Novel Friendzone adalah novel yang bercerita tentang persahabatan antar lawan jenis yang salah satunya jatuh cinta kepada sahabatnya. Kaela jatuh hati kepada sahabat laki-lakinya, bernama Jeno Janurio. Tetapi, Jeno terlebih dahulu jatuh hati kepada seorang gadis bernama Karina. Sebagai figuran, Kaela hanya dapat menahan rasa cemburu dan sakit hatinya melihat kemesraan Jeno dan Karina. Hingga pada suatu hari, ia sudah tidak sanggup lagi dan mengakui perasaannya kepada Jeno, tetapi Jeno sama sekali tidak menanggapi perasaan Kaela.
Rhea yang membaca novel itu pun tidak menyukai isi cerita novel Friendzone itu, merasa tidak adil kepada figuran.Seandainya dia menjadi seorang Kaela, maka ia buat Kaela memiliki surganya sendiri tanpa ada rasa cinta kepada Jeno, sahabatnya itu.
Hingga suatu kejadian tanpa ia sadari, Rhea yang koma dan jatuh tidak sadarkan diri akibat perkelahiannya dengan temannya, Chika, membuatnya terbangun dan menyadari bahwa dia bukan di dalam duniannya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_Fluffy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Rhea menendang kecil batu kerikil itu dengan sedikit rasa kesalnya, setelah kepergiannya meninggalkan lapangan basket itu, awal tujuannya hendak ke lapangan basket khusus perempuan tetapi langkahnya terhenti saat melihat seragam putih dengan tali pinggang yang terikat di seragam mereka.
Dengan berbagai macam warna tali pinggang yang ia sangat ketahui itu tampak meramaikan dan mendominasi lapangan yang beralasan rumput hijau itu. Rhea tersenyum saat melihat gerakan itu dan suara lantang mereka.
“Ini dia yang gue cari,” gumam Rhea yang terhipnotis dengan aktivitas itu, taekwondo. Rhea menatap terpesona dengan ekstrakurikuler taekwondo, sudah lama ia tidak bermain di ekstrakurikuler itu. Rhea memiliki sabuk hitam dengan tingkat DAN II ( Yi Dan) atau memiliki sabuk hitam satu strip putih di dalam dunianya, sering diikut sertakan dalam pelatihan dan perlombaan sekolah, ia tidak main-main jika dikatakan memiliki nama di sekolahnya.
“Ayo! Mau ngapain di sini?” Tepukan lembut di bahu Rhea seketika menyadarkan Rhea dari atensinya pada ekstrakurikuler taekwondo itu. Ia memutar tubuhnya ke arah sumber suara tadi.
“Jaemin?” ucap kaget Rhea saat melihat Jaemin berada di sekitarnya, ia kira Jaemin tidak akan mau lagi bersamanya karena dirinya bukan Kaela lagi. Jaemin terlihat memberengut saat mendengar namanya dipanggil lengkap oleh Rhea, Rhea sedikit mengernyitkan dahinya.
“Nana! Bukan Jaemin, Rhe! Kamu, tuh.” Protes Jaemin yang memberengut kesal, Rhea seketika tertawa kecil.
“Gue kir—”
“Tuh kan! Jangan gue-lo ke aku, Rhea. Keknya kamu nggak mau berteman sama aku, ya?!” potong Jaemin dengan cepat pula, ia semakin kesal. Rhea memberikan senyuman tulusnya, ia menatap Jaemin dengan senyuman paling tulusnya. Ia menyentuh pipi Jaemin sembari mencubitnya dengan lembut, Jaemin menatap kedua mata gadis itu dengan sendu.
“Terima kasih, ya, masih mau nerima aku walau bukan Kaela-nya kamu, Na. Maaf membuat kamu nangis terus,” ucap Rhea dengan pelan, ia menyayangi karakter favoritnya ini dengan segenap hatinya. Jaemin menikmati usapan itu, ia tidak pernah menyesali semuanya karena Kaela telah berbahagia dan dia menyukai Rhea dengan pribadinya yang menakjubkan ini.
“Aku terima kamu karena kamu adalah Rhea, bukan siapa-siapa. Lagian, kamu di sini ngapain, sih? Bukannya lagi latihan voli, ya?” tanya Jaemin yang sedikit bingung, pasalnya gadis itu juga sudah termasuk tim inti voli sekolahnya, otomatis wajib latihan tanpa ada bolos.
Seketika Rhea melepaskan usapan lembut itu dari pipi Jaemin, lalu bersedekap dada sembari menatap kesal ke arah lapangan ekstrakurikuler taekwondo itu, “malas! Ada Karina di sana, bikin emosi mulu kerjanya. Mending aku di sini, sekalian mau masuk ke ekstrakurikuler taekwondo. Mau daftar dong, Na,” jelas Rhea yang terlihat tersenyum kembali melihat para anggota taekwondo tengah berlatih.
