Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Marisa Sakit
"Aku mencintai kamu, Mas. Aku minta maaf atas dosaku di masa lalu," igaunya lagi membuat Bu Marlina dan Raka semakin dilanda kaget. Bu Marlina menghampiri dan segera meraih kain kompres yang ada di dahi Marisa. Saking panasnya, kain kompres itu sudah mengering, lalu Bu Marlina kembali mencelupkan kain kompres itu ke dalam baskom yang disiapkan Bi Rasmi tadi.
"Demamnya masih tinggi, tapi dengan kompres ini mudah-mudahan demamnya cepat turun. Nanti jika dia sudah sadar dan tidak mengigau lagi, kita beri obat demamnya saja yang tadi Mama beli di apotek," ujar Bu Marlina seraya dengan cekatan memasukkan dan memeras kain kompres yang akan ditempelkan di dahi Marisa.
"Coba bangunkan saja, Ma. Biar Marisa minum obat demam yang Mama beli," usul Raka.
"Nanti sebentar lagi, jam dua belas saja. Biarkan efek obat paracetamol tadi yang diberikan Bi Rasmi bekerja dulu. Kalau diberikan sekarang, Mama takutnya ada apa-apa," tukas Bu Marlina risau. Raka mengangguk setuju dengan apa yang Mamanya katakan. Bu Marlina nampak telaten mengurus menantunya.
Bu Marlina menatap lekat wajah menantunya, iba. Igauannya tadi membuat ingatan Bu Marlina kembali ke masa lalu, di mana sang menantu pernah menjadi menantu pertama kalinya dalam keluarganya. Pernikahan atas perjodohan itu hanya berlangsung selama setahun, setelah Raka merasa tidak kuat lagi menghadapi sikap Marisa yang dianggapnya tidak bertanggung jawab sebagai istri dan tidak pernah patuh.
Di sini, Bu Marlina merasa berdosa. Karena dulu pernah menjodoh-jodohkan Marisa dengan Raka, karena merasa bersahabat dekat dengan kedua orang tuanya. Demi terjalinnya tali silaturahmi, kedua orang tua masing-masing menjodohkan keduanya, berharap silaturahmi tetap terjaga dan berlanjut ke generasi selanjutnya. Namun apa yang terjadi? Marisa saat itu belum mau menerima Raka sebagai pendamping hidupnya. Akhirnya perceraian terjadi juga.
Dan kini, Marisa dan Raka menikah kembali atas kemauan Cila, sang cucu. Bu Marlina sempat ada ketakutan dalam hatinya. Namun, melihat sikap Marisa jauh lebih baik dari sebelumnya, Bu Marlina yakin pernikahan anaknya kali ini bersama Marisa akan berjalan sesuai harapan, tinggal memupuk rasa cinta di hati Raka saja, sebab sepertinya Raka masih belum bisa melupakan Marsila almarhumah menantunya. Seiring berjalannya waktu, Bu Marlina berharap pernikahan ini berbuah cinta dari keduanya. Terlebih Cila sangat dekat dengan Marisa, dan kini terungkap Marisa mencintai Raka dari igauan yang diperdengarkan barusan saat Marisa demam.
Beberapa saat setelah dikompres oleh Bu Marlina, Marisa terlihat tenang. Bu Marlina sengaja menarik lengan Raka dan mengajak Raka keluar dari kamar Cila, lalu memasuki kamar Raka yang pintunya terhubung langsung ke kamarnya.
"Duduklah!" perintah Bu Marlina seraya ikut duduk di sofa yang berada di dalam kamar Raka. "Kamu tadi mendengar apa yang dikatakan Marisa?" tanya Bu Marlina seraya menatap lekat wajah Raka. Raka secepatnya mengangguk.
"Itu artinya, Marisa sekarang benar-benar mencintaimu. Jadi, Mama harap kamu juga perlahan-lahan bisa mencintai Marisa dan melupakan dendam masa lalumu. Marisa sekarang sudah jauh berbeda dengan Marisa yang dulu. Dia mandiri, pekerja keras, lebih dewasa dan penyayang sama anak kecil. Buktinya dengan Cila saja dia dekat. Lalu yang Mama terharu, sikapnya kini lebih sopan dan bersahaja. Mama harap kamu segera membuka hati kembali pada Marisa," ujar Bu Marlina mempengaruhi Raka.
