Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Ayah Adalah Harapan Anak
"Cita, Manda, ayok salaman dengan Ibu."
Kata Ayah pada Cita dan Manda yang akhirnya menemui Ayah dan perempuan yang tiba-tiba ia bawa.
Kejutan yang sama sekali tak menyenangkan, dan kejutan lagi nya adalah Cita melihatnya sore tadi di cafe dan sempat menjadi pertanyaan Cita karena gadis itu membawa mobil sang Ayah.
Ibu...
Bagaimana bisa Cita diminta memanggil dia Ibu, sementara dia lebih cocok jadi kakak buat Cita. Batin Cita kesal.
Malas nanti ribut dengan Ayah, Cita pun mengalah menghampiri gadis yang diminta Ayah untuk memanggilnya Ibu.
Cita menjabat tangan si Ibu muda lalu mencium punggung tangannya yang putih dan sangat halus.
Manda mengikuti Cita, menghampiri si Ibu muda lalu menyalami dan mencium tangannya.
Emi, namanya Emi, namun Cita dan Manda harus memanggilnya Ibu. Begitulah kata Ayah.
"Oke Cita, Manda, hari ini Ibu yang akan masak, kalian ingin makan malam apa hari ini?"
Tanya Ibu Emi dengan wajah yang dibuat-buat penuh perhatian. Cita malas sekali melihat wajah-wajah seperti ini. Rasanya ia sudah terlalu hafal karena sudah terlalu banyak orang berakting seolah benar perhatian dan peduli padanya padahal tidak.
"Apa saja Bu, Cita sebetulnya sedang tak ada selera makan hari ini."
Sahut Cita.
Mendengar kalimat Cita, tampak Ayah membelalakan matanya pada Cita.
Dasar anak ini, apa memang betul Cita yang susah diatur? Batin Ayah Cita.
Emi pura-pura tetap tersenyum.
"Ya ngga apa Cita, mungkin Cita mau datang bulan, wajar jika selera makan tidak begitu baik. Nanti Ibu buatkan masakan yang tidak membuat kamu kembung."
Kata Emi.
"Ya nanti Cita akan makan."
Sahut Cita lagi.
"Kalau Manda?"
Tanya Emi pada Manda.
"Manda makan apa saja doyan."
Kata Manda.
Emi tersenyum lalu mengelus kepala Manda dengan lembut.
"Hmm anak pintar. Cantik dan penurut."
Kata Emi dengan intonasi yang seolah menyindir seseorang.
Cita mendengus sebal.
Emi kemudian permisi pada Ayah Cita untuk ke dapur, Bi Lastri diminta Ayah untuk menemani dan membantu Emi memasak.
Sebetulnya Ayah Cita ingin mereka makan malam di luar saja, tapi Emi menolak, ia bersikeras ingin masak saja di rumah, alasannya tentu saja agar tak usah membuang uang terlalu banyak, dan juga makan di rumah akan bisa lebih mendekatkan Emi dengan anak-anak.
Tentu saja, alasan Emi yang demikian membuat Ayah Cita semakin merasa tak salah pilih, Ayah Cita bahkan semakin mantap untuk melamar dan menikahi Emi secepatnya.
Ya, anak-anak butuh figur seorang Ibu, terutama yang baik seperti Emi. Bukan hanya baik, tapi juga lembut dan bisa menjadi tauladan karena ia termasuk sangat gigih dalam memperjuangkan cita-citanya.
Ayah Cita begitu mengagumi sosok Emi, dari cerita kisah hidupnya, bagaimana perjuangan Emi yang merantau ke Jakarta untuk bisa kuliah hukum dengan ikut program beasiswa, lalu magang kerja jadi apa saja agar bisa membiayai kebutuhan hidupnya.
Dari magang jadi sales teh, kartu perdana, bahkan pernah jadi pengantar susu setiap pagi. Begitu Emi berkisah.
"Cita, ikut ke ruangan kerja Ayah, kita harus bicara."
Kata Ayah pada Cita, begitu Emi masuk ke dapur bersama Bi Lastri.
Cita menghela nafas.
Sidang lagi, pasti sidang lagi. Batin Cita kesal. Namun meski kesal, tetap saja Cita menurut mengikuti langkah Ayah menuju ruang kerjanya.
