Setelah terpeleset kulit pisang, Nadia pindah memasuki dunia sebuah novel. Ia menempati tubuh kakak tiri dari pemeran utama wanita.
Kakak tiri ini tokoh jahat yang tergila-gila pada Pemeran utama pria. Memaksa pemeran utama pria menjadi tunangannya, Mengatur kegiatan, membuntuti, mempermalukan, dan melabrak semua teman wanita yang mendekati tunangannya. Perilakunya membuat semua orang termasuk keluarganya membencinya.
Pemeran utama pria muak padanya dan diam-diam jatuh hati pada pemeran utama wanita yang lembut. Mengetahui hubungan mereka, Kakak jahat merencanakan kecelakaan untuk membunuh pemeran utama wanita.
Tapi rencananya terbongkar. Tak hanya diusir dari keluarga, wanita jahat itu dijebloskan ke penjara selama 10 tahun, lalu mati dan mayatnya dimakan anjing.
Nadia bertekad untuk merubah nasibnya. Memutuskan pertunangan lebih awal dan ingin membalas dendam pada mereka yang menyakitinya.
Tapi paman pemeran utama pria mulai mengganggunya.
"Gadis, ayo kita menikah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismasama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKUR
Kantor CEO Century Entertainment.
Wajah Darmawan penuh murka. Tim humas yang melaporkan perkembangan kasus mengucurkan peluh.
Rekaman CCTV yang beredar sudah berhasil dihapus. Tim humas Century Entertainment juga mengerahkan buzzer untuk meninggalkan komentar bagus di internet. Semua mulai tampak terkendali.
"Kami juga sudah meminta media untuk fokus memberitakan pelaku yang telah memfitnah nona Nadia. Masyarakat akan menyukainya karena di masa lalu mereka berteman dekat."
Darmawan mengangguk. Mengarahkan pandangannya pada Clara dan istrinya yang sedang menunggu dengan cemas.
"Minta maaf dan rendah hati lah. Informasikan bahwa itu hanya kesalah pahaman karena emosi sesaat. Akur lah dengan kakakmu."
Clara mengangguk.
Pintu diketuk dan suara sekretaris terdengar: "Direktur, nona Nadia ada di sini."
"Biarkan dia masuk."
Pintu terbuka dan sosok Nadia yang mengenakan blouse hitam selutut masuk. Darmawan menyipit. Semakin hari ia merasa penampilan putri sulungnya itu semakin enak dipandang.
Suara Rini terdengar: "Nadia... Lihat ulah apa yang kamu lakukan pada adikmu! Gara-gara kamu semua orang memarahinya!" dengusnya.
"Ibu... Tenanglah." Clara menenangkannya dan menghampiri Nadia.
"Kakak aku minta maaf. Rekaman itu diambil dari sudut yang salah sehingga membuat kesalahpahaman. Aku tak pernah memiliki niat jahat untukmu." air mata memasahi matanya yang cantik. Begitu memelas.
"Nadia lihatlah adikmu yang menyedihkan itu. Kau dengan kejam ingin menghancurkan karirnya dan memfitnahnya. Membuat semua orang muncul dan memojokannya" Rini masih marah. Tiga hari putrinya ketakutan dan kacau karena opini publik di luar sana. Sebagai Ibu, siapa yang tidah marah anaknya diperlakukan seperti itu.
"Sudah sudah... Jangan terus memarahinya." Darmawan menghentikan istrinya. Sebelumnya Kevin memberitahunya bahwa ia sudah menghubungi pemilik restaurant, Sutradara, dan kepolisian untuk meminta menarik pernyataan mereka. Tapi mereka semua menolak. Bahkan mereka tak bergeming ketika Kevin menawarkan keuntungan dan ancaman. Seolah mereka lebih takut pada orang dibaliknya.
Darmawan merasa itu aneh. Siapa di luar sana yang melakukan hal itu dan ingin menyakiti putrinya?
"Kalian berbaikan dan damailah. Umumkan bahwa sebelumnya hanya kesalahpahaman." Darmawan tampak lelah. Setelah tiga hari tegang akhirnya ia bisa santai.
Clara mengangguk. "Kakak... Ayo berfoto bersama. Aku akan mempostingnya di media sosialku."
Nadia tak bermaksud membesar-besarkan masalah itu. Jadi dia setuju.
"Kalian bisa kembali aku masih memiliki banyak pekerjaan." Darmawan mengusir ketiganya.
"Ayah... Ini pertama kalinya aku datang ke kantormu. Bolehkah aku melihat-lihat?" Nadia tampak tertarik menjelajahi kantor ayahnya. Itu cukup besar sekitar 30 lantai. Menaungi dua ratusan staf dan artis.
Darmawan mengangguk setuju. "Biarkan sekretaris menemanimu."
