Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 PGD
Jam menunjukkan pukul 10 malam, Leon yang masih berada di balkon kamarnya berharap jika Ana pulang ke rumahnya.
''Jam 10, seharusnya Ana sudah pulang saat ini,'' gumam Leon menatap jam pada ponselnya.
''Kenapa sih aku harus memikirkan dia. Stop Leon stop, dia bukan siapa-siapamu. Dia hanya orang asing yang dengan kebetulan menjadi sahabat adikmu. Kenapa kamu malah peduli dengannya. Ana bukanlah tipe mu Le,'' ucap Leon seorang diri.
''Tapi kenapa otak ini nggak bisa berhenti memikirkannya. Aku benar-benar sudah di buat gila olehnya,'' ucapnya lagi.
Leon pun memutuskan untuk kembali masuk ke kamarnya karna hari sudah semakin malam. Ia akan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karna bekerja.
Leon berusaha memejamkan matanya, namun bayang-bayang tubuh Ana yang bisa di bilang se*y terus menerus berada di fikiran Leon.
''Akhhhhhh, kenapa dimana-mana ada dia? Apa aku sudah benar-benar jatuh hati padanya?'' Leon menjambak rambutnya dengan kasar. Tubuhnya terasa lelah, namun fikirannya berkata lain.
Semalaman suntuk Leon tak bisa memejamkan kedua matanya. Sampai adzan subuh berkumandang pun Leon masih belum tidur.
Jam pun menunjukkan pukul 7 pagi. Leon memutuskan untuk pergi ke kantor walaupun semalaman ia tak tidur sama sekali.
Leon berjalan menuju ruang makan, di sana sudah ada Lufi yang sibuk dengan roti selainya.
''Pagi Kak,'' sapa Lufi.
''Pagi,'' ucap Leon lesu.
''Kakak kenapa? Matanya seperti mata panda, bahkan penampilannya awut-awutan tidak seperti biasanya,'' batin Lufi memperhatikan Leon yang tengah mengoleskan selai pada rotinya.
''Aku rindu nasi goreng yang hampir setiap pagi kamu masak An, aku rindu masakan enakmu, aku sadar sekarang, jika aku sudah menaruh hati padamu,'' batin Leon sambil memakan rotinya. Lufi memperhatikan perubahan pada Kakaknya.
''Woyyy ngelamun aja!'' sentak Lufi.
''Kamu ini punya sopan santun nggak. Sama orang yang lebih tua kok seperti itu,'' gerutu Leon. Ia kaget saat Lufi bicara dengan nada tinggi tadi.
''Habisnya Kakak ngelamun mulu. Mikirin apa sih?'' tanya Lufi kepo.
''Anak kecil nggak usah kepo. Fokus pada kuliahmu saja,'' ucap Leon meninggalkan Lufi yang masih duduk anteng.
''Heleh paling lagi mikirin Ana. Aku yakin itu,'' ucap Lufi sambil memakan roti selainya.
*
Sesampainya di perusahaan, Leon segera menuju ke ruangannya. Ia duduk di atas kursi kebesarannya.
''Hoam,'' Leon berkali-kali menguap. Matanya terasa sangat lengket, ia pun tertidur dengan kepala di atas meja.
Tok tok tok.
Pintu terus menerus di ketuk dari luar, namun Leon tak bergeming sama sekali. Efek tak tidur semalaman membuat ia tertidur nyenyak walaupun hanya berbantalan meja.
Ceklek.
Pintu di buka dari luar, Sandra mengeryitkan dahinya saat melihat Leon yang tertidur di atas mejanya. Sandra mendekat ke arah Leon, ia menatap wajah tampan Leon dengan lekad-lekad.
''Pak Leon engkau sangat tampan! Maka dari itu aku nggak bisa berpaling darimu,'' ucap Sandra mengecup sekilas pipi kiri Leon. Entah keberanian dari mana Sandra melakukan itu. Ia tak tau jika ada CCTV di dalam ruangan Leon. Namun bukan hanya CCTV yang menangkapnya. Leon pun langsung mendorong tubuh Sandra sampai Sandra benar-benar jatuh ke lantai.
''Berani sekali kamu!'' ucap Leon tersenyum sinis.
''Ma maaf Pak. Sa saya---''
''Keluar dari ruangan saya sekarang!! Dan jangan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi!'' ucap Leon menatap tajam Sandra.
