Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan yang tertunda
Perlahan Amel menggerakkan tangannya, lalu ia mulai membukakan mata, mengedarkan ke segala arah dan menangkap sosok pria yang ia cintai sedang terbaring di sebelahnya. Selain itu, di sisi lain ia melihat Melisa sedang tidur dengan Raka di sofa. Hatinya bingung, haruskah ia bahagia atau benci dengan semua yang telah terjadi. Tiba-tiba lelehan air mata mengalir di pipinya. Semua bayangan buruk datang menghampirinya. Tuhan sedang menguji hatiku, batinnya tak kala merasa rapuh dengan semua ini.
Melisa mengerjap, lalu membuka mata. Ia langsung kaget saat melihat Raka tidur di sampingnnya. Ia segera bangkit dan menjauh darinya. Pandangannya tidak sengaja melihat Amel sedang menangis, ia pun menghampirinya.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanyanya dengan suara lembut. Amel tersentak kaget dan buru-buru menghapus air matanya.
“Ceritakan sama Mommy, apa yang kamu rasakan? Kenapa kamu bisa menangis?”
“Gak ada kok. Amel gak nangis,” jawabnya berbohong.
Melisa tersenyum kecil saat anaknya tak berani menatap wajahnya ketika sedang berbohong. “Mommy tau kalau anak Mommy tidak pernah bisa berbohong.”
Amel meliriknya dengan wajah lesu. “Mommy tidur di sini dulu,” pinta Amel seraya meringset memberi tempat untuk Melisa. Melisa tersenyum dan mengikutinya. “Ada apa? Ceritakan saja sama Mommy,” ujarnya kembali.
“Hiks ... hiks ....” Seketika Amel memeluk Melisa dan menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan Mommy, Nak. Mommy sangat berdosa padamu. Mommy tau kamu sangat terpukul atas kesalahan yang telah Mommy lakukan padamu. Jika saja Mommy bisa jujur padamu, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Tapi Mommy terlanjur terluka hingga lidah Mommy kelu untuk menceritakan semuanya padamu.”
Melisa membelainya seraya menahan air mata.
“Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, Nak,” lirih Melisa.
“Maafkan aku, Mom. Seharusnya aku tidak membuat Mommy khawatir,” lirihnya menyesal.
“Semuanya sudah terjadi. Tidak ada kata penyesalan. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan kalian.”
Amel melepaskan pelukannya dan menatap wajah Melisa dengan serius. “Boleh Amel tanyakan sesuatu sama Mommy?”
“Tentu. Kamu mau tanya apa?” tanya Melisa sambil menghapus air mata yang ada di pipi Amel.
“Kenapa Mommy bisa pisahkan aku dengan Kiano?” Pertanyaan Amel seketika membuat Melisa tergeming.
“Mommy, kenapa diam?”
Melisa menelan salivanya dan menatap Amel dengan serius. “Sebaiknya kamu jangan memikirkan itu dulu. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan kamu.”
“Baiklah. Tapi Mommy harus janji, ketika kami sembuh, Mommy harus jelaskan semuanya tanpa ada yang Mommy tutup-tutupi lagi dari kami.”
Melisa kembali tertegun dan bingung dengan permintaan anaknya itu. Satu sisi ia ingin menceritakan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman. Tapi satu sisi lainnya ia tidak ingin mengorek luka yang hampir saja berhasil ia kuburkan dalam-dalam.
“Mommy!”
“Iya, Nak. Kamu tenang saja,” jawab Melisa tersenyum.
“Oh ya, ini masih malam, sebaiknya kamu lanjut tidur lagi,” timpanya. Amel menganggukkan kepala lalu memejamkan matanya. Dengan belaian lembut sang ibu mengantarkan Amel kembali tidur.
“Amel ....” Suara lirih Amel terdengar dari mulut Kiano. Melisa dengan segera bangun dan menghampirinya. Mata terpejam dan bibir bergerak-gerak memanggil nama Amel.
“Kiano ...” panggil Melisa membelainya dengan penuh kehangatan.
Perlahan matanya mulai terbuka dan melihat wajah Melisa yang tesenyum dengan penuh keikhlasan.
“Amel dimana?” Itulah kalimat yang pertama yang terucap dengan nada panik.
