seorang pemuda bernama Aryan, Aryan Pratama Radja bermimpi menjadi super Mega star sepak bola Dunia.
Dari menjadi tulang punggung keluarga hingga mengharumkan tanah air.
"Aku lahh Sang Super Starr... Arrghh"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mpi Apriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Tes Medis Academy
00:04
Aryan bangun dari alam mimpinya dan bersiap mewujudkan mimpi. Diawali dengan latihan fisik ringan di kamarnya beradaptasi dengan kondisi di Belanda sebelum melakukan tes medis pagi hari nanti.
Setelah latihan fisik ringan Aryan mandi membersihkan dirinya yang lengket dengan keringat dan bersiap turun menuju kantin mengambil sarapan.
Di lorong Aryan berpapasan dengan dua bersaudara Mark yang baru keluar dari kamarnya di ikuti Tama.
"Hey, selamat pagi." Dua bersaudara menyapa
"Selamat pagi." Balas Aryan menyapa
Mereka berbincang sepanjang jalan menuju kantin. Mereka cepat akrab walaupun baru sehari kenal, itu akan sangat membantu karena faktor lingkungan juga mempengaruhi beradaptasi dengan tempat baru.
"Apa kalian akan mengikuti latihan pagi nanti?." Tanya Jonathan di akhir sarapannya
" Entahlah, mungkin tidak. Kami akan menjalani tes medis terlebih dahulu." Jawab Aryan
"Semoga lancar, bro." Ucap Jonathan
"Terima kasih." Balas Aryan
"Baik, aku duluan, kami akan bersiap melakukan latihan. Sampai jumpa." Ucap dua bersaudara beranjak dari duduknya
"Sampai jumpa."
Aryan dan Tama menunggu di kantin menantikan instruksi James selanjutnya untuk tes medis. Setelah beberapa saat menunggu seorang pria paruh baya datang dengan pakaian training memasuki kantin menghampiri Aryan dan Tama.
"Selamat pagi, scout Bert." Aryan dan Tama berdiri menyapa James
"Selamat pagi,apa kalian sudah sarapan?." Tanya James tersenyum
"Sudah pak." Jawab keduanya
Scout Bert mengangguk "Bagaimana tidur kalian semalam? Nyenyak?." Lanjutnya bertanya
"Itu tidur yang menakjubkan yang pernah aku alami, scout."
"Benar, aku belum pernah tidur senyaman itu." Ucap mereka berdua antusias
"Bagus, saya senang kalian beradaptasi dengan cepat," Scout Bert tersenyum "kalian sudah di beri tahu oleh pak James, akan tes medis hari ini?. "
"Sudah scout. " Ucap mereka mengangguk
" Baik, sekarang kalian ganti pakaian latiahan saya tunggu di lantai tiga, mengerti?." Ucap James tersenyum
"Mengerti, pak James." Aryan dan Tama pergi ke kamarnya masing masing
Mereka dengan cepat mengganti pakaian tidak mau memberi kesan buruk di hari pertamanya, dan segera menuju lantai tiga.
. . . . . . . . .
Ruang pemulihan
"Aki minta anak yang bernama Aryan mendapat penanganan khusus." Ucap scout Bert pada pria paruh baya yang duduk di depannya
"Kenapa aku harus?."
"Dia di pilih langsung oleh salah satu direktur club, aku menemukannya saat mencari bakat. "
"Lewat orang dalam yaa?." Ucap pria paruh baya Menggelengkan kepala
"Bukan seperti itu, tidak seperti yang kau pikirkan, Tom." Ucap scout Bert pada pria yang dipanggil Tom. Dia adalah staf medis club pemain senior
"Hmm...?. " Dr. Tom Mengkerutkan kening meminta penjelasan lebih
"Huftt... Pemuda yang bernama Aryan itu menampilkan performa yang luar biasa hampir semua scout yang hadir di sana memilihnya, namun saat seleksi berlangsung dia hampir terkena cedera parah, akibat pelanggaran keras. Dan semua scout memutuskan untuk tidak mengambilnya, bahkan aku sempat ragu mengundangnya tapi pak Anton direktorat club meyakinkan ku untuk mengambilnya." Ucap scout Bert berusaha menjelaskan
"Hmm... Baiklah" Ucap Dr. Tom
"Apa kau tidak percaya pada ku, Tom?." Scout Bert menaikan kedua alisnya
"Apa layak dan tidaknya dia masuk academy itu tergantung pada dirinya sendiri, kita lihat saja nanti saat tes, oke?." Ucap Tom tetap pada pendiriannya. Dia adalah seorang staf yang mendedikasikan hidupnya untuk club ketika dia mendengar ada sangkut paut dengan 'orang dalam' itu mengganggunya
*Tok... Tok... Tok...
"Pak mereka sudah datang." Ucap asisten staf medis
Scout Bert mengangguk "Aku percayakan pada mu Tom." Ucap scout Bert beranjak dari kursinya
. . . . . . .
Aryan dan Tama sudah berada di lantai tiga tepatnya gym center di sana tidak ada seorang pun kecuali asisten staf medis yang sedang menyiapkan keperluan untuk pelatihan academy.
"Selamat pagi." Sapa Aryan
"Selamat pagi, apa kalian siswa baru academy?." Tanya staf medis
"Benar, kamu di minta untuk tes medis oleh scout Bert." Ucap Aryan
"Baik, tolong tunggu sebentar. " Ucap asisten staf medis berlalu
Aryan dan Tama menunggu sembari mengamati fasilitas gym yang memadai untuk sekelas academy, tidak lama scout Bert datang menghampiri mereka.
"Kalian sudah sampai, ikuti aku." Ucap scout Bert memimpin jalan di ikuti Aryan dan Tama
"Perkenalkan Dr. Tommy, kalian berdua akan di tes oleh dia." Ucap scout Bert
"Halo, namaku Aryan Pratama Radja."
"Halo, namaku Tama Nugraha." Ucap mereka memperkenalkan diri
"Baik, aku serahkan urusan di sini pada Dr.Tommy. aku harus pergi untuk mengurus administrasi, aku akan kembali lagi nanti."
"Terima kasih, scout Bert." Ucap Aryan dan Tama
Scout Bert mengangguk "Sampai jumpa." Ucap scout Bert berlalu pergi
"Baik, tes medis ini akan menentukan apakah kalian akan resmi masuk academy?,... " ucap Dr. Tom menatap Aryan dan Tama dengan wajah datar "jika kalian gagal lolos tes medis, walaupun telah terdaftar di academy tetap akan di pulangkan ke tempat kalian berasal. Untuk kompensasi kalian bisa berlatih di sini selama enam bulan. Mengerti!." Ucapnya datar namun menusuk dapat menjatuhkan mental seseorang.
Bagaimana pun Tommy adalah seorang dokter sedikitnya dia tahu tentang psikolog, kemampuan psikologi sangat penting dan di butuhkan saat tim dalam keadaan terpuruk untuk membangun mental dan semangat pemain.
Tommy ingin mengetes mental Aryan dan Tama apakah mereka layak?, Dr. Tom tersenyum di dalam menikmati wajah tegang Tama dengan pandangan yang sering melihat kebawah menunjukkan kecemasannya. Namun dia dikejutkan dengan sikap Aryan dengan wajah datar tanpa ekspresi "Daging segar yang menarik, kita lihat sampai mana ketangguhan mu itu bertahan, kids" Batin Dr. Tom tersenyum
"Kau akan di tangani temanku, " Ucap Dr. Tom menunjuk Tama pada asistennya " Dan kau ikut aku." Ucap Dr. Tom menunjuk Aryan
Aryan tersenyum di dalam walaupun di luar flat tanpa ekspresi "Apa anda mencoba mengetes ku pak tua?, hidupku berat aku tidak akan tumbang hanya karena angin lewat." Batin Aryan
Sebelum mengikuti Dr. Tom Aryan menoleh pada Tama yang berwajah cemas "Tetap tenang, semua akan baik baik saja." Ucap Aryan menepuk pundak Tama
Tama kembali tenang lepas dari kecemasannya, Tama menganguk dan tersenyum.
"Bagus." Ucap Aryan berlalu mengikuti Dr. Tom
Tanpa Aryan sadari selagi dia menenangkan Tama diperhatikan dari jauh oleh Dr. Tom "Tampaknya kau merekrut orang yang menarik, semoga dia sehebat ucapan mu, Bert. " Batin Dr. Tom sembari menyiapkan alat tes
. . . . . . .
Salah satu pemeriksaan medis yang diwajibkan untuk semua pemain sepak bola adalah tes VO2. VO2 max merupakan volume maksimal oksigen yang diproses oleh tubuh manusia saat melakukan kegiatan yang intensif. Artinya, lebih sedikit oksigen yang tersedia di tubuh untuk menghasilkan energi bagi otot.
Setengah jam kemudian aku di minta berlari di atas treadmill sembil di pasang di mulutku, dan dadaku di pasang Elektrokardiograf (EKG) merupakan alat kedokteran yang biasa digunakan oleh tim medis untuk mendeteksi denyut dan irama jantung. Tes daya tahan jantung dan paru paru adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu bekerja dalam waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan berlebihan.
Aku di paksa terus berlari sampai Dr. Tom berkata 'berhenti, setiap 12 menit kecepatan treadmill meningkat. Kecepatan treadmill setidaknya mencapai 5 km perjam dan tubuhku masih stabil belum menunjukkan kelelahan yang berarti, aku tidak tahu apa yang di pikirkan Dr. Tom, dia berkutat dengan bukunya mencatat setiap meningkatkan kecepatan dengan wajah datar, apakah dia terkesan dengan daya tahan tubuhku.
Kecepatan treadmill berangsur di kurangi "Baik, cukup." Dr. Tom menghentikan treadmill
"Huft... Huft... " Aku mengambil nafas menstabilkan pernafasan ku
Setelah melakukan pemanasan, aku menjalani tes yang bernama penilaian biodex. Tes ini yang bisa mengetahui kekuatan antara kelompok otot. Aku diminta duduk di kursi dan diikat kuat. Selanjutnya, aku disuruh untuk menendang dengan kaki kanan atau kaki kiri sebanyak lima kali. Di tes ini akan dilihat adakah keseimbangan antara paha depan dan paha belakang.