NovelToon NovelToon
[RDY'S#1] LAA TAHZAN!

[RDY'S#1] LAA TAHZAN!

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Badboy / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: sugiatiidhln

[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]

[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]

[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]



Kisah tentang;


"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."

@Annisa Az-Zahra

Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?


Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.



®picturebypinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25. Perasaan Farhan

#FARHAN POV

Gue keluar dari kelas Zahra setelah Zahra memutuskan untuk ikut bersama Verrel. Di perjalanan gue ngeliat Verrel ngunci pergerakan Zahra, gue emosi, gue ingin melangkah mendekati mereka, ingin memberi adik gue sendiri satu pukulan yang belum pernah di rasakannya. Tapi...

"AHAHAHAHA ... PARAH! EKSPRESI LO LUCU BANGET PEN!!"

"Brengsek," umpat gue saat mendengar tawa Verrel. Gue ngeliat Zahra yang menatap Verrel dengan tatapan yang tidak bisa gue artikan, dan rona merah di wajah Zahra. "Argh, apa Zahra suka sama adik gue sendiri?"

"Ayolah Han, Zahra cuman siswi baru di sini, lo nggak seharusnya suka sama dia." Gue bermonolog sendiri. Gue masih tidak habis pikir kenapa gue bisa suka sama Zahra, bahkan saat pertama kali melihat gadis itu. Dia beda, lucu dan pastinya sangat polos membuat para laki-laki yang dekat dengannya serasa tidak ingin jauh. Mungkin laki-laki itu termasuk gue, bisa di bilang gue terlalu cepat.

Gue ingin pergi dari tempat gue berdiri sekarang, tapi gue nggak bisa.

Dada gue sesak, melihat keakraban mereka berdua. Verrel setelah kepergian Auryn dia jarang sekali tertawa bahkan ini pertama kalinya gue ngeliat Verrel tertawa.

Gue masih setia memandangi mereka, bahkan gue ngerasa orang yang paling bodoh dengan mudahnya jatuh hati dengan seorang gadis seperti Zahra tanpa mengetahui resikonya terlebih dahulu. Dan ini resikonya perasaan sesak, sakit, yang belum pernah gue rasain sebelumnya.

"Argghh!! Gue nggak boleh kayak gini, sadar Han! sadar!"

Dan tanpa gue sadari ternyata siswa-siswi lain yang mendengar keributan itu mulai keluar dari kelasnya.

Saat Verrel melempar sepatu Zahra, gue ingin membantu Zahra, gue ingin menyudahi adegan dramatis ini, gue nggak terima akan perlakuan Verrel. Gue nggak bisa diam begini terus, gue ingin Zahra tahu kalo gue suka sama dia. Bahkan sejak pertama kali gue ketemu dia, dan gue yang seharusnya ada disamping dia bukan Verrel. tapi seseorang mencekal tangan gue hingga langkah gue terhenti.

"Lo ngapain sih Dy?" tanya gue pada orang itu yang ternyata Audy.

"Lo mau ngapain?" Suara Audy terdengar seperti orang yang sedang kesal di pendengaran gue, tapi gue nggak peduli gue juga nggak tau alasan Audy sekesal ini.

Gue lepas cekalan tangan Audy dari pergelangan tangan gue. Gue bisa rasain tangan tuh anak dingin banget, kayak es. Gue tau Audy orangnya dingin, cuek dan susah bergaul tapi lagi-lagi sikapnya beda dengan Zahra. Gadis itu benar-benar ...

"Lo nggak boleh ngehentiin mereka. Lo gak liat anak-anak di sini? Bisa-bisa mereka tau kalo lo suka sama Zahra, trus gue nggak mau Zahra kenapa-napa. Lo tau sendiri kan fans-fans lo itu gimana? Dan lo taukan kalo lo selama ini ngejaga banget image lo? Lo mau ngehancurin itu semua? Farhan gue tau apa yang lo rasain!"

Benar!

Semua yang di ucapkan Audy benar, tapi gue juga pengen kayak Verrel yang bebas, nggak di kekang dan di batasi oleh kata image. Dan gue sempat bingung darimana Audy tau kalo gue suka sama Zahra. Apa sikap gue benar-benar jelas menggambarkan? Tapi kalo iya, kenapa Zahra tidak tahu? Kenapa malah Audy yang tahu. Mungkin Audy cuman nebak asal-asalan. Pikir gue.