Jaemin melirik ke arah lapangan voli itu, dan memang melihat Karina di sana tengah melakukan pemanasan bersama yang lainnya, ia pun sedikit bingung karena kenapa Karina tiba-tiba tertarik dengan voli. “Nanti kamu gimana ngatur latihan voli daan taekwondo-nya, Rhea? Aku nggak setuju! Soalnya kamu kecil,” balas Jaemin yang kini bersedekap dada.
“Aku udah biasa, Na. Ngelakuin tiga ekskul, aku bisa ngatur jam-jamnya. Please, aku mau bikin nama Kaela melambung tinggi setinggi angkasa raya,” ucap Rhea dengan nada seriusnya.
Jaemin terkekeh kecil saat mendengar ucapan Rhea yang begitu lucu, ia pun mengacak lembut puncak rambut gadis itu lalu membawa salah satu tangan gadis itu ke dalam genggamannya, “berhubung aku juga kenal dengan anggotanya, aku bakalan daftarin kamu. Tapi, ingat, ya? Jangan terlalu memaksakan diri. Paham, Rhea?” Peringat Jaemin dengan suara beratnya yang dalam.
Rhea menganggukkan kepalanya dengan cepat, ia bahagia mendengar semua itu. “Aku janji!”
**
Jaemin mengeringkan rambutnya yang basah akibat keringatnya dengan handuk kecilnya, ia hendak mempersiapkan barang-barang bawaannya untuk segera pulang ke rumah setelah mengantar Rhea nanti pulang. Ia membuka loker penyimpanan barang bawaannya, tetapi niatnya ia tunda saat melihat Jeno memasuki ruangan penyimpanan loker siswa di sekolah ini, ruangan ini sudah hampir sepi karena langit di luar sudah begitu berwarna jingga pekat, hingga hampir menyentuh malam.
Jaemin menyunggingkan senyumannya, lalu mulai merapikan bawaannya untuk ia bawa pulang. Jeno menyadari ada Jaemin di sana, ia membawa dirinya untuk segera pulang juga.
“Eh, ada kak Jeno. Mau pulang, kak?” sapa Jaemin dengan nada menggodanya, ia pun telah menutup pintu lokernya. Jeno hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, ia tidak menghiraukan Jaemin.
Ia mulai membuka lokernya yang tidak terlalu jauh dari loker Jaemin, ia tidak memperdulikan kehadiran lelaki itu.
Jaemin meranselkan satu tali tasnya di bahu lebarnya itu, lalu menyandarkan punggunya di lokernya. Ia bersedekap dada sembari melirik ke arah Jeno yang tampak sibuk merapikan barangnya.
“Gue dengar dari Kaela, Karina masuk voli, ya?” tanya Jaemin yang terlihat tengah mencoba membangun komunikasi dengan Jeno. Jeno mengepalkan tangannya di dalam lokernya itu, “bukan urusan lo.” Hanya itu balasan dari Jeno.
Jaemin tertawa kecil dengan terdengar suara beratnya, “urusan gue dong. Soalnya Kaela-nya gue ngerasa ada yang membuat dia gak nyaman, so?” balas Jaemin dengan senyuman kecilnya.
Jeno mengeluarkan sedikit tawa remehnya, ia menutup pintu lokernya dengan sedikit kuat. Ia memberikan tatapan tajam kepada Jaemin yang tersenyum kepadanya. “Kaela bukan punya lo, Jaem.”
“Dan juga bukan punya lo, Jen.” Balas Jaemin dengan suara tenangnya. Rahang Jeno mengeras, tangannya terkepal kuat di sana, tas ranselnya sudah ia ranselkan ke salah satu bahunya. “Ya, for your information aja, sih. Berhubung Kaela gue nggak nyaman, dia bakalan gue izini buat ikut ekskul kedua. Dia tetap kok main di voli, karena pemain inti ya, kan? Yaudah, kalau lagi kesal ketemu Karina, dia bakalan ke ekskul keduanya. Keren kan pemikiran gue?”
Jeno mengernyitkan dahinya, ia tidak paham kenapa Kaela sampai sebegitunya terhadap Karina? Dan yang membuatnya semakin kesal adalah Jaemin yang mengaku-akui bahwa Kaela milik lelaki itu.
“Lo mending diam, Jaem. Gue udah dari lama ingin ngehajar lo! Tapi, karena lo sahabatnya Kaela, gue masih respect sama lo. Jadi, lo diam!” balas Jeno dengan suara beratnya yang terdengar penuh penekanan.
Jaemin tertawa kecil, ia berjalan dengan tenangnya untuk keluar dari ruangan ini. “Bilang deh ke Karina, jangan ngusik Kaela-nya gue, gue nggak mau Kaela nggak nyaman. Gue pulang dulu ya, kasian cewek gue lagi nunggu,” ucap Jaemin dengan tawa kecilnya dan nada tenangnya.
Jeno yang mendengar semua itu membuat emosinya naik, tanpa perlu banyak pertimbangan, ia menarik Jaemin yang tidak terlalu jauh darinya lalu mulai melayangkan tinjuannya ke arah lelaki itu.
