Setiap manusia pasti memiliki harapan dan cita-cita yang tinggi, indah, tapi apalah daya jika Allah sudah berkehendak.
Nafisa, wanita cantik, pandai, tapi kehidupannya di bawah rata-rata. Akan tetapi dia anak yang selalu bersyukur dengan keadaan apapun hingga suatu hari Allah mengangkat derajatnya hasil dari kesabaran dalam menjalankan ketentuan Allah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon surya mafaza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25 Jatuh
"Tolong lu bilang ke OB adik kelas, Lu. Kopi gue mana udah jam segini belum di anterin," ucap Ghazy.
"Nanti juga di anterin. Sepertinya tadi dia habis dari ruang perawatan ngobatin tangan sama kakinya yang terluka," balas Gilang.
"Luka?" tanya Ghazy.
"Iya, katanya sih tadi jatuh keserempet motor di sebrang jalan. Perasaan tadi pagi dia baik-baik saja, kenapa barusan terluka. Kapan tuh anak jatuhnya?" Gilang yang bingung dengan sendirinya.
Deg
'Apa dia jatuh saat gue suruh beli bubur ya,' batin Ghazy menebak-nebak.
"Lukanya parah nggak?" tanya Ghazy.
"Kakinya sih di balut kain kasa, kalau tangannya tergores-gores," jawab Gilang.
"Suruh dia kesini sekalian bawain kopi buat gue," ucap Ghazy.
"Gue sajalah yang ambilin, Lu kopi. Gue nggak tega kalau Nafisa harus mondar-mandir kasihan jalannya aja pincang gitu," balas Gilang.
"Gue maunya OB itu yang kesini. Lu kembali kerja sono!" ucap Ghazy dengan tegas.
"Lu ngapa sih, tumben banget. Aneh." Gilang yang merasa sedikit heran dengan sikap Ghazy.
"Cepatlah, jangan banyak tanya." Ghazy menyuruh Gilang segera pergi memanggil Nafisa lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Iya-iya." Tidak ingin mendapatkan pulpen melayang Gilang bergegas berjalan keluar ruangan Ghazy menuju pantry.
"Nafisa mana?" tanya Gilang.
"Pak Gilang nanya Dina?" Dina balik bertanya.
"Kagak. Gue nanya sama tembok tuh yang berdiri di depan," jawab Gilang.
"Oh, nanya tembok," ucap Dina dengan polosnya.
"Astaghfirullah, Dina. Lu kan tahu di sini nggak ada orang lagi selain kamu. Pastinya saya nanya ke kamu lah. Ya Allah, sabar-sabar." Gilang berkata sambil mengelus dadanya supaya tidak tersulut emosi.
"Lha kan tadi, Pak Gilang sendiri yang bilang nanya tembok," balas Dina.
"Sabar Gilang sabar. Baiklah. Dina, dimana Nafisa?" Gilang mengulang kembali pertanyaannya.
"Nafisa, tuh dia." Dina menunjuk ke arah depan dimana Nafisa baru saja berjalan masuk ke dalam Pantry.
"Kenapa?" tanya Nafisa saat di tunjuk Dina.
"Di cariin, Pak Gilang," jawab Dina.
"Giliran ngomong dengan Nafisa kayak orang bener. Kenapa kalau sama gue bikin emosi jiwa," lirih Gilang.
"Pak Gilang cari Nafis?" tanya Nafisa.
"Iya, Fis. Kamu di suruh mengantarkan kopi ke ruangan Pak Bos," jawab Gilang.
"Astaghfirullah, iya lupa." Nafisa menepuk jidatnya. Nafisa segera membuat kopi lalu mengantarkannya ke ruangan Ghazy.
"Permisi, Pak," ucap Nafisa di depan pintu ruangan Ghazy.
"Masuk," balas Ghazy.
Nafisa membuka pintu melangkah masuk ke dalam.
"Kenapa lama sekali mengantarkan kopi untuk saya," omel Ghazy saat Nafisa baru selangkah masuk.
