Bahagiana Bahtiar adalah wanita cantik, cerdas dan kaya raya dari keluarga terpandang. Sosok yang tak pernah percaya dengan namanya cinta, kekasih, suami. Karena sesuatu terjadi pada salah satu organ tubuhnya, dia dijodohkan oleh sang Papi dengan Balin Azura, pria dewasa dan tampan dari kalangan biasa.
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan hingga berhasil mencuci otak Papi?" bentak Bahagiana seraya berkacak pinggang, menatap tajam.
"Asal kau tahu bahwa salah satu dalam organ tubuhmu itu adalah alasan utamaku menerima PERJANJIAN PERNIKAHAN ini!" Batin Balin dengan perasaan murka karena kalimat yang dilontarkan Bahagiana.
"Tidak bisa menjawab? uang, harta dan kekayaan? selamat kau berhasil!" Teriak Bahagiana untuk kesekian kalinya.
Bagaimana kisah antara Bahagiana dengan Balin? dua sosok beda karakter, martabat yang akan hidup satu atap.
Ikuti kisahnya di karya author recehan ini yang masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 25. Ternyata Kalian Berbeda
"Gia.....Gia...." Panggil Balin seraya menepuk-nepuk wajah Bahagiana yang masih pucat pasi itu. Memangku kepalanya dengan perasaan panik.
Tak kunjung sadarkan diri Balin mengangkat tubuh lemah itu, mengendong ala bridal menuju sebuah cafe yang ada di ujung sana. Dengan perasaan khawatir, Balin memperpanjang langkahnya agar segera sampai.
Tiba di cafe
"Ada apa Mas? kenapa dengan istrinya?" tanya pelayan cafe yang dapat diperkirakan seusia dirinya.
"Istri saya pingsan Mbak, hmm apa Mbak punya minyak kayu putih?" Balin memberitahu serta minta bantuan.
"Sebaiknya Mas bawa masuk, di sudut dalam sana ada sebuah sofa panjang. Itu cukup untuk merendahkan istrinya. Ayo biar saya antar," ucap sang pelayan dengan ramah. Berjalan lebih duluan, dan mempersilahkan Balin untuk merendahkan Bahagiana.
Balin mengoleskan beberapa tetesan di hidung serta dua sudut dahi Bahagiana. Berharap ia segera sadar dengan aroma minyak kayu putih tersebut.
Hmmp
Bahagiana mengerjap, dua mata indah itu perlahan terbuka. Pandangan buram membuatnya sulit hingga kembali mengerjap berulang kali.
"Gia....Gia...." Bisik Balin dengan raut wajah sedikit lega karena istrinya itu sadar juga.
"Mas kasi minum dulu. Jika begitu saya tinggal kembali bekerja," ucap sang pelayan seraya menyodorkan segelas air hangat.
"Terima kasih Mbak," balas Balin.
"Aku di mana?" lirih Bahagiana seraya mengusap dahinya, mengedarkan pandangannya. Tempat yang asing baginya.
"Minum dulu." Balin membantu mendudukkan Bahagiana, menyodorkan gelas itu tepat di bibirnya. Mau tak mau Bahagiana menurut. Menyesap minuman itu dengan perlahan. "Kamu sakit?" tanya Balin.
Ia menggeleng lemah. "Aku benci pantai, bawa aku pergi dari tempat ini sekarang juga," lirih Bahagiana dengan mata berkaca-kaca.
Tangan Balin terulur, menempel di dahi Bahagiana. Memeriksa suhu tubuh itu tapi normal-normal saja, hanya wajah itu masih memucat.
"Aku benci pantai....." Lirihnya hingga air mata itu tak terbendung lagi.
Spontan Balin mendekap tubuh lemah itu, membawa kedalam pelukannya. Entah kenapa Bahagiana diam bahkan tidak menolak. Bahkan pelukan itu menghangat dan mengusir demi sedikit rasa takut itu.
"Baiklah kita akan pergi, tapi sebaiknya kita makan dulu," ucap Balin seraya mengusap rambut panjang tersebut.
"Aku tidak ingin makan di sini. Bawa aku sekarang juga," kekeh Bahagiana, i ingin cepat-cepat pergi dari tempat tersebut.
