Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You are mine
Hujan musim gugur entah mengapa malam itu turun terlalu deras, hingga kabut tebal beringsut naik menutupi kawasan istana.
Lumina yang baru saja selesai berbenah kamar William bermaksud ingin segera kembali ke kamar tuannya. Sampai celah pintu yang terbuka seketika menghentikan langkah nya.
William yang baru saja masuk ke kamarnya sedikit terkejut dengan keberadaan gadis itu. Ia terdiam beberapa saat menatap gadis di depannya.
"Maaf Tuan. Saya baru saja selesai berbenah kamar anda, Lady Lucille yang memerintahkan langsung serta menyuruh meletakkan Mawar di beberapa sudut" Ia menunduk tak berani menatap langsung ke Tuannya.
William hanya tersenyum melihat sifat polos yang ditunjukkan gadis itu.
"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan jika kau melakukannya setiap hari."
Lumina hanya menunduk tak ingin menanggapi. Ia tersenyum singkat bermaksud ingin segera berlalu dari hadapan pria itu.
"Tunggu...! tidak bisakah kau tinggal sebentar menemaniku minum."
"Maaf Tuan. Tapi aku harus segera kembali ke kamar Tuan Louis. Kurasa dia tengah menungguku sekarang."
Lumina segera berlalu dan menutup pintu dengan pelan, sementara William hanya mengangkat sedikit sudut bibir nya karena di tolak oleh Lumina.
Lumina berjalan stengah berlari menuju kamar Tuannya. Ia sedikit khawatir karena tak berada di tempat nya saat Louis datang. Ia tak peduli dengan beberapa pasang mata yang tengah memperhatikannya. Begitu sampai di depan pintu ia mengatur nafasnya dan segera masuk.
Louis yang melihat kedatangan gadis itu menatapnya dengan air muka samar tanpa ekspresi berarti.
"Dari mana saja kau?"
"Aku baru saja berbenah di kamar tuan William" timpal nya dengan sedikit takut akan kemarahan Louis.
"Siapa yang menyuruhmu melakukannya hah.. ! Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak meninggalkan ruangan ini."
Louis sedikit muak dengan sifat Lumina yang selalu membangkang.
"Lady Lucille yang menyuruhku, dia datang kemari dan mengatakan hal itu."
Louis terdiam, dia enggan menanggapi jika bersangkutan dengan wanita itu.
"Ikut aku..!"
"Kemana?"
Louis tak menghiraukan pertanyaannya dan tetap menarik gadis itu mengikuti langkahnya. Lumina hanya diam mengikuti kemana pria itu membawanya, hingga saat sampai di pintu belakang istana langkah sedikit berat. Ia ragu akan ajakan pria itu, sekelebat bayangan tentang sarah melintas di benaknya. Ia sedikit curiga akan maksud dari pria ini, takut jika ia akan berakhir sama seperti Sarah.
Tepat di tepi hilir sungai Lumina terdiam menatap lekat pria itu. Louis tengah diam dengan sesekali meraup udara dengan rakus. Sisa hujan deras yang mengguyur kawasan itu serta kabut pekat yang turun lebih cepat, membuat udara jauh lebih dingin dari biasanya. Hembusan angin yang lebih dari sejuk sedikit banyak telah menembus rongga-rongga kulit hingga tulangnya.
Lumina yang tengah terdiam dengan pemikirannya sendiri sedikit terkejut saat Louis mengulurkan tangannya. Sedikit ragu ia tetap menerima uluran tangan itu, ia seketika terhenti saat langkah pria itu masuk kedalam aliran sungai.
"Tunggu..! aku tidak mau."
Louis semakin memegang erat tangan itu dan menariknya sedikit kasar untuk masuk ke dalam air.
"Apa yang kau lakukan?"
"Diam dan menurut!"
Lumina diam pasrah mendengar perintah tuannya. Entah hal buruk apa yang akan terjadi padanya. Dingin nya air serta udara yang berhembus lebih dingin seketika membuat tubuhnya menggigil. Ia merutuki kesalahannya karena membalut tubuhnya dengan kain tipis tak berlengan.
