"Enghhh hentikan," erang Savio dengan kepala yang mendongak ke atas di mana kedua tangannya memegang pinggang ramping Zoe.
Zoe menghentikan sejenak kecupan basahnya pada leher Savio, "Aku tidak peduli dengan usia kita, aku mencintaimu dengan tulus! Aku hanya akan menikah denganmu," pengakuan yang kesekian kalinya Zoe katakan pada Savio.
•••
Pertemuan tidak sengaja di Swiss ternyata menumbuhkan rasa pada gadis remaja yang tidak sengaja bertemu dengan Savio di sebuah cafe.
7 tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali dengan usia mereka yang sudah semakin matang. Melihat peluang yang besar Zoe terus bergerak tanpa memandang perbedaan usia mereka yang terpaut sangat jauh.
Sedangkan Savio sendiri, ia ragu dan bimbang untuk menjalin hubungan dengan Zoe yang lebih pantas menjadi menantunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puppy Bangtan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
***
"Apa kau tidak bisa sehari saja tidak membuat masalah? Siapa yang memintamu untuk datang ke sini?" marah Savio di parkiran setelah berhasil menyeret Zoe keluar dari dalam club.
"Kenapa paman marah? Temanmu yang memberitahuku kamu di sini, karena itu aku kemari untuk melihat."
Savio mengernyitkan keningnya bingung, "Teman? Siapa?" tanya Savio bingung.
"Entah dia mencari Klovi ke rumah," Savio menyugar gusar rambutnya ke belakang.
"Bendic," gumam lirih Savio penuh penekanan.
Zoe bersandar di mobil Savio, perlahan teringsut dan meringkuk memeluk kedua kakinya.
"Kenapa paman marah- marah padaku? Apa aku membuat salah?" tanya Zoe yang mulai mabuk.
Savio menghela napas gusar di mana ia sangat jengah saat ini.
Ingin sekali Savio pergi jauh agar Zoe tidak bisa menemukannya, namun kemana?
"Apa kau tahu siapa perempuan yang kau ajak main bola billiard tadi?" Zoe menggelengkan kepalanya membuat Savio semakin gusar.
"Dia ratu billiard yang telah memenangkan banyak penghargaan dan kejuaraan selama berturut- turut di kota Milan, dia juga menjadi bintang utama Club karena keahliannya."
Zoe mendongak dengan wajah yang amat sangat lucu.
"Lalu apa hubungannya denganku? Kenapa kau memarahiku? Apa karena aku mengajaknya bermain kau marah padaku?" Savio berdecak kala Zoe tak juga paham.
Namun Savio berusaha untuk sabar, maklum Zoe sedang mabuk saat ini.
"Bagaimana aku tidak marah, kau tidak kenal Gergia, malam ini kau membuatnya malu karena kalah darimu, selama sejarah dia belum pernah kalah dari siapapun kecuali aku dan kekalahan itu ia akui karena dia sendiri yang melakukan taruhan, tapi malam ini kau membuatnya merasa semua kejuaraan yang ia dapatkan selama ini sia- sia hanya dengan taruhan kecil, aku tidak tahu apa yang akan Gia perbuat padamu esok," jelas Savio pada Zoe.
Zoe berusaha untuk bangun namun sempoyongan hingga ia jatuh dalam pelukan Savio.
"Jika ia memang juara kenapa ia harus marah karena kalah dari bocah tengik sepertiku? Bukankah kalah itu hal yang wajar, lagipula ini juga bukan pertandingan yang besar, hanya sekedar bermain," Savio berdecak seraya memegang tubuh Zoe yang sudah tidak seimbang karena efek wine yang tadi ia minum.
"Karena ini bukan pertandingan makanya dia begitu marah denganmu."
Zoe mengalungkan kedua tangannya pada leher Savio seraya mengusap- usap lembut rambut belakang Savio.
"Paman tidak usah khawatir, selama ada paman, aku pasti aman."
Savio terdiam, mengamati wajah cantik Zoe yang begitu dekat dengannya.
Pantas semua pria enggan mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Zoe.
Dia memang bintang utama club malam ini.
Zoe hendak mencium bibir Savio namun dengan cepat Savio membuka pintu mobilnya.
"Ayo cepat pulang, hari sudah malam," Savio menutup pintunya dengan helaan napas yang lega.
"Kenapa dekat dengannya serasa seperti dilecehkan, aku menjadi takut jika dia merusakku," gumam Savio berngidik ngeri kala membayangkan Zoe menyentuhnya.
Savio lalu membawa Zoe untuk pulang.
***
Sesampainya di mansion, Savio langsung membawa Zoe ke dalam kamarnya.
"Tunggu, kenapa aku membawanya ke kamar?" gumam Savio sadar kala ia membaringkan Zoe di ranjangnya.
Savio berdecih kala melihat wajah polos nan damai Zoe kala tertidur.
"Saat bangun besok ia pasti akan kegirangan karena tidur di atas ranjangku," gumam Savio hendak pergi namun tangannya tiba-tiba ditarik oleh Zoe hingga ia terduduk di tepi ranjang.
"Paman akan meninggalkanku lagi?" tanya Zoe dengan mata sendu dan suara yang serak parau.
Savio hanya diam seraya mengamati wajah Zoe.
"Jangan memancingku, aku tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi selanjutnya!" peringati Savio dengan nada suara yang begitu terdengar seksi di telinga wanita manapun saat ini.