"Gue nggak suka sama Zahra, ngaco lo Dy. Dan gue pengen kesana karena sebagai ketua osis gue pengen aja ngelaksain tugas gue. Verrel udah memancing keributan dan liat anak-anak pada keluar kan?" Alibi gue dengan kekehan hambar berusaha menutupi perasaan sesak gue, dan gue harap Audy percaya dan nggak mikir aneh-aneh.

Audy tersenyum kecut, apa dia tau gue berbohong?

Gue mengalihkan pandangan gue, menatap fokus kepada dua orang yang sekarang tengah jadi pusat perhatian.

Apa mereka berdua tidak sadar?

"Sial," umpat gue dalam hati, dan yah! Gue nggak tahan dengan adegan ini. Gue memutuskan untuk pergi ke kelas gue, setidaknya untuk menenangkan fikiran dan hati gue yang kian kacau.

Saat bel pulang sekolah berbunyi gue ke kelas Zahra ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Tapi hanya Audy, Daniel dan Deon, dengan dua tas tak berpenghuni yang gue dapati.

"Dy, Zahra mana?" tanya gue to the point, gue bisa liat perubahan ekspresi Daniel dan Deon, bahkan Audy, persetan dengan itu gue cuman mau ketemu dengan Zahra.

Bisa di bilang gue egois, gue nggak tau gue kenapa. Apa ini efek negatif yang gue dapatkan setelah jatuh hati untuk pertama kalinya? Kalo tau begitu, gue nggak bakalan buka hati gue.

"Zahra nggak balik ke kelas setelah kejadian di lapangan," jawab Audy.

"Lagian ngapain po nyari-nyari Zahra?" Kali ini Deon yang menyahut.

"Bukan urusan lo!" Balas gue.

"Ck ... Udah. Nggak usah di cariin, Zahra aman kok sama Verrel," decak Daniel.

Gue beralih mandang Audy yang saat itu masih ngeliat ke arah gue. "Dy ... Gue boleh minta nomor Zahra nggak?" tanya gue hati-hati.

"Buat apa Han? Eh Kak Farhan?" ralat Audy.

"Gue punya tugas OSIS untuk Zahra," alibi gue, dan gue yakin Audy percaya karena memang Zahra adalah wakil ketua osis, dan gue berhak nyariin dia dengan alasan itu.

Audy nampak berfikir, setelah itu menggelengkan kepalanya membuat gue berkerut bingung. Apa Audy tidak punya nomor Zahra?

"Maaf kak, tapi Audy nggak punya nomor Zahra," jawab Audy.

"Ya udah nggak papa."

Gue milih melenggang pergi saat itu juga. Gue pengen nenangin fikiran gue yang kabut, gue benar-benar nggak tau efeknya bikin gue se-lebay ini. Gue bukan Farhan sekarang, Bukan!

####

"Assalamu'alaikum ... Verrel Lo di mana hagh?" teriak gue saat mulai memasuki rumah. Mama gue yang tengah bersantai pun menghampiri gue yang sudah bersiap-siap melangkah menaiki tangga.

"Wa'alaikumsalam ... Farhan kenapa kamu teriak-teriak nak? Ada apa dengan adik kamu Verrel?" tanya mama gue dengan nada keibuannya.

Gue tersenyum tipis setelah itu mencium puncak kepala mama, gue nggak ingin mama gue tau tentang apa yang gue rasain saat ini. Apalagi ini berhubungan dengan Verrel yang tentu akan membuat masalah kecil kian membesar.

"Nggak kok ma ... Farhan cari Verrel karena tuh anak bolos lagi," jawab gue dengan jujur. Memang benar kan Verrel bolos? dan yang gue bingungin ngapain Verrel bolos malah ngajak Zahra.

Gue berniat ngelanjutin langkah gue naik tangga tapi lagi-lagi langkah gue terhenti.

"Farhan, Kamu ikut papa yah ketemu dengan sahabat karib papa," Suara bass milik papa membuat gue mengalihkan pandangan, menatap papa yang berdiri tidak jauh di dekat sofa ruang keluarga.

"Nggak pa. Farhan capek mau istirahat. Kenapa nggak Verrel aja?" tolak gue berharap papa nggak tersinggung.

"Kamu aja nak, papa nggak mau ngajak orang selain kamu," jawab papa.

"Ya udah pa, Farhan siap-siap dulu," ucapku pasrah memilih mengalah.

