"Jangan paksa Humaira Mi... Aku itu Humaira, Humaira bukan Kak Asyifa yang bisa tahan menutup diri pakai jilbab."
Seluruh keluarganya selalu memaksanya menjadi seperti kakaknya yang muslimah namun Humaira merasa belum siap dan sikapnya tidak pantas untuk di jilbapin.
Dunia Humaira yang damai berubah 180 derajat setelah bertemu Bang Ashraf, lelaki yang membuat semua orang salah paham terhadapnya hingga mengikat keduanya di ikatan pernikahan.
Akankah Humaira menemukan cintanya dan bisa bahagia????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telur gosong
Setelah drama rayu merayu dari Umi Ainun, Abi Harun dan Kak Asyifa akhirnya Humaira mau pindah rumah ke rumah minimalis yang di beli suaminya. Rumahnya gaya berlantai satu memiliki 2 kamar, ruang tamu dan dapur serta ada satu kamar yang di fungsikan untuk gudang, di depan ada teras kecil dan garansi mini untuk dua motor, motor Humaira dan Bang Ashraf sendiri, jika nanti ingin beli mobil terpaksa mungkin di parkir di halaman rumah karena area garasi yang kecil.
Pagi ini Bang Ashraf dan Humaira hari pertama menempati rumah barunya, Bang Ashraf bagi tugas dengan Humaira, dirinya menyapu sedangkan Humaira memasak sarapan, namun di tengah-tengah menyapu Bang Ashraf melihat kepulan asap dan bau gosong, akhirnya pun Bang Ashraf meninggalkan sapunya sembarangan dan berlari ke area dapur.
Wajan baru itu sudah berubah warna menjadi hitam dengan kobaran api di dalam wajan, nampak Humaira kesulitan untuk memadamkan apinya. Bang Ashraf lalu membawa kain basah dan menutup wajahnya itu dengan kain basah lalu mematikan kompornya.
Humaira dan Bang Ashraf bukanya sedih justru tertawa terbahak-bahak, sungguh konyol pagi hari ini, hanya ingin membuat sarapan saja sudah seperti ingin membakar rumah pikir mereka bersamaan.
Bang Ashraf membuka wajan yang ditutup kain basah itu lalu sontak terkejut melihat penampakan di dalamnya, untuk tidak membuka mulut dan komentar pun Bang Ashraf tidak sanggup sehingga dirinya Ketawa lagi sembari memegang perutnya.
"Astaga.... Ini telur bentuknya udah bulet, hitam legam begini... Ini bumbunya apa sayang... Kecapnya berapa sachet???" Tanya Bang Ashraf terharu melihat telur bulat hitam mengenaskan itu.
"Itu udah yang paling baik dari yang sebelumnya Bang... Maaf... Humaira tidak bisa masak..." Kata Humaira memerah menahan malu.
"Masya Allah... Humaira nya Abang... Perjuangan sekali ya buat telurnya... " Puji Bang Ashraf makin membuat Humaira merasa bersalah, ternyata dari sekian banyak keahliannya masih ada hal parah yang benar-benar tidak bisa dia lakukan yaitu memasak.
"Udah... Yuk kita pindahkan..." Bang Ashraf memindahkan telur yang masih bisa di makan ke piring lalu menaruh wajan godong itu di atas wastafel.
"Nasinya udah belum???" Tanya Bang Ashraf pada Humaira yang masih menundukkan kepalanya, baru kali ini dirinya benar-benar merasa tidak percaya diri.
Humaira pun beranjak membuka nasi di tempat penanak nasi namun lagi-lagi pagi ini naas menimpanya. Humaira ragu untuk bilang pada Bang Ashraf suaminya. "Maaf.... Lupa belum di pencet... masih beras..." Kata Humaira merah malu.
Bang Ashraf mengulum senyum ingin terbahak lagi namun tidak tega, lalu menghampiri nasi itu dan memencet tombol memasaknya. "Ok... Kita tunggu sambil mandi..." Kata Bang Ashraf menenangkan Humaira.
Bang Ashraf tersenyum lalu meneruskan menyapu sementara Humaira pergi ke kamar untuk mandi, Bang Ashraf memastikan istrinya pergi ke kamar kemudian dirinya tertawa sepuas-puasnya sungguh lucu paginya ini apa lagi saat melihat wajah istrinya yang biasanya berani dan percaya diri dengan siapapun itu mendadak menjadi pemalu dan tidak percaya diri. Ternyata di balik semua keahlian Humaira di kampus dan di olah raga bahkan bisa berkuda dan memanah, dirinya masih ada hal yang tidak bisa yaitu memasak.
