Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Keluarga Sakaki (Part 1)
Rei dan Rin bersiap-siap dikamar masing-masing, baju mereka sudah disediakan Presdir Akira. Mereka keluar dari kamar disaat yang bersamaan.
Rei memakai kemeja putih berdasi hitam dengan rompi abu-abu, juga sebuah celana panjang berwarna hitam. Rin memakai baju yang sama, tapi dia memakai rok pendek berwarna hitam dengan stoking sebatas lutut yang juga berwarna hitam.
"Dia benar-benar ingin membuat kita terlihat kembar." Ucap Rei pada Rin setelah mereka saling tatap beberapa saat.
"Yeah, ini benar-benar baju resmi, bahkan memakai dasi. Seperti mau ketemu presiden saja." Sahut Rin, menyisir poninya dengan jari.
"Kalian tetap nggak mirip." Sambung Neko yang sudah menunggu di depan tangga, "Kau rapikan rambutmu itu agar mirip dengan Akira."
Neko menunjuk-nunjuk rambut Rei yang acak-acakan tapi tetap terlihat tampan dan keren.
"Justru aku nggak mau mirip sama dia." Balas Rei, lebih mengacak-acak rambutnya. Rei tidak ingin meniru gaya rambut Presdir Akira yang rapi...?
Mereka turun ke lantai satu, sudah disiapkan makan siang diruang makan, makanan Neko pun ada di bawah meja.
Rei dan Rin duduk dimeja makan... "Dimana mama?" Tanya mereka dengan serentak.
Kaoru keluar dari kamarnya beberapa saat kemudian... Dia memakai gaun putih berhiaskan pita emas, rambut panjangnya diikat setengah ke belakang. Kaoru tampak sangat cantik, Rei dan Rin terpesona melihatnya.
"Je... Jelek, ya? Ini sesuai instruksi Akira yang dikirim bersama paket baju...." Kata Kaoru pada Rei dan Rin yang diam melihatnya.
"Tidak! Mama sangat cantik!" Seru Rin dengan bersemangat, "Lihat, Rei terpesona kecantikan mama!" Rin menunjuk-nunjuk Rei yang masih diam menatap Kaoru sambil menganga.
"Aku yakin ekspresi papa sama dengan Rei." Lanjutnya sambil mengangguk-angguk takzim.
Kaoru tersenyum dan berjalan menuju meja makan, mereka makan siang disana...
"Kita menginap? Bagaimana dengan sekolah? Apakah sudah mengambil izin?" Tanya Rin pada Kaoru setelah makan siang.
"Sudah, kalian mengambil izin libur 2 hari, masuk sekolah nanti hari Rabu." Jawab Kaoru.
"Bagaimana pendapatmu tentang istri Tuan-mu ini?" Rei berbisik pada Neko yang duduk diatas sofa ruang tamu.
"Tentu saja istri Akira sangat cantik, dia memilih wanita yang bagus." Neko balas berbisik pada Rei, "Semoga sukses, keluarga Akira itu... Yah... Lihatlah sendiri..."
Beberapa saat kemudian Presdir Akira datang dengan mobil hitam tercanggih perusahaan Yukikun, ia memarkirnya di halaman rumah.
"Ayo pergi..." Kata Presdir Akira ketika turun dari mobil dan melihat anak serta calon istrinya sudah menunggu.
Presdir Akira membukakan pintu mobil...
"Bagaimana dengan paspor-nya?" Tanya Rin pada Presdir Akira saat mereka mendekati mobil itu.
"Sudah dibuat dari kemarin, ini." Jawab Presdir Akira, menyerahkan paspor pada Rin, Rei, dan Kaoru.
"Kau sangat cantik hari ini Kaoru..."
Presdir Akira tersenyum sambil membukakan pintu mobil disamping kursi pengemudi. Wajah Kaoru memerah, sedikit banyak merasa malu.
“Apa yang kupikirkan... Jangan tersipu hanya dengan pujian darinya... Aku menikahinya karena Rei dan Rin..." Batin Kaoru, segera menyingkirkan perasaan aneh yang menyelimutinya itu.
"Dan anak kembar-ku sangat manis..." Presdir Akira membelai kepala Rei dan Rin, "Coba rapikan rambutmu biar kita kembar." Lanjutnya sembari mengelus-elus kepala Rei.
"Kalau kau bilang begitu, aku jadi semakin ingin mengacak-acaknya." Sahut Rei, menepis tangan Presdir Akira dari kepalanya dan melompat masuk ke dalam mobil, Rin mengikuti.
Presdir Akira melirik dan sedikit melambai pada Neko yang melihat dari jendela rumah, Neko balas melambai.
Presdir Akira menutup pintu dan naik ke kursi pengemudi, mereka melaju pergi meninggalkan halaman rumah Rei, Rin, dan Kaoru.
Mereka tiba di bandara puluhan menit kemudian... Dan naik ke dalam pesawat pribadi milik Presdir Akira.
Pesawat itu segera melesat meninggalkan bandara beberapa setelah mereka semua naik.
