Sheril hampir terlena dengan perlakuan Arion.
"Are you okay?"
Sheril hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Sheril kira Arion akan segera kembali ke tempat duduknya setelah Sheril sudah merasa baikkan. Tanpa Sheril duga, Arion malah mengusap rambut Sheril dengan sayang.
"Sheril, I wanna tell you something," ujar Arion pelan, sorot matanya terlihat sangat putus asa sekaligus ragu hendak memberitahu Sheril yang sebenarnya atau tidak sama sekali.
"Kenapa Yon? Lo ada masalah?" Sheril menjadi khawatir sendiri.
Arion tersenyum tipis, "honestly-"
Perkataan Arion terhenti ketika ponselnya berdering. Ternyata panggilan masuk dari Jonathan Williams, jika di ingat sudah hampir satu tahun Arion tidak bertukar kabar dengan ayahnya.
"Wait a minute," setelah meminta Sheril untuk menunggunya, Arion mengangkat panggilan tersebut dan pergi ke area yang sepi di restauran.
"Martin, I think you and your sister can come back to Manhattan less ini 2 years. Things have improved. I will finish it as soon as possible."
Tubuh Arion menegang mendengar perkataan Jonathan. Seandainya Jonathan mengatakan hal ini satu tahun yang lalu pasti Arion akan senang. Tapi kondisi sudah berbeda, Arion tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan 'sampai jumpa' kepada Sheril dalam waktu kurang dari dua tahun.
Tanpa status saja hubungan Arion dan Sheril sudah begitu rumit, jika kemarin tarik ulur hanya untuk memastikan perasaan masing-masing, sekarang tarik ulur karena keadaan yang memaksakan.
Sejak mengenal sosok Sheril lebih dekat, Arion tidak pernah terpikir untuk mengucapkan 'sampai jumpa' kepada Sheril.
Apa yang harus ia lakukan?
udh nunggu lama bgt 😭