Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Banyak Maunya
Seorang wanita paruh baya mendongakan kepala ke atas. Melihat sinar Matahari yang seharusnya menyegatnya tubuhnya, kini mendadak cuaca berubah menjadi mendung. Akibat itu, topi lebarnya sudah nggak ada gunanya di pakai. Sepertinya dia pun harus menghentikan aktifitasnya sebab mau hujan.
Lalu dia berjalan ke gudang untuk menaruh semua peralatan bercocok tanam dan bibit di tangannya di sana. Setelah itu dia mencuci tangan, dan berjalan ke bupet mengambil selulernya untuk menghubungi anak bontotnya.
Jadi tadi ibu Ken lagi bercocok tanam. Dia ada beli bibit. Dia melakukan itu karena Sabtu, Ken dan Putri harus fokus menjaga anak Asri. Soalnya mengurus anak itu ribet. Jangan sampai gara-gara tanaman anak si Asri jadi terlantar. Jadi lebih baik dia saja yang mengerjakan.
Jadi ya, berhubung Ken libur kerja hari Sabtu dan Minggu. Terpaksa 5 sekawan itu buat jadwal jagain anak Asri di jadwal yang sudah berjalan di hari Sabtu. Dan menimbang kemarin Ken bilang mau menanam tanaman yang pada gundul, dan takutnya melakukan itu di hari Sabtu. Jadi ibu Ken berinisiatif yang menanam.
“Iya, Bu?" sahut Asri di sana, sebaik mengangkat telepon dari ibunya.
“Lagi apa kamu, Sri?”
“Biasa, lagi beres-beres rumah.”
“Sudah masak kamu, Sri?”
“Belum."
“Oo..."
“Kalau Ibu lagi apa?” Asri balik bertanya.
“Ibu habis nanam tanaman.”
“Oo...”
“Ayu lagi apa, Sri?” Ibunya bertanya tentang cucunya.
“Lagi nonton kartun. Ibu mau ngomong?”
“Iya, iya. Ibu mau dong..." Ibunya antusias.
Maklum, tidak setiap hari dia ketemu cucunya tentu kangen.
“Nih! Nih! Nenek mau ngomong." Asri menyerahkan Hp-nya ke anaknya.
“Enek...,” sapa makhluk super imut dan menggemaskan itu.
“Hallo, Sayang...”
“Enek, gi apa?”
Yang artinya, nenek lagi apa? Maklum anak sekecil itu masih belum lancar ngomongnya.
“Kan Nenek lagi ngomong sama Ayu. Ayu udah mamam, belum?”
Neneknya kadang mengikuti cara bicara cucunya. Mamam artinya makan.
“Uda. Ayu kalang gi mimi cucu.”
Yang artinya, udah. Ayu sekarang lagi minum susu.
“Cucu Nenek yang pintar...” Neneknya tersenyum di sana.
“Enek, katana mo beyiin Ayu boneta miti mos.”
Yang artinya, nenek, katanya mau beliin Ayu boneka Mickey Mouse.
“Nenek udah beliin, tapi Nenek belum sempat antar ke rumah Ayu.”
“Oo...”
“Nanti Sabtu, Nenek kasih ya. Sekarang cium dulu Nenek, Sayang.”
“Muah...”
“Muah...,” balas neneknya.
“Hp-nya kasih ke mamamu lagi ya, Sayang... Nenek masih mau ngomong," lanjutnya, meminta.
“Iyah.”
“Iya, Bu?” ucap Asri, sesudah selulernya balik ke tangannya.
“Sabtu, kamu dan suamimu ada acara?”
“Nggak, kenapa?”
“Sabtu, Ibu mau pinjam si Ayu.”
“Boleh.”
“Tapi bukan Ibu nanti yang jagain.”
“Maksudnya?”
“Jadi begini... Bla bla bla...” Ibunya menjelaskan.
Terkesiap. “Hah?”
“Mas Ken kan, dulu pernah ngurus kamu, Sri.”
“Tapi kan, Mas Ken hanya nyuapin, nemenin belajar, dan antar atau jemput Asri sekolah doang... Ini Ayu batita loh Bu, bukan balita.”
“Tahu. Yahhh... Memang beda. Tapi kalau masmu diberi tahu pasti paham. Masmu kan, bukan orang bodoh, Sri. Dia juga telaten sama anak kecil. Lagian, nanti kalau dia bingung pasti nelpon kamu.”
