Dua insan berseteru di depan kolam pemandian air panas.
"Apa yang kau lakukan?!" Gadis itu bertanya dengan raut wajah penuh kesal.
"Aku ingin berendam," jawab si pria, acuh tak acuh padanya.
Gadis itu mengernyitkan dahinya. "Ingin berendam dengan cara diam-diam mengintipku? Hah! Itu tidak masuk akal sama sekali. Aku akan melaporkan perbuatanmu ini kepada ayah!" ancam sang gadis.
Gadis itu adalah Liona, seorang anak manusia yang hidup di keluarga kerajaan serigala. Ia pun lekas pergi, meninggalkan sang pria yang terpaku di tempatnya. Namun, tentu saja pria itu tidak akan tinggal diam. Ia segera menarik Liona agar tidak melaporkannya.
"Liona!"
Namun, bukannya Liona yang tertarik, malah handuk kimono yang Liona pakailah yang tertarik olehnya. Saat itu juga handuk kimono itu terlepas dari tubuh Liona.
Liona melihat sendiri jika handuknya sudah terlepas dari tubuhnya. Ia pun tak terima.
"Dasar mesuuuuummm!!!" Ia berteriak sekencang-kencangnya.
Novel lomba #Percintaan Non-Human
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Tujuan
"Menghukumku?" Han tak percaya.
"Ya." Liona mengangguk. "Anggap saja balasan dari perbuatanmu di kolam pemandian tadi sore. Jika kau tidak mau, maka jangan pernah mencariku lagi." Liona mulai mengancam.
Han mengernyitkan dahinya. Ia merasa Liona membalas sikapnya selama ini. "Apa hukumannya?" Han mau tak mau menanggapi.
Liona tersenyum, ia lalu menyandarkan kepala di bahu Han. Saat itu juga jarak yang begitu dekat membuat Han kelimpungan. Detak jantungnya seakan tidak bisa dikendalikan. Terlebih senyum manis Liona terlihat di matanya.
"Aku ingin keluar perbatasan hutan. Berjalan-jalan di tengah purnama terakhir." Liona mengungkapkan keinginannya.
Bak kebetulan, apa yang dikhawatirkan Han akhirnya terjadi. Liona ingin keluar perbatasan hutan menikmati hari.
"Tapi sudah malam." Han mencoba untuk menolaknya.
Liona memasang wajah cemberutnya. Ia segera menjauhkan diri dari Han. Ia berdiri lalu bergegas pergi. Ia ngambek kepada Han.
"Baik, baiklah." Akhirnya Han pun menuruti.
Han bak tak berdaya. Ia akhirnya menuruti keinginan Liona untuk keluar perbatasan hutan. Liona pun tersenyum senang di depannya. Ternyata ia bisa segera mewujudkan keinginannya, keluar dari perbatasan hutan.
Liona berbalik menghadap Han. "Kalau begitu, ayo!"
Liona pun dengan semangat meminta digendong oleh Han. Han pun merasa lemah, tak berdaya untuk menolak keinginan Liona. Ia lalu berjongkok di hadapan Liona. Liona pun segera naik ke belakang tubuhnya.
Aku kalah ....
Harus Han akui jika perasaannya itu mengalahkan logika. Untuk yang pertama kalinya Han mengalah kepada Liona. Ia tidak menunjukkan sisi arogannya. Liona pun senang karenanya. Ia merasa Han peduli kepadanya.
Lantas Han segera berlari, lalu melompat dari atap ke atap. Hingga akhirnya ia melewati pagar tinggi istana. Han keluar bersama Liona tanpa ada yang mengetahuinya. Mereka kemudian menuju perbatasan hutan.
...Han dan Liona...
Beberapa saat kemudian...
Bulan purnama menjadi saksi Liona keluar dari perbatasan hutan. Han pun mengajak Liona pergi ke suatu tempat yang jauh di sana. Yang mana tempat itu sangat megah. Melewati pemukiman penduduk dan penjaga yang berjaga. Tempat itu adalah istana Rusmania.
"Liona, kita sudah sampai."
Sesampainya di sana, Han segera memberi tahu Liona agar lekas membuka kedua matanya. Malam ini seperti malam ngedate pertama mereka. Berjalan bersama ditemani rembulan yang bersinar dengan terang. Han pun tampak lebih lembut kepada Liona.
"Ini?!"
Liona membuka matanya. Ia pun menyadari jika telah berada di menara tertinggi istana. Ia juga melihat cahaya lampu yang terang dari arah sana. Liona memerhatikannya. Luas istananya ternyata lebih luas dari kepunyaan ayah angkatnya, Raja Tanura.
"Kita di mana?" tanya Liona yang kebingungan.
"Ini adalah istana Rusmania. Istana terbesar yang ada di belahan utara bumi. Kita memasuki wilayah manusia," terang Han kepada Liona.
Sontak Liona tersentak hebat. Ia lalu melihat dirinya sendiri. Ia juga melihat Han yang tidak berubah wujud. Padahal mereka telah keluar dari perbatasan hutan.
Ini aneh sekali. Aku tidak berubah wujud begitu keluar dari perbatasan hutan. Apakah aku memang manusia?
Liona bertanya-tanya. Ia pun melihat Han yang berada di dekatnya. Ia perhatikan wajah pria di sampingnya. Namun, tidak ada yang berbeda, sama seperti biasanya.
Aku harap Liona tidak tahu jika aku memakan kelopak bunga kristal itu.
Sedangkan Han berharap Liona tidak menanyakan apa yang dikatakannya dulu. Ia ingin Liona tidak mengetahui apa yang membuatnya bisa berwujud seperti manusia.