NovelToon NovelToon
Suami Yang Ku Benci

Suami Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Kaya Raya
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arkya

Arumi sangat kesal dengan kedua orangtuanya. Di umurnya yang belum genap 23 tahun sudah di nikahkan dengan laki-laki yang tidak dia sukai. Meski laki-laki yang menjadi suaminya itu sudah ia kenal. Tapi tetap saja ia membenci Akbar. Bahkan di belakang Akbar, Arumi menjalin kasih dengan laki-laki lain yaitu salah satu cowok terpopuler di kampusnya.
Apakah Akbar akan mengetahui kelakuan Arumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bar-bar ternyata

"Pak, ini sudah jam makan siang. Anda tidak ingin keluar cari makan?" Tanya Rio.

Akbar yang begitu sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Jam setengah satu lebih.

"Sebentar lagi." Ucapnya. Tinggal sedikit lagi ia membaca salah satu proposal. Setelah itu ia akan keluar mencari makan.

Rio hanya mengangguk, menyela juga tidak berani.

Akbar kemudian mendongak menatap Rio yang duduk di depannya. Membantunya membaca poin-poin penting yang ada di kertas putih tersebut.

"Kamu kalau sudah lapar, keluar saja. Tinggalkan pekerjaanmu. Itu bisa kamu lanjutkan nanti."

"Tidak, Pak. Saya nanti saja makannya." Jawab Rio. Ia cukup segan, meski sebenarnya perutnya sudah lapar.

"Jangan bantah perkataan saya, Rio!" Tekan Akbar dingin.

Rio meringis, bosnya itu memang tidak suka dibantah. Apalagi kalau suaranya sudah bernada dingin seperti ini. Maka harus ia patuhi kalau tidak ingin kena tatapan datarnya yang bisa membuatnya membeku di tempat.

"Iya, Pak. Saya keluar dulu kalau gitu. Permisi." Pamit Rio setelah menutup salah satu berkas.

"Hmm." Angguk Akbar dan kembali fokus pada proposal yang ia baca.

"Maaf, Pak." Ucap Rio, kembali lagi sambil membuka pintu.

Akbar memutar kursinya. "Ada apa?" Akbar menatap sekertarisnya yang kini berdiri di tengah-tengah pintu.

"Ada tamu Pak." Jawab Rio.

"Siapa?" Tanya Akbar dengan kening mengkerut.

"Teman anda katanya." Jawab Rio lagi.

"Teman." Batin Akbar.

"Ya sudah, suruh dia masuk."

"Baik, Pak."

Setelah itu, seorang pria yang ketampanannya sebelas dua belas dengan Akbar masuk dengan pakaian casual.

"Hai, bro." Sapanya.

Akbar menoleh. Laki-laki tampan itu cukup terkejut melihat siapa yang datang.

"Rey!" Akbar bangkit dari kursi kebesarannya dan memeluk tubuh sahabatnya itu.

"Kapan datang?" Tanya Akbar setelah melepas pelukannya lalu meminta Rey untuk duduk.

"Tadi, dan langsung ke sini menemuimu." Jawab laki-laki bernama Rey itu sambil mendaratkan tubuhnya di sofa. Berseberangan duduk dengan Akbar.

Akbar tersenyum dan geleng-geleng kepala.

"Jadi, setelah dari bandara kamu langsung ke kantorku. Belum pulang ke rumahmu?" Tanya Akbar.

"Iya." Angguk Rey. "Karena menemuimu jauh lebih penting daripada pulang ke rumah."

Sebelah alis Akbar terangkat satu. "Penting?" Tanyanya tidak mengerti.

Duk..

Rey melempar kotak tisu yang ada di meja ke dada Akbar. Yang apesnya Akbar tidak siap menangkap.

"Kamu nikah kenapa nggak ngasih kabar?" Kesal Rey, menjawab alasannya datang.

"Jadi ini alasanmu langsung kemari. Sorry, aku beneran lupa." Jawab Akbar dan mengembalikan kotak tisu tersebut ke tempat semula.

"Lupa, yang benar saja. Kamu nikah udah ada dua minggu, Bar. Bisa-bisanya bilang lupa?" Sindir Rey.

Akbar hanya tersenyum tipis. "Kamu tahu hal ini dari mana?"

"Dari Mama. Mama ngasih kabar kalo kamu sudah punya istri. Dan gara-gara itu juga aku disuruh pulang." Desah kasar Rey sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Mengingat permintaan sang Mama yang menyuruhnya untuk segera meninggalkan negara kanguru tersebut.

"Jadi karena permintaan Tante Lisa kamu pulang?"

"Nggak juga, tapi kontrak kerjaku di sana juga sudah berakhir." Rey kembali menegakkan tubuhnya.

"Memang sudah waktunya kamu bekerja di perusahaan Papamu. Kasihan beliau, punya anak tapi lebih milih jadi TKI." Ledek Akbar.

"Sialan. Itu namanya cari pengalaman. Di sana juga enak, apalagi ceweknya cantik-cantik." Rey menaik-turunkan alisnya.

"Tobat Rey, ingat usia."

"Nanti, kalau udah nemu yang sreg. Ngomong-ngomong sudah makan siang belum?"

Sudah jam satu lebih sepuluh menit rupanya.

"Belum, kenapa?"

"Cabut yuk. Cari makan, udah kangen banget sama masakan Indonesia." Ajak Rey.

"Ya sudah, ayo." Akbar bangkit dari duduknya berjalan ke meja kerjanya. Menutup berkas lalu mengambil dompet dan kunci mobilnya.