Masnya memang telaten. Pasalnya yang ditakutkannya hal teknis. Seperti memberi susu termasuk takarannya, terus jadwal memberi makan termasuk apa yang boleh dan tidak boleh di makan, dan lain sebagainya. Tapi memang harus diakuinya, masnya seorang kakak yang bertanggung jawab. Pasti sangat berhati-hati mengurus Ayu.
“Iya sih! Ya sudah. Nanti Sabtu, Asri ke sana."
“Makasih ya, Sri. Ibu tunggu ya...”
“Iya.”
**********
"Ingat! Mulai hari ini, tiap pulang sekolah kamu harus photo tunjukkin sama Om kalau sudah di rumah. Terus kalau kamu mau pergi, harus ijin sama Om. Dan juga, kamu harus sudah menyiapkan nama, nomor telepon, alamat temanmu, dan alamat tempat kalian ketemu. Dan satu lagi, kalau kamu sudah ketemu temanmu, kamu harus photo wajah temanmu."
“Ihhh.... ! Dasar Om gerondong!”
Putri mencengkram barang elektronik kecil itu kuat-kuat saking gemasnya.
Gadis itu masih berdiri di situ alias di gerbang sekolah. Rupanya sebelum tancap gas, pria itu di mobil menyempatkan diri dulu mengirim pesan mengingatkan hal itu lagi.
“Hei, Put!"
Tiba-tiba ada yang memanggilnya. Membuatnya jadi menoleh sekaligus terkejut. Ya, dia keget karena kan, sehabis membaca pesan calon suaminya, dia langsung dihadapkan dengan cowok yang disukainya. Jadi rasanya gimana gitu...
“A-ah!” kaget Putri jadi tergagap.
“Tadi, Om elo ya?” tanya Boy.
“Iya." Putri mengangguk dengan sikap sudah kembali normal.
“Elo nggak apa-apa?”
“Maksudnya?”
“Kan, Om elo ke sini. Jadi takutnya elo dimarahin.”
“Oo... Nggak kok! Om gue ke sini hanya mau main saja."
“Oo... Oh ya, Put. Nanti pulang sekolah jalan, yuk?”
Tersipu. “Boleh...”
Eh! Nggak bisa ini... Satu detik kemudian wajah Putri berubah jadi kesal. Jelas, karena dia teringat pesan om jadi-jadiannya tadi. Gak mungkin kan mau jalan sama Boy. Dia harus mengikuti semua permintaan itu.
Dengan mendumel kecil nyaris gak terdengar oleh cowok di depannya. Putri mengutuk Om gerondongnya sebab sudah membuatnya jadi gak bisa jalan dengan cowok impiannya.
“Dasar Om sihir! Nggak pakai tongkat! Nyebelin banget. Arghhh...!"
“Kenapa, Put?” tanya Boy.
Terpana, dan lekas tersadar. “Oh! Nggak kok!"
“Ee... Gini, Boy. Gue nggak bisa. Soalnya gue baru ingat ntar malam ada acara keluarga,” lanjutnya, memberi alasan untuk ajakan Boy tadi.
"Oo... Kalau gitu, lusa sore elo bisa?”
Masa, dia harus dua kali menolak Boy? Duh... gimana ini...? Oh iya, minta tolong saja sama Mimi. Tapi nanti Mimi jadi tahu nomor Om Ken. Karena pasti Mimi minta imbal balik karena sudah membantunya. Terlebih lagi Mimi memang mau tahu. Ya udahlah... Biar saja Mimi tahu.
Tentu ya, gadis itu sebelumnya kan nggak mau sahabatnya tahu nomor pria itu. Karena waktu di kantin ada dicegahnya. Namun berhubung situasi begini. Jadi ya, sudahlah...
“Boleh, boleh." Putri mengangguk-angguk antusias.
“Ya udah, nanti gue kabari ya.”
“Oke!"
Kring...
Bel waktu habis istirahat berbunyi. Kemudian mereka bicara atas hal itu.
“Yuk, kita kembali ke kelas," ucap Boy.
”Iya.”
**********
Budi keluar dari ruangan usai pamit dengan ke dua rekannya. Lalu disusul oleh Aryo. Tapi sebelum pergi, dia merapihkan berkas di meja kerjanya dan mematikan komputernya dulu. Baru pamit dengan Ken.
“Mas Bro, nggak makan siang?”
“Nggak. Aku udah makan tadi di luar."
Tentu ya, pria itu sudah makan tadi di sekolah gadis itu. Tentu juga, jam istirahat sekolah beda dengan jam istirahat kantor. Alias jam istirahat sekolah biasanya antara jam 9 dan 10 pagi.
