Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil anak ke dua
Arin melihat kalender yang tertempel di dinding kamarnya. "Udah dua minggu belum menstruasi, jangan-jangan...,"
Arin tak mau menduga. Dia mengambil alat tes kehamilan lalu mengetes air seninya menggunakan alat itu. Benar saja Arin positif hamil.
Saat ini dia bingung harus bagaimana menerima kehamilan keduanya. Dia belum siap karena Flora masih sangat mengandalkan dia. Terlebih lagi masalah keuangan mereka.
Tapi di sisi lain dia bahagia karena dia merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk hamil lagi. "Bilang tidak ya sama Mas Ikbal?" gumam Arin. Dia ragu karena takut suaminya tidak bisa menerima.
Ketika suaminya pulang kerja pada sore hari Arin ingin memberi tahu Ikbal. Sayangnya Ikbal terlihat muram sepulang kerja. "Ada apa, Mas?" tanya Arin seraya memberikan secangkir teh hangat pada suaminya.
"Minggu ini banyak yang nikah. Padahal aku belum gajian."
"Ya mau bagaimana lagi. Dulu kita kan mengundang mereka datang ke acara pernikahan kita. Seharusnya kita juga datang ke pernikahan orang-orang itu."
Ikbal menghela nafas. "Dek, kamu masih ada uang simpanan nggak?" tanya Ikbal pada istrinya.
"Mau apa?" tanya Arin curiga.
"Nanti kalau mau ke hajatan pakai uangmu dulu ya?" Arin hanya mencibir.
Dia masuk ke dalam rumah. "Gagal kasih surprise," gerutu Arin setelah melihat sikap suaminya.
Setelah itu, Arin menemani Flora menonton televisi. "Tiap hari bisanya nonton kartun mulu," gumam Bu Nia melayangkan protes.
Arin yang merasa tidak enak membawa Flora ke kamar. Tapi tanggapan ibunya lain. Bukannya berterima kasih karena akhirnya dia bisa menonton televisi lagi. Bu Nia malah menyindir Arin. "Kamu nggak ada sopan-sopannya sama orang tua."
"Ck, selalu saja salah," kata Arin di dalam kamar.
Mulai malam ini Arin membiasakan Flora minum susu botol. "Tumben, Dek. Biasanya dia nyusu kamu," tegur Ikbal.
"Iya, Flora udah besar sudah saatnya disapih," jawab Arin. Ikbal tak punya pikiran macam-macam.
Sayangnya rasa susu formula yang berbeda dengan ASI tidak disukai oleh Flora. Dia malah membuang botol bayi tersebut. "Sayang, Flora minum susunya dari botol aja ya, Nak," bujuk Arin.
"Dek, kamu beli susu formula merk apa? Apa uang kita akan cukup?" tanya Ikbal pada istrinya.
"Mas, rejeki itu bisa datang dari mana saja. Kalau kamu pikir perhitungan rejeki itu sesuai dengan yang kita inginkan? Tidak. Semua sudah diatur oleh Allah."
Arin akhirnya diam. Dia ingin membiarkan suaminya itu menyadari kalau dia sedang hamil. Sayangnya, sudah melewati dua minggu setelah pengujian kehamilannya kemaren Arin tidak mengalami fase mual muntah. Tidak ada seorang pun yang tahu kalau dia sedang hamil.
Ketika Arin sedang bersama suaminya di dalam kamar, dia berniat memberi tahu Ikbal. "Mas, aku hamil lagi," kata Arin lirih.
Ikbal menoleh. Dia segera memakai kaosnya. "Apa? Benarkah?" tanya Ikbal seraya memegang kedua bahu Arin. Arin mengangguk.
Ikbal merasa senang. "Flo kamu akan punya adik." Ikbal mengajak balitanya berbicara.
"Apa kamu tidak keberatan, Mas?"
"Kenapa keberatan? Aku sangat senang, Yang." Ikbal memberi pelukan hangat untuk keluarga kecilnya.
"Terima kasih, Mas. Aku kira kamu akan menolak kehamilan ini." Arin merasa lega setelah Ikbal memperlakukan Arin dengan baik.
"Kapan mau kontrol ke bidan?" tanya Ikbal. Dia masih ingat cara merawat istrinya ketika sedang hamil. Dia juga ingat kalau sebulan sekali jadwal periksa kandungan.
"Bagaimana kalau nanti malam?" tanya Arin meminta pendapat. Ikbal mengangguk setuju.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...