Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Gelisah
Aku terbangun menatap Andra yang telah menutup kedua matanya di sampingku. Kedua tangannya melingkar di pinggangku. Nafasnya tenang. Wajah kami begitu dekat hingga aku dapat merasakan setiap hembusannya.
Hatiku masih sangat berat untuk merelakan dia pergi. Rasanya akan sangat sakit bila harus berjauhan darinya. Perasaanku sudah terlanjur dalam, sampai menggantungkan hidupku pada pria tampan berkacamata itu.
Aku hanya membayangkan, bagaimana sulitnya aku melalui tahap awal kehamilanku tanpa dia di sampingku. Aku ingin ikut, tapi kehamilanku masih sangat muda, dan dokter menyarankan aku untuk tidak pergi menggunakan pesawat demi bayiku, apalagi dalam waktu yang lumayan lama.
Tentu saja, ini pilihan yang sulit. Andra penting dan bayiku juga. Satu-satunya cara adalah mengikhlaskan kepergiannya, meskipun berat.
Setelah sekian lama aku hidup sendiri tanpa orangtua yang menyayangiku sampai aku memiliki Andra, aku kira tidak akan berpisah darinya dan tetap bersama.
Aku juga mempertimbangkan keputusan Andra yang pergi untuk kakeknya, yang telah membesarkannya. Seharusnya aku tidak egois. Sebagai cucu menantu, aku juga harus menunjukkan baktiku kepada nenek dan kakek, walau aku belum bertemu mereka sekalipun.
Aku menggeser posisi tidurku lebih dekat dengannya. Memeluknya erat. Tiba-tiba saja aku tersedu-sedu, membuat Andra terbangun.
"Sayang, kamu mimpi buruk, ya? Sampai menangis seperti ini?" Aku hanya menggeleng. Rasanya lidahku kaku, tidak bisa mengatakan apapun. Aku takut Andra akan menganggapku cengeng.
"Lalu kenapa? cerita sama mas," Andra bangun, mengambil kacamatanya yang ada di dekat lampu tidur. Aku masih saja menangis.
"Mas ambil air minum dulu ya," Andra berjalan ke sudut kamar, menuangkan air ke gelas dari dispenser lalu kembali ke ranjang kami dan menyodorkannya padaku, lebih tepatnya membantuku untuk minum.
Dia duduk di hadapanku. Menghapus airmata yang masih deras mengalir di pipiku. Andra, siapa yang akan seperti ini saat kamu tidak ada? batinku ikut berbicara.
"Mas, Ra..sa..nya.. aku be..rat ha..rus pi..sah da..ri ka..mu.. huu... huu..." Aku kembali berhambur kepelukan Andra. Dia balik memelukku erat, mengecup keningku berkali-kali. Aku merasakan ada titik air yang jatuh di pundakku. Andra kini ikut terisak. Dia juga pasti merasakan hal yang sama. Ini juga pilihan yang sangat berat untuknya.
"Mas minta maaf sayang, mas terpaksa melakukan ini. Mas harus menunjukkan bakti kepada orang yang telah membesarkan mas sampai sukses seperti sekarang. Saat ini, kakek sangat butuh bantuan dari mas. Semua ini mas lakukan untuk keluarga kita, juga untuk kamu dan calon anak kita. Mas mohon, kuatkan mas. Jangan membuat mas semakin merasa bersalah, sayang..." Aku merasakan tubuh Andra bergetar menahan luapan kesedihan.
"Mas, bukannya aku tidak bisa menguatkan mas, tapi aku sendiri juga belum cukup kuat untuk menerima kenyataan ini mas..." Aku berkata lirih. Andra tidak menyahut. Dia masih menangis. Harusnya kami kuat, tapi kenyataannya kami sama-sama tidak ingin berpisah.
"Dalam satu minggu ini, izinkan aku mencurahkan semua perasaan sayang dan cintaku kepada mas,"
Kataku, masih memeluknya erat.
"Kita lakukan sama-sama, sayang." Sekarang Andra menatapku dengan mata merah dan basah. Kulepas kacamatanya dan meletakkan kembali ke meja. Aku menghapus airmata lelakiku itu. Wajahnya yang tampan, kini ternodai oleh mata yang bengkak.
"Mas, kamu tau nggak, kalau kamu nggak pake kacamata, makin ganteng.." Ledekku.
"Siapa sih yang ngajarin istriku gombal?"
Andra mencubit hidungku pelan dan menebarkan sedikit senyum.
"Mas..." Jawabku singkat sambil mencolek hidungnya yang mancung.
"Loh, kok mas, sih? mana ada mas gombalin adek?"
Andra berkilah.
"Alaaah, mas pura-pura lupa," Aku beringsut turun dari ranjang, menuju ke kamar mandi.
"Mau ngapain sayang ke kamar mandi?"
