¤¤ Budayakan like, komen dan Vote ya, setelah membaca.
Kiran berasal dari keluarga kaya, dia berusia 24 tahun. Kehidupannya Glamor. Sifatnya plinplan suka menyakiti hati laki-laki. Kehidupan malam dan kemewahan lekat padanya.
Sebenarnya dulu Kiran adalah anak yang penurut, namun berubah ketika putus dengan pacar pertamanya. Hingga membuat dia berbuat sesukanya.
Kiran akhirnya dijodohkan dengan sopir pribadinya. Yang bersifat baik dan sholeh. Dia adalah Andrian, awalnya Kiran menolak perjodohan itu. Karena, dijodohkan dengan pria miskin yang tidak sesuai dengan kriterianya. Tetapi karena paksaan orang tuanya akhirnya Kiran menerima dengan terpaksa dan menikah dengan Andrian.
Andrian sebenarnya bukanlah dari keluarga miskin. Penasaran? Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijrah Muslimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.25 Pernikahan
Sebuah pernikahan seharusnya adalah momen bahagia dan sangat dinanti-nanti oleh seseorang yang sudah dewasa. Menikah adalah hal yang sangat membahagiakan.
Kiran merasa hidupnya benar-benar hancur. Mengapa dia harus bersanding dengan laki-laki yang sama sekali tak dia harapkan.
"Wah mbak Kiran, cantik sekali. Baru kali ini saya merias pengantin hasilnya cantik sekali, dan sungguh sempurna." Ujar perias memuji.
"Hmm!" Jawab Kiran singkat.
"Mbak seharusnya bahagia, ini hari bahagia mbak lo." Ucap perias heran.
"Sayang sudah belum dandannya? Pengantin pria akan segera datang lo." Rina menghampiri Kiran.
"Wah anak mama, cantik banget. Coba lihat wajah kamu dicermin nak, seperti bidadari." Rina merangkul pundak Kiran.
Kiran tertunduk menahan sedih. Rina memberi kode kepada perias untuk meninggalkan mereka berdua dikamar.
"Ma, kenapa sih ma Kiran harus nikah sama Andrian?" Kiran menatap kaca sebal.
"Suatu saat kamu akan mengerti sendiri, jika menikah itu tidak harus semata-mata karena cinta, tapi agamanya." Ujar Rina menasehati Kiran.
"Huhh ceramah, ceramah terus." Ujar Kiran cemberut.
Rina hanya tersenyum melihat tingkah Kiran, lalu pergi meninggalkan Kiran.
"Mana sih Friska, kenapa dia tidak datang. Seharusnya dia ada disini menghiburku." Kiran tampak mondar mandir dikamar.
Dreggggg Dreggggg
Kiran melihat layar hp.
"Eh kemana sih kamu, setidaknya kamu ada disini?" Ujar Kiran ketus.
"Maaf beb, aku ada urusan mendadak dengan nyokap. Ga bisa aku tinggalin, maaf ya beb."
Friska tampak merasa bersalah.
"Udahlah!" Kiran menutup panggilan telfon lalu melemparkan hpnya diranjang.
"Hih pengen rasanya kabur, atau mengakhiri hidup. Biar mereka tau dan menyesali semuanya." Kiran mengambil sebuah gunting.
"Bu!" Suara Maya mengagetkan Kiran.
"Kamu!" Kiran menoleh kebelakang.
"Ibu kenapa bawa gunting, apa yang mau digunting biar saya guntingkan." Ujar Maya cemas.
"Aku bosan hidup, aku ingin mengakhiri hidupku." Kiran mengarahkan guntingnya ketangan.
Maya merebut, dan menyimpan gunting itu.
"Maya biarkan aku!" Kiran tampak melotot.
"Bu sadar, bunuh diri tidak menyelesaikan masalah." Maya memeluk Kiran.
"Hiks hiks sakit Maya." Kiran menangis dipelukan Maya.
"Bu dicoba dulu, jika memang nanti tidak bahagia. Ibu bisa minta cerai dari suami ibu." Maya berusaha menasehati Kiran.
Kiran sudah mulai lega dan duduk diranjang. Maya menghapus air mata bosnya itu. Dan duduk disamping Kiran.
Rombongan pengantin pria datang, Andrian tampak gagah. Dan terlihat sangat tenang, walau sebenarnya hatinyapun kacau. Tapi dia percaya ini sudah takdir dari Allah.
Siska dan Gunawan berpakaian sangat sederhana. Meminjam baju Asisten rumah tangganya. Mereka datang bersama satpam dan Asisten rumah tangga. Hanya beberapa orang saja.
"Wah cakep menantu mama." Rina memuji Andrian. Andrian tersenyum ramah.
Siska terkejut melihat Rina, seperti pernah melihat dan tidak asing lagi dalam hidupnya. Tapi siska memilih diam, dan menyapa seperlunya.
Ijab kabulpun dimulai. Andrian mengucapkan Ijab dengan lantang sekali tarikan nafas.
"Sah!" Ucap penghulu pada saksi.
"Sah!" Ucap mereka serentak.
Semua tersenyum bahagia. Kiran yang masih didalam kamar rasanya dag dig dug, pengen kabur dari pernikahan ini.
Andrian dan beberapa orang, menghampiri kamar Kiran. Andrian masuk kekamar Kiran bersama penghulu, menghampiri Kiran.
Beberapa hal mengikuti arahan penghulu, Andrian lakukan dengan baik.
Andrian memakaikan cincin dijari manis Kiran. Kiran hanya tertunduk menahan tangis.
"Cium kening istrimu!" Ujar penghulu.
"Hih kenapa kayak gini!" Jerit Kiran dalam hati.
Andrian terdiam menatap Kiran yang tertunduk.
"Sudah jangan malu, dia sudah sah." Ucap penghulu.
Andrian tersenyum dan pelan-pelan memegang kepala Kiran, dan dengan gemetar mencium kening Kiran.
Semua yang menyaksikan tampak bahagia.
Andrian membawa Kiran keluar, berat sekali kaki melangkah. Rasanya Kiran ingin pingsan.
Diluar sudah banyak keluarga yang hadir, Kiran duduk dipelaminan dengan muka cemberut.
"Dek jangan cemberut gitu. Nanti semua orang tau kita nikah karena dijodohkan." Ujar Andrian memegang tangan Kiran.
"Ih emang benar khan." Ujar Kiran sewot.
"Ya paling tidak jangan bikin orang tua kita malu." Ucap Andrian lembut.
"hmm, aku yang malu bersanding dengan pria miskin, coba liat orang tuamu gak lefel sama orang tuaku." Ucap Kiran ketus.
"Udah ga baik ngomong gitu. Ini sudah takdir kita." Jawab Andrian menahan emosi.
"Takdir ini bukan takdir,tapi karena paksaan."
Kiran memalingkan mukanya.
"Ya Allah nak, istrimu cantik. Tapi sepertinya dia tidak menghargaimu sama sekali." Ucap Siska dalam hati.
Siska dan Gunawanpun berpamitan. Sesampai dimobil yang diparkir sangat jauh. Siska tampak meluapkan emosi.
"Pa kenapa sih Andrian mau menikah sama gadis sombong itu." Siska tampak tak tega
"Sudahlah bu itu sudah keputusan anak kita." Kita restui saja Gunawan merangkul istrinya.
~ Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komennya. Jika berkenan vote ya supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏
aku asli lo Thor ngikutin kamu dri thn 2020,sampe skrng blm ada apdate terbaru si...