''Pak, jangan pecat saya Pak. Saya butuh pekerjaan ini,'' ucap Sandra memohon.
''Kamu nggak pantas kerja di sini. Kamu lebih pantas menjadi wanita ma*am!'' ucap Leon datar.
''Pergii!!!!'' bentak Leon. Sandra tak punya pilihan lain, ia pergi dari ruangan Leon daripada Leon mengamuk. Sandra menangis sesenggukan saat keluar dari ruangan Leon, Sandra pun berpapasan dengan Dirga yang ingin masuk ke dalam ruangan Leon.
''Permisi Tuan, ini ada berkas yang harus anda tanda tangani,'' Dirga menyerahkan berkas yang ia bawa. Sebenarnya Dirga sangat ingin tau tentang Sandra tadi, namun ia tak mau ikut campur daripada harus di potong gaji oleh Leon.
''Urus surat resign Sandra. Dan jangan kasih pesangon sepeserpun untuk dia!'' perintah Leon.
''Baik Tuan,'' ucap Dirga.
Setelah urusan Dirga dengan Leon selesai, ia segera keluar dari ruangan tersebut.
''Kepalaku rasanya ingin pecah. Oh iya aku belum mencuci mukaku yang di cium oleh Sandra tadi. Ihhh rasanya aku jijik dengan pipiku,'' ucap Leon segera berlari ke kamar mandi yang ada di ruangannya.
Saat menatap cermin, Leon teringat ciuman sekilas dengan Ana waktu itu.
''Walaupun sekilas, namun aku ingin mengulanginya lagi An,'' ucap Leon tersenyum sambil meraba bibirnya.
''Ana lagi Ana lagi. Kenapa sih aku harus ter Ana-Ana,'' gerutu Leon. Ia memilih segera keluar dari kamar mandi.
*
Di kamar kosnya, Ana masih berkutat dengan tugas kuliah yang menumpuk. Ia ingin segera menyelesaikan tugas-tugasnya sebelum berangkat bekerja. Namun perut berkata lain, saat ini perut Ana terasa sangat lapar, karna sejak pagi ia belum memakan apapun.
''Keluar cari makan dulu aja lah, laper banget,'' ucapnya. Ia segera mengganti bajunya lalu keluar dari kamar.
''Penghuni baru ya?'' tanya seseorang yang kamarnya berada di samping kamar Ana.
''Iya,'' ucap Ana tersenyum ramah.
''Kenalin aku Rafa,'' ucap Rafa mengulurkan tangannya.
''Ana Kak,'' ucap Ana menerima uluran tangan Rafa.
''Aku keluar dulu Kak, mau cari makan,'' pamit Ana.
''Kebetulan aku juga mau beli makan, barengan aja yuk. Kamu pasti belum tau warung di sekitar sini,'' ucap Rafa.
''Em, iya Kak,'' ucap Ana ragu. Ingin rasanya Ana menolak namun ia tak enak hati.
''Kita jalan aja, deket kok dari sini,'' ucap Rafa.
''Baik Kak,'' ucap Ana. Mereka pun keluar dari area kos. Mereka berjalan di pinggir jalan raya. Benar yang di ucapkan Rafa, Jarak antara warung dan kos memang tak jauh. Saat ini mereka sudah sampai di warung sederhana, namun banyak orang yang makan di warung ini.
''Mau di bungkus atau di makan di sini?'' tanya Rafa.
''Bungkus aja deh Kak. Soalnya tugasku masih banyak yang belum selesai,'' ucap Ana.
''Oke,'' ucap Rafa. Rafa memesan 2 porsi nasi, sayur dan ayam.
''Ini Kak uangnya,'' Ana menyerahkan uang 50 ribuan kepada Rafa.
''Nggak usah. Cuma habis 40 ribu kok,'' ucap Rafa.
''Tapi Kak---''
''Udah aku bayar. Yuk pulang,'' ajak Rafa.
Ana merasa tak enak kepada Rafa. Baru saja kenal, ia sudah di traktir makan olehnya.
''Terima kasih Kak Rafa. Tapi Ana masih punya uang kok untuk membayarnya,'' ucap Ana.
''Nggak pa pa An, anggap saja sebagai tanda kenal kita,'' ucap Rafa tersenyum ke arah Ana.
*
*