Memang sakit rasanya, saat dulu kita sedekat Nadi, namun kini akhirnya harus sejauh Matahari, bahkan Matahari yang sudah tenggelam tergantikan dengan terangnya sinar Rembulan malam.
Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan ketika menunggu seseorang, namun sebagian lagi bilang, menyakitkan itu ketika kita harus melupakan, tapi yang paling sakit sebenarnya adalah ketika kau tidak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan.
"Niar... kamu tahu kan kalau seorang dokter itu paling ahli masalah suntik menyuntik, jika biasanya suntikan itu menyembuhkan penyakit pasien, tapi suntikan dariku, pasti akan menorehkan luka dalam hubungan kalian, cukup sekian dan terima kasih sudah menjadikan aku sang mantan, walau tidak kamu akui."
Walau pedih namun dokter Marvin harus bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak menjadi pilihan dari seorang Niar, dia tetap saja menerima lamaran dari Dito kekasih hatinya yang memang sudah berhubungan bertahun-tah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Cari kesempatan?
...Happy Reading...
Dengan kekuasaan seorang Samuel, dia bisa menguruskan keberangkatan Marvin dan Niar menuju ke kota yang dijuluki kota Borneo itu dengan mudahnya, bahkan dikelas VIP tanpa menunggu waktu yang lama.
"Niar, kamu sudah sadar?" Saat mereka masih menunggu di ruang tunggu keberangkatan, Niar akhirnya sudah mulai membuka kedua matanya.
"Mas Dito?" Saat pandangannya masih buram, Dito lah yang dia pikir memangku tubuhnya saat ini.
Cup!
Karena kedua tangan Marvin dia buat untuk menyangga tubuh Niar, jadi dia menggunakan bibiirnya untuk menyadarkan Niar dengan mengecup mata Niar.
"Buka matamu itu, disaat seperti ini masih saja kamu mengingat pria tidak berguna itu!" Umpat Marvin sambil memonyongkan bibiirnya dengan kesal.
"Sa Ae ni bocah! titisan buaya kali dia dulu!" Samuel langsung terkekeh melihat kegilaan Marvin disana yang memang selalu pandai mencuri-curi kesempatan.
"Dimana-mana yang namanya orang ketiga memang berbahaya!" Rinjani langsung melengos melihatnya.
"Tapi setidaknya dia lebih baik dari suami sah sahabatmu itu!" Samuel tetap membela sahabatnya.
"Berisik lah kalian berdua ini!" Umpat Marvin tidak perduli.
"Fuuh... akhirnya kamu bangun juga Niar, penerbangan kalian sebentar lagi, jadi kami balik dulu." Rinjani merasa sedikit lega, karena Niar sudah sadar dan terlihat baik-baik saja.
"Rinjani tunggu, Dito... hiks.. hiks.."
Niar langsung bangkit dan sepertinya ingin curhat tentang Dito kepadanya, untuk sekedar meminta pendapat dari sahabat terbaiknya itu, karena hanya kepada Jani lah, Niar bisa berbicara bebas tanpa canggung dan tanpa takut jika aibnya akan merembes kemana-mana.
"Haish... aku sudah tahu semuanya, untuk itu ikuti saja Marvin, dia akan membantumu." Rinjani pun tidak tega sebenarnya, namun jika memang ini sudah takdirnya, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk saat ini.
"Membantu apa?" Tanya Niar dengan wajah yang masih kebingungan.
"Untuk kali ini percayalah dengan Marvin, maaf aku tidak bisa ikut mengantarmu, kasian Yoyo nanti kalau kami tinggal pergi keluar kota." Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal lagi dengan bocah ajaib itu.
"Kita berangkat ya, kamu kuat jalan nggak?" Saat ada pemberitahuan penerbangan, Marvin langsung bersiap-siap.
"Kuat kok." Jawab Niar yang sebenarnya hanya mencoba kuat saja.
"Aku gendong saja, kamu masih lemah." Namun Marvin langsung menggangkat kembali tubuh Niar dan membawanya kedalam dekapan tubuhnya menuju ke pesawat.
"Dokter, turunkan aku, malu dilihatin orang banyak itu?" Niar hanya bisa menutupi wajahnya dengan satu tangan, saat Marvin seolah menggendongnya ala-ala princes.
Cup!
Marvin dengan nyalinya yang seolah double, memberanikan diri untuk mengecup bibiir Niar sambil berjalan, karena Marvin tahu kondisi Niar saat ini lemah dan tidak akan bisa berontak dari dalam dekapannya.
"Diam, nggak usah banyak protes!" Ucap Marvin yang tidak memperdulikan rengekan Niar, dia bahkan senyum-senyum sendiri karena beehasil menjahili Niar sesuka hatinya.
"Permisi, apa mbaknya sedang sakit, apa perlu kami bantu mengangkatnya?"
Karena Marvin dan Niar berada dikelas VIP pelayanannya sudah pasti berbeda.
"Tidak perlu mbak, saya bisa sendiri, kondisinya memang lemah soalnya baru pingsan tadi, jadi saya gendong." Jawab Marvin dengan yakin tanpa rasa malu sedikitpun, padahal sedari tadi banyak yang berbisik mengomentari dirinya.
"Apa perlu penanganan khusus dari kami?" Tanya Pramugari itu lagi.
"Tidak perlu mbak, kebetulan saya juga seorang Dokter, jadi saya bisa merawatnya sendiri."
"Baiklah kalau begitu, kalau butuh apa-apa silahkan panggil kami." Akhirnya pramugari itu melanjutkan kembali tugasnya untuk melihat penumpang yang lainnya.
"Terima kasih mbak." Jawab Marvin yang langsung membantu Niar untuk duduk bahkan dengan telatennya memasangkan sabuk pengaman untuknya.
