Desa Karang digemparkan oleh sosok yang membawa kepala dan melemparkannya ke halaman setiap rumah korbannya. warga merasa seakan terkena teror yang sangat menakutkan, sebab tidak dapat diketahui siapa sebenarnya sosok yang sangat misterius tersebut. Sosok itu menghilang, setelah berhasil memenggal sebelas kepala warga desa yang semuanya adalah pria.
Apa yang menjadi motif dari sosok tersebut? maka ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam
Kriiik...kriiik...kriiik...
Suara jangkrik yang merupakan hewan nokturnal bersahut-sahutan dengan sang kodok, sebab sore tadi diguyur hujan lebat, sehingga parit-parit dipinggir jalanan penuh terisi air.
Rembulan malam seolah malu untuk menampakkan dirinya, ia mengintip dibalik awan hitam yang membuat malam ini semakin gelap.
Praaak...praaak...
Suara langkah kaki yang memijak jalanan becek sedang menuju ke arah kebun karet. Sesekali ia memainkan phonselnya untuk menghubungi seseorang.
Tampak dikebun karet telah berkumpul beberapa orang remaja yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Bang, buruan," kirim pesan seseorang yang tampak sudah tak sabaran.
"Bentar, ini juga sudah mau sampai," balasnya.
Tak berselang lama, Pemuda itu berada diperbatasan kebun karet milik juragan Jali. Ia mematikan phonselnya, lalu menuju dititik berkumpul.
"Bang, bang..." panggil Satya setengah berbisik saat mengetahui seorang berjalan menuju ke arah mereka dengan menggunakan baju hujan.
Yoga, dan Yogi,, tampak mensedekapkan tangannya didepan dada untuk menghilangkan rasa dingin yang kini membuat keduanya meremang.
Sedangkan Sigit sibuk berperang dengan nyamuk-naymuk ynag mengeluarkan suara bising dan sesekali menggigit gemas dipipinya.
Sementara Surya masih menghi-sap sebatang rokok yang sudah hampir habis dan rasa gelisah yang teramat sangat saat akan menjalankan misi yang dititahkan oleh Darmadi.
Saat sosok itu semakin dekat, ia membuka penutup kepalanya, dan hal itu membuat ke lima remaja tersebut, lalu mereka saling pandang, dan mengeratkan tangan satu sama lain.
Sosok itu menyeringai penuh dendam, tatapannya sangat tajam.
"Haah..," ucapan sigit seolah tercekat ditenggorokannya saat akan menyebutkan nama tersebut.
Lalu tanpa diduga, sosok itu mengayunkan golok ditangannya, dan membuat ke lima remaja itu ngacir melarikan diri dengan jurus langkah seribu.
Karena gelapnya malam dan suasana tanah kebun yang bergelombang membuat mereka terpencar. Tak terkcuali sigit yang juga ngacir mengikuti Surya yang sudah lebih dahulu berlari.
Sigit kehilangan jejak temannya. Sedangkan Yoga dan Yogi masih bergandengan tangan berlari menyusuri kebun karet yang saat ini tidak tahu tujuan mereka kemana.
Sigit terus berlari menyusul Surya yang juga berlari dengan cepat yang seolah mengalahkan para atlet pelari.
Remaja bertubuh jangkung itu kehilangan jejak Surya. Ia celingukan ke sana ke mari mencari sahabatnya.
Hingga sesuatu mengejutkannya,....
Plooook...
Seekor katak hijau menempel diwajahnya, dan membuatnya terlonjak ketakutan.
"Siaaal, dasar katak breengsek," makinya dalam deru nafas yang memburu.
"Huuuh...huuuh..."
Terdengar nafas Sigit yang tersengal akibat dari rasa takut dan juga habis berlarian seolah sedang dikejar oleh debtcolector.
Sigit mengedarkan pandangannya untuk menemukan bayangan ke empat sahabatnya yang sudah ngacir meninggalkannya. Ternyata rasa persahabatan mereka terlalu tipis, tidak berusaha membawanya lari bersama, dan memilih menyelamatkan diri masing-masing.
Kreeeek...
Terdengar ranting patah akibat pijakan kaki seseorang.
Remaja itu memutar matanya kesamping dan mempertajam indera pendengarannya, lalu nafasnya kembali memburu. Ia merapatkan tubuhnya dipohon karet dan mulai bersikap waspada.
Saat ini ia merasakan kehadiran seseorang begitu sangat dekat. Ia bersiap untuk mengepalkan tinjunya menggunakan jemari kerempengnya.
Saat ia merasakan sosok itu semakin dekat, dengan cepat ia mengayunkan tinjunya pada sosok mencurigakan yang berada tepat dibelakang punggungnya tempat ia bersandar dipohon karet.
Wuuussssh...
Tinjunya melayang untuk mengenai seseorang, dan dengan cepat sosok itu menahannya.
