NovelToon NovelToon
Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Tamat
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: Animal Lovers

Aku adalah Milanie, aku adalah anak gadis yang kecil namun memiliki semangat yang besar.
Dalam hal pendidikan akulah yang paling rajin peringkat. Cita-citaku setinggi langit.
Namun bagaimana jika rencanaku berantakan karena sebuah takdir?
Takdir yang memaksaku untuk tidak melakukan apa yang aku inginkan.
Menjadi boneka yang harus melakukan semua demi orang lain.
Bagaimana aku menyelesaikan semua ini?
Apakah aku bisa keluar dari mereka yang tanpa ditunjuk, tiba-tiba menjadi dalang kehidupanku?
Cerita ini penuh dengan konflik batin tentang rumah tangga.
Jadi, jika membacanya jangan lupa ditemani keripik singkong pedas dan sebotol air minum. Oke?
Happy Reading.... 😊😊😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Animal Lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Menyambut Kedatangan Tamu

Sudah sejak seminggu ini. Kegiatanku hanya di rumah. Makan, nonton tv, lihat ponsel dan memakan beberapa camilan. Aku berusaha menikmati hari-hariku dengan santai.

Aku sengaja tak beraktifitas berat. Karena masih focus untuk penyembuhan kakiku selama minggu terakhir ini.

"Tringgg!!!"

Tepat di sebelah kiri tubuhku yang sedang duduk di kursi sofa. Ponselku berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk yang perlu dilihat.

Di atas sofa yang sedang menahan berat badanku saat ini, Aku meraihnya. Lalu membuka pesan tersebut.

"Pagi, lagi apa?" isi pesan itu.

Lagi-lagi pesan dari kak Nico yang meramaikan ponselku minggu-minggu terakhir ini.

"Apaan sih. Padahal Aku sudah cuek sama dia. Apa nggak ada capeknya apa dengan percakapan yang membosankan ini?" gumamku.

Segera Aku mengetik dan membalasnya.

"Lagi nyemil" jawab pesanku.

"Nyemil apa?" jawab pesannya.

"Nyemil keripik singkong rasa bar-bar" jawab pesanku.

"Wah, enak itu kayaknya" pesannya lagi.

"Iya Rumayan" jawab pesanku.

"Minggu ini kamu ada jadwal?" tanya pesannya.

"Ada" jawab pesanku.

"Sayang sekali. Padahal Aku ingin mengajakmu keluar" jawab pesannya.

"Sepertinya Milanie tidak bisa kak, maaf" jawab pesanku.

"Ya sudah lain kali saja ya?" tanyanya.

"Terserah kakak" jawab pesanku.

Setelah percakapan itu selesai, Aku melempar ponselku ke sofa.

Dan melanjutkan aktifitasku yang sempat tertunda karena pesan tadi. Yaitu menonton TV dan memakan cemilan singkong bar-bar.

Hingga waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Rasa kantuk ini sedang menyerang kedua pelupuk mataku.

"Hoaaaamm"

Aku mematikan TV dan beranjak ke kamar. Bersiap-siap untuk tidur siang.

Saat Aku memapahkan tubuhku ke ranjang. Aku memikirkan kehidupanku yang sekarang.

"Sungguh sangat membosankan" gumamku.

"Tak ada tantangan sama sekali" gumamku.

Dengan memejamkan kedua mataku. Merangkul guling yang berada di sampingku.

...****************...

Hari mulai gelap. Sore itu, selesai Aku disuruh menyirami bunga oleh Ibuku. Aku bergegas untuk mandi.

Tentu Aku bersiap-siap untuk menyambut seorang tamu. Yang merupakan pahlawan di keluargaku. Yaitu keluarga dari pak Mahfud.

Ibuku telah membelikanku baju gamis khusus untuk pertemuan ini.

Aku tahu, Ibu dan Ayahku berharap akan perjodohan ini berjalan dengan mulus.

Tapi melihatku saat bertindak gegabah seperti lari dari rumah kemarin. Akhirnya Mereka memutuskan tak ingin memaksaku dan memberikan keputusan akhir ada ditanganku.

