Apa jadinya jika adik ipar ternyata ada mantan kekasih?
Hal itulah yang dialami Natalie Mckent. Ia dihadapkan pada kenyataan kalau sang adik ipar adalah mantan kekasihnya dulu yang ia putuskan secara sepihak 6 tahun silam.
Dan belakangan Natalie baru mengetahui kalau sang adik ipar menikahi adiknya hanya untuk pembalasan dendam.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vigiani Nurike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
"Apa?!! jadi pasangan menawan yang tadi kami temui itu adalah adikmu dan adik iparmu?!!" Pamela berseru tak percaya dan aku hanya mengangguk lemah.
"Astaga, Natalie astaga!! Aku tiba-tiba merasa duniaku berputar-putar!" ucap Pamela seraya menyentuh kedua pelipisnya.
Aku tahu sahabatku yang satu ini memang konyol dan sedikit kocak, namun aku bisa mengerti bagaimana syoknya dia setelah ia tahu bahwa pasangan yang menolong Aaron tadi adalah adik dan adik ipar sekaligus ayah kandung Aaron, putraku.
"Pantas saja, pria tampan tadi begitu mirip dengan Aaron.
Haiiss, memang darah lebih kental daripada air. Bila aku jadi kau, entahlah aku sudah tidak bisa waras lagi," Pamela berkomentar, kini ia menaikkan kedua alisnya.
"Lalu kau akan bagaimana, Nat? Mereka berdua sudah mengetahui keberadaan Aaron, walaupun mereka belum tahu kau ibunya secara langsung tapi kau tidak bisa selamanya menghindar bukan?" tanya Pamela padaku.
"Aku tak tahu, Pam. Aku merasa benar-benar buntu," sahutku putus asa.
"Kurasa jalan satu-satunya kau harus menikah Nat, kau harus membuka hatimu pada pria lain dan menikah dengannya karena dengan menikah statusmu jadi lebih jelas dan tidak akan banyak pertanyaan oleh berbagai pihak," tutur Pamela memberikan solusi.
"Menikah bukan main-main, Pam! Aku tak akan bisa secepat itu mencintai pria asing lalu kemudian menikahinya, itu sangat konyol!" protesku tak suka.
"Tapi kau bisa berpura-pura mencintai pria calon suamimu nanti kan?"
"Hah?? apa maksudmu, Pam? Aku tak mengerti," tanyaku bingung.
"Maksudku, kau carilah pria yang bisa berpura-pura menjadi kekasihmu kalau perlu kau menikah dengannya," tutur Pamela dengan senyuman lebar dan penuh percaya dirinya.
"Itu konyol, Pam! Aku tak bisa!" tegasku.
"Haiss, kau memang benar-benar susah diajak bicara jika tentang pria," ucap Pamela, ia mendengus tak habis pikir dan aku hanya bisa menatapnya tak mengerti.
"Jika kau ingin lepas dari ayah kandung Aaron maka hanya itu jalan satu-satu yang aku pikirkan, Natalie. Setidaknya bukalah hatimu untuk pria lain, aku yakin banyak pria yang menantikanmu di luar sana," ujar Pamela menambahkan, kali ini kulihat raut wajahnya tampak serius.
Aku diam selama beberapa saat, mencoba memahami solusi yang diberikan Pamela padaku.
"Kurasa kau benar Pam, aku akan mencobanya," sahutku kemudian.
"Aku hanya bisa memberikan solusi Natalie, tapi untuk segala keputusannya hanya kau sendiri yang menentukannya, karena hidupmu adalah pilihanmu, hanya kau sendiri yang tahu itu," ucap Pamela seraya menyentuh lembut kedua tanganku dengan tatapan teduhnya.
"Terima kasih Pam, hanya kau yang bisa mengerti aku," sahutku tulus.
...***...
Hari berlalu begitu saja, dengan kesibukkan dan rutinitasku sebagai seorang sekretaris CEO Lennar Copr.
Kucoba untuk mengalihkan pikiranku tentang Chris ataupun Lindsay karena aku tak mau terus hanyut dalam ketakutanku sendiri selama ini.
Selama hampir seminggu akupun terbebas dari teror Chris, sejak pertengkaran kami malam itu aku tak lagi bertemu dengannya lagi. Untuk segala hal mengenai pekerjaan di proyek Chris menyerahkan tugasnya pada asisten pribadinya. Dan aku bersyukur untuk itu, karena hal itu dapat mengurangi pertemuan kami secara langsung.
Kehadiran Lindsay di New York mungkin adalah salah satu alasannya, namun aku tak peduli. Bukankah itu bagus? Hal itu membuktikan hubungan suami istri mereka berjalan dengan baik selama ini, seperti yang aku harapkan. Namun entah mengapa jauh dalam hatiku kenapa hati ini merasa sesak setiap mengingat apalagi melihat secara langsung kebersamaan mereka?
"Kau baik-baik saja, Natalie? Kenapa wajahmu terlihat pucat?" tanya Asley mengejutkanku.