“Sttt ... pelankan suaramu. Dia sedang tidur di sana,” ujar Melisa menunjukkan brankar yang ada di sebelahnya.
Kiano langsung menoleh dan tersenyum, namun itu tak bertahan lama, raut wajah kini berubah gelap dengan tatapan penuh dosa.
“Ada apa?” tanya Melisa lembut.
“Apa dia belum sadarkan diri?”
Amel tersenyum. “Adikmu sudah sadar. Baru saja dia kembali tidur.”
Kata adik langsung membuat Kiano menatap wajah Amel dengan sangat serius. “Kenapa dia harus menjadi adikku?” tanyanya kesal.
Melisa dapat merasakan apa yang saat ini dirasakan anaknya sulungnya itu. Cinta, sebuah rasa yang menghantarkan pada keegoisan dan rasa ingin memiliki meskipun hanya sebuah harapan yang bersifat semu.
Melisa merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Ia mulai membuka semua album foto kenangan yang tersimpan rapi tanpa dibuka kecuali rasa rindu melanda.
“Lihatlah ini! ... ini foto kamu dan Kiara ketika masih bayi,” ucap Melisa menunjukkan slide foto pada Kiano.
Kiano memperhatikannya dengan saksama. Sebuah foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Kenapa Tante memiliki fotoku? Dan kenapa aku belum pernah melihat ini sebelumnya?” Pertanyaan demi pertanyaan terus telontarkan pada bibirnya dengan penuh kebingungan.
Hati Melisa kembali sakit saat mendengar tidak ada satu orangpun yang memberitahu statusnya sebagai ibu kandung Kiano. Memang sudah tercampakkan, dan posisinya sudah tidak ada lagi, bahkan mungkin kepergiaannya dulu bukan suatu kesalahan.
“Mommy ... ibu kandungmu, Nak. Ibu yang telah melahirkanmu,” lirih Melisa terlihat air mata lolos dari sela bulu mata lentiknya itu.
Kiano semakin bingung dan pikirannya sudah menimbulkan banyak kalimat tanya yang ingin ia tanyakan pada semua orang. Seakan ia ingin mengusut tuntas semua misteri ini.
“Aww ...” jeritnya memegang kepala.
“Nak, kenapa?” tanya Melisa panik.
“Kepalaku sakit,” jawabnya suara berat.
“Kamu tunggu di sini, Mommy panggilkan dokter,” ucapnya hendak pergi.
“Tidak usah.” Kiano menahannya. “Aku hanya butuh istirahat,” sambungnya lagi.
“Baiklah. Jika ada sesuatu yang kamu rasakan, kasih tau Mommy.” Kiano menganggukkan kepala.
...****************...
Tak ingin berlama-lama, kini Mera sudah tiba di rumah sakit dengan membawakan sarapan untuk ibunya. Dengan tatapan sinis, ia langsung melewati Raka tanpa ada sepatah kata tegur sapa.
Raka terus berusaha melakukan pendekatan meskipun banyak sekali penolakan. Tapi ia tetap positif thinking. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
“Mommy, aku mau makan itu,” ucap Amel menatap rantang di tangan Mera.
“Ini untuk Mommy. Kakak masih sakit, jadi makan aja bubur,” sahut Mera spontan.
“Tapi aku mau makan itu. Kayaknya enak,” rengek Amel.
“Sekarang sebaiknya kamu makan bubur dulu. Kalau sudah sembuh, nanti Mommy masak masakan kesukaan kamu,” ujar Melisa menengahi.
“Mommy tau kan aku paling gak suka makan bubur, apalagi yang ada di rumah sakit.”
“Kalau dia gak mau makan, sini aku saja yang makan semuanya. Biar sekalian dia kelaparan,” timpa Kiano melirik Amel.
“Dasar rakus.”
“Sudah-sudah, jangan pada bertengkar. Sini Mommy yang suapi kalian berdua,” ucap Melisa menengahi. Ia mengambil bubur dan mulai menyuapi anak-anaknya.
Kehangatan terjadi pada sebuah keluarga yang sudah lengkap. Raka pun tersenyum bahagia. Sebuah harapan yang dulu bersemayam dalam sanubarinya kini tercurahkan.
Dari kaca pintu terlihat Marisa sedang memperhatikan mereka. Ia langsung mundur alon-alon bersama dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')