Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tidak seperti biasanya hari ini Doni bangun kesiangan, secara subuh baru dia tidur. Doni masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya, diambilnya ponsel yang sejak semalam tidak tersentuh sama sekali. Namun ternyata ponselnya sudah mati, segera dia mencharge ponselnya itu lalu ditinggalnya ke kamar mandi menyegarkan tubuhnya.
Setelah beberapa persen baterai terisi, Doni segera menghidupkan ponsel tersebut. Banyak sekali panggilan masuk, dan pesan yang hampir semuanya dari Arini. Satu persatu dia baca pesan tersebut.
"Maafkan aku Arini, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu semalam." Doni membatin menyesali sikapnya pada Arini.
Doni melihat jam di layar ponselnya menunjukan pukul 11 siang, dengan segera dia memakai pakaian casualnya pergi menemui Arini. Doni sampai di kantor tempat Arini bekerja tepat saat jam istirahat.
"Aku menunggumu di luar," isi pesan Doni.
Arini yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera meraih ponselnya ketika mendengar dering pesan masuk. Tanpa membalas pesan tersebut, Arini segera ke luar menemui Doni.
Doni segera turun dari mobilnya saat melihat Arini.
"Masuklah," perintah Doni.
Arini pun menuruti perintah Doni tanpa bantahan.
"Kita mau kemana?" tanya Arini saat mobil sudah melaju cukup jauh.
"Tidak jauh, sebentar lagi kita sampai," jawab Doni datar.
Mobil berhenti di sebuah pemakaman umum. Doni segera turun lalu diikuti Arini.
"Ikuti aku," perintah Doni.
Arini hanya mengangguk menyetujui perintah kekasihnya itu. Meski dia merasa bingung, kenapa Doni membawanya ke pemakaman.
Doni berhenti di sebuah pemakaman dengan nisan bertuliskan Surya Pratama yang adalah ayah kandungnya. Lalu dia berdoa di samping makam itu, yang juga diikuti Arini.
"Ayah, maaf baru sempat berkunjung. Aku sudah membawanya kesini, dia adalah Arini perempuan yang aku cintai. Ayah pasti setuju dengan pilihanku, dia perempuan luar biasa," ucap Doni sambil menggenggam erat tangan Arini.
Lalu di tatapnya wajah Arini, "Arini, maukah kamu menikah denganku," ucapnya tiba-tiba melamar Arini.
"Maaf aku tidak membawa cincin lamaran," ucapnya lagi.
Arini yang cukup terkejut akhirnya hanya mengangguk setuju.
"Terima kasih sayang," ucap Doni tersenyum bahagia dengan jawaban Arini.
"Lihatlah Ayah, Arini bersedia menjadi istriku. Ayah senang bukan?"
"Aku pamit dulu yah, lain kali kami akan sering mengunjungi ayah," ucap Doni sambil mengusap nisan ayahnya.
Ketika Ayahnya masih hidup, beliau berpesan pada anaknya untuk segera mengenalkannya pada perempuan pilihannya. Dan baru bisa di penuhi Doni sekarang.
Doni menuntun tangan Arini meninggalkan makam ayahnya tersebut. Tidak banyak percakapan saat mereka berada di dalam mobil.
"Kita mau kemana lagi Mas?" tanya Arini karena Doni tidak mengantarnya kembali ke kantor.
"Nanti juga kamu tahu," jawab Doni singkat.
"Aku masih kerja Mas, nggak enak pergi gitu aja."
"Nanti aku bilang kakak, kalau aku yang membawa kamu pergi. Dia nggak akan marah, tenang saja."
Akhirnya Arini pasrah dengan kemauan Doni. Doni membawa Arini ke daerah pesisir, tempat dimana dia menghabiskan masa kecilnya. Doni mampir ke kediaman sahabat ayahnya dulu meminjam peralatan memancing. Setelah berbasa-basi sebentar Doni mengajak Arini ke tepi laut dengan peralatan pancingnya itu.
"Aku menghabiskan masa kecilku di tempat ini," ucap Doni sambil melempar pancingnya ke laut.
"Hampir setiap Minggu ayah mengajakku mancing di tempat ini, tapi setelah kami pindah ayah sibuk dengan pekerjaan barunya. Jadi kami hampir tidak pernah ke tempat ini lagi."
Arini hanya mendengarkan dengan setia semua cerita Doni sambil menatap lekat wajah kekasihnya itu. Dilihatnya masih ada luka lebam bekas pukulan kemarin.