Balin mengangguk. Saat ini ia mengalah karena atas keegoisannya itu menyebabkan istrinya pingsan. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya tapi ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Sedangkan keadaan Bahagiana masih syok.
Pelukan itu terurai. Balin merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Bahagiana. Bahagiana hanya bisa menunduk, mendapat perlakuan manis itu. Kini rona memucat itu berangsur sedikit.
Balin mengenggam tangan Bahagiana. Sebelum keluar ia kembali berterima kasih kepada pelayan tadi.
***
Didalam mobil
"Kamu baik-baik saja?" tanya Balin karena masih khawatir.
Bahagiana hanya bisa mengangguk.
Mobil itu meluncur, meninggalkan pantai sejauh mungkin. Mencari restoran atau cafe terdekat karena mereka sudah melewati makan siang. Apa lagi keadaan Bahagiana yang lemah seperti itu.
10 menit mereka mendapati cafe pinggir jalan, cafe cukup besar dan juga nyaman sepertinya. Sebelum memasuki area parkir ia terlebih dulu bertanya kepada Bahagiana.
"Bagaimana jika kita makan di sini saja atau dimana kamu inginkan?" tanya Balin, menatap Bahagiana yang sedang memperhatikan sebuah cafe tersebut.
"Terserah," lirih Bahagiana seakan pasrah.
Mata itu menyipit karena biasanya wanita ini tak seperti saat ini. "Baiklah kita makan di sini saja," ucap Balin.
Ia membawa roda empat itu memasuki area parkir,cukup ramai juga pengunjungnya. Seperti biasa ia memutar mobil membukakan pintu untuk Bahagiana. Bahagiana menurut saja karena tubuhnya benar-benar lemas.
Mereka memasuki cafe, disambut dengan ramah oleh para pelayan. Mencari meja yang jauh dari keramaian, agar tak menganggu.
Tiba di meja yan dipilih Balin menarik kursi untuk Bahagiana. Dengan patuhnya ia duduk, sungguh perlakuan manis Balin tersebut membuat pengunjung disekitar sana senyam-senyum. Mungkin bagi mereka itu adalah sangat romantis.
"Kamu pesan apa? hmm di sini ada menu cumi-cumi bakar," ucap Balin seraya memperhatikan buku menu.
"Aku alergi cumi-cumi," sahut Bahagiana.
Balin sentak kaget dengan jawaban Bahagiana. Ia juga baru sadar telah salah berkata, ia kira sedang makan bersama almarhum Jill. Cumi bakar adalah makanan favorit Jill.
Hmm
Tidak ingin terbawa suasana Balin kembali fokus kepada buku menu.
"Aku sup ikan saja," ucap Bahagiana tidak ingin berlama-lama memikirkan makanan apa yang menjadi menu siang mereka.
Balin mengangguk, lalu memanggil pelayan.
"Samakan saja sup ikan dan minumannya jus lemon," ucap Balin.
Sempat membuat Bahagiana tertekun, menatap sesaat sosok itu yang sedang melipat kembali buku menu. Tidak ingin ketahuan dengan segera ia membuang muka.
Menunggu pesanan mereka datang, Balin ingin bertanya sesuatu yang sejak tadi membuatnya sangat penasaran.
"Hmm bila boleh tahu alasan kamu benci pantai?" tanya Balin dengan hati-hati, bukan bermaksud ingin menyinggung.
Bahagiana mendongak, menatap Balin yang kini duduk di hadapannya.
"Lupakan saja," ucap Balin karena pertanyaannya tak kunjung dijawab.
"Pantai membuatku trauma oleh sesuatu yang tak ingin aku ingat. Aku sangat benci pantai," papar Bahagiana dengan tatapan datar.
Balin mengangguk, walaupun jawaban itu tak membuatnya puas.
"Ternyata kalian Berbeda!" Batin Balin membandingkan Bahagiana dengan almarhum Jill. Dimana almarhum Jill sangat suka pantai dan makanan favorit cumi bakar, sedangkan Bahagiana dua hal itu bukanlah kesukaannya.
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi
jangan lupa juga yaaa kak mampir vote dan likenya cmiww💐