"Pipis mas,"
"Ikut dong..." Andra menggodaku.
"Mas mesum!" Aku pura-pura melotot memandangnya, Andra menjatuhkan diri ke ranjang sambil tertawa terbahak-bahak.
Setelah buang air kecil aku merasa lapar. Padahal tadi aku sudah makan banyak. Mungkin efek dari kehamilanku. Ini bukan di rumah, mau tidak mau harus mencari makan ke lobi penginapan.
"mas, aku lapar, nih. Cari makan yuk."
Aku merengek, sambil menarik mesra lengan Andra.
"mau makan apa sayang? biar mas telpon aja, biar di antar ke sini," Betul juga. Aku tidak perlu keluar kamar. Ini kan penginapan yang mewah setara dengan hotel. Pasti ada jasa pengantar makanan juga.
"Pengen sop buntut mas,"
"Oke, pakek nasi?"
"Boleh mas, pakek nasi. Mas mau makan apa?"
"Masih kenyang, nanti mas temenin adek makan aja." Andre lalu mengangkat gagang telepon dan memesan makanan yang aku inginkan. Sikap Andra yang memanjakan aku inilah yang pasti akan membuatku semakin rindu saat dia jauh nanti.
"Mas, nanti suapin, ya," Ternyata manjaku berlanjut.
"Siap, permaisuriku tersayang..." Beberapa menit kemudian pelayan yang mengantarkan makanan datang. Andra memberikan uang tip sekaligus bayaran makanannya. Setelah si pelayan pergi barulah dia membawa baki berisi semangkuk sop buntut dan sepiring nasi itu mendekat kepadaku.
Andra menyuapiku dari awal sampai habis. Entah hanya perasaanku atau karena makan di suapi oleh suamiku, sehingga rasanya sangat nikmat.
"Mas seneng, adek makannya lahap banget. Mau nambah lagi?"
"Udah kenyang, mas. Nanti kebanyakan makan adek gendut kaya panda," kataku sambil mengelap mulutku pakai tisu.
"Pandaku yang imut," Andra mencubit kedua pipiku.
"Mas, aku ngantuk, bobo yuk.." Ajakku. Lalu naik ke tempat tidur. Andra pun sama. Aku tahu dia kelelahan sepanjang hari ini.
Keesokan harinya, aku biarkan Andra tergolek di ranjang, lagipula hari ini kami masih akan jalan-jalan di pantai. Andra sengaja memilih hari libur untuk momen ini. Setelah mandi aku keluar dari kamar. Aku sempat janjian dengan Anita via whatsaap.
"Hai, Nit. Udah lama nunggu ya?" Aku menyapa Anita yang sedang duduk santai di sebuah bangku cafetaria outdoor yang letaknya di bibir pantai.
"Baru aja, kok. Mana kak Andra?" Tanyanya sambil celingukan mencari Andra.
"Masih tidur, sepertinya dia capek banget, Nit. Andre kemana? kok nggak ikut nyari sarapan juga?"
"Tuh... Dia lagi merenungi nasib kayaknya," Anita tertawa kecil.
"Cariin dia pasangan yuk, kasian lihat dia seperti itu, bukan seperti Andre yang dulu."
"Semuanya gara-gara kamu," Anita tampak serius.
"Kok jadi karena aku sih? Yang punya ide perjodohan kan kamu," Aku bersungut-sungut.
"Bukan soal perjodohannya,Sil. Tapi soal perasaan kak Andre. Aku pernah baca di salah satu tulisannya, kalau dia masih menyimpan perasaan yang mendalam untukmu. Bahkan ternyata kamu adalah cinta pertamanya," Anita menjelaskan sebuah fakta tentang Andre.
"Semuanya sudah terjadi, Anita. Andre sendiri yang sudah memaksaku mencintai orang lain. Apa sekarang dia akan menjadi orang yang egois? Mengganggu hubungan dua orang yang saling mencintai?" Aku menatap Andre yang sedang melempar cangkang kerang ke laut berkali-kali.
"Itu dia. Kak Andre tidak akan melakukan itu. Tapi dia bilang akan selalu menjagamu, Sil. Dia akan bahagia jika kamu juga merasa bahagia." Anita tersenyum. Bagaimanapun juga aku merasa apapun yang terjadi kepadaku dan dua pria kembar itu adalah sebuah takdir.
"Sayang, kamu tega, tinggalin mas tidur sendirian di penginapan," Andra tiba-tiba muncul di Antara kami.
"Maaf, Mas. Aku nggak tega mau bangunin. Yuk kita cari sarapan," Aku memeluk lengan Andra mesra dan menariknya pergi.
"Berasa jadi obat nyamuk,"
Anita bersungut-sungut. Lalu kami bertiga pergi mencari makanan untuk sarapan.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.