Bang Ashraf selesai menyapu sambil menunggu Humaira selesai menyapu bernyanyi sembari berangan gagang sapu itu adalah mikrofon nya.
Mangan tempe rasane
Koyo mangan lawuh sate
Senajan sak anane
Sing penting karo kowe
Ngombe kembang tahu rasane
Koyo ngombe susu
Rausah mecucu
Tresnoku ro kowe ra bakal tak madu
Bungah tenan rasane
Wong kang lagi gandrung
Tak perjuangke
Tekan janur melengkung
Kowe siji sijine
Aku bangga karo kowe
Gelem nompo opo anane
Tresnoku ra bakal mletre
Kowe ojo sumelang
Tresnoku ra bakal ilang
Ibarat koyo kuthoku jogja
Kowe cen istimewa
Humaira keluar sambil mengeringkan rambut melihat aksi konyol suaminya pun tergelak sembari geleng-geleng kepala, ada saja ulah suaminya yang bisa membuat dirinya terhibur meski sekarang dirinya di asing kan dari keluarganya.
Bang Ashraf menghampiri Humaira lalu mengganti lirik lagu yang indah itu menjadi lirik lagu yang menyindirnya.
Humaira pun kesal dan melempari Bang Ashraf dengan handuk basah miliknya, namun bukan tersinggung Bang Ashraf justru kembali menyanyikan lagu ciptaanya sendiri.
Mangan telur gosong
Rasane sangat-sangat amsyong...
sanjange ancur rasane
Sek penting sek masak Kowe
Ngombe banyu putih rasane
Koyo ngombe susu
Ora sah mencucu
Tesnoku nggo Kowe Ra bakal kleru
Humaira mengehentikan aksi konyol suaminya itu dengan sapu di tangannya, hingga Bang Ashraf berhenti bernyanyi lalu berjalan menghampiri, "Stop di situ dulu Yang... Jangan bergerak... " Kata Humaira lalu berdiam diri seperti patung tak bergerak sesuai perintah Bang Ashraf.
Cup Cup
Bang Ashraf berlari menjauh setelah mendapat apa yang di mau, Humaira pun memerah di tempatnya kesal sekaligus malu atas tindakan suaminya barusan.
"Dua kecupan di pipi untuk awali hariku.... Du... Du.. Du..."Nyanyi Bang Ashraf sambil tertawa bahagia menuju kamarnya untuk mandi.
Humaira kesal di tempat sekaligus berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu tiap kali bersentuhan dengan suaminya itu, karena sejauh ini tidak ada sentuhan lebih yang terjadi di antara mereka, suaminya pun tidak pernah menuntut dirinya untuk melakukan hal yang saat ini belum siap dia lakukan.
"Jalani dulu, kita kenalan dulu, prosesnya kita nikmati, setiap alur yang terlewati kita jalani saja, suatu saat ketika cinta kita sudah bertemu aku yakin kita bisa melakukan semuanya yang para suami istri biasa lakukan tapi kita lakukan semuanya dengan keikhlasan tentunya.." Kalimat suaminya itu yang membuat Humaira akhirnya mau mencoba menjalani kehidupan rumah tangga yang sebelumnya amat dia takuti.
Humaira melihat nasinya, sudah matang lalu dirinya menyiapkan nasi di atas piring secukupnya untuk dirinya dan Bang Ashraf. Saat suaminya keluar sudah tersaji di meja makan, "Masya Allah... Terimakasih Yang..." Kata Bang Ashraf lalu menikmati nasi lauk telur gosong buatan istri tercintanya.
Humaira memakan telurnya terasa asin dan pahit, namun suaminya nampak lahap menikmati makanannya tanpa protes, dan mengeluh akan rasanya."Itu lidah mati rasa apa ya..." Batin Humaira mencoba menelan makanannya.
"Bang... Kalau tidak enak jangan di paksa..." kata Humaira merasa bersalah.
"Masih bisa di makan Yang... Mubazir..." Bang Ashraf menjawab sambil mengunyah telur gosong itu, lalu meminum air putih yang sudah Humaira siapkan.
"Nanti ke kampusnya hati-hati, Abang hari ini ndak ke kampus, udah selesai tinggal Minggu depan pendadaran, nanti Abang langsung kerja... Kemana-mana kabari Abang... Ingat... "Kata Bang Ashraf lalu dijawab anggukan oleh Humaira, masih terasa aneh rasanya jika harus pamit kemana-mana seperti ini, karena dirinya terbiasa berjalan dan pergi semaunya sendiri.
*****
dosen kok sumbu pendek..
menantu kocak...