BUGH!
Tinjuan Jeno melayang kuat ke arah wajah lelaki itu, Jaemin. Jaemin terjatuh ke lantai ruangan loker itu dengan keras pula. Jeno dengan wajah marahnya yang merah pun menarik kaos hitam yang dikenakan lelaki itu, ia meninju Jaemin dengan kuat.
“BANGSAT! LO MEMANG BANGSAT!” teriak Jeno dengan kuat. Jaemin mencoba menghindar dari tinjuan Jeno, ia menendang Jeno untuk menjauh dari atasnya. Dan terjatuh lah Jeno dari atas tubuhnya, ia merasa ngilu terhadap pukulan Jeno.
“KENAPA LO?! APA HAK LO MUKUL GUE?!” bentak Jaemin dengan ringisan di pipinya. Jeno yang hendak berdiri untuk meninju Jaemin kembali seketika terhenti saat mendengar suara gadis yang sejak tadi menjadi topik pembicaraanya.
“NANA!” panggil Rhea yang terlihat terkejut saat memasuki ruangan loker khusus lelaki di sekolahnya ini, ia melihat Jaemin di lantai dengan darah di pinggiran bibir lelaki itu. Rhea menghampiri Jaemin dan menatapnya dengan terkejut.
“Kamu kenapa? Kok gini, sih?” tanya Rhea sembari memperhatikan wajah Jaemin dengan khawatirnya. Jaemin meringis sakit sembari menatap Jeno yang juga menatapnya, Rhea mengalihkan atensinya ke arah belakang punggungnya, dia melihat Jeno yang tampak memerah dan napasnya terlihat memburu.
“Dia mukul aku tadi, tiba-tiba langsung mukul aku. Sakit, tahu!” ucap Jaemin dengan ringisannya.
Rhea menatap sengit Jeno, tetapi kedua tangannya mengusap bahu Jaemin dengan lembut. “Lo kalau mau duel, sini sama gue, Njing! Apa salah Nana? Ha?! Lo hobi banget ngerusuhin kehidupan gue apa gimana?!” ucap Rhea dengan tatapan sengitnya kepada Jeno. Jaemin menyunggingkan senyuman kecilnya kepada Jeno, dan Jeno yang melihat itu pun semakin terpancing emosinya terlihat lelaki itu hendak menghantam Jaemin.
“Lo nggak usah ikut campur, Kaela! Jangan di sini, gue nggak mau lo sakit. Sana!” usir Jeno dengan suara beratnya yang penuh penekanan, ia bahkan menatap tajam ke arah Jaemin. Rhea segera berdiri dari lantai, lalu menantang Jeno yang juga telah berdiri dari terjatuhnya tadi.
“Lo yang harusnya pergi dari sini. Jangan pernah lo sakitin Nana, atau lo berhadapan sama gue! Gue nggak pernah main-main sama ucapan gue ya, Jen. Pergi nggak lo dari sini!” Balas Rhea dengan penuh penekananya, ia bahkan menunjuk dada Jeno dengan kuat.
Jeno mengepalkan salah satu tangannya, rahangnya mengeras tetapi tatapannya ia fokuskan kepada Kaela. Kaela membela Jaemin tanpa ragu, dan itu membuat Jeno semakin panas.
“Lo. Pergi. Dari . Sini!” Kini benar-benar Rhea marah akibat Jeno yang begitu sewenang-wenang terhadap Jaemin. Jaemin ingin tertawa saat melihat Jeno tidak bisa berkutik dengan gadis itu, Jeno bahkan tampak menahan emosinya dan tidak berani lagi melangkah jauh.
“Na, ayo, aku obatin dulu. Kamu bisa berdiri, nggak?” ucap Rhea yang kini melembut ke arah Jaemin dan Jaemin menganggukkan kepalanya, ia bangkit berdiri dengan bantuan Rhea lalu memberikan senyuman kecilnya kepada Jeno.
“Makasih, sayang,” balas Jaemin dengan suaranya sedikit serak. Rhea menganggukkan kepalanya sembari menuntun Jaemin berjalan meninggalkan ruangannya ini. Sepeninggalan mereka, Jeno melampiaskan emosinya lewat tinjuan kuatnya pada pintu loker itu.
“BRENGSEK!”
**
Cuma ya tergantung trigger sih
Duh, Jen. Siap-siap patah hati deh lo. Eh, udah, ya?
Ayo, tamatkan karya ini. Kajjaaaaaa~!
Rhea?
Biru?
Kaela?
Nana?
Jeno?
Ketika Kaela berubah, Jeno paniklah. Ini balasan yang paling aku suka.
Yok, Rhea! Bikin Kaela bisa nikmatin kebahagiaannya sendiri tanpa si Jeno.
Btw, aku tahu siapa Jeno, Karina, dan Na Jaemin. Apakah akan ada geng 00L lainnya?