Rere Deswaldy gadis berusia 18 tahun, dengan tinggal badan 148 cm, yg hidup bersama nenek dan kakeknya. Rere harus mengantikan nenek bekerja di sebuah perumahan mewah sebagai art, karena kakek sedang mengalami sakit keras. Rere bersekolah dan bekerja, demi biaya pengobatan kakek dan juga pendidikan nya. Sewaktu SMP Rere sudah bertunangan dengan kepala sekolahnya, namun, sayang takdir berkata lain. Sang kekasih menikah dengan wanita lain.
Di usianya yg masih belia Rere harus menikah secara sirih dengan Zizan (sang majikan) kerana sebuah kecelakaan. Pernikahan yg Rere jalani tidak bertahan lama. Dan hadirnya Azam seorang ustadz terkenal duda anak 1
Dapatkah meluluhkan dan menerima masa lalu Rere?.. Dan apa kah kekasih di masa lalunya kembali Hadir?..
penasaran dengan cerita selanjutnya???
yuk simak ceritanya sampai selesai 😊
Terimakasih yg sudah memberikan Like dan Komennya🙏🏻😊
semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. (aamiin ya rabbal alamin)
Ig: @Riairawati13
fb: Ria ira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria irawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25
Hati Hakim terasa tercubit dan merasa bersalah. Apa lagi tadi pukulannya tepat mengenai wajah Rere.
"Maafin mas ya, mas gk akan Ngulangin lagi, jangan nangis, mas gk sanggup liat kamu nangis, mas salah, mas udah buat kamu terluka, mas minta maaf sayang" kata Hakim seraya menampar wajahnya.
"Jangan begitu mas, Rere udah maafin mas" Kata Rere seraya mengusap pipi Hakim
"Makasih udah mau maafin mas" kata Hakim seraya menghapus air mata Rere
Hakim menatap wajah Rere sebelah pipinya berwarna merah bekas gambar tangannya, dan luka kecil di sudut bibir. Hakim mengelus luka itu, lalu mengecup bibir Rere. Kecupan yang berubah jadi lumatan yang makin mendalam. Hakim merangkul tengkuk dan pinggang Rere. Mereka hampir saja terbawa suasana, namun mereka tersadar saat sendok yang ada di meja dekat tempat tidur tersenggol tangan Hakim.
Nafas Rere terengah-engah.
"Maaf mas kelepasan" kata Hakim
"Aku gk mau sampai hamil di luar nikah mas" kata Rere
"Mas janji gk akan berbuat lebih jauh sebelum kita nikah sayang, kamu bisa pegang janji mas" kata Hakim
Setelah itu mereka berdua makan. Hakim di suapi oleh Rere. Rere hanya makan 3 suap karena dia masih kenyang, sisanya di habisi oleh Hakim.
Di ruang tamu Ira di suapi oleh bu lurah, awalnya Ira menolak, namun bu lurah memaksanya, dengan enggan Ira membuka mulutnya.
Baru makan satu suapan Ira muntah-muntah, membuat baju yang dia kenakan menjadi kotor.
"Maaf bu, Ira gk sengaja" kata Ira
"Gapapa nak, yuk ganti baju" kata bu lurah "kamu bersihkan itu" lanjutnya seraya meninggal kan Topa
Bu lurah membawa Ira kedalam kamarnya, dan pak lurah keluar dengan baju yang berbeda lalu duduk di ruang tamu. Melihat anaknya yang sedang membersihan muntahan dia hanya tersenyum dan berkata "itu salah satu resikonya, kamu harus menuruti segala keinginannya"
"Ini pake daster aja nak biar nyaman dan perut mu gk sakit" kata bu lurah "ini dasternya baru nak" lanjutnya
Ira membersihkan dirinya dan mengganti bajunya, memang nyaman yang di rasakan oleh Ira.
____
Rere menelpon kakung nya mengabari bahwa di masih berada di rumah Hakim, dan akan pulang sedikit terlambat, kakung berpesan pada Rere agar tidak pulang melebih waktu yang sudah di tentukan kakung yaitu jam 9 malam. Rere juga mengetahui jika anak gadis tidak boleh pulang larut malam.
Setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah, mereka memutuskan untuk menemui kedua orangtua Ira. Mereka akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.
Ira merasakan ketakutan karena bapaknya amat sangat marah. Namun, bu lurah dan Rere meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Sampai di rumah Ira, tubuh Ira gemeteran, lalu Rere menggenggam tangan.
"ada kami di sini Ra" kata Rere menyakinkan
Di ruangan yang sederhana mereka duduk lesehan. Ira duduk di antara Rere dan bu lurah, ibu nya ira menangis harus melihat putrinya kembali.
"kalian siapa? Dan ada apa? Kenapa membawa gadis sial itu kembali ke rumah saya" kata bapaknya Ira. Hati Ira bagai tertusuk pisau rasanya amat sangat sakit mendengar perkataan bapaknya.