"Sigit," ucap sosok dalam kegelapan yang tak lain adalah Surya.
"Hah, sialaan, Lu, ngangetin aja," Maki Sigit, namun masih bersyukur itu adalah sahabatnya, bukan sosok yang tadi membawa golok.
"Yang lain kemana?" tanya Surya.
"Kamu nanya? Hah?"
Surya menepiskan pundak Sigit yang ia anggap sangat menyebalkan. Lalu mereka celingukan mewaspadai kalau sosok itu tiba-tiba saja muncul.
Sreeeeek...
Sebuah golok mekayang dan hampir saja mengenai kepala Sigit, lalu benda itu menancap dipohon karet.
Seketika keduanya tersentak kaget, lalu saling pandang dan berlari ketakutan.
Braaaaak..
"Aaaaaaa...," terdengar suara pekikan dari remaja tersebut.
Surya terjatuh karena kakinya tersangkut pada akar pohon kacangan yang tumbuh dikebun karet.
Sigit yang sudah berlari jauh, dengan cepat menghentikan pelariannya dan menoleh kebelakang.
Dalam kegelapan malam, ia mencoba kembali berbalik untuk menyelamatkan sahabatnya yang tertinggal.
Sigit dengan cepat menarik pergelangan tangan rekannya, namun teras berat.
"Siall, lu makan apaan, sih, berat banget," omel Sigit ditengah usahanya untuk membantu Surya.
Saat bersamaan, ia melihat sosok yang menggunakan jas hujan itu mendekati mereka. Lalu dengan cepat Sigit menarik sahabatnya.
"Ayo, lari," teriak Sigit saat berhasil membantu Surya untuk bangkit.
Lalu keduanya berlari tanpa arah dan tujuan, sebab kegelapan malam membuat keduanya tak dapat mengenali jalanan.
Sreeeeek...
Sebuah sabetan golok mengenai punggung Sigit, dan membuat remaja itu tersungkur.
"Aaaaa...," pekik Sigit yang merasakan sakit dibagian punggung kirinnya.
Darah mengalir dari luka yang terkena sabetan dan membuat remaja itu meringis menahan sakit.
Sosok itu tersenyum memyeringai dan menghampiri Sigit yang sedang kesakitan.
Sementara itu, Jarwo dan warga yang sudah termakan hasutan datang beramai-ramai menuju ruma Ki Roso.
Mereka ingin meminta pertanggungjawaban atas segala apa yang terjadi. Warga meyakini jika Ki Roso sedang menganut ilmu hitam yang membutuhkan remaja sebagai tum-balnya.
Suara derap langkah warga dengan membawa suluh bambu dan juga senter terlihat mengarak menuju rumah Ki Roso.
Sesampainya didepan gubuk nan reot tersebut, maka Jarwo yang saat ini menjadi pemimpin Massa tersebut berteriak lantang memanggil pria paruh baya itu untuk segera keluar dari kediamannya.
"Ki, Ki Roso, keluar kamu," teriak Jarwo lantang. Lalu diikuti suara seruan dari warga yang sudah berkumpul.
"Siapa itu, Kang? Mengapa terdengar sangat ramai sekali diluar?" tanya Mbok Darsih dengan rasa penasaran.
Wanita itu beranjak bangkit dari duduknya, lalu berjalan tertatih menuju pintu depan rumahnya. Ia mengintai dari bilik bambu yang merenggang dan melihat warga sudah berkumpul didepan rumahnya.
Darsih tersentak kaget, sebab ia tidak mengerti mengapa warga tiba-tiba datang ke rumahnya dengan raut wajah yang penuh amarah.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah suaminya untuk meminta sang suami melihat apa yang terjadi diluar rumah.
Sementara itu, sosok berjas hujan bersiap mengayunkan goloknya pada sigit yang sudah terperangkap pada kema-tiannya.
Wuuuuusssh....
Ayunan golok siap memisahkan kepala Sigit dengan cepat.
Traaaaaang...
Suara sambaran benda logam menghantam golok tersebut dan membuatnya terlepas.
Sosok itu menoleh ke arah pemuda bertubuh tinggi yang sedang berlari menuju ke arahnya. Melihat kehadiran pemuda itu, sosok tersebut melesat dan menghilang dikegelapan malam.
"Sigit, kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang yang sangat dikenal remaja itu.
"Bang Darmadi," ucapnya lemah. Ia merasakan sakit pada punggungnya.
"Bang, kenapa jadi begini rencananya?" ucap Surya yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.
"Sudahlah, kita pergi membawa Sigit ke Bidan Andana untuk mendapatkan perawatan," titah Darmadi, yang dijawab dengan anggukan oleh Surya.
Contoh DAENG KEBO..DAENG MATOLA..
boy...boy...tunggulah giliranmu.