"Aku tidak cacat, mas. Menikah denganmu juga bukan kehendakku." Kemala.
Peristiwa kebakaran yang dialami oleh Kemala akibat menyelamatkan seorang ibu-ibu membuat ia harus menelan pil pahit jika sebagian wajahnya rusak karena luka bakar.
Atas kebaikannya ini lah yang membuat Kemala mau tidak mau harus menikah dengan seorang pria yang tidak ia cintai apa lagi ia kenal. Pria tersebut bernama Devanio, anak laki-laki dari orang yang sudah Kemala tolong. Bagaimana kehidupan rumah tangga Mala dan Deva? Mampu kah Deva menerima kekurangan Mala? Atau justru pernikahan mereka harus berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Berulang kali Deva menarik ulur nafasnya menahan rasa nyeri di bagian bawah akibat tendangan dari Mala. Mala yang kebingungan hanya bisa meminta maaf.
"Baiklah, aku sudah ok." Ucap Deva yang jelas terlihat masih menahan rasa nyeri.
"Apa itu sakit?" Tanya Mala yang entah polos atau kepolosan.
Deva hanya bisa memejamkan matanya lalu menarik nafas panjang kemudian tersenyum pada Mala.
"Jika tanganmu pernah kejepit pintu, begitu lah rasanya." Jawab Deva membuat Mala hanya bisa mencerngir.
"Kau benar tidak sakit, aku akan melanjutkan marahku!"
Mala kembali melanjutkan langkahnya yang entah kemana. Lagi dan lagi, Deva mengejar Mala lalu menarik tangannya paksa.
"Harusnya aku yang marah, kenapa jadi kau yang marah?" Protes Deva.
"Kalau begitu kita sama-sama marah!" Sahut Mala yang kesal.
Tanpa banyak bicara, Deva memasukan Mala ke dalam mobil kemudian pergi.
"Bisa-bisanya kau pergi tanpa memberi kabar padaku. Setega itu kau padaku, Mala."
"Mama yang melarang aku untuk memberitahumu."
"Kau juga hamil, kenapa kau tidak memberitahuku hah? Jahat begini, aku bapaknya!"
"Mama juga melarangku untuk memberitahu."
"Seharusnya kau bisa tegas, Mala. Aku ini suamimu, meskipun mulutku suka jahat padamu, tapi aku tidak sejahat itu pada darah dagingku sendiri."
Mala meremas tangannya sendiri, tapi ia sudah terlanjur sakit hati dengan hinaan dari Deva.
"Saat itu aku tidak tahu kalau aku hamil. Setelah melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum operasi plastik, aku dinyatakan positif hamil lima minggu. Makanya operasi di tunda sampai aku selesai melahirkan."
"Dan kau hamil sendiri, hidup sendiri, semua serba sendiri dengan keadaan perut yang membuncit? Lantas, kenapa kau tidak memberitahu aku? Seharusnya aku yang marah, bukannya kau!"
"Tetap saja mas Deva yang salah!"
Geram, ingin sekali Deva meremas mulut Mala.
"Apa kau tahu aku sudah seperti orang gila mencari istriku yang entah minggat Kemana?"
"Mbak Aulia yang memberitahuku!"
Sekali lagi Deva hanya bisa menghela nafas pelan. Pria ini mengangkat tangannya ke udara lalu mengusap lembut pucuk kepala Mala.
"Kau sangat cantik, apa ini wajah aslimu?" Tanya Deva sekali lagi. "Tapi kenapa berbeda dengan wajah yang ada di foto masa sekolahmu?" Protes Deva.
"Foto apa?" Tanya Mala yang tidak tahu apa-apa tentang foto yang selama ini selalu di bawa Deva kemana pun dia pergi.
Deva menepikan mobilnya lalu ia membuka dompet kemudian menunjukan foto Mala.
"Mas Deva dapat dari mana?" Tanya Mala yang penasaran dan ia juga sangat terkejut.
"Ada aja."
Tiba-tiba saja kedua saling pandang hingga membuat Mala merasa gugup dan panas dingin. Mata elang itu terlihat tajam menatap wajah Mala.
"Jangan melihatku seperti itu." Tegur Mala lalu membuang pandangannya.
"Sudah lama aku ingin melihat wajahmu, kenapa harus memalingkannya? Tatap aku seperti tadi." Pinta Deva memaksa.
"Nggak mau!" Tolak Mala.
"Mala, cepat lihat aku seperti tadi."
"Ayo pulang. Ray pasti mencari aku."
Deva baru ingat kalau ia sudah punya anak sekarang. Bergegas pria ini kembali melajukan mobilnya. Sudah beberapa kali fokus Deva terganggu sebab ia suka melirik Mala. Pria ini sadar jika istrinya sangat cantik sekali.
Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di rumah. Hari yang sudah malam dan Ray sudah tidur di kamar bu Resti.
"Mau ngapain?" Tanya bu Resti yang menahan anaknya hendak masuk ke dalam kamar.
"Itu anakku, aku ingin memeluk anakku." Ujar Deva yang menunjuk ke arah dalam.
"Kalian dari luar, pergilah mandi dulu."
"Nggak bisa gitu dong ma, aku ingin melihat anakku."
"Cepatlah Deva!"
Deva mendengus kesal, pria ini langsung pergi ke kamarnya yang sudah lama sekali tidak ia tiduri. Tidak sampai sepuluh menit, entah mandi menggunakan sabun atau tidak, Deva sudah ada di lantai bawah lagi.
"Kamu nggak mandi?" Tanya Deva pada Mala.
"Nggak, pakaianku ada di kontrakan?"
"Kenapa harus di kontrakan? kenapa kau tidak tinggal di sini saja kemarin?"
"Sebenarnya di luar rencana!"
Deva memutar bola matanya malas, pria ini tangan Mala lalu mengajaknya pergi ke kamar yang ada di lantai atas.
"Cepat pergi mandi sana!"
"Aku tidak punya pakaian ganti."
Deva membuang nafas kasar, pria ini membuka lemari pakaian miliknya lalu mengambil baju kaos oblong dan celana rumahan miliknya.
Mala pun bergegas masuk ke kamar mandi sedangkan Deva kembali ke bawah karena pria ini ingin memeluk dan mencium anaknya.
Aaaaargh..... kesal Deva yang ternyata pintu kamar mamanya sudah di kunci bahkan bu Resti tidak mau membukakan pintu. Alhasil, Deva kembali lagi ke kamarnya.
"Kenapa mas Deva suka marah-marah?" Tegur Mala.
"Mama mengunci pintu, itu artinya dia tidak mau cucunya di ganggu."
"Jadi, aku harus apa sekarang?"
"Tidur!"
"Jangan tidur dulu, aku ingin penjelasan tentang rumah tangga kita ini." Ujar Mala yang terdengar sangat serius.
"Tanamkan dalam hatimu, aku ini tipe setia dan aku tidak akan menceraikan kamu apa lagi ada anak di antara kita."
"Tapi kau tidak mencintai aku, mas!"
"Apa kau mencintai aku?"
Mala hanya diam.
"Kau itu masih anak kecil, tahu apa kau soal cinta? Lupakan masalah kita kemarin, aku salah dan kau juga salah. Jadi, kita sama-sama salah. Tapi, terserah kau. Apa kau mau jadi janda muda?"
"Dari pada istri tapi makan hati." Sahut Mala membuat Deva harus menahan rasa sabarnya.
"Mala, kita pernah melakukan hubungan suami istri sampai perutmu membelendung besar. Apa kau tidak rindu padaku?"
Mala menelan saliva-nya kasar, bayangan malam pertama yang begitu perih kembali terngiang dalam ingatan.
"Aku mau ke bawah dulu." Ujar Mala yang merasa gugup.
Belum sempat Mala keluar, Deva langsung menahan langkahnya dan memeluk Mala erat-erat.
"Aku rindu padamu, tolong jangan tinggalkan aku lagi." Pinta Deva. "Sebenarnya aku sudah mencintaimu sejak malam pertama kita. Hanya saja aku gengsi untuk mengungkapkannya."
Mala hanya diam, berdiri seperti patung.
"Jangan pandang jahatku terus, sesekali ingat-ingat kebaikanku padamu."
"Kau harus menjaga mulutmu, mas."
"Mulutku memang seperti ini. Jadi, aku harus bagaimana lagi? Tolong jangan bercerai, aku tidak ingin jadi duda."
"Kau tidak ingin bercerai dariku sebab tidak ingin jadi duda. Jelas sekali ternyata!"
Tiba-tiba saja Deva mencubit hidung Mala sampai pelukannya terlepas.
"Sakit...!" Jerit Mala.
"Kau pikir aku seperti itu? Aku tidak ingin jadi duda karena kau istriku, aku cinta padamu!"
"Hueeeek...!!" Mala menirukan gaya hendak muntah.
"Mala....!!"
"Lelaki sepertimu sudah pasti suka mengobral janji."
"Terserah apa katamu. Ayo ninu-ninu, aku rindu padamu!"
Mala kembali panik bahkan kali ini sangat panik. Seharian berdebat dan beradu mulut kenapa tiba-tiba Deva mengajaknya melakukan hubungan suami istri?