Gue nggak ingin papa dan mama gue curiga, gue juga nggak ingin membuat hubungan gue dengan papa renggang cuman karena gue nolak nemenin papa ketemu dengan sahabat karibnya. Gue udah sering ngelakuin itu, pergi bersama papa menghadiri acara-acara formal, rapat di kantor, dan masih banyak hal formal lainnya. Tapi gue juga sama dengan pemuda SMA di luar sana, ingin bebas dan menikmati masa remaja sebelum memasuki masa dewasa yang penuh dengan keseriusan. Dan gue ngerasain hal itu sebelum waktunya.

####

Di perjalanan, gue dan papa sesekali tertawa mendengar ucapan-ucapan papa tentang karyawan kantornya yang aneh.

Saat ini gue sempet berfikir, ini adalah hal yang belum pernah Verrel rasain dari dulu hingga sekarang. Gue cukup beruntung dengan hal ini, apa Verrel berniat melakukan hal yang sama dengan gue melalui Zahra?

"Apa kamu tau nak, cleaning servis papa yang baru, dia membuat sekretaris papa jatuh, Hahahaha dan apa kamu tau apa yang buat papa ketawa waktu itu?" tanya papa sambil menatap jalanan di depan. Gue yang duduk di dekat papa pun menggeleng sebagai jawaban pertanyaan papa.

"Farhan nggak tau emang kenapa?"

"Saat itu sekretaris papa makai rok di atas lutut dan papa liat ... Dalamannya warna merah, Hahahaha" Papa tertawa, benar-benar tertawa. Gue hanya tersenyum mendengar penuturan papa. Hingga mobil yang papa kendarai berhenti di sebuah restoran mewah, mungkin restoran ini milik sahabat karib papa.

Gue dan papa turun berjalan beriringan dengan wajah berwibawa. Gue bisa liat perubahan ekspresi para penghuni restoran lainnya. Papa tersenyum tipis membalas tatap-tatapan itu, benar-benar berwibawa. Gue pun melakukan hal yang sama, gue pengen yang terbaik untuk papa gue.

"Silahkan tuan Radeya," ucap papa, mempersilahkan gue duduk di dekatnya.

Gue terkekeh mendengar penuturan papa. "Papa nih ada-ada aja."

"Pa ... sahabat karib papa kali ini yang mana sih?" tanya gue saat papa memainkan ponselnya.

Papa menyimpan ponselnya dan menatap gue dengan tatapan hangatnya." Ada, dan dia juga punya anak mungkin seumuran dengan Verrel beda satu tahun sama kamu," ucap papa menjelaskan. Gue hanya mengangguk kecil.

"Farhan kamu udah punya pacar?" tanya papa tiba-tiba.

Gue yang meminum jus melon yang gue pesan pun tersedak.

Uhukk! uhuukk!

"Kamu kaget berarti papa benar dong," ujar papa percaya diri.

Gue tersenyum tipis dan menggeleng menolak pernyataan papa, gue nggak mau pacaran kecuali dengan Zahra. Kalo pun Zahra nggak mau sama gue, gue bakalan nunggu sampai Zahra nerima gue.

"Ceritain dong, pacar kamu gimana? Cantik? Dari keluarga mana? Kenalin sama papa dan mama," pinta papa beruntun.

Gue terkekeh mendengar pertanyaan-pertanyaan papa.

"Bukan pacar sih pa, tapi Farhan suka sama dia, cantik? Iya pa sangat cantik, manis, polos, dan Farhan juga belum terlalu kenal sama dia Pa soalnya dia siswi baru di skolah, dia beda dari yang lainnya," ucap gue jujur nan tulus. Membayangkan hari pertama gue ketemu dengan Zahra, dan saat-saat dimana perasaan gue mulai beda saat bersama dengan Zahra.

Papa gue tersenyum dan sekarang giliran papa yang mulai menceritakan kejadian-kejadian aneh di kantornya lagi. Sesekali gue tertawa menghilangkan beban dan sakit hati gue hari ini. Tapi hal itu tidak berlangsung lama saat suara gebrakan meja, membuat gue dan papa terkejut.

Benar-benar terkejut!

"GUE BILANG NGGK USAH DI LIATIN, LO BUDEG HAGH?!!"

"Verrel!!?!" kaget gue dan papa bersamaan.

####

#AUTHOR POV

Farhan dan Martin melangkah mendekati Verrel yang sekarang tengah jadi pusat perhatian. Pandangan Farhan jatuh pada gadis yang menunduk takut itu, berbeda dengan Martin tatapan hangatnya kini kian berubah menjadi tatapan tajam. Melangkah dengan kedua tangan terkepal.

