NovelToon NovelToon
ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:283.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Diandra menganggap satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari ketidakbahagiaan atas pernikahannya adalah cerai.
💔💔💔
Nasihat siapapun tidak didengarnya. Hingga nekat diam-diam mendaftarkan perceraian.
💔💔💔
Lalu, setelah palu diketuk, barulah ia sadar ternyata hidupnya tidaklah lebih baik dibandingkan menjadi istri Ben. Apalagi setiap hari ia harus menghadapi rengekan Caca dan Cici yang minta bertemu dengan ayahnya.
💔💔💔
Kini, Diandra harus berusaha keras mendapatkan kembali hati Ben, meski di sisi Ben sudah ada perempuan lain yaitu Nasya yang siap menemani Ben dikala susah dan senang. Penyesalan memang selalu datang terlambat, lalu langkah apa yang harus dilakukan Diandra untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Ibu Datang

[Caca dan Cici kemana? Kenapa tidak ada di kontrakan semalam ini? Kamu bawa kemana mereka, Di?] pesan dari ibu.

Sebenarnya aku tak ingin membalas karena sejujurnya aku kesal membacanya. Kenapa ibu tak juga berubah, setidaknya lebih menghargai aku sebagai ibu dari anak-anakku. Kemanapun mereka kubawa, terserah aku. Tapi ibu malah sebaliknya, memperlakukan aku dengan tidak baik.

Sebagai ibu yang melahirkan aku, seharusnya ibu bisa bertanya baik-baik agar tidak membuat sakit hati dan berakhir pada jawaban sinis juga.

[Diandra, kenapa tidak dijawab? Apa yang kamu lakukan pada cucu-cucu ku? Kamu mau ibu adukan pada Ben, dia juga bisa mengambil anak-anak dari sisi kamu jika kamu tak bisa menjaganya!] pesan kedua ibu. [Ibu akan hubungi Ben, biar dia saja yang mencari Caca dan Cici. Sekalian lapor polisi, supaya kamu kapok berbuat sesuatu sesuai kehendak kamu!]

Astagfirullah. Aku mengusap pelan wajahku, mencoba menenangkan diri. [Caca dan Cici itu anakku!] begitu balasan pesan yang aku kirimkan pada ibu.

[Ibu tahu, tapi kalian dimana?]

[Kami pindah di dekat tempat kerjaku.]

[Kenapa tidak mengabari? Dimana alamatnya?]

Aku langsung mengirimkan alamat kepada ibu. Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit ibu sudah sampai di sini, diantar tukang ojek langganan ibu. Tentu saja masih mengomel, karena ibu merasa kesal sebab aku tak memberitahu akan pindah.

"Tempat seperti apa ini? Katanya kamu mau memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Kalau di sini, jauh lebih baik rumahnya Ben yang selalu kamu hina-hina itu, Di.

Itulah, makanya jangan suka menghina milik orang lain. Akhirnya Allah balaskan kepada kamu. Dapatnya yang seperti ini. Itu namanya buah dari kesombongan. Kalau hanya kamu yang dapat karmanya sih ibu nggak masalah. Ini malah ngajak cucu-cucuku segala. Lagian kamu kerja apa, sih? Jadi pembantu? Tinggal di mess sudah seperti calon TKW saja. Kamu itu terlalu sombong, Di. Lihatlah apa yang kamu dapatkan. Ngaca harusnya Di!" ibu masih mengomel, sementara Caca dan Cici mendengarkan neneknya dengan seksama.

Tentu saja apa yang dilakukan ibu membuatku naik pitam. Menjelek-jelekkan aku di hadapan anak-anak adalah hal yang tak bisa kutoleransi meskipun aku pernah melakukannya pada Ben. Tapi aku mengaku salah.

Untuk sesaat aku hanya diam, mencoba menelaah apa yang ibu katakan. Menghina rumah Ben? Sombong? Karma? Apakah aku seburuk itu?

Tidak. Aku langsung menggelengkan kepala, tak mau terbawa suasana. Meski apa yang dikatakan ibu benar, tapi bukan begitu cara menegur apalagi menasihati orang lain. Jika disampaikan dengan kasar, yang ada malah akan mental pada orang yang dinasihati. Apalagi ibu tahu karakterku yang cukup keras.

"Caca ... Cici, ayo tidur!" kataku.

Kedua anak kembar itu melihatku, begitu juga dengan ibu yang menatap tajam. Aku tak peduli, kalau ibu hanya mau mengeluarkan sampahnya di sini, kedua anakku tak boleh mendengarnya.

Aku sudah membuat mereka tidak nyaman dengan perceraian ayah dan ibunya, sekarang jiwa mereka tidak boleh kacau hanya karena omongan pedas neneknya.

"Ibu masih mau bicara dengan cucu-cucu ibu!" ucap ibu dengan tegas.

"Ini sudah pukul sembilan malam, besok mereka harus sekolah Bu. Biarkan mereka istirahat. Lagian ibu juga harus pulang." aku memanggil tukang ojek langganan ibu yang sedang duduk di depan, memintanya untuk segera mengantarkan ibu Pulang.

"Kamu ini nggak berubah juga, Di!" kata ibu, sebelum ia meninggalkan rumah kami.

Ya Tuhan ... aku lelah. Tidak nyaman dengan ini semua!

Aku langsung masuk ke dalam, menghempaskan diri di kasur busa berukuran seratus sentimeter yang ku beli untuk Caca dan Cici.

