NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Harga Sebuah Kesalahan

Raline mematung. Bekas tamparan di pipi wanita bergaun mewah itu masih terasa panas. Untuk beberapa detik, seluruh ruangan membeku. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara. Madam Eleanora berdiri tegak di depan menantunya. Tatapan wanita tua itu jauh lebih dingin daripada tamparan yang baru saja mendarat.

"Ma-Mama ..." Raline memegang pipinya. "Aku–"

"Diam." Satu kata itu langsung memotong pembelaan Raline. "Kamu masih saja tidak mengerti apa prioritas Keluarga Rothmere!"

Raline menggertakkan gigi.

"Dia yang menjatuhkan Nathan, Ma!" Jari Nyonya Rothmere itu langsung menunjuk ke arah Kemala. "Kemala yang ceroboh!"

Kemala yang masih gemetaran hanya menunduk semakin dalam. "Saya memang salah, Madam..."

"Diam dulu." 

Kali ini Madam menatap Kemala. Kemudian kembali memandang Raline.

"Kemala memang salah."

Raline langsung mengangkat dagu. "Nah, kan–"

"Tapi apa yang kamu lakukan setelah itu?"

Raline terdiam. Madam melangkah mendekat.

"Kamu memukul harga dirinya. Kamu mempermalukannya. Kamu menggunting rambutnya seperti sedang menghukum tahanan."

Suara Madam semakin rendah. Namun justru semakin mengerikan.

"Kalau kamu bersikap semena-mena seperti ini, apa kamu mau bertanggung jawab kalau kondisi mental Kemala terganggu?"

Raline mengerutkan kening. "Maksud Mama?"

"Kalau ASI Kemala tidak lancar," ucap Madam dengan wajah mengeras, "dan Nathan kelaparan, kamu mau bertanggung jawab?"

Raline membeku.

"Tidak mungkin hanya karena rambut–"

"Diam." Madam memotong lagi. "Kamu tidak pernah menyusui. Kamu tidak pernah melahirkan. Jadi jangan sok tahu."

Ruangan kembali sunyi. Raline merasa seluruh wajahnya panas. Amarah menguasai setiap inci tubuh wanita itu. Raline sama sekali tak menyangka akan dipermalukan terang-terangan. Di depan Bastian bahkan para pelayan, wanita yang wajahnya sudah memerah padam itu lagi-lagi dipermalukan di depan Kemala.

"Baik." Raline tertawa pendek. Tawa yang terdengar getir. "Jadi sekarang semua orang membela dia."

Tak ada yang menjawab. Raline menatap Kemala penuh kebencian. Lalu membalikkan badan. Sepatu hak tingginya menghantam lantai marmer dengan keras. Pintu ditutup membanting.

Brak!

Kemala masih menunduk.

"Maaf, Madam ..." suara Kemala serak. "Ini semua salah saya."

Madam tak langsung menjawab. Wanita tua itu hanya memandang Kemala beberapa saat. Lalu berbalik.

"Nathan masih rewel."

Kemala langsung mengangkat kepala. "Bagaimana keadaannya, Madam?"

"Dokter bilang tidak ada masalah serius."

Kemala mengembuskan napas panjang. Tubuh wanita desa itu langsung terasa lemas.

"Kalau begitu kembali bekerja." Madam langsung memberi perintah kepada Kemala.

Kemala tertegun. "Madam?"

"Nathan membutuhkanmu."

Hanya itu. Tak ada kata penghiburan. Namun bagi Kemala, itu sudah cukup.

"Baik, Madam. Terima kasih banyak."

Kemala langsung berdiri tegap. Meski mata wanita desa itu masih merah. Meski potongan rambut Kemala masih berantakan.

Madam berbalik menuju pintu. Namun langkah wanita tua itu terhenti. Karena suara Bastian terdengar.

"Tunggu dulu."

Madam menoleh.

Bastian sedang menatap Kemala. "Kemala perlu merapikan dirinya dulu. Kondisinya juga belum stabil."

Madam mengangkat alis. Tatapan wanita tua itu berpindah dari Bastian ke Kemala. Lalu kembali ke Bastian.

"Kamu lebih memikirkan dia daripada Nathan?"

Bastian mengerutkan kening. "Tidak."

"Kalau begitu Nathan prioritas."

Madam langsung berjalan pergi meninggalkan ruangan. Bastian tetap berdiri mematung. Ucapan ibunya membuat pria itu tidak nyaman.

Nathan masih rewel ketika Kemala masuk ke ruang bayi. Tangisan kecil Nathan langsung menusuk dada wanita itu.

"Maaf ..." Kemala berbisik. "Aku datang."

Begitu Nathan berpindah ke pelukan Kemala, tangisan itu perlahan mereda. Beberapa menit kemudian. Nathan bahkan sudah tertidur sambil menyusu. Perawat yang berjaga saling berpandangan.

"Hebat sekali. Benar-benar tenang."

Kemala hanya tersenyum kecil. Mata wanita dengan rambut berantakan itu masih sembap. Namun setidaknya Nathan baik-baik saja. Tak lama kemudian, Bastian masuk dan berhenti beberapa langkah dari Kemala. Nathan terlihat sangat nyaman dalam pelukan wanita itu.

"Berikan padaku."

Kemala berkedip. "Pak?"

