Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.
Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.
Terima kasih 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
"Arthur, bagaimana jika ibumu berobat di rumah sakit pusat saja untuk saat ini? Dokter Martin, yang menangani ibumu, juga bekerja di sini. Lalu, kamu juga melakukan penelitian di lab sini. Dari pada ke daerah, bukan kah, lebih efektif di sini saja. Penelitian Lucy yang telah dikembangkan oleh team lab rumah sakit telah membuahkan hasil. Beberapa pasien ada yang menjalani terapi dengan pengobatan menggunakan formula baru ini. Dampaknya sangat bagus."
Hana menatap Dom di ruang kerjanya sambil memberi penawaran.
"Dokter Hana, terima kasih banyak atas perhatianmu pada ibuku. Nanti akan aku sampaikan padanya."
Sahut Dom sambil menatap mamanya.
"Bagaimana dengan sepatu dan pakaian milik mendiang putraku? Aku rasa cocok untukmu."
"Ya. Terima kasih banyak. Lalu, kapan tempat itu dapat digunakan?" Dom mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ini tinggal menyiapakan perlengkapan saja. Aku juga menambah sekat, menjadi beberapa ruangan. Supaya dapat menampung lebih banyak orang."
"Anda sangat baik sekali. Sungguh, Anda wanita yang luar biasa." Puji Dom dengan rasa kagum.
"Terima kasih Arthur. Kembalilah ke pekerjaanmu. Sepertinya, teman temanmu menunggu. Jangan lupa sampaikan pesanku untuk ibumu."
Tukas Hana sebelum Dom meninggalkan ruangannya.
Ingin rasanya dia memeluk mamanya dan mengatakan "Ini aku, Dominic. Aku rindu mama!"
Batin Dom bergejolak. Pikirannya kembali terusik dengan perlakuan Hana yang baik, lalu ibu Arthur yang sakit, penghianatan Stella bersama Erick, dan Lucy, yang merupakan putri Erick, yang masih terdaftar dalam dokter peneliti laboratorium.
Selama sepekan ini, hubungan pertemanan Dom dan Lucy merenggang. Entah, Lucy tinggal di mana selama ini. Mungkin, dia kembali ke rumahnya lagi, karena mamanya telah kembali. Dom tak peduli. Dia fokus pada formula anti virus yang saat ini dia teliti dan bandingkan.
Dom membandingkan menggunakan plasma sel miliknya dan milik Arthur. Dom, masih mengujinya, dan menunggu hasil penelitian ulang team utama.
Ibunya tetap menolak untuk melakukan terapi di rumah sakit pusat. Lea bersikeras melakukan kontrol di rumah sakit daerah yang menempuh waktu sekitar satu jam.
"Sudahlah, Arthur, pengobatan di sana juga bersama Dokter Martin. Ibu suka suasana di sana. Lagi pula, ibu bisa membeli bahan makanan dengan harga murah di sana, untuk persediaan kita."
Tolak Lea, ibu Arthur beralasan, ketika Dom menyampaikan pesan Dokter Hana.
Dom meninggalkan lab, sejenak untuk berlatih basket untuk pertandingan akhir pekan.
Saat dia meninggalkan lab, Dom sempat melirik pada Lucy yang masih berkutat dengan penelitiannya.
Lucy sempat membalas tatapan Dom, namun, Dom pura pura tak melihatnya.
Setelah selesai latihan, Dom kembali ke lab rumah sakit untuk mengambil tas yang sengaja dia tinggal karena berat dan repot, jika harus membawa semua perlengkapan.
Dom berjalan di koridor, suasana sangat sepi, karena dia memasuki area untuk pegawai rumah sakit. Lampu lab terlihat remang.
"Semua orang sudah kembali." Gumam Dom, sambil terus berjalan menuju ruang lab.
Dom meraih tas punggung miliknya yang masih tergeletak di sudut ruangan.
Ekor mata Dom, seolah menangkap siluet bayangan dari sisi lain ruangan.
Perlahan Dom membalikkan tubuhnya, dan melihat seseorang memakai hoodie mengambil sesuatu di meja team peneliti.
