Aulya Putri Ardinata adalah putri tunggal dari keluarga Ardinata. Bukan hanya terkenal dengan kecantikan dan juga kepintarannya, tetapi dia juga terkenal dengan sifat playgirl. Dia dengan mudah pindah ke tangan pria lain yang terlihat menarik di matanya.
Jika dia sudah tertarik dengan seorang pria, maka hanya satu yang ada di pikirannya. Dia harus mendapatkan pria itu, tidak perduli jika dia masih memiliki kekasih ataupun tidak.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan sosok pria yang sangat menarik perhatian. Pria yang mampu menciptakan getaran yang berbeda di dalam tubuhnya. Getaran yang tidak pernah dia rasakan saat bertemu dengan pria lainnya.
Mampukah Aulya menaklukkan hati pria yang super jutek itu?
Yuk ikuti terus kisah mereka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprida Wati Tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
"Kenapa? apa kakak takut?" tanya Aulya menepis kasar tangan Alfa.
"Tidak!" ucap Alfa menatap tajam bibir mungil Aulya yang berada tepat di depannya. Melihat tatapan pria itu, Aulya langsung menelan ludahnya kasar. Dia merasa jika dia telah melakukan kesalahan besar, karena telah membangunkan singa yang sedang tertidur.
"Dari tadi kamu terus menggodaku," ucap Alfa tersenyum tipis sambil menarik dagu Aulya dengan lembut.
"Kak!" ucap Aulya gugup, sambil berusaha melangkah mundur, akan tetapi langkahnya langsung terhalang lemari yang ada di belakangnya. Sehingga membuat gadis itu tidak bisa bergerak kemanapun lagi.
"Kamu sudah membangkitkan gairahku. Jadi kamu harus tanggung akibatnya," ucap Alfa tersenyum sinis sambil mendekatkan wajah mereka.
"Tuan!" ucap Riki tiba-tiba masuk, sehingga Alfa langsung membuang napasnya kasar.
"Tu... tuan," ucap Riki terbata-bata ketika melihat gadis tengil yang bersembunyi di tubuh tuan mudanya itu.
"Astaga! sedang apa kalian?" tanya Dika mengusap wajahnya kasar ketika melihat pemandangan yang sangat menyakitkan itu.
Mereka berdua menatap Alfa dan Aulya dengan tatapan penuh rasa tidak percaya. Apalagi melihat penampilan Alfa yang hanya menggunakan handuk mini yang melilit di pinggangnya, membuat pikiran-pikiran negatif langsung muncul di pikiran kedua pemuda itu.
"Kakak! kakak apakan calon istriku?" tanya Dika menarik tubuh Aulya menjauh dari Alfa. Tidak lupa dia memeriksa setiap inci tubuh gadis itu, untuk memastikan jika dugaannya salah.
"Lo apaan sih? gue dan Kak Alfa ngak ngapa-ngapain," ucap Aulya ketus.
"Lo kira gue buta. Lo dan Kak Alfa tadi seperti ini. Dan lo coba lihat penampilan Kak Alfa, tingal tarik saja barang pusakanya langsung muncul," ucap Dika kesal sambil memperaktekkan posisi Aulya dan Alfa tadi.
"Lo benar juga, bagaimana jika gue tarik ya? pasti," ucap Aulya tersenyum nakal sambil menatap handuk yang melilit di pinggang Alfa.
"Dasar bocah gila," ucap Alfa menggidik ngeri lalu berlari ke ruang ganti untuk menyelamatkan diri dari bocah gila itu.
"Lah! malah pergi," ucap Aulya menatap punggung Alfa.
"Nyonya Zhia ngidam apaan ya saat hamil bocah ini," batin Riki terkekeh kecil melihat kegilaan Aulya.
Sedangkan Dika terus menatap tubuh Aulya dengan tatapan penuh selidik. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat tadi, berbagai macam dugaan negatif terus menguasai pikirannya. Sehingga membuatnya tidak yakin jika mereka tidak melakukan apapun.
"Lya! lo beneran ngak ngelakuin itu dengan Kak Alfa?" tanya Dika sambil memberi kode dengan kedua jarinya.
"Lo gila ya? lo kira gue cewek apaan? walaupun nakal tapi gue bukan murahan kali," ucap Aulya kesal dengan pertanyaan Dika yang seperti meragukan dirinya.
"Lo tau sendiri jika lo rada kurang. Jadi gue hanya memastikan saja," ucap Dika membuang napas lega.
"Sudah! berhenti dulu bertengkarnya. Sekarang pikirkan bagaimana caranya agar Nona Aulya keluar dari sini. Kamu lihat sendiri 'kan jika nyonya muda ada dibawah. Jika dia melihat pasti akan jadi masalah besar," ucap Riki menghentikan pertengkaran kedua sahabat itu.
"Nyonya muda! apa jangan-jangan," batin Aulya tiba-tiba mengingat wanita yang terus menemui Alfa itu.
"Kalian turunlah! Biar aku yang mengurusnya," ucap Alfa mengenakan jas kuasanya.
"Tuan yakin?" tanya Riki.
"Kalian alihkan saja perhatian papa dan Alfi," ucap Alfa tersenyum kecil lalu menggandeng tangan Aulya.
