"Apa?! Menikah dengan orang gagap itu? Aku tidak mau!"
"Menikah dengan kakak ipar mu, atau pergi dari rumah ini!"
Aline terpaksa menikah dengan kakak iparnya yang gagap karena keponakannya dan juga kondisi keuangan keluarganya yang bergantung pada kakak iparnya. Sedangkan Aline sendiri sebenarnya memiliki kekasih yang sangat dicintainya.
Apakah Aline bisa mempertahankan rumah tangga yang tidak di landasi rasa cinta?
Ataukah perlahan akan mencintai pria gagap yang dari awal tidak disukainya?
Yuk, simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Menguping
Setelah dokter menjelaskan lebih detail tentang bahayanya bila Roni pengki tidak melakukan amputasi pada alat berkembang biaknya yang bengkak dan menghitam, akhirnya dengan berat hati Roni pengki setuju ular kobranya di amputasi.
Sedangkan Sarah kebingungan, karena sudah beberapa hari si Roni pengki menghilang tanpa ada kabar. Roni pengki dan Sarah hanya memperkerjakan orang untuk bersih-bersih di pagi hari. Tetangga kanan, kiri dan depan pun tidak mengetahui saat si Roni pengki pergi ke rumah sakit di jemput ambulans. Saat Sarah menelpon ke kantor Roni, orang kantor mengatakan bahwa Roni pengki izin tidak masuk kantor. Tidak mengatakan apa alasan si Roni pengki tidak masuk kantor.
Hal itu karena si Roni pengki meminta agar sakitnya di rahasiakan. Karena saat si Roni pengki sedang di rawat di rumah sakit, orang HRD tidak sengaja bertemu Roni pengki. Pada akhirnya orang itu tahu kalau si Roni pengki mendapatkan musibah dan harus di amputasi ular kobra-nya.
*
Sarah membuang napas kasar. Rumah itu tetap kosong. Tidak ada tanda-tanda suaminya pulang.
"Kemana orang itu? Apa dia marah, karena kemarin aku tinggal tidur? Sudah tiga hari dia tidak pulang dan handphonenya pun tidak aktif. Aku sudah tidak tahan lagi. Jangan salahkan aku, jika aku mencari pria lain untuk memenuhi kebutuhan biologis ku. Siapa suruh dia tidak pulang-pulang dan tidak memberikan kabar?" gumam Sarah, kemudian mengambil kunci mobilnya.
Sarah mendatangi sebuah club malam dan menyewa gigolo ( pria penghibur) untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Wanita yang tengah mengandung trimester kedua itu tidak peduli siapa yang mengunjungi bayi dalam kandungannya. Hati dan logikanya telah di lumpuhkan oleh nafsu sesaat.
Biasanya, Sarah merasa belum puas, jika hanya di layani satu kali mendapatkan pelepasan. Sarah ingin dua kali pelepasan atau lebih. Karena itu, dari awal Sarah sudah bernegosiasi dengan gigolo yang di sewanya.
Mereka masuk ke dalam sebuah kamar dan tanpa basa-basi langsung melakukan aktivitas di atas ranjang.
"Kamu memang hebat," ucap Sarah pada pria sewaannya yang usianya masih dua puluh tahunan.
Mereka baru saja selesai bercinta. Tubuh mereka masih polos tanpa sehelai benang pun. Sarah meraba otot-otot di dada dan perut pemuda yang memangkunya itu. Bahkan tubuh mereka masih menyatu sempurna.
"Nona cantik masih ingin lagi?" tanya pemuda tampan itu tersenyum manis. Jemari tangan pemuda itu mulai bergerilya di tubuh Sarah.
"Tentu saja. Jika hanya mendapatkan satu kali pelepasan saja, aku masih belum puas. Kamu harus membuatku benar-benar merasa puas. Jika kamu bisa memberikan kepuasan yang aku inginkan, aku akan memberikan tips padamu," ucap Sarah kembali ingin mencium pemuda di depannya itu.