Di depan kotak persegi yang memantulkan wajahku saat ini. Kali ini Aku berias selayaknya perempuan.

Bukan karena Aku ingin menampilkan sebagai istri pilhan. Tapi karena Ibuku yang selalu menceramahiku.

Kali ini, Aku mengenakan gamis berwarna merah. Membawa diriku terkesan mewah dan elegan bersama warnanya yang kental. Tak lupa dengan memakai kerudung phasmina berwarna hitam. Membuat perpaduan kedua warna ini sangat kontras namun mendukung satu sama lain.

Aku memakai bedak padat Inez. Bibirku Aku poles dengan lipstik matte yang berwarna merah keorenan. Dengan memberi pesona blush on pada kedua pipiku. Membuat pipiku tampak merona. Tak lupa juga eyeliner juga mendarat di kelopak mataku. Tepat pada garis bulu mataku. Bersama eye shadow berwarna pink ke orenan.

Aku memoles-moles wajahku sedemikian rupa. Hingga menghasilkan riasan yang natural tapi mempesona.

"Selesai" gumamku.

Terlintas dipikiranku saat berdandan.

"Andai saja yang melamarku adalah kak Lucky" batinku.

Namun harapanku itu telah sirna.

Dan sudah saatnya Aku membuang perasaan itu jauh-jauh. Kalau bisa sih, dibuang hingga ke negeri cina.

Perasaan kecewa ini yang membuatku kokoh untuk memilih mencari pekerjaan dan menolak lamaran laki-laki mana pun.

"Tok, tok, tok" pintu ketukan.

"Milanie sudah selesai?" tanya Ibuku suara dari luar kamar.

"Iya Ibu sudah" jawabku.

Aku meraih ganggang pintu dan membukanya.

Melihat penampilanku yang sekarang membuat Ibuku tersenyum sangat lebar.

"Ternyata anak Ibu sangat cantik" katanya.

"Ini berkat gamis yang Ibu belikan. Terimakasih Ibu" ucapku.

"Nanti keluarkan teh yang ada di dapur ke ruang tamu ya Mil" kata Ibuku.

"Iya Ibu" jawabku.

Berhubung kakiku sudah sembuh. Jadi Aku yang harus melakukannya.

Aku mencoba mengintip ruang tamu dari ruangan dapur.

Penasaran dengan wajah dari anak Pak Mahfud yang katanya manager design Interior itu.

Melihat posisi jabatannya telah tinggi. Pasti laki-laki itu telah berumur tua. Sekitar 30 tahunan atau bisa jadi 50 tahun.

"Tidak Milanie tidak" gumamku.

Dengan spontan Aku menggeleng-gelengkan kepalaku bergelut dengan pikiran dan halusinasiku sendiri.

Karena jarak dapur dan ruang tamu rumayan jauh. Jadi wajahnya terlihat remang-remang.

Segera Aku bergegas melakukan yang diperintahkan oleh Ibuku.

Meraih alas besi yang telah terisi 4 gelas air teh hangat di atasnya. Bersama dengan alas gelasnya.

Aku berjalan membawanya ke ruangan tamu.

Lagi-lagi semua mata yang ada di tempat itu melihat ke arahku saat Aku hendak memasuki ruangan.

Kecuali 1 orang, yaitu anak Pak Mahfud sendiri. Tak bergeming menoleh atau melihatku sama sekali.

Aku menata gelas-gelas itu di meja.

Lalu duduk di sofa tepat sebelah Ibuku.

"Silahkan di minum bu, Pak" kata Ibuku.

"Iya" jawab Istri dari Pak Mahfud.

Istri pak Mahfud segera meraih gelas itu lalu dituangkan pada alasnya. Beberapa menit Dia menyeruput teh itu yang sedikit sudah dingin dari panasnya.

"Jadi, ini anak Ibu yang bernama Milanie itu?" tanya Istri pak Mahfud.

"Benar Ibu, ini anak saya yang ragil" jawab Ibuku.

Selagi Mereka saling bercakap. Aku melirik pemuda yang sedang duduk di tengah-tengah orang tuanya.