"Kak! itu calon istriku, kenapa main pegang-pegang saja," ucap Dika menatap tangan Aulya yang di genggam oleh Alfa dengan perasaan tidak ikhlas.
"Sudah diam. Nona Aulya saja tidak mau denganmu. Jadi darimana jalannya dia calon istrimu?" tanya Riki menjitak pelan kening Dika.
"Kakak kenapa bicara selalu tepat, sih? tepat mengenai ulu hatiku," ucap Dika dengan akting bersedihnya.
"Ngak perlu acting di sini. Di sini tidak akan ada sutradara yang akan menjadikanmu bintang filmnya," ucap Riki ketus sambil menarik tangan Dika keluar dari kamar itu.
"Kalian sungguh tega!"
...----------------...
Gibran duduk di tepi ranjang sambil memijit keningnya pelan. Pikirannya sangat kacau, perkataan Dika tentang sifat asli Erwan terus menganggu pikirannya. Dia berpikir apakah keputusannya untuk menjodohkan Aulya dengan Erwan adalah keputusan yang salah. Namun, tidak mungkin dia membatalkan perjodohan itu begitu saja, karena sudah di pastikan Sandi dan mamanya akan sangat kecewa, apalagi melihat Erwan yang sepertinya sangat senang atas perjodohan itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? jika aku membatalkan perjodohan ini pasti Sandi akan kecewa. Tapi jika aku melanjutkannya," gumam Gibran mengusap wajahnya kasar.
Dia terus berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang, karena keputusan yang dia berikan akan berpengaruh besar untuk masa depan semata wayangnya itu.
"Kak!" ucap seorang wanita tiba-tiba masuk dan berjalan mendekati pria itu.
"Sania! kamu belum pulang?" tanya Gibran tersenyum melihat kedatangan adik sepupunya itu.
"Aku tidak akan pulang sebelum Aulya kembali," ucap Sania tersenyum lalu mendudukkan bokongnya di samping Gibran.
"Dimana Zayyan?"
"Dia sedang bermain dengan Rizky di bawah,"
"Rizky! dia tidak sekolah?"
"Tidak, Kak!" ucap Sania tersenyum kecil.
"Apa bisa Sania memberikan pendapat tentang masalah ini?" tanya Sania menatap lekat sang kakak.
"Tentu saja! apa kamu punya jalan keluarnya?" tanya Gibran mengerutkan keningnya bingung.
Mendengar persetujuan sang kakak, Sania langsung memberikan jalan keluar untuk masalah Aulya. Mendengar ide yang diberikan Sania, Gibran langsung tersenyum. Ide yang diberikan adiknya itu memang cukup ampuh, dengan satu ide dua masalah akan langsung bisa teratasi dengan mudah.
"Baiklah! kakak setuju," ucap Gibran langsung setuju tanpa berpikir dua kali.
"Baiklah! kita akan menjalankan rencana ini. Tapi," ucap Sania menatap sang kakak dengan tatapan penuh selidik.
"Tapi apa?" Gibran.
"Kenapa kakak sangat bersikeras untuk memisahkan Alfa dengan Aulya?" tanya Sania memecahkan rasa penasaran yang dia pendam selama ini.
Tentu saja dia sangat bingung dengan sikap Gibran yang tiba-tiba berubah tegas kepada Aulya. Padahal selama ini Gibran tidak pernah setegas ini kepada Aulya, bahkan pria itu tidak pernah ambil pusing dengan tingkah adiknya itu yang suka mempermainkan pria, asalkan masih dibatas kewajaran.
Dia memang selalu mengajarkan semua adiknya untuk menjaga diri mereka dengan baik. Prinsipnya hanya satu, dia membebaskan adik-adiknya untuk bergaul dengan siapapun, asalkan mereka bisa menjaga diri dan juga nama baik keluarga mereka dengan baik. Dia bahkan tidak pernah mengekang mereka, agar mereka semua bisa bebas menyuarakan keinginan mereka.
"Suatu saat nanti kamu juga tau," ucap Gibran tersenyum sambil mengacak-acak rambut Sania.
"Kakak! aku sekarang sudah menjadi ibu. Aku bukan lagi adik kecil kakak," ucap Sania merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Gibran.
"Kamu memang sudah menjadi ibu. Tapi bagi kakak, kamu dan Yuki tetap adik kecil kakak. Adik kecil yang akan selalu kakak isengin," ucap Gibran terkekeh kecil sambil mencubit wajah Sania yang semakin tembem saja.
"Argh! kakak," ucap Sania terkekeh kecil lalu menggelitik perut Gibran.
"Kamu curang," ucap Gibran tertawa karena ulah adiknya itu. Sehingga membuat beban pikiran yang sejak tadi menghantui pikiran pria itu langsung menghilang dalam sekejap.
Dari semua adik-adik Gibran, hanya Sanialah yang paling bisa mengambil hati pria itu. Karena terlalu sibuk bergurau, mereka sampai tidak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang sedang memantau gerak gerik mereka.
"Ehem! mentang-mentang ada kakak kesayangannya, suaminya dilupain," ucap Bisma mode cemburu.
"Sainganku memang sangat berat. Kakak ipar sekaligus putra dari sahabatku sendiri," ucap Bisma mode kesal.
Bersambung......
sehat selalu.