Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.
Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.
Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.
Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.
Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.
Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH EMPAT (PENGAKUAN YANG TERLAMBAT)
“Ibu!” seru Bima di ambang pintu Hanum.
Marini menengadahkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia bergeming karena tahu anaknya akan marah pada dirinya. Namun ia sudah pasrah.
“Kenapa ibu nggak bilang!” Nada suara Bima masih tinggi, ia maju selangkah.
Hanum segera bangun dan mendatangi Bima, ia segera meraih tangannya dan mengusap lengannya. Ia menatap wajah merah lelaki itu. Ia juga tak mengerti apa yang bisa membuatnya seperti itu.
“Bim…. Tenang dulu, kamu kenapa?”
Suara lembut Hanum membuatnya melunak, Bima menatap mata teduh gadis itu dan ia luluh. Bima menuntun gadisnya untuk duduk dan emosinya lumayan mereda. Marni yang ada di dapur hanya bisa mengintip di balik tirai.
“Bu…. Kenapa nggak bilang yang sebenarnya.” Menjenggut pelan rambut hitamnya.
Hanum dan Marni hanya bisa menonton ketegangan yang terjadi.
“Ibu minta maaf” jawab Marini singkat “jadi gimana? Udah selesai?” lanjut Marini tanpa menjelaskan masalahnya. Ia takut Hanum terluka.
Bima hanya manggut-manggut dengan wajah yang masih emosi, ia masih menyimpan amarah di hatinya. Hanum tahu itu, jutaan kali ia melihat wajah itu sejak dari kecil dan ia mengetahui arti dari setiap ekspresi Bima.
“Kita makan aja yuk. Semuanya sudah lengkap.” Kata Marni memecah ketegangan.
Ia bisa melihat Pak Mahmud dari tempatnya berdiri. Pak Mahmud sudah ada di ambang pintu tepat di seberang saat dirinya masih membawa mangkuk sambal.
“Duduk mas” Marni mempersilakan “geser Bim, Num.” pinta Marni pada Hanum dan Bima.
Bima dan Hanum bergeser dan duduk di kursi panjang yang berseberangan dengan TV. Mereka mulai makan dengan suasana pemakaman, sepi. Semuanya diam, hanya ada suara kunyahan yang terasa menggema di ruangan.
Tak ada celoteh yang saling bersahutan kali ini. Dan hanya Hanum yang tak mengerti keadaan yang sedang mereka hadapi. Haruskah para orang tua itu dan Bima menjelaskan pada dirinya? Apakah itu akan menumbuhkan luka untuk gadis itu?
Banyak yang harus dipertimbangkan sebelum mereka menyampaikannya. Karena ini hal yang cukup sensitif, apalagi menyangkut perasaan dari banyak orang.
Waktu makan tepat selesai sebelum adzan magrib. Bima segera bangkit tanpa permisi untuk pergi ke musholla. Ia masih emosi, tentu saja.
Para wanita dan satu gadis itu perlahan merapikan meja, mereka mengangkat semua piring kotor dan makanan. Sementara Pak Mahmud berjalan gontay menyusul putranya menuju musholla. Tentu ia juga merasa bersalah atas suasana hati Bima.
Setelah sekalian solat di rumah Marni, Marinipun pamit pulang. Ia yakin kalau suami dan anaknya akan pulang. Marini pulang sendirian saat langit sudah gelap. Kini hanya tinggal Hanum dan Marni.
“Emang Bima kenapa sih bu? Kok bisa marah sama bude?” Tanya Hanum tanpa basa-basi yang mencurigai ibunya tahu akan sesuatu.
“Yakin nggak akan sakit hati dengernya?” Marni memperingatkan.
Hanum tampak berpikir dan akhirnya mengangguk. Ia tak akan sekepo ini jika orangnya bukanlah Bima. Hanum bukan tipe orang yang senang dengan urusan orang lain, itu yang Marni ajarkan padanya.
“Ada orang mau jodohin Bima sama anaknya….”
Kalimat pertama Marni sudah membuat Hanum mendelik seketika.
“Sabar…” kata Marni “Bima masih tetep milih kamu.” Marni menyelesaikan kalimatnya.
“Ibu tau?” Hanum bertanya lagi.
Marini mengangguk seakan tahu apa yang ditanyakan putrinya. Hanum menghampiri Marni yang duduk di kursinya, ia menggayuti lengan ibunya. Hanum merasa bersalah karena tidak memberi tahu ibunya lebih awal.
Tapi apa mau dikata, toh situasi lah yang memaksa Hanum untuk memendamnya sementara waktu. Sebenarnya ingin sekali Hanum membagi kebahagiaan pada ibunya jika keadaan mereka sudah memungkinkan. Meski terlambat.
“Hanum mau cerita sama ibu tapi….”
“Tapi masih belum mungkin” sambar Marni cepat “ibu minta maaf ya, harusnya kamu nggak terganggu sama keadaan ibu.”
“Nggak gitu bu. Ibu cuma punya Hanum, dan Hanum ngga mau nambah beban pikiran ibu.”
“Seperti yang kamu bilang. Kamu juga cuma punya ibu, mulai sekarang apapun itu cerita sama ibu” Marni mengusap lembut rambut anaknya “kali ini ibu biarin.” Tambah Marni.