"Kenapa ibu tak juga mau mengerti? Setidaknya elajar dari apa yang sudah terjadi antara aku dan Ben. Kami berpisah juga karena campur tangan sikap ibu yang tak pernah mau mendengarkan aku. Ibu terlalu merendahkan aku." bulir itupun keluar satu-persatu, sebenarnya tak ingin menangis di depan anak-anak, tapi aku butuh mengeluarkan air mata ibu agar lega.

"Ma," Caca mendekap pelan punggungku. "Mama sedih ya karena nenek marah-marah? Memang mama melakukan kesalahan apa?" Caca mengguncang tubuhku. "Ma, kalau nenek marah, mama jangan ikutan marah, mama minta maaf saja."

"Kenapa harus minta maaf?" tanyaku, sambil berbalik menatap anak berusia lima tahun tersebut.

"Kan nenek ibunya mama. Kita kan harus hormat sama orang tua "

"Tapi yang namanya orang tua juga bisa salah."

"Caca tahu, ma. Caca sama Cici juga sering minta maaf sama mama meski kami nggak salah. Kata papa, minta maaf itu nggak membuat kita rugi, nggak membuta kita hina. Malah untung. Buktinya, kalau mama marah dan kita minta maaf, mama nggak marah lagi, kan? Dari pada kita melawan, yang ada malah mama makin marah, terus kita dapat dosa deh. Emang Mama mau dosanya numpuk sama nenek, nanti jadi anak yang durhaka lho, anak durhaka tempatnya di neraka."

Sepasang mata bulat Caca menatapku lekat. Aku tahu, sebenarnya ia agak ragu bicara, mungkin takut aku marah.

Tetapi apa yang dikatakan anak ini benar. Ahhhh, rasanya benar-benar malu. Jadi selama ini sikap mereka yang selalu tertata itu adalah hasil didikan diam-diam Ben.

Ahhhh Ben, kenapa kamu selalu saja memangkul apa yang harusnya jadi tugasku. Dan bodohnya aku, tak menyadari itu semua. Aku malah sibuk mencari kekurangan kamu!

Air mataku makin deras, membuat Caca dan Cici kebingungan.

"Mama, jangan nangis. Maafin Caca kalau Caca salah ngomong." pinta Caca, ia ikut menangis sambil memelukku dengan erat.

Ahhhh Ben, entah kenapa aku benar-benar rindu kamu. Sepertinya apa yang dikatakan ibu benar. Aku butuh kamu, Ben untuk mengendalikan sikapku yang masih egois dan sesuka hati sendiri.

Andai kita tidak bercerai. Andai aku menyadari ini semua lebih awal, mungkin aku akan jadi manusia paling bahagia di dunia ini sebab memiliki suami sebaik kamu.

"Ben!" aku tak sanggup lagi, akhirnya nama itu keluar juga dari lisanku.

"Mama!" Caca dan Cici ikut menjerit. Kami bertiga menangis sambil berpelukan.

***

Sudah pukul dua belas malam. Aku masih terbangun dengan mata yang bengkak karena menangis cukup lama. Sementara Caca dan Cici telah ketiduran sambil memeluk kaki kiri dan kananku.

Ben, maafkan aku ...

Kini, bayangan wajah Ben terlihat nyata di hadapanku. Ahhhh, aku benar-benar menyesal sudah menggugat laki-laki sebaik kamu, Ben. Aku benar-benar menyesal. Tetapi apakah semua bisa kembali seperti dulu, sedangkan saat inipun kamu tak ingin bicara padaku. Maafkan sikapku yang egois, Ben.

1
kiwi
nagis terus..suka terus...nagis lagi..suka suka suka suka suka..marah..aq juga turut marah...
kiwi
love love love love love love love love
kiwi
suka suka suka suka suka suka suka
Nani Rahayu
semoga mbak Hana diberi keturunan ya Thor 🤭
Nani Rahayu
berpikir lah seribu kali untuk bercerai......apalagi jika suami masih setia masih menafkahi...kalo cari yg sempurna g akan ada
Tutik Rahayu
giliran ketiduran panik kan anak2 ga ada... ben yg ketiduran marah2 ampe minggat
Tutik Rahayu
masih 2 bab uda bagus tp knp like dikit ya...
ga melulu kisah CEO , bagus ini seperti kehidupan real
Mila Karmila
cerita yang indah...ada hikmah yang bisa dipetik....semoga readersnya terus bertambah....tetap semangat thor...tetus berkarya...👍👍👍👍
Ros Minie
udah ga punya kerjaan, ga punya income, minta cerai, bawa anak lagi, ego di besarin, gimana hidupnya bkn enak, tapi malah nyungsep
Ros Minie
blm tau diandra, jalani hidup emang gampang, sesuai dengan kata dan impian, semua itu butuh proses ga njleb langsung ada
Tri Widayanti
Duhhh Diandra
Tri Widayanti
Hadir dengan like👍
Ita Alexis
good job thor...tetap semangat yaaa....
Sartika Tika
jd istri ko GK bersyukur.....gaji cumn sedikit minta beli laptop.....buka usaha aja di rumh ...bikin usaha gorengan kek......miskin aja belagu
Amanda Ayunda
Nasya suka samawa temennya Diandra kali hendri
Amanda Ayunda
kayaknya Anis punya niat rebut Bengi deh
Amanda Ayunda
di sini bisa di ambil hikmah nya bahwa perceraian harus di fikir dengan kepala dingin
Amanda Ayunda
syetan udah merasuki Diandra
Amanda Ayunda
gereget ama Diandra
Amanda Ayunda
kalau pengen hidup tenang ya tinggalin tuh si kembar
Tutik Rahayu: habis cerai pasti nyesel , lbh parah banyak masalah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!