"VERREL.!!!! APA-APAAN KAMU, KAMU MAU BUAT PAPA MALU IYA ?" sarkas pria parubaya itu. Menatap Verrel yang berdiri dengan raut datarnya.

Verrel berusaha tenang, ini resiko yang iya dapat akibat tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Berbeda dengan Farhan yang berusaha menahan dirinya agar tidak terlihat khawatir di depan Zahra. Farhan tidak ingin papanya mengetahui bahwa Zahra lah gadis yang ia sukai, ini waktu yang tidak tepat. Sangat tidak tepat!

"KENAPA DIAM?!!" sarkas Martin lagi. Verrel tetap tidak memperdulikan teriakan papanya, berusaha tenang walau itu sulit.

"VERREL KAMU BISA DALAM SEHARI NGGAK BUAT PAPA MALU? APA KAMU TAU PIHAK SEKOLAH NELFON PAPA LAGI KAMU BOLOS LAGI? MAU SAMPAI KAPAN HAGH?" sentak Martin.

"Apa Papa nggak tau Verrel juga malu papa marahin Verrel di depan umum? Kenapa papa nggak pura-pura nggak kenal Verrel aja??"

"Kamu berani jawab papa?"

"Pa ... Verrel nggak ..."

PLAK!

Sebuah tamparan dari tangan kanan pria parubaya itu melayang tenang ke pipi Verrel meninggalkan jejak lebam.

Semua penghuni restoran tersebut terkejut bukan main, memekik heran akibat ulah Martin. Bahkan Zahra yang menunduk pun mendongak kan kepalanya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

"KALO KAMU NGGK BISA BUAT PAPA BANGGA SEENGGAKNYA JANGAN BUAT PAPA MALU!!" murka Martin Setelah melayangkan tangannya.

Verrel menatap kosong ke depan. Tak ingin mengeluarkan suaranya lagi, percuma! Martin mengalihkan pandangannya menatap Zahra yang sedang berdiri ketakutan.

Martin memandang rendah gadis itu. "Kamu siapa?" tanya Martin.

Zahra gemetaran ia sangat takut oleh pria itu. Jika saja Zahra tau papa Verrel ada di sini, Zahra pasti bakalan menurut dan tidak membiarkan Verrel hilang kendali.

"Zah--ra o-m ...," gugup Zahra, bahkan senyum yang ia keluarkan terlihat hambar.

"Pacar kamu Rel?" tanya Martin, suaranya terdengar mengejek.

"BUKAN!" Kali ini Bukan Verrel yang menyahut, melainkan Farhan yang hanya diam sejak tadi mulai bersuara menentang ucapan papanya.

Martin sempat bingung dengan suara Farhan yang terdengar membantah, tapi ia berusaha menutupinya dan memilih menarik Farhan agar mengikuti langkahnya keluar dari tempat ini dengan keadaan yang masih menahan marah.

1
alysa natalia_
kak ga ada niat buat di terbitkan?
jk_vn
aku baca lagi thor + kalo boleh tau author nya sekarang ada di lapak mana?
jk_vn
aku baca lagi thor + kalo boleh tau author nya sekarang ada di lapak mana?
Rifa Endro
kebangetan Lo, Ra !!! kebangetan polos dan lugunya🙈🙈🙈
Nenk NOER
ceritanya menarik Aku udah baca sesion 1 dan 2 nya...
Nenk NOER
Udah baca sesion 1 dan 2 semuanya menarik..penuh air mata.. semangat Thor..terus berkarya..💪💪❤️
Nana_sabil
blm move on baca lagi deeh😁
Maryam Renhoran
Endingnya sangat mngecewakan
Maryam Renhoran
jadi malas bacanya, yg tertindas makin tertindas
jk_vn
suka novelnya,,pas inget waktu sekolah
anak_ultramen
othor ini menolak happy ending
alysa natalia_
kapan novel nya di terbitkan?
hellonan.
kak Farhan 😍
Nacita
part ini gue scroll doank ga pengen baca sumpah 😭😭😭😭😭😭
Nacita
anjrit gue santet tuh s martin....
Nacita
aku gasuka verel deket sm cwe lain selain zahra😔
Nacita
aduh cahlaaaa cahla....
Nacita
sedih sangatttt....
Nacita
iyakan rumit 😔
Nacita
semua yg baca mengutuk kamu martin sialan.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!