"Ya, ampun, Mama ini. Jangan paksa Raka lagi untuk yang kedua kali. Enam tahun yang lalu Raka terima dijodohkan dan berusaha mencintai Marisa dengan setulus hati. Kini, Mama memaksakan Raka untuk mencintai Marisa kembali. Raka masih trauma, Ma. Sikap Marisa di masa lalu masih terngiang-ngiang diingatan Raka. Jadi, jangan paksakan Raka untuk mencintai Marisa lagi, sudah cukup masa lalu," tegas Raka.
"Lalu apa artinya pernikahan kamu yang sekarang ini, Raka? Kamu jangan mempermainkan ikrar ijab qabul yang baru kemarin kamu ucapkan, itu dosa namanya. Kamu tidak berhak menghukum kesalahan manusia berlarut-larut, Allah saja maha pemaaf, masa kamu yang Mama kenal taat agama tidak memaafkan kesalahan Marisa yang kini sudah tobat," tukas Bu Marlina sedikit berapi-api.
"Ma, dengar dulu Raka. Raka tidak bermaksud mempermainkan pernikahan yang baru diikrarkan kemarin. Tapi, Raka hanya berjaga-jaga, siapa tahu Marisa hanyalah berpura-pura baik saking tidak ada laki-laki lain yang mau lagi sama dia. Jadi, mulai sekarang biarkan saja Marisa dengan perannya sebagai istri Raka, menyayangi Cila yang memang ingin dekat sama Marisa. Raka, hanya memantau dan berjaga-jaga saja. Mengenai perasaan cinta Raka pada Marisa, sepertinya Raka belum bisa mengganti cinta Marsila dengan perempuan manapun, termasuk Marisa," balas Raka panjang lebar mengeluarkan semua isi hatinya terhadap Mamanya.
"Tapi ingat Raka, selama kamu belum bisa mencintai Marisa kembali, jangan pernah kamu berani menyakitinya, baik fisik atau verbal. Karena jika itu terjadi, maka Mama orang pertama yang akan bertindak membalas perlakuan burukmu terhadap Marisa." Bu Marlina mengancam Raka dengan mata yang melotot.
"Ya ampun, Mama. Raka jadi takut melihat Mama melotot. Mama ini santailah dulu. Jangan terlalu berpikiran jelek terus sama Raka. Kita lihat saja nanti. Kalau Marisa sikapnya memang tulus dan baik sama Cila, maka Raka juga tidak akan menyakitinya. Mama ini terlalu ketakutan, yang menjalani pernikahan atas permintaan Cila ini Raka bukan Mama. Jadi, Mama santai saja, doakan saja kami akan tumbuh cinta secepatnya, walau semua itu tidak mungkin bagi Raka."
"Tapi bagi Allah mungkin saja, Raka. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Seperti kehendak-Nya mempertemukan kamu kembali lewat Cila, tidak ada yang bisa mencegahnya, bukan? Lalu kini kalian menikah walau terpaksa karena atas permintaan Cila, tapi Allah membuka jalan jodoh itu dari arah manapun dan lewat siapapun," sambar Bu Marlina cepat.
Raka diam tidak berani berkata atau mendebat lagi, lagipula semua perkataan Ibunya ada benarnya juga.
Hari semakin siang, Bu Marlina menyuruh Raka memindahkan Marisa ke kamarnya, sebab Cila sebentar lagi pulang.
"Assalamualaikummmmm!" Benar saja dugaan Bu Marlina, teriakan salam Cila sudah terdengar kemana-mana. Cila pulang sekolah dijemput Mang Raga. Diikuti Bi Rasmi menaiki tangga di belakangnya. Cila langsung mencari Marisa dan Papanya dengan suka cita. Untung saja, Marisa sudah dipindahkan ke kamar Raka.
"Bundaa, Papaaa!" pekiknya seraya mengetuk pintu kamar Raka yang ternyata tidak dikunci.
"Cila, sudah pulang, Sayang?" sambut Raka antusias seraya memangku Cila dan menyesap wangi kepala yang terpapar langsung matahari tadi siang di sekolah.
"Papa, aku mau turun, aku mau lihat Bunda. Kenapa Bunda diam saja, apakah demamnya belum sembuh juga?" Cila berontak dari pangkuan Raka, lalu menghampiri Marisa.
"Ehhhh, cucu Nene sudah pulang sekolah. Ayo buka baju seragamnya. Bunda sekarang lagi demam, jadi Cila belum bisa dekat-dekat Bunda. Nanti kalau sudah sembuh, Cila boleh dekat lagi," cegah Bu Marlina meraih tangan Cila. Cila merengut, tapi akhirnya patuh juga.
Saat Bu Marlina dan Cila keluar kamar, tiba-tiba Marisa terbangun dan memanggil nama Raka.
"Mas Raka!"
tak gibengae