***

Akbar membelokkan mobilnya ke sebuah resto ternama. Resto yang memiliki berbagai menu khas makanan indonesia.

"Duduk di situ saja Bar." Rey menunjuk meja depan di sudut kiri.

"Tidak, kita ke sana saja." Jawab Akbar, tatapannya kini mengarah pada seorang gadis.

"Di mana?" Tanya Rey bingung.

"Kamu lihat dua gadis yang ada di sana. Yang lagi ngobrol itu?" Tunjuk Akbar dengan dagunya. Rey pun menoleh ke arah yang di maksud Akbar.

"Gadis muda itu?"

"Iya, kita gabung saja dengan mereka."

"Widih.. matamu jeli sekali, Sob. Tau aja yang bening-bening, mana yang pake baju warna biru cantik lagi. Ya sudah, ayo."

Rey berjalan lebih dulu dengan semangat, meninggalkan Akbar yang belum juga bergerak.

Akbar menatap Rey datar lalu menghembus napas kasar. Sifat playboy sahabatnya itu belum bisa hilang juga jika melihat wanita cantik.

"Hai, boleh ikutan gabung?" Tanya Rey dengan menampilkan senyum menawannya membuat Arumi dan Rindi serempak mendongak. Kedua gadis itu menatap satu sama lain.

Rey menyadari kebingungan mereka. "Kenalin namaku Rey." Mengulurkan tangannya. Tetapi tidak mendapat sambutan dari Arumi maupun Rindi.

"Dia sahabatku." Ucap Akbar tiba-tiba dan main duduk saja di depan Arumi.

"Siapa yang nyuruh kamu duduk?" Tanya Arumi, matanya mendelik.

"Ini tempat umum." Jawab Akbar santai.

"Mereka ini siapa kamu Bar?" Tanya Rey sambil menarik kursi yang ada di samping Akbar.

"Gadis yang pakai kaos warna biru ini, istriku. Namanya Arumi. Dan satunya namanya Rindi, sahabat Arumi." Jelas Akbar.

Mata Rey seketika berbinar. "Waw.. pinter juga kamu cari bini. Masih muda lagi." Goda Rey dengan senyum usilnya.

Arumi menatap sinis Akbar dan juga Rey.

"Bar, istrimu cantik tapi jutek sekali." Bisik Rey dan tentu saja di dengar oleh Arumi dan Rindi.

"Aku dengar." Jawab Arumi. Rindi hanya mengulum senyum.

"Sorry." Ucap Rey.

"Kalian pergi sana, cari meja lain. Jangan di sini." Usir Arumi. Kedatangan dua pria di hadapannya itu membuat selera makannya menjadi hilang.

Akbar tidak memperdulikan Arumi, justru memanggil pramusaji dan memesan menu yang ia inginkan.

Arumi semakin kesal. Kenapa harus satu meja dengannya, padahal masih banyak meja lain yang kosong. Arumi makan dengan perasaan dongkol.

"Pelan-pelan. Nanti kamu keselek." Ucap Akbar melihat cara makan Arumi yang terkesan buru-buru.

"Bodo." Jawab Arumi ketus.

"Mulutmu, nggak baik ngomong gitu." Tegur Akbar.

Rey memandang lekat Arumi. Jika ia perhatikan, istri sahabatnya ini sepertinya tidak menghargai Akbar sama sekali. Kata-katanya ketus, tidak ada rasa takut sedikit pun sebagai seorang istri. Apalagi dengan terang-terangan mengusir Akbar.

"Bar, kelakuan istrimu bar-bar banget ya?" Ledek Rey sembari melipat tangan di atas perut.

"Ya, begitu lah." Jawab Akbar sekenanya.

"Cewek begini kamu jadikan istri. Bukannya yang suka sama kamu banyak ya. Harusnya kamu nikah dengan Cintya saja. Kalian bakal jadi pasangan serasi." Ucap Rey.

Entah apa maksud ucapan Rey. Tapi Arumi merasa tersinggung. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.

"Ternyata kamu masih ingat Cintya juga." Akbar tertawa.

"Ingat lah, gadis seanggun Cintya siapa yang bakal lupa?" Jawab Rey melirik sinis Arumi.

.

.

.

Bersambung.

1
Itanasya Tasya
Sudah tamat ke... tergantung jln cerita nya
Arkya: udah🙏🙏
total 1 replies
Anis Rohayati
ko ga up2 ka aku nunggu bgt 😭😭😭
Arkya: crita saya di Watt**d malah lebih seru lho Mams krna genre horor dan romance udah tamat juga dua"nya🤗
total 3 replies
Wela Pky
ngereget
Anis Rohayati
dasar jalang cintya
Anis Rohayati
arumi akbar jadi baper aku 😍😍😍😍😍
Sabiya
Bagus banget
Sabiya
lanjut thor
Sabiya
heh maksudnya..
Sabiya
Tapi lu kan g ngakui Akbar sbg suami.
Sabiya
ngakak
Sabiya
ada ada aja
Sabiya
auto geleng2
Sabiya
Ayo Bu Ajeng tetep beri nasehat ke Arumi
Sabiya
hayo jawab jujur jgn boong lagi
Sabiya
menurut gue lebih nyaman sama Akbar lah
Sabiya
nyesek dah..
Sabiya
hmm..
Sabiya
santai Thor woles,
Sabiya
mau nyosor aja lu Mar,
Sabiya
insting suami emang kuat, peka juga Mas Akbar gue
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!