Sementara Manda memilih ke kamarnya sendiri, ia ingin main game lagi saja.
"Duduk."
Kata Ayah pada Cita begitu mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja Ayah.
Ruang kerja yang juga termasuk perpustakaan di mana di setiap sisi dindingnya adalah rak buku yang penuh buku-buku tentang Hukum dengan halaman-halaman tebal.
Cita duduk di salah satu kursi set yang terbuat dari kayu jati buatan pengrajin Jepara.
Ayah meletakkan tas kerjanya di atas meja kerja, membuka jas, dan mengendurkan dasi.
"Darimana kamu beberapa hari tidak pulang?"
Tanya Ayah.
"Kan Ayah pasti sudah tahu dari Adi, apa harus ada siaran ulang?"
Tanya Cita malas bahas lagi.
Ayah masih berusaha menahan emosi.
"Apa sebetulnya yang jadi masalah? Kamu itu anak sulung, punya adik, harusnya kamu bisa jadi contoh yang baik untuk adikmu, bukan malah bersikap jauh lebih kekanak-kanakan daripada Manda."
Kata Ayah lagi.
"Dan sikapmu tadi pada Ibu, apa kamu tidak bisa bersikap lebih baik?"
Tanya Ayah pula.
"Cita harus bagaimana? Sungkem seperti pada putri keraton Yah?"
"Cita!!"
Ayah akhirnya tak bisa menahan diri.
Cita yang pulang sejatinya bukan ingin berdebat lagi dengan Ayah jadi kesal.
Semula Cita pikir, Cita pulang Ayah akan memeluknya, dan Ayah akan bertanya apakah Cita baik-baik saja?
Nyatanya?
Ayah sudah benar memulangkan Bibi Irma, tapi malah punya ide lebih buruk dengan mendatangkan perempuan yang tak tahu muncul dari mana.
Masih bagus jika usianya sepadan dengan Ayah, lha ini dilihat saja sudah jelas dia jauh lebih muda dari Ayah.
Ibu?
Ayah meminta Cita memanggilnya Ibu?
Cita kesal bukan main.
Cita berdiri dari duduknya, lalu akan bersiap keluar dari ruangan kerja Ayah saat Ayah memanggilnya dengan nada suara keras.
Cita menghentikan langkahnya sejenak, menoleh pada Ayah dengan malas.
"Ayah, Cita pulang bukan untuk berdebat dengan Ayah lagi. Cita pulang karena masih punya sedikit harapan bisa menganggap rumah Ayah tetap sebagai rumah Cita seperti saat Cita masih kecil."
Cita berkata dengan nada suara yang bergetar. Jelas ia berusaha menahan tangis.
"Sudah cukup menyakitkan Cita kehilangan sosok Ibu saat Cita sebetulnya masih butuh kasih sayangnya, kalau sekarang sikap Ayah terus begini, sama saja Cita kehilangan dua orangtua sekaligus!"
Kata Cita.
Matanya yang bening berkaca-kaca. Namun ia sekuat tenaga menahan tak ada satupun bulor air yang jatuh dari sana.
Tidak!
Cita tak akan menangis di depan Ayah, meskipun itu hanya satu kali. Tekad Cita.
Ayah terdiam.
Ia kehilangan semua kata yang semula sudah siap meluncur dari mulutnya.
Ia kini seolah tersambar petir yang entah datang dari mana.
Bahkan saat Cita kemudian berbalik, dan keluar dari ruang kerja Ayah lalu menutupnya dengan sedikit keras, Ayah tak mampu mengeluarkan bentakan pada Cita seperti sebelumnya.
Kedua manusia itu kini sama-sama merasakan dadanya sesak seolah dihimpit dua batu besar.
Cita yang merasa Ayahnya terus saja membuatnya sedih dan kecewa.
Sedangkan Ayahnya, merasa begitu sakit dengan semua kalimat Cita yang seolah mengatainya sebagai seorang Ayah yang tak becus mengurus anak-anaknya setelah Ibu anak-anak tiada.
Ayah tanpa terasa menitikkan air mata.
Sama sebagaimana Cita, yang menangis namun segera mengusap air mata itu dengan kasar lalu masuk ke kamarnya dan memilih mengunci diri.
**----------**