"Aku ayahnya." Bastian mendekat. "Aku juga harus membiasakan diri."

Kemala ragu. Namun akhirnya mengangguk. Pelan-pelan wanita itu menyerahkan Nathan. Jari mereka tanpa sengaja bersentuhan. Kemala langsung menarik tangannya, sedangkan Bastian membeku sesaat.

Nathan berpindah ke pelukan pria kaku itu. Namun sama sekali tak terdengar suara Nathan menangis. Kemala tampak terkejut. Bastian juga demikian. Nathan hanya menguap kecil lalu kembali tidur.

"Ayahnya ternyata lulus ujian,” gumam Kemala tanpa sadar. Bastian menoleh. Kemala langsung menyesal telah berbicara. Namun sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Hampir seperti senyum. Melihat itu, Kemala merasa sedikit rileks setelah menghadapi kejadian yang menakutkan.

Beberapa jam kemudian ponselnya bergetar. Nama yang sama kembali muncul.

[Reza Adiprana]

Kemala langsung menegang.

[Kok uangnya belum kamu transfer?]

[Jangan bikin aku datang ke Jakarta.]

[Aku serius.]

Jari Kemala mengepal. Lalu muncul pesan berikutnya.

[Aku tahu kamu tinggal di rumah orang kaya sekarang.]

[Jangan sok susah!]

Kemala menutup mata. Dada wanita yang sempat rileks itu kembali sesak. Namun kali ini berbeda. Kemala tak menangis atau panik. Kemala langsung membuka menu pengaturan dan menekan satu tombol.

[Blokir]

"Sudah cukup," gumam Kemala pelan.

Hari-hari berikutnya berlalu lebih tenang. Kemala kembali fokus dan Nathan semakin sehat. Berat badan bayi kecil itu naik. Tidur Nathan lebih teratur. Kemala mulai merasa dirinya kembali berguna.

Tiga hari setelah insiden itu. Bastian menghentikan mobil di depan sebuah salon mewah. Kemala langsung kebingungan.

"Pak?"

"Turun."

"Saya tidak perlu ke sini."

"Kamu perlu."

"Tapi rambut saya masih bisa–"

"Turun."

Nada Bastian tak memberi ruang untuk membantah. Akhirnya Kemala mengikuti.

Beberapa jam kemudian. Potongan rambut wanita itu jauh lebih rapi. Tetap sederhana dalam potongan yang kini hanya sebahu Kemala. Tak lagi terlihat seperti hasil guntingan asal.

Sesaat Bastian tertegun melihat kecantikan Kemala yang sama sekali tidak pudar, meski rambutnya sudah lebih pendek.

Saat keluar dari salon. Kemala terus menyentuh ujung rambutnya.

"Terima kasih," ucap lirih wanita desa itu dengan wajah yang kembali berseri.

"Aku seharusnya membawamu lebih cepat," sahut Bastian tanpa menoleh.

Selain karena Bastian harus fokus pada jalanan di depannya, pria itu tidak ingin Kemala menyadari pipinya yang memerah.

Kemala menoleh, memperhatikan Bastian.

Keesokan harinya. Bastian harus berangkat ke luar kota. Mobil sudah menunggu di depan gerbang utama. Nathan berada di gendongan Kemala.

"Berapa lama, Pak?" tanya Kemala.

"Tiga atau empat hari."

Kemala mengangguk. Nathan mengeluarkan suara kecil. Tangan yang begitu mungil itu bergerak-gerak ke arah Bastian. Pria itu spontan menyentuh tangan mungil putranya.

"Jangan bikin masalah, bayi kecil," gumam Bastian kepada Nathan.

Kemala hampir tertawa. Nathan jelas tak mengerti apa-apa. 

Beberapa menit kemudian mobil mulai bergerak. Kemala dan Nathan masih berdiri di depan gerbang sampai kendaraan itu menghilang dari pandangan.

Begitu hari mulai sore, Nathan baru saja tertidur. Kemala meletakkan Nathan perlahan ke dalam boks. Wanita itu baru saja hendak keluar ketika seorang pelayan datang.

"Nona Kemala."

"Ya?"

"Ada tamu untuk Anda."

Kemala langsung bingung. "Tamu?"

"Ya."

"Untuk saya?"

Pelayan itu mengangguk. Kemala semakin heran. Tak mungkin tamunya dipersilakan masuk ke ruang tamu Keluarga Rothmere. Wanita desa itu bahkan tak mengenal siapa pun di Jakarta.

Dengan langkah bingung, Kemala mengikuti pelayan menuju halaman depan. Angin sore berembus pelan. Gerbang utama terlihat dari kejauhan. Seorang pria mengenakan kemeja rapi, celana bahan, dan sepasang sepatu hitam berdiri di sana.

Saat pria itu berbalik, dunia Kemala seolah berhenti berputar. Kemala begitu mengenali wajah itu. Wajah yang selama ini ingin Kemala lupakan. Wajah yang menghancurkan hidup Kemala. Wajah yang meninggalkan wanita polos menghadapi semuanya sendirian.

Senyum pria itu perlahan mengembang, seolah mereka adalah dua sahabat lama yang baru bertemu. Sedangkan wajah Kemala perlahan memucat. Jantung wanita itu berdetak begitu keras. Sampai-sampai Kemala nyaris tak bisa bernapas.

"Sudah lama tidak bertemu, Kemala."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!