"Apa masih sakit Mas?" tanya Arini sambil mengusap lembut bagian wajah Doni yang lebam.
"Maafkan aku untuk sikapku yang kemarin," ucap Doni tanpa menjawab pertanyaan Arini.
"Aku yang minta maaf, gara-gara aku Mas sampai luka seperti ini," ucap Arini khawatir.
"Ini tidak sebanding dengan sakit, jika kamu meninggalkanku," ucap Doni lembut sambil memegang tangan Arini yang masih menempel di wajahnya.
"Maaf, selama ini aku tidak mengatakan padamu kalau aku sahabat Juna. Aku hanya tidak ingin membuatmu merasa bingung. Sebenarnya sejak kalian masih bersama, aku sudah banyak memperhatikanmu." Doni akhirnya bisa mengatakan dengan jujur pada Arini.
"Berarti Mas sudah tahu aku dari lama?" tanya Arini tanpa mempermasalahkan ketidakjujuran Doni selama ini.
"Hemmm, kalau aku ketemu kamu lebih dulu dari pada Juna pasti kalian nggak akan pacaran apalagi tunangan," goda Doni.
"Oh ya..., sejak kapan Mas jadi PD seperti ini," ucap Arini dengan senyum mengejek.
Melihat ekspresi Arini membuat Doni sangat gemas. Meraka berdua pun bercanda dengan bahagianya hingga lupa waktu. Setelah sadar hari sudah gelap, mereka memutuskan untuk pulang setelah mengembalikan peralatan pancingnya.
Di tepat lain Juna menyendiri di dalam apartemennya menghisap rokoknya dengan nikmat, dia bahkan sudah menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol untuk menghibur dirinya sendiri.
Iren yang mendapati kondisi Juna seperti itu merasa sangat kesal dan marah.
"Arini lagi hah...? Apa karena Arini kamu seperti ini lagi?" bentak Iren.
Juna tidak bergeming dengan kedatangan Iren. Seolah tidak ada siapapun.
"Aku lelah, aku lelah jika kamu terus seperti ini Juna." Iren berteriak histeris namun tidak membuat Juna merasa iba.
" Kenapa selama ini tidak sedikit saja kamu membuka hatimu untukku Mas," tangis Iren sambil memukul dada Juna.
"Minggir!" bentak Juna bangkit dari duduknya sambil mendorong Iren.
"Baiklah Mas, jika hanya Arini yang bisa membuat kamu bahagia. Aku akan membawanya kembali ke pelukanmu. Apa kamu puas hah?" Iren melototkan kedua matanya pada Juna.
Tanpa menjawab, Juna berlalu begitu saja. Mendengar nama Arini, dia kembali mengingat gadis itu. Tanpa pikir panjang Juna segera mencari Arini. Dia datang lagi ke resto Doni, namun belum sempat dia turun dari mobilnya terlihat Doni menggandeng Arini keluar dari resto begitu mesra membuat hatinya panas terbakar cemburu.
Juna menahan dirinya, dia memilih diam di dalam mobil mengamati dari kejauhan. Lalu mengikuti kemana Doni membawa Arini pergi.
Begitu mobil sampai di depan rumahnya, Arini segera turun begitu pula dengan Doni. Cila yang kala itu belum tidur menyambut kedatangan mereka. Cila berlari memeluk Ibunya tersebut, lalu Doni pun mendekat mengusap kepala bocah itu
dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Juna terkejut melihat pemandangan itu, apalagi ketika mendengar bocah itu memanggil Arini dengan sebutan ibu.
"Siapa anak itu, apa bocah itu anak mereka? gumam Juna.
"Lalu apa bedanya kamu denganku Arini, tidak pernah ku duga ternyata kamu juga bermain di belakangku," ucap Juna bergumam sendiri.
Juna memprediksi usia bocah itu sekitar lima tahun. Hampir sama dengan lamanya waktu hubungannya dengan Arini kandas. Dia pun mulai curiga jika Arini mengkhianati dirinya sejak mereka masih bersama. Dan yang paling membuatnya kesal kenapa harus dengan Doni sahabatnya.
Dia tidak pernah menyangka, justru bocah kecil itu sebenarnya adalah anaknya. Dalam prasangka buruknya itu, akhirnya Juna memutuskan pergi membawa kekecewaannya pada mantan kekasihnya itu. Kekecewaan yang keliru, kekecewaan yang nantinya akan disesalinya sendiri.
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.