"Tunggu! Apa ini tidak berbahaya bagi kandungan nona? Aku tidak mau di salahkan jika terjadi sesuatu pada bayi di dalam kandungan nona," ucap pemuda itu menahan Sarah yang ingin menciumnya.
"Aku tahu bahaya atau tidaknya. Jika ini membahayakan bayiku, maka aku akan merasa sakit. Dan aku akan berhenti," ucap Sarah tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya pada pemuda itu, lalu langsung mencium pemuda itu dengan agresif.
"Baru kali ini aku melayani tamu yang sedang hamil. Tapi, sensasinya terasa berbeda. Wanita ini begitu bergairaah. Aku sangat menikmati tubuhnya yang berisi ini. Apalagi bagian bokong dan bagian dadanya," gumam pemuda itu dalam hati.
Walaupun awalnya agak canggung dan sedikit takut, karena melihat perut Sarah yang membuncit. Namun lama kelamaan pemuda itu melupakan segalanya saat dirinya sudah di bakar nafsuu,. Apalagi saat tubuh mereka benar-benar sudah menyatu sepenuhnya.
Hanya lenguhaan dan desahann yang terdengar. Dua tubuh yang menyatu dan sama-sama mencari kenikmatan yang lebih dan lebih.
Miris. Di saat si Roni pengki terpuruk karena harus kehilangan benda pusaka kebanggaan nya, Sarah malah membayar orang untuk menyirami benih yang di tanam oleh si Roni pengki.
Entah bagaimana perasaan si Roni pengki, jika tahu benih yang di tanamnya di sirami pria lain. Kalau Vivi, si Roni pengki jelas tahu, bahwa benih yang tidak diinginkannya itu disirami pria lain. Tapi benih yang ditanamnya dengan sepenuh hati di rahim Sarah, tanpa diketahuinya juga disirami pria lain.
Sudah dua minggu si Roni pengki di rawat di rumah sakit. Sedangkan Sarah hampir setiap hari bersenang-senang dengan pria penghibur semenjak si Roni pengki pergi tanpa kabar berita. Bergonta-ganti pria seperti berganti baju. Menjelajah mencari mana yang yang benar-benar bisa memuaskan nafsuu-nya yang sudah termasuk hiper itu.
*
Si Roni pengki duduk di taman rumah sakit dengan tatapan kosong. Amputasi ular kobranya benar-benar membuat dirinya merasa terpukul. Pria itu akhirnya beranjak dari duduknya dan berjalan di koridor rumah sakit itu.
"Roni, Vivi sudah melahirkan belum?" tanya Fina saat melihat Roni.
Sedangkan si Roni pengki yang merasa ada yang menyebut namanya pun menoleh. Namun pria itu bergegas bersembunyi saat menyadari yang di panggil bukan dirinya, apalagi saat mendengar nama Vivi.
"Be .be..belum," sahut Roni.
"Apa ini suami si Vivi? Pria gagap ini?" gumam si Roni pengki dalam hati.
Roni pengki menatap ke arah Roni dan mengamati pemuda itu baik-baik. Usia Roni sepertinya lebih muda dari usia si Roni pengki. Tubuh si Roni pengki juga kalah gagah dari Roni.
Dari celana panjang dan kemeja yang di pakai Roni, terlihat kalau perut Roni rata. Berbeda dengan perut si Roni pengki yang sedikit buncit.
Sebenarnya, si Roni pengki dan Roni sama-sama rajin berolahraga, yaitu push up. namun, tempat olahraga mereka lah yang membedakan hasilnya. Perut Roni sixpack karena selain push up di atas ranjang bersama Vivi, juga push up di lantai dan dinding yang membuat perut Roni rata dan berotot.
Sedangkan si Roni pengki hanya berolahraga di atas ranjang tanpa push up di lantai atau dinding yang menyebabkan perut si Roni pengki menjadi onepack.
"Bukannya prediksi lahiran Vivi hari ini, ya?" tanya Fina seraya mengernyitkan keningnya.
"Tuan Roni kurang rajin membantu membuka jalan lahirnya, dok," ujar dokter kandungan yang menjadi dokter kandungan Vivi yang tiba-tiba muncul.
"Huh, kamu ini Ron. Kamu pasti tidak tega, ya, meniduri istri mu yang perutnya sudah besar itu?" tebak Fina yang blak-blakan, tapi tepat sasaran.
"I..iya," sahut Roni menghela napas panjang.
"Saya, 'kan, sudah mengatakan. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa melakukan hubungan suami-istri saat hamil, khususnya pada bulan-bulan akhir seperti bulan kedelapan dan kesembilan dapat membantu membuka jalan bagi bayi, sehingga dapat memperlancar proses persalinan,"
"Dengan cara yang sudah pernah saya jelaskan pada Tuan Roni, Tuan aman melakukan hubungan suami-istri. Berhubungan suami-istri mendekati hari persalinan bisa membuat kontraksi, mengurangi stress selama kehamilan, dan menyiapkan rahim untuk bersalin. Jadi, jangan takut melakukan hubungan suami-istri di saat istri anda hamil tua," ujar dokter kandungan itu.
Fina menghela napas panjang menatap Roni.
"Ron, persalinan normalnya terjadi ketika usia kehamilan cukup bulan, yaitu 37-40 minggu. Selanjutnya jika sudah lewat dari 40 minggu, maka dokter akan memberi toleransi waktu maksimal 42 minggu. Jika sudah menginjak 42 minggu, maka persalinan harus segara dilaksanakan. Bisa degan operasi caesar maupun dengan induksi persalinan. Jadi, kamu harus giat membantu membuka jalan lahir. Iya, kan, dok?" tanya Fina pada rekan sejawatnya itu setelah memberi penjelasan pada Roni.
"Betul, dok," sahut dokter kandungan itu.
"Eh, tapi ada keperluan apa kamu ke sini?" tanya Vivi.
"Me.."
"Plak"
"Mengantar ayah check up," sahut Roni setelah di tepuk lengannya oleh Fina.
"Oh, gitu. Ya, sudah, sebaiknya kamu pulang! Bantu istri mu membuka jalan lahir sana!" ujar Fina seraya mendorong Roni pergi.
Roni akhirnya pamit pada dua dokter itu. Sedangkan si Roni pengki masih diam di tempat persembunyian.
"Roni ini jadi orang kelewat baik. Begitu tulus dan ikhlas pada istri dan keluarga istrinya," ujar Fina menatap Roni yang semakin jauh.
"Tuan Roni adalah sahabat dokter Fina, 'kan?" tanya dokter kandungan itu.
"Iya. Dia itu salah satu sahabat ku yang nggak banyak tingkah dan terbilang normal di bandingkan dengan yang lainnya. Yang tidak normal dari Roni haya cara bicaranya yang gagap saja. Rayyan terlalu dingin pada orang lain. Aiden mantan Casanova, Si Andi ceplas-ceplos dan licik. Kalau bicara pedesnya nggak ketulungan. Tapi mereka semua adalah sahabat terbaikku,"
"Sayangnya, aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahan satu pun dari mereka. Aku selalu berada di ruangan operasi saat mereka menikah. Tapi, aku bahagia melihat mereka bahagia. Karena aku sendiri juga sudah bahagia dengan keluarga ku. Mereka berempat yang membantu aku mendapatkan suamiku," ujar Fina terkekeh kecil.
Ya, para sahabat Fina lah yang berkontribusi besar membantu Fina mendapatkan pria impiannya yang sekarang sudah menjadi suaminya. Bahkan Fina sudah dikaruniai dua orang anak yang cantik dan tampan.
Setelah menguping pembicaraan Roni dan dua orang dokter itu, Roni pengki kembali berjalan dengan lambat mengingat ular kobranya belum sembuh benar. Namun tiba-tiba Roni pengki terkejut saat melihat beberapa perawat berjalan cepat mendorong ranjang pasien.
"Sarah?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
roni dpt vivi itu anugrah, tp roni punya bini c aline sptnya musibah
org macam kmu hrs ditampar keadaan dulu baru sadar diri