Dom bersiap untuk menangkapnya, perlahan dia menyusun kekuatan, seandainya penyusup itu melawan.
Dengan satu gerakan, Dom langsung menangkap sosok misterius itu.
"Huft!"
"Aaaarg, lepaskan!" Teriak sosok itu sambil meronta berusaha melawan, namun, Dom mempererat pegangannya. Sosok itu dipeluk, lebih tepatnya didekap dengan erat
Dom mengerutkan keningnya saat merasa sangat familiar dengan suara sosok miaterius yang ditangkapnya.
Dom mendorong sosok itu ke sisi tembok dan menguncinya, perlahan dia memutar tubuh sosok itu, dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa sosok itu.
"Aaaa...!"
"Apa maumu malam malam menyusup di sini?" Bentak Dom dengan mata berkilat penuh selidik.
"Arthur?!" Lucy terkejut saat mengetahui sosok yang menangkapnya malam itu.
Belum sempat Lucy menjawab, terdengar suara langkah kaki menuju ruangan lab.
Dom dan Lucy saling berpandangan, lalu keduanya kompak bersembunyi di balik meja laboratorium.
Dua remaja itu berusaha mengatur napas mereka supaya tenang. Langkah kaki terdengar makin jelas, dan terdengar pintu lab dibuka.
"Aku telah mendapatkan salinan formula virus dan anti virusnya."
"Bagus. Segera salin! Aku ingin segera beres, dan besok selesai tansaksinya."
"Setelah selesai, apa yang akan kamu lakukan?"
"Pertama, aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini, lalu bergabung dalam team Tuan Zed. Dia telah menawarkan pekerjaan untukku."
"Kamu sangat beruntung! Uang dapat, pekerjaan dapat. Selamat, Nona Stella."
Keduanya terdengar tertawa pelan.
Dom mengepalkan tangannya, sambil menggeretakkan giginya. Lucy menggenggam tangan Dom, dan merapatkan tubuhnya pada Dom sambil memberi isyarat supaya diam dan tenang, supaya mereka tidak ketahuan.
"Bergabunglah denganku. Bukankah, istrimu tengah mengajukan gugatan perceraian?"
"Ya, akan aku pertimbangkan tawaranmu kali ini. Untuk berjaga seandainya rencanaku tidak berjalan mulus."
"Apa rencanamu Erick?"
"Aku akan menghabisi wanita itu, dan putrinya." Suaranya terdengar dingin dan dalam. Meski terdengar tenang, namun, terasa mengerikan.
Lucy hanya diam mematung, tangannya menggenggam lebih erat tangan Dom. Dom dapat merasakan ketakutan gadis di dekatnya saat ini.
"Bukan kah dia putrimu? Setega itu kah dirimu?"
Erick tersenyum sinis.
"Dia bukan putriku. Aku menikahi Selena karena kasihan, dan karena dia adalah anak orang kaya. Kami bertemu saat dia depresi karena hamil. Saat itu, kekasihnya mencampaknya. Lucy bukan putriku."
"Lalu mengapa kamu lakukan ini semua?"
"Saat keguguran, Selena telah menulis surat wasiat. Tidak ada namaku di sana. Tak ada rasa terima kasih sedikit pun padaku." Desis Erick.
"Jadi kamu akan membalas dendam padanya?"
"Tidak. Aku hanya merebut yang seharusnya menjadi milikku. Hanya itu. Baiklah. Sudah selesai!"
Terdengar suara komputer dimatikan.
"Mengapa kamu lakukan ini?" Erick bertanya pada Stella.
"Aku menyukai hal ini, Erick. Ini sangat menantang! Aku akan menghancurkan semua peninggalan Dominic Luther."
"Mengapa kamu mau menjadi kekasihnya?"
"Untuk karir."
Stella tertawa kecil.
"Sudah selesai, ayo kita pergi!"
"Erick, ikutlah bersamaku!"
"Ayo kita pergi!"
Terdengar suara langkah kaki pergi menuju pintu lab, dan semakin menjauh.
Dom dan Lucy masih duduk diam di balik meja.
Lucy terlihat sangat terkejut. Dom sangat yakin, Lucy pasti terguncang dengan apa yang telah didengarnya barusan.