“Oo... Ya udah. Aku ke sana ya.”
“Oke!" angguk Ken.
Setelah Aryo pergi, Ken melihat jam dinding dengan dibarengi jari jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Sekarang anak itu lagi dalam perjalanan pulang ke rumah, dan sesaat lagi tiba.
Beberapa menit kemudian, dia meraih Hp-nya, dan mengamati layar. Mana ini...? Belum dikirim-kirim juga. Lalu setelah melewati batas kesabarannya, Ken menelpon.
Jadi pria itu menunggu gadis itu untuk melaksanakan pesannya.
“Mana photonya?” tanyanya langsung ke inti, usai di sana mengucap, ‘hallo’.
“Iiih...! Om cerewet benar. Putri kan, baru sampai.”
“Cepat kirim!”
“Nanti Putri kirim sehabis ganti baj...”
Klik!
Telepon dimatikan oleh Ken. Tanpa sempat orang yang lagi bicara itu menuntaskan omongannya. Sontak Putri melotot.
“Iiihhh...! Main matiin saja. Orang Putri belum ganti baju, dan makan juga!”
Karena Om Ken-nya berkata begitu, terpaksa dia jadi menuruti. Maka sehabis melepas sepatu, dia photo di teras dan mengirimnya.
Rupanya pria di sana meminta lagi. Dia jadi kembali menggerutu, dan photo lagi. Namun dia melakukannya sambil berjalan ke dalam lalu mengirimnya. Namun tetap saja yang di sana meminta lagi.
Karena kesal, dan biar dipercaya. Putri jadi memutuskan untuk photo berdua dengan ibu Ken.
Ibu Ken sampai terkejut dan kebingungan. Saat Putri tiba-tiba menempel di tubuhnya sembari bersiap membidik.
“Ada apa, Putri?”
“Ini, Om Ken minta photo.”
Mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Jepret!
Putri membidik. Lalu tanpa mau menjelaskan dia kembali berjalan menuju kamarnya. Tapi biar begitu, dia nggak lupa mengucapkan.
“Makasih, Tante."
Kemudian sesampainya di kamar, dikirimnya photo itu. Ternyata yang di sana masih saja belum puas, dan meminta lagi. Akhirnya Putri jadi geram. Maka dia menelpon orang yang sudah membuatnya puyeng itu dengan memakai mode video call.
“Om ini maunya apa sih?!”
“Oh! Kamu lagi di kamar?” Ken melihat suasana yang familiar disekitar Putri.
“Iya, kenapa?”
“Ya udah. Kamu photo di situ."
“Di mana?”
“Itu, di belakangmu.” Ken menujuk kasur.
“Kenapa sih Putri harus photo mulu? Tadi kan, Putri sudah photo sama Tante. Masa, Om masih nggak percaya? Ini, Putri juga lagi nunjukin di kamar."
“Udah, cepetan photo.”
“Iiih...!” jengkel Putri.
Lekas dia mematikan sambungannya. Lalu memoto yang diminta Ken kemudian mengirimnya. Namun baru saja dikirim, ada masuk pesan dari orang yang hari ini terus membuatnya riweh. Yang berbunyi...
“Apa ini? Yang senyum dong. Cepat photo lagi!”
“Iiiih...!”
Dengan senyum dipaksakan, Putri photo lagi. Rupanya yang di sana, lagi, lagi, masih saja belum puas.
“Kamu badannya agak ke kanan.”
“Ini terakhir! Ini terakhir!” gerendeng Putri.
Asli, dia nggak bakal mau menuruti lagi. Di gesernya tubuhnya, dan di jepretnya, lalu dikirimnya.
Akhirnya yang di sana tersenyum puas. Rupanya pria itu ingin gadis itu photo di samping boneka-boneka pemberiannya.
Setelah dapat yang dimaunya, Ken menyimpannya di folder khusus yang telah disiapkannya, dan dinamainya. Laporan harian si Kencur. Lalu setelah itu dia mengirim pesan.
“Tiap hari kamu photonya begini ya.”
Putri langsung membanting Hp-nya ke kasur setelah membaca pesan itu,
“Iiih....! Dasar Om Kendi banyak Maunya!”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesuai omongan Author seminggu 4-5 kali terbit, minggu ini sudah 5, sampai ketemu lagi minggu depan. Jangan lupa rating bintang 5-nya, like & komen. Tinggalkan jejakmu...
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya