Tentang rasa dan tujuan yang tak pernah selaras dengan kenyataan, dimana keduanya bertolak belakang, lalu memilih tak searah. Adella ayu Prasetyo, gadis malang yang terombang-ambing antara keluarga dan cintanya.
Harapan untuk menemukan dalang dalam rencana pembunuhan sang Ayah kandas ketika hatinya berperan dalam pencarian tersebut serta sebagai ajang balas dendam untuk mendapatkan keadilan untuk sosok pahlawan dalam dunianya.
Begitu pula dengan Alaska Regantara, yang mencoba mencari seseorang yang membuat keluarganya hancur lebur, dan bersumpah akan menghancurkan keluarga itu seperti kehancurannya. Kisah ini seperti benang kusut yang sulit dilerai namun memiliki kemungkinan, kedua insan yang terlibat memiliki teka-teki yang sulit ditebak dan dipecahkan.
Akan kah dua orang yang memiliki tujuan balas dendam itu dapat memecahkan perihal hati mereka? Atau justru mereka terfokus untuk tujuan yang sama?
Inilah kisah terumit yang mereka buat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmadila Adelia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa yang terluka (revisi)
Saat tengah dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja hujan mengguyur ibu kota dengan deras hingga para pejalan kaki atau pengguna kendaraan motor yang tidak membawa jas hujan terpaksa berhenti untuk berteduh hingga hujan mereda, begitu juga dengan Alaska dan Adella yang memilih untuk berteduh di sebuah halte yang sudah tidak terpakai, terlihat dari debu-debu dan banyaknya sarang laba-laba.
Alaska melepas jaketnya kemudian mengenakannya pada tubuh Adella yang mulai menggigil karena udara yang menusuk pori-porinya. Adella menoleh pada Alaska yang sudah menjauhkan diri, jujur saja ia benci keadaan Alaska seperti ini, saat Alaska menjaga jarak dengannya. tidak bisa lagi, sungguh ia tidak bisa menahannya lagi.
Meskipun tidak tahu apa artinya, ia tetap tidak bisa melihat Alaska terus diam seperti ini.
"Aska," panggil Adella, tapi Alaska tidak menoleh sama sekali. Ia mendekat lalu menubruk tubuh tinggi milik Alaska, ia memeluknya dengan erat seolah takut Alaska lari darinya, "I can't see you silent," lirih Adella.
Ia mendongak dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Alaska, laki-laki itu bahkan tidak memeluknya balik, menyebalkan. "I'm sorry," ujar Adella lagi.
"Kenapa Lo minta maaf? Lo ada salah emang?" Adella mengangkat kedua bahunya sambil mengerucutkan bibirnya dengan pandangan yang masih dengan objek yang sama.
"Terus kenapa minta maaf?" tanya Alaska.
"Kalo Lo marah berarti gua ada salah, jadi gua minta maaf. mungkin karena gua bikin ayah sama kakak Lo masuk penjara, atau tentang gua yang cuma manfaatin Lo, atau mungkin tentang ribut kemarin?" Adella menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alaska, ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar Alaska tidak marah.
"Apa menurut lo, gua sebodoh itu sampe Lo bohongin?"
mendadak jantung Adella berhenti berdetak ketika pertanyaan Alaska terlontar, tubuhnya menegang seketika. perlahan pelukannya mengendur hingga terlepas begitu saja, ia menatap manik hitam milik Alaska, meminta penjelasan untuk pertanyaan yang terdengar ambigu untuknya.
Apa Alaska sudah tahu kebenarannya? ah iya, Adella lupa jika Rafa adalah sahabat Alaska, pasti Rafa sudah memberitahu Alaska mengenai keadaan yang sesungguhnya. Adella mengalihkan matanya ke arah jalanan, memperhatikan air hujan yang turun dengan irama yang indah.
"Gua ga berniat buat bohongin Lo, karena terpaksa aja," ujarnya tanpa menoleh pada Alaska.
"Lo tahu bohong apa?" sontak Adella menggeleng.
"Yang terpaksa itu apa?"
"Tentang yang dikeroyok. gua diserang tiba-tiba tapi mereka ga tau kalo gua udah terlatih, jadilah tangan kanan gua jadi korban," ujarnya sambil menunjukkan pergelangan tangan kanannya.
"Terlatih?"
mampus. Adella merutuki dirinya, ia lupa lagi jika Alaska belum tahu siapa dirinya.
"Maksudnya gua pernah ikut ekskul silat, jadi gua bisa bela diri."
"Keisya, kan?" Adella terdiam. sebenarnya ia tidak bohong juga karena ia tidak pernah mengatakan apapun hanya menyembunyikannya saja bukan termasuk bohong, kan?
Alaska menangkup kedua pipi kekasihnya, "Kalo Lo ga suka liat gua diem, gua lebih ga suka liat Lo bohong apalagi nyembunyiin sesuatu," katanya. Adella tersenyum lalu memeluk kembali tubuh Alaska, tapi kini laki-laki itu juga ikut memeluknya.
"Lo ga khawatir sama gua? ga takut gua kenapa-napa?"
"Khawatir sih, cuma pacar kecil gua ini terlalu jago bela diri jadi ga usah diragukan lagi." kalimat Alaska membuat Adella mengeratkan pelukannya pada tubuh Alaskanya, untung daja di halte ini hanya ada mereka berdua.
"Jadi hubungan kita?"
"Lanjut, lagipun papah sama Abang gua emang salah."
"Jadi Lo ga khawatir waktu liat tangan gua diperban?" tanya Adella.
Alaska menggeleng, "Tapi meskipun begitu, gua selalu takut Lo kenapa-napa walaupun Lo bisa bela diri," bisik Alaska.
***
Adella melambaikan tangan pada Alaska yang mulai menjauh, lalu ia masuk ke dalam rumahnya, ada banyak genangan air di taman depan teras rumah menandakan jika rumahnya juga habis diguyur hujan. Ia membuka sepatu dan meletakkannya di rak. Ia merasa rumahnya sepi hari ini, apakah abang dan mamahnya sedang keluar?
Benar saja, pintu rumahnya terkunci jadi mereka pasti sedang pergi keluar. Adella membuka pintunya menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa saat keluar.
Ia masuk dengan langkah pasti, tidak ada penerangan sama sekali saat pertama kali masuk, bahkan lampu ruang tamu saja mati, rumahnya sudah seperti rumah kosong. Adella berjalan menuju saklar tapi tiba-tiba saja sesuatu mengenai punggungnya hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan tangan yang menahan agar kepalanya tidak terbentur lantai dan akibatnya tangan kanan Adella kembali merasa nyeri, sakitnya luar bisa sampai tak bisa dijelaskan.
Adella menoleh lalu benda panjang yang dipukul untuknya tadi sedang mengarah kepadanya, buru-buru ia berguling untuk menghindari benda tersebut.
ia bangkit kemudian merebut kayu yang digunakan orang itu, tapi karena tangan kanannya tidak berfungsi dengan baik ia hanya bisa menjatuhkan kayu tersebut dan menendang jauh-jauh agar orang itu kesulitan untuk mengambil. Ia mencoba menghindar ketika orang itu mencoba memukulnya, tapi sayang ada orang lain yang dibelakang dan menahan pergerakannya.
Secara brutal orang dihadapannya memukul perut dan wajahnya, Adella hendak melawan dengan menendang tapi kakinya terasa kaku bahkan sekarang napasnya terasa berat. Adella memaksa tangan dan kakinya bergerak, ia menyikut orang yang berada di belakang lalu menendang dada orang yang di depannya. ia memberi pukulan yang sama kerasnya pada orang yang yang tadi menonjoknya.
Adella menahan sakit di tangannya, saat sudah merasa tidak bisa lagi melawan, ia hendak keluar mencari pertolongan, tapi pergerakan terlambat dan lebih dulu di dorong hingga kepalanya terbentur rak buku dengan kuat hingga dahinya mengeluarkan darah lebih banyak, kepalanya pusing, tenaganya sudah habis, Adella terjatuh, kemudian rak buku tersebut mendadak goyang akhirnya menimpa badan mungil Adella.
Ia merasa semakin pusing setelah puluhan buku berjatuhan mengenainya dan sekarang ia tertimpa rak buku yang sangat berat. Tangan kirinya berusaha untuk mendorong rak buku tersebut, tapi sama sekali tidak berhasil. Ia ingin berteriak meminta tolong, apalah dayanya yang sudah tidak memiliki kekuatan.
Adella menangis menahan sakit di tangan kanannya serta diseluruh tubuhnya yang terasa remuk. Tangan kanannya mencoba mengambil ponsel di saku bajunya, sedangkan tangan kiri Adella berusaha menahan rak agar tidak mengenai kepalanya.
Ia menekan nama Gavin dengan tangan yang bergetar, dan napasnya yang sudah tidak beraturan. Tapi sepetinya kesialan sedang menghampirinya karena Gavin tidak menjawab panggilannya.
ia mencoba menelepon mamahnya, tapi dering ponselnya terdengar di rumahnya, itu artinya ponsel ibunya tidak dibawa. Ia kembali menekan nama Alaska tapi laki-laki itu juga tidak menjawab, sepetinya Alaska masih berada di jalan. Ia menghubungi Rafa, kini hanya Rafa satu-satunya harapan Adella.
"Halo Del, kenapa?"
"Lo udah pulang dari sekolah?"
"Udah, Lo kenapa? napas Lo berat banget."
"Tolong ke rumah, gua abis dipukulin orang terus sekarang gua lagi ketimpa Rak buku, Lo tau kondisi tangan gua," ujar Adella.
"Oke."
Adella hanya bisa menunggu saat ini, seandainya saja tadi ia menerima tawaran Alaska untuk bermain di danau terlebih dahulu mungkin ia tidak akan seperti ini.
Setelah beberapa menit, ia mendengar derap langkah tergesa-gesa, ia yakin itu adalah Rafa. Sepetinya laki-laki itu memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
"Adel," panggilnya, lalu mendorong rak buku tersebut agar menyingkir dari tubuh Adella. Ia terkejut saat melihat wajah Adella yang sudah babak belur, ia melihat dahi dan sudut bibir Adella yang mengeluarkan darah.
Rafa langsung mengangkat tubuh Adella yang sudah tidak sadarkan diri, "Bertahan Del, gua mohon," lirih Rafa.
"Siapapun yang buat lo kaya gini akan gua pastikan dia nerima hukuman yang setimpal," batin Rafa.
***
sukses selalu buat author na 🙏🤗
papaygo😙
oklh sukses selalu buat author 😌