Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 25
Tiga hari berlalu akhirnya paket milik Nazila sampai ke tangannya dan sialnya dia malah membuka itu di ruang tamu, kebetulan juga dirinya hendak pergi ke belakang untuk mengambil sesuatu dengan membawa plastik bungkusan paket tersebut sehingga meninggalkan isinya saja.
"Abang?!" pekik Nazila menatap berbinar pada Lorenzo yang tengah berenang, kebetulan sekali mereka hanya berdua di mansion.
"Come here darling?" panggil Lorenzo menyugar rambutnya menambah kesan tampannya berkali lipat.
Pipi Nazila bersemu merah menatap tubuh Lorenzo apalagi dengan urat-urat yang menonjol itu membuat dirinya panas. "Ayo sini? Kenapa diam?" tanyanya.
"Zila gak bisa berenang bang, Zila duduk di sini aja," tolaknya menenggelamkan kakinya di pinggiran kolam.
Lorenzo yang tak mau dibantah langsung menarik kaki Nazila hingga masuk ke dalam kolam, Nazila begitu terkejut sehingga bergelantungan di tubuh abangnya yang bahkan tidak memegangi dirinya.
"Takut, Abang Zila gak bisa berenang!" rengek Nazila mencoba untuk menepi, tetapi karena tak merasakan dasar kolam renang membuatnya semakin ketakutan.
Dengan jahilnya Lorenzo mencoba melepaskan pelukan Nazila membuat adik tirinya semakin ketakutan bahkan sudah menangis memeluk erat dirinya. "Jangan lepas, Zila beneran gak bisa berenang!" takutnya semakin kuat Lorenzo mencoba melepaskan pelukannya.
Sehingga akhirnya Lorenzo berhasil melepaskan pelukan Nazila membuat adik tirinya itu tenggelam dan mencoba untuk sampai ke dasar tetapi tak bisa. Suara batukan dan tangisan yang terputus-putus membuat Lorenzo tersenyum iblis lalu menariknya dan merengkuh pinggang kecil itu.
"Rileks baby, Abang di sini!" bisiknya tak lupa mengambil kesempatan dengan melumat telinga mungil nan manis itu.
"Sakit tau! Lepas Zila mau pergi!" tangisnya memukul pundak abangnya yang menggendong dirinya ala koala.
"Yakin mau gue lepasin?" tanya Lorenzo menatap remeh pada adik tirinya ini hendak melepaskan pelukannya tetapi pelukan Nazila semakin mengerat.
"Pokoknya balikin Zila ke pinggir, Zila gak mau di sini, di sini dingin Zila gak suka!" tangisnya.
Bukannya menuruti Lorenzo malah melumat lembut bibir ranum itu ke sudut kolam sehingga mereka tidak akan terlihat oleh siapapun. "Manis seperti biasa, gue suka," bisiknya lalu mengecup lembut. "Satu lagi, jangan dekat-dekat sama laki-laki yang bernama Leo itu, gue gak suka!" desisnya membuat kiss Mark di atas dada Nazila yang sedikit terbuka.
Bahkan kini Lorenzo tak menyebut dirinya Abang, bukankah dari dulu juga dirinya tak menganggap Nazila adiknya melainkan gadisnya, wanitanya dan miliknya dia sudah mutlak mengklaim Nazila sebagai miliknya seorang diri.
"Kenapa? Kak Leo baik kok, kenapa Abang selalu larang Zila buat dekat sama kak Leo, apa alasannya?" tanya Nazila sedikit berani meskipun atmosfer di depannya ini berubah.
Lorenzo mencengkeram erat pinggang ramping itu. "Lo gak cukup cuma di kasih tau ya? Kalo gue bilang gak suka ya gak suka! Lo gak berhak nolak baby!" bisik Lorenzo di akhir kalimatnya lalu menaikan Nazila ke atas dia tidak mau badan gadisnya kenapa-kenapa karena terlalu lama bermain air.
Nazila menatap sedih pada kepergian abangnya itu. "Kenapa? Apa Abang cemburu?" gumamnya, selama ini dirinya tak tau abangnya jatuh cinta atau tidak terhadapnya. "Apa aku juga mengalami cinta sepihak?" gumamnya benar-benar tak terdengar.