"Maaf, Pak. Nafis lupa," balas Nafisa jujur.
"Kopinya taruh saja di atas meja. Kamu sini!" Ghazy menunjuk agar Nafisa berdiri di sampingnya.
Setelah Nafisa berdiri di sampingnya Ghazy memang lengan Nafisa.
"Kenapa?" tanya Ghazy. Dengan ekspresi sok cuek, tapi hati khawatir.
"Enggak apa kok, Pak hanya luka kecil," jawab Nafisa sambil menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Ghazy.
"Kamu jatuh?" tanya Ghazy.
"Iya, tadi keserempet motor," jawab Nafisa.
"Coba lihat kakinya." Ghazy berdiri dari duduknya lalu berjongkok agar bisa melihat kaki Nafisa yang terluka.
"Nafis tidak apa, Pak. Hanya luka kecil nanti juga sembuh," ucap Nafisa. Dia takut nggak bisa mengontrol detak jantungnya yang semakin kencang.
"Ini siapa yang mengobati?" tanya Ghazy saat melihat kaki Nafisa terbungkus kasa dengan rapi.
"Adelia," jawab Nafisa.
"Istirahat saja sana jangan kemana-mana!" ucap Ghazy dengan tegas.
"Enggak bisa, Pak. Nafis harus bekerja. Kerjaan Nafis belum selesai," balas Nafis.
"Jangan membantah. Kalau kamu nggak mau istirahat ya sudah sana pulang," ucap Ghazy dengan tegas.
'Gimana ini. Kalau aku di sini nanti orang-orang bisa curiga, tapi kalau aku pulang mereka juga pasti akan bertanya-tanya. Duh kenapa jadi ribet begini sih. Tuh orang juga dari mana dia tau aku jatuh udah sengaja tadi aku bela-belain biasa saja. Eh ... tahu juga. Ternyata di balik sikapnya yang ngeselin dia perhatian juga,' batin Nafisa. 'Astagfirullah, sadar Nafisa.' Nafisa memukul pelan pipinya.
"Pak plis biarin Nafis bekerja lagi. Nafis janji nanti istirahat di ruang ganti. Kalau Nafis di sini nanti takut ada yang curiga," ucap Nafisa mencoba membujuk Ghazy.
"Biarin paling juga kamu di bilang godain saya," balas Ghazy.
"Ih ... Nyebelin. Dahlah, Nafis mau kembali ke pantry."
Namun, saat ingin melangkah pergi tangannya di tahan Ghazy. Nafis pun terjatuh dalam pangkuan Ghazy.
Sedetik, dua detik. "Astaghfirullah, maaf, Pak," ucap Nafisa sambil berusaha berdiri.
"Jangan memanggil saya, Pak jika sedang berdua," bisik Ghazy tepat di telinga Nafis saat dia ingin berdiri.
'Ya Allah untung saja sudah halal,' batin Nafisa.
"Saya permisi, Pak." Nafisa bergegas keluar dari ruangan Ghazy.
'Ya Allah, jantung ku kenapa ini.' Nafis terus memegangi dadanya sambil berjalan menuju pantry. Ingin rasanya dia terbang agar segera sampai karena tak mampu menopang tubuhnya yang lemas setelah adegan jatuh.
Sedangkan Ghazy hanya tersenyum kecil melihat tingkah Nafis yang lucu di matanya.
"Kenapa sekarang rasanya berbeda saat dulu bersama Azkia," batin Ghazy.
"Sadar Ghazy dia hanya istri sementara." Ghazy mengingatkan pada dirinya agar tidak jatuh cinta pada Nafisa.
"Naf, kamu kenapa pipi merah begitu?" tanya Dina.
"Enggak apa, lagi nyobain pakai blass on," jawab Nafisa.
"Oh." Dina yang percaya dengan ucap Nafisa.
Sesampainya di pantry Nafisa langsung mengambil segelas air lalu meminumnya mungkin dengan menenggak segelas air bisa menenangkan jantungnya yang kini sedang tidak baik-baik saja.