Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
SELAMAT MEMBACA !!!
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Freya mengajak kedua bocil itu pulang, lalu ingin mengajak mereka mampir ke Butiknya Yana.
"Kita mau kemana, Mom?" tanya Runa kepada Freya sambil berjalan menuju lantai bawah.
"Kita ke Butiknya, Kak Yana dulu ya. Kan Kak Rena mau belajar menutup aurat, Dek. Kalau adik mau belajar menutup aurat nggak? Seperti Mom dan Kakak?" tanya Freya dengan lembut sambil mengusap kepalanya Rena.
"Hmmm... mau, Mom! Aku mau terlihat cantik seperti Mommy dan Kakak," jawab Rena mendongakan kepalanya dengan tersenyum menatap wajah Freya.
"MASYA ALLAH!! Anak-anaknya Mommy sangat pintar ingin menutup auratnya. Nanti Mommy belikan baju yang banyak deh, sebagai hadiah untuk Kak Rena dan Dek Runa," jawab Freya .
Mereka sampai di depan Lobby Perusahaan menunggu sopir datang membawa mobil untuk menjemput mereka.
***********
"Lapor, Kapten! Nasi kotaknya sudah cukup jumlahnya dan sudah saya bagikan kepada ibu-ibu persit yang sedang berkumpul ditempat pertemuan seperti biasa," kata Serda Feri, sambil memberikan hormat kepada atasannya itu.
"Laporan diterima. Terima kasih, Serda Feri, Serda Rudi. Tolong kembali ke tempatnya semula. Kita makan dulu semua, baru kita lanjutkan mengobrolnya. Jendral Agus, silahkan dinikmati nasi kotaknya!" seru Kapten William.
Mereka makan bersama, terlihat kekeluargaannya. Jendral Agus tersenyum senang, Dia berharap semoga Kapten William amanah menjalankan tugasnya. Benar yang dikatakana LetKol Rian, Kapten William akan bisa memimpin Kodam Jaya. Melihat banyak prestasi yang diraihnya.
Setelah selesai makan dan mengumpulkan sampah bekas makan mereka di plastik yang disiapkan tukang kebersihan itu. Kapten William akan segera membahas kelanjutan masa depan Kodam Jaya.
"Maaf! Kapten William. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari ibu-ibu persit, Kapten William. Mereka ingin bertanya kenapa Ibu persitnya nggak diajak sekalian untuk di kenalkan dengan ibu-ibu persit yang lain!" seru Serda Feri menyampaikan pesan dari ibu-ibu persit tadi.
Kapten William tersenyum, "Tolong bilang kepada ibu-ibu persit, kalau calon ibu persitnya masih sibuk dan belum mau dikenalkan dengan mereka hehehe ," jawab Kapten William dengan sedikit bercanda.
"Wah...wah akan menjadi trending topik ini. Silahkan yang punya anak gadis untuk mendaftar kepada Kapten William siapa tau berjodoh hehehehe," seru prajurit yang lain.
Tadi Serda Feri sengaja merekam jawaban dari Kapten William untuk dikirim ke grup ibu-ibu persit.
"Ayo, kita kembali membahas kelanjutan program kita, untuk meraih kepercayaan dari masyarakat. Ada yang punya usul?" tanya Kapten William sambil menatap barisan prajurit yang berada di depannya.
Serma Yoga, berdiri dengan tubuh tegapnya.
"Lapor, Kapten! Izin memberitakan sedikit masukan, Kapten. Kalau kegiatan pembagian nasi kotak itu dilakukan setiap hari jumat ke sekitar masyarakat sini dan ke tempat rusun yang di dekat jembatan yang dekat sini. Dan sebaiknya kita perbanyak bentuk serupa tapi lebih beragam. Misalnya kita bantu rutin kerja bakti membersihkan lingkungan, beri penyuluhan untuk keamanan desa. Dan kita cari rumah sakit yang mau bekerjasama untuk memberikan pengobatan gratis. Jadinya kehadiran kita tidak hanya saat ada tugas besar saja, tapi terasa bermanfaat setiap hari. Perlahan saya berharap kepercayaan masyarakat akan tumbuh kembali," usul dari Serma Yoga.
Kapten William setuju dengan usulnya Serma Yoga. " Baik, usul ditampung dulu. Silahkan kalau ada yang mau kasih usul lagi?" tanya Kapten William kepada prajurit yang lain.