"Dokter Marvin, jangan lakukan itu lagi, aku ini istri orang!"
Niar yang malah merasa segan sendiri, dia yang kemarin dengan tega membiarkan Marvin terjun dari jendela sampai jatuh tersungkur dibawah karena takut ketahuan olehtantenya, kini memperlakukannya dengan sangat lembut dan sangat perhatian.
"Cih... akan jadi mantan istri, setelah kamu tahu segalanya!" Umpat Marvin yang bahkan langsung menyelimuti tubuh Niar dengan selimut yang disediakan.
"Tahu segalanya tentang apa Dokter?" Tanya Niar yang merasa semakin aneh, karena setahu dia suaminya hanya pergi mendadak saja, takkan mungkin hanya ada keperluan penting langsung minta cerai dan jadi Janda pikirnya.
"Istirahatlah terlebih dahulu, nanti setelah kamu makan baru aku kasih tahu kamu tentang segalanya." Marvin bahkan membantu merapikan rambut Niar yang berantakan.
"Kenapa harus setelah makan?" Niar semakin merasa penasaran, karena dia merasa Marvin seolah menutupi sesuatu tentang Dito darinya.
"Karena tubuh kamu lemah, kamu mau pingsan lagi didalam pesawat?"
"Enggak tapi?"
"Kalau kamu masih banyak protes lagi, jangan salahkan aku jika bibiir kamu itu akan 'njenor' nantinya." Marvin langsung mendekatkan bibiirnya dihadapan wajah Niar.
"Dih... Dokter lama-lama kok jadi ngelunjak sih!" Niar langsung menutupi mulutnya sendiri agar tidak disambar olehnya.
"Aku begini semua karenamu, jadi yang harus dimintain pertanggung jawaban itu seharusnya kamu!" Bukan Marvin kalau tidak bisa membalikkan kata-kata.
"Enak saja, kenapa harus aku?" Walau sebenarnya Niar juga merasa sedikit bersalah.
"Nyender sini, tubuh kamu masih lemah." Marvin sengaja memasang bahunya agar Niar bersandar ditubuhnya.
"Nggak mau, apapun yang terjadi aku ini sudah sah menjadi istri mas Dito." Namun disisi lain, Niar masih mencoba menahan diri untuk suaminya yang entah pergi kemana.
"Huuft... apa setelah tahu semua, kamu juga akan tetap kekeh begini, aku ragu?"
"Tau apa sih Dokter, cerita sekarang aja kenapa, aku baik-baik saja kok." Niar langsung mencoba memaksanya, karena pasti ada yang tidak beres pikirnya.
"Tidurlah setelah makan, mungkin perlu waktu dua jam perjalanan dalam pesawat ini."
Marvin memilih diam dan mengalah terlebih dahulu, tidak mungkin juga dia mau berdebat di pesawat begini, pasti akan menjadi tontonan dengan penumpang yang lainnya.
Dan akhirnya setelah dua jam perjalanan, mereka sudah sampai disebuah hotel yang lebih dulu Marvin booking secara online.
"Aku cuma pesan satu kamar aja, biar irit?" Ucap Marvin yang sebenarnya hanya modus belaka.
"Nggak, aku punya uang sendiri kok, nanti biar aku pesan kamar sendiri." Jawab Niar yang langsung menolak, karena Marvin selalu saja curi-curi kesempatan kepadanya, dan itu sangat berbahaya bagi pertahanan dirinya yang sering jebol.
"Niar, kamu itu sedang tidak enak badan, nanti kalau kamu kenapa-kenapa siapa yang mau menjagamu?"
"Aku bisa jaga diri sendiri." Jawab Niar yang memang sebenarnya terbiasa mandiri sejak dulu dan biasanya juga tubuhnya sekuat karang, tidak lemah seperti ini.
"Bisa jaga diri sendiri lalu kenapa kamu pingsan? apalagi hanya karena ditinggal suamimu minggat, dih lemah!" Ejek Marvin sambil menyungingkan senyuman yang selalu membuat Niar meleleh.
Senyumnya selalu saja manis, aduh... Eling Niar!
"Emm... dia pasti sedang ada urusan mendadak, dan aku mungkin hanya terkejut saja tadi dan belum makan saja makanya pingsan, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja." Niar berbicara tanpa mau melihat wajah Marvin yang terus menatap dirinya.
"Kamu bisa protes setelah kamu melihat video ini." Marvin sudah mengirim video itu dari ponsel Samuel tadi.
"Video apa?" Niar langsung mengerutkan kedua alisnya.
"Masuklah ke kamar dulu!" Marvin pangsung saja menarik lengan Niar saat dia sudah mendapatkan kartu akses masuk.
"Dokter, tolong hargai aku, karena aku---" Niar bahkan berjalan terseok-seok saat mengikuti langkah Marvin.
"Kamu istri orang kan, iya.. nggak usah pamer, aku sudah tahu, tapi lihat dulu video ini nanti didalam, jadi kalau kamu pingsan setidaknya kamu tergelatak di kasur yang empuk, daripada badanmu nanti biru-biru karena jatuh di lantai ya kan?"
Marvin langsung menyambar ucapan Niar, tanpa harus dijelaskan berulang kalipun dia tahu kalau Niar itu sudah menjadi istri orang, namun apa salahnya berusaha, jika suaminya hanya bisa membuat luka, lebih baik dengan orang ketiga namun bisa hidup bahagia.
Bukan begitu pemiersa?
To Be Continue...
masih anak aayam aja dah digoreng, sudah menetas dimasukkan kurungan, eh udah besar dipotong
jadi jgn terlalu ngeluh sama hidupmu
penderitaanmu gak ada apa²nya sana deritanya ayam
cerita Nya bagus thor
sdh mengiris kalbu rasane....