Ternyata dia tak setua yang aku fikirkan. Wajahnya juga terlihat masih muda. Dengan kulit yang bersih, hidung dan mancung seperti pahatan patung seorang Arjuna.

"Benarkah laki-laki tampan ini yang akan menanyakanku? Tapi kenapa dia tak melihat padaku sama sekali? Aneh" batinku.

"Ini anak saya namanya Zaidan. Untuk pekerjaan, jangan ditanya lagi. Dia mengikuti jejak Ayahnya. Selain itu dia juga mulai membangun instansi sendiri yang dapat mendukung pekerjaannya" kata Istri pak Mahfud.

"Dengan umur yang masih belia dia termasuk anak yang cepat dan berbakat" kata Ayahku terlihat kagum padanya.

"Padahal Ayah tak pernah seperti itu padaku" batinku.

"Milanie, ini anak saya namanya adalah Zaidan" kata Ayah Zaidan.

Zaidan hanya melirikkan matanya padaku lalu kembali melihat meja.

"Iya Om" jawabku.

"Jadi, Kami ke sini ingin menanyakan Milanie. Apakah Milanie berkenan menerima Zaidan anak saya" kata Ayah Zaidan.

"Deg"

Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dijawab dalam seumur hidupku.

Aku terpaku, sempat Aku memandang kepada kedua orang tuaku.

Bagaimanapun Pak Mahfud adalah orang yang sangat berjasa untuk usaha Ayah. Mereka sekarang saling bekerja sama.

Karena Ayah tak ingin kehilangan pak Mahfud hingga menawarkanku kepada Mereka.

"Apa yang harus kujawab?" batinku.

Tiba-tiba ide cemerlang sedang berpihak padaku sekarang.

"Aku punya ide" batinku.

...----------------...

1
martina melati
tanya sm sp nih thor???
martina melati
hmm br 1 anak sdh mutus utk bercerai...
blm 3th berumah tangga.
martina melati
wadoh... np bgtu mudah berucap kata cerai...

sehrsny diatasi bersama jika ada konflik ato misscommunication
martina melati
nyari pengasuh bayi aja... baby sitter gt
martina melati
bukan nakut2i lho... mertua dan ipar maut
martina melati
sbnarny takut jg sih bgm khidupan milanie stlh jadi bercerai... gk bisa dduga. tp saya ijin berkesimpulan y, thor... hidup ada suka duka aplg dlm berumah tangga. ibarat kapal mengarungi samudera ada ombak, angin bahkan tsunami. pandai2 kita menjalani kapalny.
martina melati
astagaaaa... dbuang? mahal lho... tp takut jg y kalo beracun... kn gk tahu dr sp
martina melati
seharusny dtulis/dcantumkn nama /to... dan from/dari

bisa salah duga nih...
martina melati
gk mau rugi merasa sdh beri gaji tinggi gk ker
martina melati
sebenarny kurang komunikasi dan kurang terbuka... misi dan tujuan pernikahan blm dketahui bersama. masing2 msh tertutup dan merasa benar (tidak salah, bertahan dg opini pribadi masing2)
martina melati
msh kenyang ktn tengah mlm mkn stlh ker lembur
martina melati
bukanny badak bercula satu??? ujung kulon lhoo margasatwa
martina melati
jd ksepiannn...
martina melati
ayo millll
martina melati
terbuka aja sm bunda kandung lhoooo
martina melati
tolak aja dan jujur ngaku takut dg dirimu, nico... kau sdh pernah menampar wajah, membius dan menculik diriku (diikat lagi kaki dan tangan)... aku gk berani jalan dgmu
martina melati
kamu tuh laki2, shrsny terbuka sm bunda... beritahu jika pihak wanita ada mengutarakn utk membatalkn pernikahan dkarenakn merasa blm siap nikah.
martina melati
iy kemungkinan... shrs terbuka sm ibu, aplg nico tmsk ponakn tuh (spupu milanie)
martina melati
jahatny... psikopat nih... sdh dtolak sgadis malah maksa, shrsny intopeksi diri.. sadar donk!
martina melati
ihh kdrt nih... blm jd suami aja sdh main tangan... dtampar lho... hrs dbalas nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!