Alex patah hati karena wanita yang ia incar ternyata lebih memilih rival bisnisnya. Membuat pria ini putus asa dan memilih melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras.
Dalam keadaan terpuruk, tak sengaja Alex bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.
Sayangnya kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka. Meski begitu, tak dipungkiri bahwa Alex sebenarnya juga menyukai gadis itu.
Akankah Alex mampu merebut hati si gadis penolong? Ataukah malah menghindarinya gara-gara gadis itu berwajah mirip dengan wanita yang dia suka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir saja
Alex datang dengan penuh amarah. Ia masuk ke dalam rumah tanpa berucap salam. Diam dan menatap tajam pada orang-orang yang ia lewati.
Sampai di ruang tamu, Alex bertemu Emma. Tanpa basa basi, pria muda ini langsung bertanya pada Emma.
"Di mana Oma?" tanya Alex langsung tanpa basa-basi. Namun tak ada satupun asisten rumah tangga di sana yang berani menjawab pertanyaan itu. Mereka semua diam membisu karena Emma memang sengaja meminta mereka untuk diam.
"Ada apa, Lex? Kenapa kamu terlihat marah?" tanya Emma tiba-tiba datang dari arah belakang tubuh Alex.
"Di mana Oma? Kenapa dia tidak ada di kamar?" tanya Alex kesal.
"Wait! Ada apa ini? Coba katakan padaku?" Emma berusaha menenangkan Alex. Namun Sayang Alex malah merasa Emma berpihak pada Oma Asri, bukan berpihak padanya.
"Kamu tidak perlu ikut campur, ini adalah urusan keluarga," jawab Alex, kesal.
Sungguh jawaban yang sukses membuat Emma tertampar. Bagaimana tidak? Dari ucapan tersebut, tertangkap bahwa Emma tidak dianggap siapapun di sini.
"Aku tahu ini urusan keluarga, tapi aku adalah asisten Oma. Aku berhak menjaga jiwa dan raga beliau. Katakan dulu, apa yang kamu inginkan!" jawab Emma berani karena dia tahu saat Ini Alex sedang terpengaruh berita bohong. Emma tahu jika saat ini Alex pasti terlah terasuki sebuah prasangka yang nantinya akan menghancurkan hubungannya dengan Emma.
"Kamu tidak tahu apa-apa, Em sebaiknya jangan ikut campur," jawab Alex.
"Dari mana kamu tahu kalo aku tidak tahu apa-apa? Bagaimana jika aku tahu segalanya?" balas Emma.
"Memangnya apa yang kamu tahu?" tanya Alex.
"Kebenaran tentang orang tuamu, mungkin. Atau siapa orng yang sudah membuatmu berprasangka buruk seperti ini!" jawab Emma.
"Heh, apa wanita tua itu sudah membayarmu untuk membelanya?" serang Alex.
"Untuk apa membeliku, aku tidak membutuhkan hal seperti itu untuk membela kebenaran," tangkia Emma.
"Wow.. apakah kamu serius? Kamu serius dia tidak memberinu uang? Kenapa aku jadi sangsi ya?" serang Alex lagi.
Sebenarnya Emma kesal dengan pernyataan itu. Sebab ucapan Alex seolah kembali menghina dirinya, bahwa dirinya adalah karya miskin yang ketika melakukan sesuatu yang baik selalu mengharap imbalan.
"Aku memang miskin, tapi tidak seperti itu konsepnya, Lex!" jawab Emma.
"Lalu seperti apa? Bukanlah kamu Kerja padanya untuk mencari uang?" serang Alex lagi.
"Kamu benar, aku kerja padanya untuk mencari uang. Tapi konteks pertanyaan mu tadi tidak ditujukan untuk pekerjaan tapi lebih untuk para penjilat. Aku bukan penjilat Lex, asal kamu tahu itu!" jawab Emma kesal.
"Kamu tidak perlu banyak cakap! Cepat katakan padaku di mana Oma! Aku mau meminta penjelasan darinya."
"Sudah ku bilang Oma tidak ada diri rumah. Beliau sedang pergi. Ada urusan. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan pada Oma. Nanti aku sampaikan!" jawab Emma.
"Oh, jadi sekarang kamu jadi sok jadi pelindung untuk wanita tua itu?" serang Alex.
"Lex, please.. jangan termakan kabar yang belum tentu kebenarannya!" pinta Emma.
"Jangan sok tahu kamu!" Alex menatap tajam ke arah Emma.
"Tidak, Lex, aku tidak sok tahu, tapi aku memang tahu!" jawab Emma.
"Dari mana kamu tahu dan apa yang kamu tahu?" cecar Alex.
"Aku tahu apa yang ingin kamu tahu bahkan aku juga tahu apa yang saat ini ada di tanganmu!" jawab Emma.
Alex tak ingin melanjutkan perdebatan ini. Sebab ia yakin di dalam rumahnya pasti ada penghianat. Jujur Alex merasa mencium aroma penghiatan di sini.
"Sebaiknya kau diam! katakan pada Oma, suruh menelponku kalo sudah kembali. Ingat itu!" ucap Alex, kemudian ia pun pergi meninggalkan Emma yang terlihat bingung.
Bagaimana tidak? Awalnya Alex begitu menggebu ingin merah. Tapi ketika ia layani amarahnya, Alex malah menurunkan emosinya dan memilih pergi. Bukankah ini sangat membingungkan.
***
Di sisi lain...
Tak menunggu waktu lagi, Minah langsung mengirimkan rekaman perdebatan antara Alex dan Emma. Karena menurutnya kabar ini harus segera ia sampikan agar perintah selanjutnya segera turun.
"Sepertinya gadis itu sangat berbahaya untuk kita, Min. Kamu awasi setiap geraknya. Aku tak mau dia memperngaruhi Alex agar percaya wanita tua sialan itu di banding kita, mengerti!" jawab Erika.
"Baik, Nyonya akan saya kerjakan!" jawab Minah.
"Bagus, Min, kamu awasi terus dia. Aku yakin dia mengetahui sesuatu!" ucap Erika.
"Baik, Nyonya saya mengerti!" jawab Minah.
Perbincangan berakhir. Minah menutup panggilan telpon itu. Lalu membalikkan tubuh, bersikap kembali ke rumah. Namun, betapa terkejutnya dia saat hendak masuk ke dalam rumah. Ia melihat Alex melintas di belakangnya.
"Eh, Pak Alex," sapa Minah, sok ramah.
Sayangnya sapaannya tidak dibalas oleh Alex, tuan muda arogan itu hanya melintas saja. Tanpa membalas sapaannya sedikitpun.
Bersambung..
kog malah muncul masalah baru,...
lanjut crazy up gtu kak😊