Aku yang saat itu tengah sibuk menyiapkan berkas proyek yang harus ditanda tangani untuk Mr.Jones, pun merasa linglung untuk sesaat.
"Ya?? Aku baik-baik saja, Asley. Apa terlihat seperti itu?" balikku bertanya seraya menyentuh pipiku dengan spontan.
"Sangat terlihat jelas, kau tidak terlihat seperti biasanya. Kalau kau kelelahan janganlah memaksakan diri Natalie, tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Pamela mengingatkan.
"Ya, terima kasih Asley atas perhatianmu tapi aku masih banyak pekerjaan karena besok akan ada rapat para direksi," jawabku lirih.
"Kau akan lembur lagi hari ini? Astaga, Natalie kau luar biasa, aku salut dengan semangatmu," puji Asley dan aku hanya membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan, karena sejujurnya aku merasa sangat lelah hari ini.
Mungkin karena kesibukanku akhir-akhir ini, aku merasa sedikit merasa kelelahan. Namun, aku tak terlalu memikirkannya karena saat ini yang aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa fokus bekerja dan menjadi sekretaris yang profesional dan berdedikasi untuk perusahaan ini.
Aku melirik arloji yang ada di tanganku, kulihat sudah pukul tujuh malam lewat, sedikit lagi pekerjaanku selesai, hanya tinggal memberikannya pada Mr. Jones yang masih ada di ruang kerjanya.
Malam ini hanya tinggal kami berdua yang masih ada di dalam kantor dan lembur bekerja karena memang besok akan ada rapat direksi yang cukup penting untuk Mr. Jones.
Kuketuk pintu ruang kerja Mr. Jones saat semua berkas yang ditunggu sudah siap di tanganku.
"Ya, masuk Natalie," sahut suara dari balik pintu.
"Ini berkas yang sudah saya siapkan untuk besok, Pak," ucapku seraya menyerahkan tumpukan file yang aku bawa pada Mr. Jones.
"Terima kasih, Natalie. Kau sudah banyak membantu. Setelah ini kau bisa pulang, jika kau mau, kita bisa pulang bersama lagi. Ini sudah cukup malam, tak baik wanita sendirian pulang malam-malam bukan? Dan lagipula anggaplah ini ucapan terima kasihku karena kau mau menemaniku lembur malam ini," ucap Mr. Jones perhatian.
"Baik Pak, saya berterima kasih atas perhatian nya. Jika itu tidak merepotkan pak CEO sayapun tak bisa menolaknya," sahutku.
"Tak perlu sungkan, Natalie. Karena kau adalah sekretarisku sudah sepantasnya aku memberikan perhatian karena kinerjamu yang baik. Aku tahu kau pasti lelah beberapa hari ini, karena mengurus proyek besar kita di Denver," ucap Mr. Jones, kali ini ia menatapku dengan tatapan teduh, bukan dingin seperti biasanya.
"Tidak pak, saya hanya berusaha melakukan tugas saya dengan baik. Baiklah kalau tidak ada yang pak CEO butuhkan lagi, saya permisi dulu," tuturku pamit karena tiba-tiba aku merasa pusing yang amat sangat, susah payah aku menahannya agar tak terlihat di depan Mr.Jones.
"Baik silakan, 5 menit lagi aku turun, kau bisa tunggu aku di bawah, kita pulang bersama," sahut Mr. Jones dan aku hanya mengangguk tanda mengerti.
Setelah aku keluar dari ruangan Mr. Jones saat itupun aku merasa tubuh ini terasa lemas dan lelah untuk bisa berdiri lagi, pusing di kepalaku membuat pandanganku kabur dan terasa berkunang-kunang.
Susah payah aku menahan tubuh ini agar tidak ambruk dengan meraih dinding tembok sebagai penyangga tubuhku, namun entah bagaimana aku merasa sudah sangat lemah dan tak ingat apa-apa lagi setelahnya.
©️©️©️©️©️©️
BRUUKKK!!!
Ethan Jones tersentak seketika saat mendengar suara dari balik pintu ruangan kerjanya. Merasa ada yang tidak beres, ia pun segera bangkit dan berlari keluar, pemandangan yang dilihatnya begitu mengejutkannya sekarang.
"Astaga, Natalie?!!!"
Segera saja ia menghampiri tubuh yang kini terkapar tak sadarkan diri di lantai itu. Ia panik saat itu juga ketika melihat sekretarisnya ambruk tak sadarkan diri.
Dengan sigap ia menggendong tubuh Natalie dan membawanya turun ke lantai bawah menuju tempat parkir mobil miliknya, namun saat ia hendak membuka pintu mobil sebuah tangan menghalangi niatnya.
"Apa yang kau lakukan pada Natalie, Mr. Jones?!!" tanya Chris Raven dengan tatapan berapi dan ekspresi wajah menyeramkannya saat ini.
...***...
kenapa harus mati,kenapa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
lin dan nath hanya korban keegoisannya