"Kakak aku ikut denganmu. Aku cukup mengenal tempat ini." Clara muncul dan menempel padanya.
Ditemani sekretaris mereka mulai berkeliling. Sekretaris membawa mereka ke setiap lantai mengenalkan setiap sudut. Agensi hiburan ini tak kekurangan orang cantik dan tampan, tapi kemunculan dua putri pemilik agensi menarik perhatian seluruh karyawan. Mereka berdua begitu menawan. Kakaknya terlihat cantik dan tertutup, adiknya yang menempel di sebelahnya begitu lembut dan ceria seperti peri. Setiap artis dan idol yang mereka temui bersikap ramah pada kedua gadis itu. Meminta berfoto bersama untuk diposting di media sosial mereka. Keduanya sedang terkenal saat ini. Memposting foto bersama mereka bisa dijadikan ajang promosi gratis bagi artis.
Nadia mulai bosan. Ia tak tertarik melihat artis yang sedang berlatih dan kerumunan yang meminta berfoto itu. Ia mengalihkan pandangannya ke sekretaris disampingnya.
"Aku ingin melihat ruangan staff." ucapnya.
Sekretaris mengangguk. Membawa mereka ke lantai atas tempat para staff berada. Tiga lantai digunakan sebagai ruangan staff yang dipisahkan oleh sekat kaca untuk membedakan berbagai divisi di setiap departemen yang berbeda. Melihat para staff yang bekerja di meja mereka Nadia tampak terpesona. Ia mengingat kehidupan masa lalunya yang karyawan. Begitu sibuk dan tampak keren mengenakan pakaian kerja dengan segelas kopi di meja. Nadia merasa Nostalgia.
Para karyawan menyapa mereka dengan sopan dan lebih serius bekerja. Kemunculan dua putri CEO itu seperti sidak mendadak sehingga mereka bertindak lebih serius di mejanya. Nadia tertarik dengan suara di ruang meeting. Seperti sedang berdebat. Ia berjalan ke ruang meeting dan membuka pintunya.
Semua orang di dalam ruangan berpaling. Menatap gadis tak dikenal yang mengganggu rapat mereka.
Sekretaris yang menemani buru-buru menjelaskan.
"Ah... Ini adalah Nona Nadia putri CEO kita. Kami sedang melihat-lihat. Kalian silahkan lanjutkan dan abaikan saja kami."
Sudrajat mendengus. Ia sedang sibuk menghadapi masalah skandal aktrisnya tapi harus diganggu oleh dua bocah ingusan yang penasaran. Ckck privilege memang mengerikan.
Mereka kembali berdebat dan Nadia dengan serius memperhatikan. Ia mulai menangkap poin dari perdebatan mereka. Itu tentang seorang artis biasa dari keluarga biasa yang kedapatan bepergian mengenakan pakaian, jam tangan dan mobil mewah. Publik curiga dan menuduhnya sebagai peliharaan orang kaya.
Sebagai catatan, di dunia entertainment merupakan hal lumrah artis atau idol menjadi kekasih atau simpanan orang-orang kaya selama tidak diketahui publik. Relasi dengan orang-orang hebat bisa membuat jalan karir artis lebih mulus karena memiliki sokongan.
Pihak agensi tak melarang artisnya terjun di dunia hitam itu, hanya mengingatkan mereka untuk hati-hati. Bila skandal terungkap, agensi akan menutupinya atau mengeluarkan artis itu tergantung pada tingkat keparahan masalahnya.
Nadia berfikir sesaat.
"Boleh aku memberikan saran?" potongnya tiba-tiba.
Semua orang melihatnya dengan tak senang. Sudrajat ingin mencibir tapi menahan diri.
"Nona, ini masalah yang tidak dapat tim humas pecahkan. Tapi kalau Nona ingin berbicara silahkan kami akan mendengarkan." Lihat bagaimana bocah ini akan mengeluarkan omong kosong.
"Tadi kamu mengatakan bahwa insiden itu berpotensi membuat artis itu dikeluarkan dari drama yang akan dibintanginya. Bukankah di drama itu perannya adalah orang kaya? Lalu kalian bisa umumkan kepada publik bahwa ia sedang berlatih dan bermain kaya untuk mendalami perannya di drama. Setelah itu kalian bisa membatasi pertemuannya dengan kekasihnya sampai opini publik mereda. Bagaimana?"
Itu...
....
...
Itu bisa dilakukan!!!!!
Ruang rapat meledak dalam diskusi. Semua yang hadir tampak bersemangat dan memuji Nadia.
"Nona... Artisku memiliki masalah ini... Dapatkah anda membantu...."
"Nona.."
Pada akhirnya Nadia ditarik untuk duduk dan bergabung dalam diskusi panas mereka. Semua orang mengelilingnya dengan antusias.
Clara yang sejak tadi berdiri terdiam. Ia menatap heran Nadia di tengah kerumunan. Gadis itu tampak tenang dan dewasa. Wajah cantiknya lebih menawan saat ia berdiskusi. Clara mengepalkan tangannya keras.
"Clara, ayo pergi. Kamu harus menjadi bintang tamu variety show sebentar lagi."
Asisten Clara muncul. Clara mengangguk dan melirik Nadia sekali lagi. Bertekad untuk tak membiarkan gadis itu diatasnya.
Pada akhirnya Nadia ditahan di ruang meeting lebih dari dua jam. Semua orang tampak puas. Sudrajat yang awalnya meremehkan menatap gadis itu dengan penuh kekaguman.
"Nona kau sangat berbakat! Apakah kau tertarik untuk masuk ke timku? Nona tak perlu interview. Nona akan langsung bisa bekerja besok!"
"Tidak! Nona Nadia masuklah ke timku..."
"Nona...."
Nadia kewalahan. Ia menggelang dan menolak semua tawaran itu. Pada akhirnya mereka dengan enggan membiarkan Nadia pergi.
"Nona, CEO memanggilmu." ucap sekretaris.
Nadia mengangguk dan kembali ke ruangan ayahnya.
"Kudengar kamu memecahkan beberapa masalah di departemen humas. Itu bagus." Secara Alami Darmawan memuji bakat putrinya.
Nadia mengangguk.
"Duduklah... Apa kau tertarik bergabung ke perusahaan? Apa ada jabatan yang ingin kamu tempati? Ayah bisa mengaturnya."
Nadia berfikir sesaat. Memikirkan perusahaan game yang baru dirintisnya lalu menggelang. "Ayah aku ingin fokus menyelesaikan kuliahku dulu. Aku akan memikirkannya nanti."
"Tidak apa-apa kalau tak ingin jadi karyawan. Bagaimana dengan magang? bukankah kampusmu mengharuskan mahasiswa semester akhir untuk magang?" Darmawan masih mengejarnya. Ia mengetahui bahwa putrinya cukup berbakat dan ingin mulai melatihnya. Bagaimanapun ia adalah putrinya jadi akan bagus bila Nadia suatu saat menempati posisi penting di perusahaan ini.
Nadia masih menggelang. "Aku tak ingin magang di perusahaan ayahku sendiri. Mungkin aku bisa bergabung setelah lulus."
Darmawan akhirnya menyerah. "Baiklah. Ayah senang kamu cukup dewasa akhir-akhir ini. Akan bagus kalau kamu mulai fokus pada karirmu. Lihatlah adikmu. Meskipun dia lebih muda tapi dia sudah mengejar keinginannya."
Nadia hanya mengangguk.
"Rukunlah dengan adikmu. Ayah hanya memiliki kalian berdua. Jangan membuat masalah satu sama lain."
"Ya. Ingatkan juga agar ia dan ibu tidak mengusikku ayah. Maka aku tidak akan melakukan apapun."
Darmawan mendesah. "Mereka selalu sabar padamu. Lihatlah adikmu yang selalu mengalah dan memaafkan perilakumu di masa lalu. Berhentilah membenci mereka. Bagaimanapun mereka adalah ibu dan adik perempuanmu."
Nadia tak berbicara. Di dalam hati ia mencibir pandangan lelaki itu yang buta. Bisa dibodohi selama bertahun-tahun. Nadia tak ingin mengakui lelaki seperti itu sebagai ayahnya.
"Ayah... Bagaimana dengan sahamku di perusahaan?" Nadia mengalihkan pembicaraan.
Darmawan tampak terkejut. "Itu baik-baik saja. Kamu memiliki 10 persen saham setelah digabungkan dengan milik almarhum ibumu. Hasilnya disimpan dalam rekening khusus."
Nadia mengangguk cukup puas. "Aku akan mengambil dan menyimpannya sendiri. Aku juga butuh mobil."
"Bukankah mobilmu di garasi? Pulang dan ambillah. Kau sudah lama tak pulang. Bagaimana tempat tinggalmu?"
Nadia mengangguk. "Itu bagus." lalu ia berdiri. "Ayah aku harus pergi sekarang. Aku akan pulang weekend nanti."
Darmawan menatap kepergian putrinya lalu mendesah. Sejak dulu gadis itu selalu membenci ibu dan putri tirinya. Terang-terangan memusuhi di depannya sehingga kerap membuat Darmawan murka. Akhir-akhir ini ia tampak tenang dan berubah. Darmawan berharap mereka bertiga bisa rukun bersama. Ia tak ingin ada keretakan dalam keluarganya.
Lanjut dong kk🙏🙏
dalangnxa...🙄🙄
lumyn buat nmbh model usaha..😁😁