Sertu Dimas gantian berdiri dia juga ingin memberikan masukan. "Saya juga setuju usulnya, Serma Yoga. Kita juga bisa melibatkan remaja sekitar untuk ajang olah raga di akhir pekan, semakin kita sering berinteraksi langsung, semakin hilang jarak diantara kita. Dan mereka bisa menilai kinerja kita yang sebenarnya," usul Sertu Dimas.
Kapten Willian langsung diam, bukan nggak diterima usulnya Sertu Dimas. Tapi lebih berpikir untuk memilah usulan yang lebih baik untuk mendekatkan diri ke Masyarakat lagi.
"Baik, untuk usulan Serma Yoga bagus, nanti aku akan hubungi rumah sakit Adhitama saja ya untuk membantu kita. Direktur rumah sakitnya Bang Axel, nanti saya akan berkoordinasi dengan beliau. Untuk nasi kotak juga boleh, untuk anggaran bagaimana?" tanya Kapten William.
"Kalau kita setiap gajian menyisihkan sedikit gaji kita, bagaimana?" usul Sertu Dimas.
"SETUJU..!!" seru serempak semua orang.
"Jangan terbebani dengan anggaran itu, Nanti malam akan aku bicarakan dengan Tante saya, apa beliau bisa ikut membantu memberikan anggaran untuk kita dan demi Kodam Jaya meraih kepercayaan Masyarakat kembali. Untuk olah raga juga bagus, kalau kita sering berkumpul dan saling memahami kemauan meraka, tentu kita akan menemukan hasil yang lebih bagus," jawab Kapten William yang disambut tepuk tangan semua prajurit yang sedang berkumpul di Aula.
Ini benar-benar seorang Pemimpin, berusaha untuk membantu anggotanya. Walaupun untuk anggaran nggak sedikit untuk acara jumat berkah.
"Kita mulai hari jumat ya, terus akhir pekan sabtu sore boleh melaksanakan olah raga voli saja, yang disukai anak muda sekarang. Nanti kalau ada lomba kita bisa ikut sertakan pemuda yang berbakat untuk mengikuti lomba. Semoga dengan ini masyarakat bisa percaya dengan kita lagi," ucap Kapten William lagi.
Karena sudah hampir sore, Kapten William berpamitan pulang dulu, karena tugasnya aktif dimulai besok pagi. Hari ini cuma penyambutan dan pengenalan kepada rekan kerjanya dan melihat lingkungannya.
"Kapten Willian walaupun kelihatan tegas tapi dia bisa bersikap santai juga ya," seru Sertu Dimas.
"Ya benar, Sertu Dimas. Walaupun masih muda sudah berpangkat Kapten itu bukti kecerdasannya. Manfaatkan sebaik-baiknya selama beliau di sini. Support keluarganya bisa mendukung keberhasilan Kodam Jaya ini. Kalau begitu saya juga pamit kembali ke Mabes Kodam pusat," Pamit Jendral Agus.
"Siap, Jendral!" seru mereka sempak sambil memberikan hormat kepada Jendral Agus prasetyo.
*********
Freya sudah sampai di depan Butik milik Yana, putrinya.
"Ayo, masuk!" ajak Freya menggandeng kedua tangan dua bocilnya menuju pintu Butik.
"Selamat siang, lho Ibu!" sapa kasir Butik.
"Selamat siang, Mbak Reni! Yana apa ada di ruangannya, Mbak Reni?" tanya Freya.
"Ada, Bu. Silahkan masuk keruangannya Mbak Yana," jawab Reni kepada ibu dari Bosnya.
"Terima kasih, Mbak Reni," jawab Freya sambil berjalan dengan menggandeng Rena dan Runa menuju keruangannya Yana yang berada di lantai dua.
Rena berjalan sambil matanya melihat baju-baju anak kecil yang berkerudung, itu sangat cantik-cantik. Dia semakin semangat untuk menggunakan baju tertutup seperti ibu dan kakak-kakaknya.
Tok tok tok
Pintu diketuk oleh Freya langsung mendorongnya pelan.
"Kakak...!" panggil Runa dengan sedikit berteriak dengan suara cemprengnya.
Yana yang saat itu sedang fokus menunduk mengerjakan desain di tangannya, tersentak kaget. Gerakan tangannya seketika terhenti, ia mendongakan kepala cepat untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Begitu matanya mereka bertemu, wajah Yana seketika berubah cerah, sudut bibirnya melengkung lembut membentuk senyum tulus melihat siapa yang mengunjunginya.