“Cinta …? Itu terdengar konyol.”
.
.
Sore harinya Joana balik ke rumah mereka baru saja balik dari luar bersama sang suami. Fathur pergi ke ruang tamu untuk melepaskan rasa penatnya sebentar, sedangkan Joana langsung pergi ke atas kamar mereka.
Fathur menyerngit bingung dengan lipatan baju di sudut sopa. “Punya siapa ini? Apa Joana yang membelinya? Kenapa wanita itu ceroboh sekali.” Gumam Fathur menggeleng pelan, lalu pergi naik ke atas menyusul istrinya.
“Loh mas, baru juga mau ke bawah nyamperin,” ucap Joana membuka pintu.
“Masuk ada yang mau mas bicarain,” titah Fathur lalu menutup pintu kamar mereka berdua, setelah itu Fathur menyodorkan baju dinas yang di temuinya di atas sopa barusan. “Ini punya kamu? Lain kali jangan di taruh sembarangan,” tukas Fathur.
Joana menatap sang suami sebentar dengan bingung lalu mengambil baju yang di sodorkannya. “Kamu dapat ini dari mana mas?” tanya balik Joana.
“Loh, bukannya itu punya kamu ya?” tanya Fathur ikut bingung.
“Bukan mas, baju yang kayak gini aja masih banyak yang belum ke pake, jadi aku gak pernah beli lagi,” bantah Joana.
“Kalo bukan punya kamu lalu siapa, mas nemu di sudut sofa barusan,”
Joana menyerngit bingung. “Nanti aku tanya para pelayan yang ada di sini, mencurigakan sekali.”
Fathur mengangguk mengiyakan. “Ya sudah, mas mau pergi kebawah dulu minta di buatin kopi,”
“Biar aku aja mas, mas istirahat aja.” Ucap Joana.
“Jangan terlalu kecapean.” Peringat Fathur tak mau istrinya itu kelelahan.
Joana mengangguk tersenyum, lalu turun ke bawah, menemui para pelayan dan menanyai mereka perihal baju dinas yang di temui oleh suaminya itu.
“Benar nyonya, itu baju bukan dari kami, bukan apa-apa nyonya kami di sini sudah tua tak mungkin menggunakan baju seperti itu.” Jawab mereka yang juga ikut bingung dengan pertanyaan nyonya itu.
“Ya sudah, bubar. Maaf jika mengganggu waktu kalian.” Joana memijit pelipisnya pelan, lalu segera membuat kopi untuk suaminya sedangkan baju dinas itu dia masukkan ke dalam plastik, saat akan melewati ruang tamu dirinya di buat bingung dengan sang anak yang tengah mondar-mandir mencari sesuatu.
“Kamu kenapa nak?” tanyanya.
“Mommy!?” kagetnya. “Gak apa mom,”
“Kamu lagi cari apaan, panik banget keliatannya?”
“Ini Zila lagi cari barang yang hilang, gak tau kemana,” lesu Nazila cemberut sedih.
“Memangnya barang seperti apa itu? Penting banget ya nak?” tanya Joana sedikit mencurigakan.
“Penting banget mom, Zila aja nunggu barangnya udah tiga hari loh mom,”
Joana memejamkan matanya sekilas, dari arah pembicaraannya saja dirinya sudah tau, Joana seorang ibu bukan anak polos yang tak tau apa-apa, memang tak baik menuduh tanpa bukti tetapi ini nyata adanya, memangnya barang apa yang hilang di ruang tamu itu, ini mansion besar dan tak sembarangan orang bisa mengambil barang yang di taruh nyata di depannya, kecuali itu sampah, paling mereka akan menggesernya menaruhnya dengan rapi. “Barang seperti apa tu nak, siapa tau mommy juga pernah lihat?”
Nazila menegang sebentar. “Kek …. Sejenis kain gitu mom,” jawab Nazila. “Ya udah mom, Zila mau cari ke tempat yang lain aja, siapa tau bibi pelayan udah membereskannya.” Pamit Nazila lalu pergi meninggalkan Joana yang kini menatap tajam punggung kecil yang sudah tertelan oleh kejauhan.
“Mommy gak akan sanggup jika itu memang benar-benar milikmu nak, entah apa yang kamu sembunyikan.”