"maaf jika ke hadiran kami mengganggu, saya sebagai orang tua Mustofa berniat bertanggungjawab atas apa yang telah anak saya perbuat kepada putri kalian" kata pak lurah
"jadi kamu lelaki b*jingan yang merusak masa depan anak saya" kata bapaknya Ira dengan penuh emosi
"tahan emosinya pak, semua sudah terjadi, bersyukurlah karena dia masih mau bertanggung jawab" kata ibu nya Ira seraya menenangkan suaminya
"saya tau bagaimana perasaan kalian saat ini, mari kita cari solusinya bersama-sama" kata pak lurah
"nikahi dia dan setelah itu bawa dia pergi dari sini, saya tak ingin menanggung malu atas perbuatannya" kata bapak nya Ira
Air mata Ira kembali menetes, hati seperti tercabik-cabik, dia harus menanggung kebencian bapaknya.
"ini bukan salah Ira om, ini semua salah saya, saya minta maaf, tolong jangan membenci Ira" kata Topa
"kau tau salah, kenapa kau melakukannya " kata bapaknya Ira
"saya khilaf om" kata Topa
Ibu nya Ira memperhatikan seorang pria yang di duduk di samping.
"bukan nya bapak kepala sekolah Ira pak?" tanya ibunya Ira
"iya benar bu, saya kakaknya Topa, maka dari itu saya ada di sini" kata Hakim
"apa di sekolah sudah tahu tentang hal ini pak?" Tanya ibunya Ira
"tidak bu, saya berusaha untuk menutupinya, bagaikan pun saya memperhatikan mental Ira bu" jelas Hakim
"terimakasih pak, tapi apakah Ira akan di keluarkan dari sekolah pak?" kata ibunya Ira
"Ira gk mau berhenti sekolah bu" kata Ira terisak-isak
"kamu sudah hamil, bagaimana bisa terus sekolah, sudah pasti kamu di keluarkan dari sekolah, dari pada kamu mencoreng nama sekolah juga, sudah cukup saya saja" kata bapaknya Ira
Ira menangis semakin menjadi jadi, pupus sudah harapannya untuk meraih mimpinya. Bu lurah memeluk Ira
"masalah sekolah nak Ira biar saya yang mengaturnya, yang perlu kita bahas saat ini bagaimana dengan kemauan anda sekalian atas anak saya" kata pak lurah
"nikahkan mereka sekarang tapi saya mau mahar dari kalian, anggap ini sebagai penebus kesalahan" kata bapaknya Ira
"mahar apa yang di inginkan pak?" tanya pak lurah
"uang sebesar 30 juta, dan seperangkat lengkap emas. Apa kalian menyanggupi?" tanya bapaknya Ira
"pak,, itu sama saja seperti bapak menjual anak pak" kata ibu nya Ira
"udah saya bilang ini sebagai penebus bu, lagi pula siapa yang tega menjual anak sendiri? Mahar itu seharusnya di pakai untuk biaya pesta pernikahan anak kita, tapi kan kita gk mungkin mengadakan pesta" jelas bapaknya Ira
"betul apa kata anda pak" kata pak lurah
"kalo uang saya hanya bawa 20 juta, untuk perhiasan emas saya tidak membawanya, bagaimana jika besok saya kirim kan ke sini" kata pak lurah
"saya mau anak saya menikah sekarang, agar anda dapat membawa nya pergi dari sini" kata bapak nya Ira
Saat itu yang lain tidak membawa uang chas banyak. Rere yang membawa uang 10 juta, uang itu milik embok yang di kirim kan ke pada Rere untuk berobat kakung dan kebutuhan hidup kakung dan Rere di desa. Rere mengeluarkan uang tersebut dan memberikan kepada Hakim.
"mas aku baru ambil uang tadi saat pergi sama mas, kalian boleh pake uang ini dulu, ini 10 juta" kata Rere seraya memberikan amplop itu ke tangan Hakim
"gk usah sayang, simpan saja uangnya" kata Hakim
"mas, biar masalah ini cepat terselesaikan mas" kata Rere
"gk usah sayang, ibu bapak punya rekening? Biar sisanya saya transfer" kata Hakim
"saya mau uang cash" kata bapaknya Ira
Mau tak mau Hakim menerima tawaran Rere.
"kami pinjam dulu uangnya ya nanti kami ganti nak" kata bu lurah
"iya bu" kata Rere
"untuk uangnya sudah ada, apa perhiasannya bisa besok?" kata pak lurah
"harus ada sekarang juga" kata bapaknya Ira
"bapak jangan begitu" kata ibu nya Ira
"sudah kamu diam saja" kata bapaknya Ira
Bu lurah melepas cincin dan juga gelangnya, lalu menyerahkan pada suaminya.
"kami hanya ada ini, bisa gk sisanya besok?" kata pak lurah
"loh, saya sudah bilang malam ini semuanya harus ada" kata Bapak nya Ira
Sayang nya malam itu Mila tak memakai perhiasan, walaupun dia punya Mila enggan memakai.