"Hebat, penumpang di pesawat sebesar ini hanya kita... Benar-benar seorang sultan." Ujar Rin ketika berkeliling dalam pesawat.
"Entah seperti apa rumah keluarga papa kita..." Ujar Rei, berjalan mengikuti Rin sambil menaruh tangannya dibelakang kepala.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di rumah keluarga Sakaki...
Rumah keluarga Sakaki sangat besar dan luas. Halamannya bahkan memiliki tempat mendarat pesawat dan helikopter. Ratusan pelayan wanita dan pria berbaris di depan pintu masuk rumah.
"Selamat datang Tuan muda Akira!" Ujar para pelayan itu bersama-sama.
Presdir Akira menghela nafas, "Aku pulang..." Ucapnya dengan setengah hati, rumah itu masih sama seperti dulu walau sudah ku-tinggal selama 10 tahun, bikin sesak napas saja.
Presdir Akira mengajak Rei, Rin, dan Kaoru ke dalam rumah...
"Rei dan Rin sembunyi dulu, kita buat surprise untuk nenek dan kakek." Ucap Presdir Akira pada Rei dan Rin sembari mengedipkan sebelah matanya.
Rei dan Rin menurut, Presdir Akira menggandeng tangan Kaoru yang terlihat sangat gugup dan takut, membawanya masuk ke dalam ruangan itu.
Didalam ruangan, tampaklah seorang wanita berumur 50 tahun ke atas... Ia bermata merah dan berambut biru tua.
"Aku pulang..." Ucap Presdir Akira dengan datar, memasuki ruangan itu. Kaoru menggenggam erat tangan Presdir Akira, merasa sedikit frustasi.
"Akhirnya kau pulang Akira, sudah 10 tahun kamu tak pernah berkunjung." Ucap wanita itu, wanita itu adalah ibu Presdir Akira, Emilia.
"Aku datang membawa calon istri... Ma, ini Kaoru, calon istriku..." Sahut Presdir Akira, menarik Kaoru ke dalam dekapannya, "Dan Kaoru, ini ibuku, Sakaki Emilia..."
Presdir Akira memperkenalkan Kaoru dengan Emilia. Kaoru tersenyum dan membungkuk ke arah ibu Presdir Akira, Emilia hanya balas mengangguk dengan setengah hati.
"Wah, wah, rupanya kau sudah menemukan seorang pendamping hidup, Akira."
Terdengar suara berat seorang pria, pria tua itu yang berjalan menuruni tangga, terlihat cukup tampan dengan rambut merah dan mata oranye cerah, itu ayahnya Presdir Akira, Ichimaru.
"Salam kenal Kaoru, aku kepala keluarga Sakaki, Sakaki Ichimaru." Sapa ayah Presdir Akira seraya mengulurkan tangannya ke arah Kaoru.
Kaoru menjabat tangannya, "Sa–salam kenal... Umm... Tuan..."
"Papa, panggil aku papa, oke?" Kata Ichimaru, sedikit tertawa dengan sikap polos Kaoru yang sama sekali tidak mengandung ekspresi arogan, sangat berbeda dengan gadis lain.
"Baik, papa." Jawab Kaoru dengan canggung, dan sedikit ragu-ragu.
"Mari, silahkan duduk... Bisa kau ceritakan sedikit soal calon istrimu ini Akira?"
Ichimaru mempersilahkan Kaoru dan Presdir Akira duduk disofa ruang tamu yang super mewah. Presdir Akira dan Kaoru duduk disofa itu...
Tiba-tiba ada yang menarik dan memeluk Kaoru dari belakang, "Dia cantik sekali Akira." Ucap seorang laki-laki berambut merah dan bermata oranye tua, benar-benar sangat tampan, dia kakak laki-laki Akira.
"Kak Hito, dia milikku." Sahut Presdir Akira dengan ekspresi kesal, menarik Kaoru ke dalam pelukannya, mendekap Kaoru dengan sangat erat sembari mengerutkan alis.
"Salam kenal kucing manis, aku kakaknya Akira, Sakaki Kirihito." Sapa Kirihito, tersenyum jahil dengan tatapan binatang buas pada Kaoru.
"Sa... Salam kenal..." Jawab Kaoru, wajahnya sedikit memerah, "Kakakmu... Agresif sekali..." Kaoru berbisik pada Presdir Akira.
Presdir Akira mengangguk setuju, berani sekali dia menyentuh Kaoru-ku.
"Kau juga pulang Kirihito." Ujar Emilia pada Kirihito sembari senyum, merasa senang.
"Aku pulang karena Akira bakal bawa calon istri, boleh kuambil dia?" Kirihito bertanya jahil pada Presdir Akira.
"Dia milikku..." Jawab Presdir Akira, "Kak Hito, kau sudah punya banyak. Bermain saja dengan mereka." Presdir Akira memeluk Kaoru lebih erat, membuat Kaoru dapat mendengar detak jantungnya.