Louis membawa gadis itu tepat di tengah aliran sungai. dalam air yang sebatas dada Louis serta deras nya aliran menggoyahkan pijakan Lumina. Ia merasa kesulitan karena kedalaman yang hampir memakan tinggi tubuhnya. Sedikit terpaksa ia berpijak di atas kaki Louis dengan tangan yang bergelayut erat di pundak serta tengkuknya.
"Sebenarnya apa mau mu? kau tau aliran ini terlalu dalam dan kau membawaku tepat di tengahnya. Jika kau ingin membunuhku dengan menenggelamkan ku di sungai itu adalah sesuatu yang terlalu keji."
Louis hanya tersenyum menimpali protes Lumina akan dirinya. Bermaksud tak ingin ada seseorang yang mencium bau darahnya dengan membawa nya masuk ke aliran sungai. Ia menyeringai penuh kuasa karena Lumina memeluk tubuhnya lebih erat dari sebelumnya. Lengan yang kokoh memegang pinggang Lumina serta tangan yang lain menyentuh wajah nya penuh damba.
Gadis itu seketika berdesir, sentuhan tangan yang seharusnya dingin sebaliknya terasa hangat di permukaan kulitnya. Ia merasa canggung akan tatapan Louis yang menatap lekat dirinya. Sedikit salah tingkah ia mencoba menghindari tatapan tersebut tapi sebaliknya Louis memegang dagunya.
"Aku ingin merasakannya lagi?"
"Merasakan apa?" Ia bertanya dengan dana kikuk karena debaran jantungnya yang terlampau kencang.
"Gelora itu. Hasrat itu!"
Sedetiknya Louis langsung memagut bibir itu dengan kasar, ia menekan tengkuk dan merasakan setiap inci bagian dari gumpalan daging tersebut. Sedikit kuwalahan Lumina melenguh merasa kurang nyaman dengan sentuhan yang menurutnya sedikit kasar. Louis yang hampir lupa akan tujuannya dengan sengaja mengigit bibir Lumina. Matanya seketika berkilat saat merasakan darahnya untuk kedua kali. Jari-jarinya menjepit bibir penuh Lumina dan menelannya dengan penuh hasrat. Nafas hangat mereka bertukar berirama mengobarkan api nafsu yang masih tersekat. Lumina meringis sakit saat bibirnya yang terluka di hisap kuat. Louis menutup mulut dan hidungnya dengan ciuman penuh menuntut.
Merasa hasrat yang mendera terlonjak kuat, ia segera mengakhiri pagutannya dan menatap semu ke arah gadis itu. Dugaan nya benar, Lumina memiliki darah peri yang ia cari. Entah bagaimana gadis itu mendapatkannya yang jelas Louis harus segera mengikat gadis itu bersamanya.
Lumina sedikit bernafas lega, tak di pungkiri hasratnya seketika naik. Entah karena dirinya yang tabu akan hal itu atau dia yang mulai mendamba sentuhan Louis. Ia menatap lekat mata yang berwarna topaz dan berkilat sekarang berubah sendu. Lumina terlena saat sentuhan hangat itu kembali singgah di permukaan kulitnya. Ia mengatupkan matanya meresapi sentuhan yang ada .
Seakan lupa akan dinginnya air dan hembusan angin yang menerpa, Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh tinggi kokoh di depannya.
Louis menyeka tetesan darah yang menetes di baju lumina, ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui jika Lumina memiliki darah peri.
"Kau milikku! secepatnya kau akan ku ikat bersamaku." Louis membelai lembut pipinya dan meniup pelan permukaan wajahnya.
Lumina hanya menatapnya dengan sendu dan seketika kantuk menyerangnya dengan cepat. Entah mantra apa yang ia ucapkan pada gadis itu ia segera bergegas.
Lengannya yang kokoh memegang punggung Lumina serta tangan yang lain terselip di belakang lututnya. Ia menggendong tubuh gadis itu untuk keluar kembali ke istananya.