Keduanya berpelukan dengan senyum melengkung di wajah masing-masing. Marni juga ikut bahagia saat anaknya bahagia, tentu saja, ia seorang ibu. Setelah sesi berpelukan selesai, Marni mulai menginterogasi Hanum tentang hubungannya dengan Bima yang baru berumur tiga hari.
Hanum menceritakannya dengan wajah yang berseri-seri, kadang ia tersipu. Benar-benar seperti sihir katanya. Dulu tak pernah ada pemikiran untuk bisa menyukai Bima sebagai seorang pria, tapi kini saat mereka tumbuh dewasa memang sangat berbeda.
Marini mendengarkan cerita anaknya yang bersemangat akan kisah percintaannya yang baru saja dimulai. Ia berharap bahwa Bima akan bisa membahagiakan Hanum, bukan seperti suaminya yang membuang dirinya dan putrinya tanpa pesan apapun. Bahkan setelah belasan tahun berlalu tak ada kabar yang ia dengar.
Mungkin saja ia mati, atau mungkin saja ia menemukan perempuan kaya dan sangat lupa akan keluarganya. Kemungkinan kedua yang terus menyakiti hati Marni, ia terus berandai-andai dan tak ingin lagi mempunyai seorang suami.
Kini, di rumah Marini hanya tinggal ia sendiri, ia ingat kalau suami dan anaknya akan pergi tahlil setelah solat magrib selesai saat melintasi rumah Bu Tejo. Namun begitu ia tak kembali ke rumah Marni.
Marini perlu waktu sendiri untuk menenangkan dirinya. Pertemuan yang tiba-tiba dengan mantan suaminya sungguh menyesakkan, namun untungnya Pak Gondo tak pernah mengungkitnya. Entah ia benar-benar sudah lupa pada dirinya atau memang ia hanya berpura-pura tidak mengenalinya.
“Nggak usah dipikir….” Marini berbicara pada dirinya sendiri dan menggelengkan kepalanya.
Televisi yang sejak tadi dinyalakan menjadi penonton, bukan untuk ditonton. Karena pemikiran Marini pergi entah kemana. Ia baru sadar saat mendengar suara pintu rumahnya terbuka. Itu Bima dan suaminya.
Bima langsung melengos ke kamarnya, sepertinya kesal di hatinya masih tersisa. Ia tak ingin menghadapi orang tuanya dengan wajah yang tak menyenangkan. Sementara Pak Mahmud bergabung degan istrinya duduk di karpet untuk menonton, namun tidak dilakukannya.
“Le…” suara Pak Mahmud melembut “bapak minta maaf.” Lanjut Pak Mahmud.
Tak ada jawaban dari Bima, ia juga sedang merenungi apa yang sebenarnya membuat dirinya begitu marah hingga semua tumpah pada ayah dan ibunya. Ia kembali ke beberapa jam lalu saat dirinya pulang dari rumah Hanum dan bertemu Ayu.
Pertemuan itulah yang benar-benar mengganjal hatinya dan membuat dirinya sempat kehilangan akal, ia tidak suka dengan perlakuan gadis itu. Apalagi pertemuan mereka sangat singkat dan dia sudah berani seperti itu.
Beberapa menit berselang Bima membuka tirai kamarnya. Ia mendatangi ibu dan ayahnya, ia duduk tertunduk.
“Maafin Bima ya pak, bu. Padahal Bima marahnya sama Ayu, tapi malah ketusnya sama kalian.” Kata Bima akhirnya.
Pak Mahmud dan Marini saling memandang, lalu kembali melihat anaknya.
“Kamu marah karena dijodohkan?” Marini mengkonfirmasi.
“Ayu meluk Bima tiba-tiba bu. Bima risih.” Aku Bima.
Marini bergeming, ia baru paham mengapa anaknya bisa meledak seperti ini.
“Terus….” Marini menuntut cerita lengkap.
“Aku nggak apa-apa kalau disuruh pulang karena memang harus pulang. Tapi aku nggak tau anak itu masih nunggu dan keukeuh minta dikasih kesempatan” jeda “padahal aku yakin bapak udah bilang kalau nggak mau. Dan… aku nggak suka.” Terang Bima.
Marini dan Pak Mahmud hanya bisa bertukar pandang kembali. Anak mereka yang biasa kuat kini merengek. Bukan karena ribut dengan temannya, melainkan suatu hal yang membuat hatinya tidak nyaman.
“Ibu juga minta maaf, bapak bilang ini terakhir mereka mau kesini karena bapak udah bilang kamu nggak mau. Cuma ibu nggak sangka juga kalau anaknya sampe kayak gitu.” Tutur Marini.
“Bapak memang udah bilang kamu nggak mau. Tapi mereka keukeuh dan nggak mau pulang kalau kamu nggak datang.” Tambah Pak Mahmud.
“Yaudah, sekali lagi aku minta maaf. Maaf jadi bikin kalian khawatir. Semoga Bima nggak ketemu lagi sama Ayu.”
Pak Mahmud dan Marini hanya manggut-manggut menanggapi keinginan anaknya, yang juga merupakan keinginan Marini. Semoga dirinya sudah tak ada lagi hubungannya dengan keluarga Heru Sugondo.