"Mereka tidak bisa memuaskan-ku, dan tidak pernah ada yang bisa memuaskan aku... Tapi wajah dia bikin bergairah, terlihat sangat polos dan berbeda..." Kirihito menatap Kaoru dengan ekspresi sangat bergairah, membuat Kaoru benar-benar merinding.
"Kalian berisik sekali..." Terdengar suara seorang gadis dari atas tangga, "Akira sudah pulang!"
Gadis itu berjalan cepat menuruni tangga, dan bergegas memeluk Presdir Akira, dia kakak perempuan Akira, Hikiko.
"Aku merindukanmu!" Ujarnya, memeluk Presdir Akira dengan sangat erat dari belakang.
Kaoru mengerutkan keningnya, entah kenapa merasa kesal. Gadis itu berambut ungu cerah dengan mata merah sama seperti Akira.
"Kak Hiki, jangan begitu." Ucap Presdir Akira, merasa risih dan segera melepas pelukan Hikiko.
"Emm... Ini kakak perempuanku, namanya Sakaki Hikiko." Ucap Presdir Akira pada Kaoru yang masih mengerutkan keningnya, sedikit banyak dia merasa senang Kaoru cemburu.
"Baiklah, biar ku-jelaskan sebentar..." Lanjutnya, tersenyum pada Kaoru yang masih terlihat bingung... Munculnya banyak orang asing di rumah itu membuat Kaoru sedikit takut.
"Kak Kirihito adalah anak pertama keluarga Sakaki, umurnya 32 tahun... Jomblo seumur hidup dan masih suka bermain dengan gadis-gadis."
"Kak Hikiko adalah anak kedua keluarga Sakaki, umurnya 31 tahun... Dia mungkin... Brother complex..."
"Kami empat bersaudara bersama dengan Shiraishi, Shiraishi yang paling muda, umurnya 29..." Presdir Akira menjelaskan dengan nada datar, mengelus kepala Kaoru.
Kaoru berusaha mencerna semua informasi yang dikatakan Presdir Akira.
"Ohh begitu, pantas Organisasi Sakaki diserahkan pada papa, kakak laki-lakinya play boy mesum, kakak perempuannya brother complex, adik perempuannya menikahi musuh... Hancur, keluarga tak terdidik."
Celetuk Rin pada Rei, mereka dari tadi menguping dari alat penyadap yang diberikan Presdir Akira secara diam-diam di dalam pesawat.
"Bukankah papa sialan itu sama saja? Punya anak diluar nikah..." Sahut Rei, merasa semuanya tidak normal.
"Akira, kau benar mau menikah dengan gadis ini?" Tanya Emilia dengan nada prihatin, "Dari data yang kau kirimkan kemarin, dia sama sekali tidak memenuhi kriteria sempurna, pendidikan hanya sampai jenjang SD?"
"Jangan begitu, sekolah sampai mana juga tidak penting, Akira menyukainya." Potong Ichimaru.
"Tapi pa! Dia tidak berpendidikan! Aku tak ingin punya adik ipar seperti ini!" Protes Hikiko pada ayahnya.
"Menurutku tidak masalah, dia anak kucing yang manis, asalkan manis saja sudah cukup." Kirihito memberi pendapatnya di tengah keributan itu.
Mereka berdebat cukup lama, Presdir Akira dan Kaoru memperhatikan dengan bosan, begitupun Rei dan Rin di belakang pintu.
"Pokoknya Akira tak boleh menikah dengan gadis ini!" Seru Hikiko setelah perdebatan panjang selesai.
Yang laki-laki setuju kalau Akira menikahi Kaoru, yang perempuan menolak... Apa-apaan ini, mana yang benar?
"Aku harus menikah dengannya, wajib dan aku menyukainya." Sahut Presdir Akira dengan suara dingin yang tegas, "Tak dapat diganggu gugat, pendidikan atau apalah tak ada yang jadi masalah."
"Kenapa kau harus menikahinya!?" Hikiko berteriak pada Presdir Akira, sama sekali tak ingin Presdir Akira menikah.
"Karena aku punya anak darinya." Jawab Presdir Akira dengan santai.
Kalimat itu membuat semua orang terkejut, suasana sunyi beberapa saat.
"Kau menghamilinya?" Kirihito bertanya dengan semangat.
"Yah, dulu... Sekarang mereka sudah besar. Rei, Rin, ayo kemari." Presdir Akira memanggil Rei dan Rin yang bersembunyi di belakang pintu.
Rei dan Rin keluar dan berjalan ke arah papa dan mamanya.
"Astaga! Dia mirip sekali dengan Akira! Imut!" Seru Hikiko, langsung menggendong Rei.
"Ada seekor lagi anak kucing manis disini." Ujar Kirihito, mengangkat Rin dan memeluknya.
DUAKK!
Rei dan Rin menendang bersamaan orang yang menggendong mereka, Hikiko dan Kirihito terjatuh dan melepaskan Rei serta Rin.
Rei dan Rin bersalto di udara dan mendarat dengan mulus dalam keadaan berdiri.
"Menyebalkan." Ucap Rei dengan jijik.
"Benar, benar." Sambung Rin, merasa tidak respek.
To be continued...
Gubrak!