Aku adalah seorang pemuda tampan. Hidup di keluarga sederhana yang sebenarnya keturunan bangsawan.
Dengan dukungan orang terkasih aku akan menghentikan peperangan di negeriku tercinta.
Meraih kekuatan setinggi-tingginya sampai titik darah penghabisan. Ditemani sebilah pedang nan agung yang sangat dahsyat. Aku akan membunuh siapapun yang aku anggap salah.
Hingga takdir menentukan jalanku sebenarnya. Sungguh aku tidak menyangka jika aku akan menjadi!...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Puja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat ayah bangga suatu hari nanti...
Hallo para readers😁, karena ini hari pertama aurthor ngelanjutin karya ini jadi suport aurthor terus ya!! Aurthor juga minta maaf karena udah kelamaan ngilangnya😥.
Tapi kalian tenang aja, aurthor bakal up lagi kok😘...
Di perjalanan, Xiang Huo dan Ming melanjutkan perjalanan.
Tak membutuhkan waktu lama,mereka pun tiba di desa Meranti. Mereka berhenti didepan gerbang perbatasan.
"Adik,menurutmu Guru sekarang berada dimana?" tanya Ming
"Sepertinya ia sudah singgah di penginapan," ucap Xiang Huo
"Ya sudah, kalau begitu mari kita cari keberadaan guru" ucap Ming
Mereka berdua pun bergegas untuk memasuki desa meranti. Di pertengahan desa, mereka berhenti untuk menanyakan penginapan kepada salah satu seorang pria paruh baya.
"permisi tuan, apakah tuan tau letak penginapan didesa ini?"tanya Ming dengan sopan.
Pria paruh baya itu mengangkat alis kanannya,
"Mengapa kalian menanyakannya,semua orang juga tau kalau di desa ini hanya ada satu penginapan" Jawab pria tersebut
"Maaf tuan, saya belum tau karena saya baru masuk ke desa ini." jawab Ming
"Oh, ya sudhlah. Penginapannya berada disana" ucap pria itu sambil menunjuk ke sebuah bangunan rumah yang cukup besar.
"Terima kasih tuan"ucap Ming membungkuk
Sedangkan Xiang Huo hanya menjadi pendengar antara Ming dan pria paruh baya tersebut.
Setelah mengetahui penginapan tersebut akhirnya Xiang Huo dan Ming pun masuk ke penginapan.
"Selamat datang tuan" ucap pemilik penginapan tersebut dengan membungkukan badan.
"Ya, bolehkah saya bertanya? apakah tadi ada seorang pria berambut hitam pekat yang panjang, memegang sebilah pedang yang bersarung?" tanya Ming
Pemilik penginapan tersebut berfikir untuk mengingat-ngingat.
"Ya tuan, ia sedang beristirahat" ucapnya
"Baiklah, bisakah nyonya tunjukan letak kamarnya? dan siapkan 1 kamar lagi untuk kami" tanya Ming
"Tentu, mari silahkan" ucapnya sambil menunjukan jalan menuju ke kamar Qwin Zie.
tap
tap
tap
"Ini kamarnya tuan, dan tuan-tuan bisa menempati kamar yang disebelah" ucapnya
"Terima kasih nyonya" ucap Ming
"Sama-sama, saya pamit undur diri. Permisi,semoga tuan sekalian dapat beristerahat dengan nyaman" ucapnya sambil tersenyum.
Pemilik penginapan tersebut pun pergi meninggalkan Xiang Huo dan Ming.
tok
tok
tok
Cklekk
"Guru" ucap Ming
"Ah kalian mengagetkanku saja,"ucap Qwin Zie dengan tampang yang terkejut.
"Hehehe,maaf guru"ucap Ming
Sedangkan Xiang Huo hanya diam sambil mendengarkan Ming dan Qwin Zie berbincang.
Qwin Zie mengangkat sebelah alisnya, merasa heran dengan murid tertuanya.
Karena dari tadi ia tidak menyapanya sama sekali.
"Ada apa denganmu xiang'er?" tanya Qwin Zie sambil memegang bahu Xiang Huo.
"Tidak apa-apa. Murid izin beristirahat terlebih dahulu, permisi" ucap Xiang Huo sambil melangkah masuk ke ruangan yang di tunjuk oleh pemilik penginapan tadi.
"Ada apa dengannya Ming?" tanya Qwin Zie kepada Ming sambil memerhatikan langkah Xiang Huo.
"Murid juga tidak tau, tapi ku harap dia hanya kelelahan." ucap Ming.
"Hmm, ya sudah. Lebih baik kamu tidur sekamar denganku saja, biarkan dia sendiri." ucap Qwin Zie.
"Baiklah guru," ucap Ming
Akhirnya guru dn murid itupun beristirahat dalam satu kamar.
***(Di Kerajaan Tang)***
Seorang putri yang sangat cantik dan anggun(Oyong Tae). Ia tidak terlihat seperti putri lainnya karena memang ia merupakan seorang putri yang sangat berbakat dalam bela diri. Namun ia juga termasuk golongan putri yang manja walaupun hanya kepada orang tuanya(Kaisar Jiang Tae dan Mei Chen).
Oyong Tae sedang berada di rungan bersama kaisar Jiang. Ia sedang membujuk sang ayah agar di izinkan berlatih di sebuah sakte yang sangat terkenal.
"Ayolah ayah, Oyong hanya berlatih disana." bujuknya kepada kaisar jiang sambil main memperlihatkan muka memelasnya.
"Apa kau pikir itu mudah nak, didalam sebuah sakte yang besar kau harus melakukan aktivitas sesuai aturan disana? apa kau mampu untuk menjalaninya?" tanya Jiang yang masih berikukuh tidak mengizinkan putri semata wayangnya itu.
"Tentu ayah, Oyong akan belajar dengan giat dan mengikuti semua aturan disana. Ku mohon, percayalah"ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Hmm. Lalu, apa kau siap jika mengurus kebutuhanmu sendiri? apa kau bisa melakukannya tanpa seorang dayang?" Tanya Kaisar Jiang.
"Siap ayah, Oyong akan melakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab."
"Hmm. Baiklah, ayah akn mengizinkanmu. Tapi ayah tidak bisa terlalu sering menjengukmu karena ayah harus mengurus pekerjaan ayah, apalagi ayah punya tanggung jawab besar kepada penduduk." Kaisar Jiang Tae sudah pasrah atas keputusan putrinya.
"Benarkah ayah mengizinkan oyong?" tanyanya dengan wajah yng berseri seri.
"Hmm." jawab Kaisar Jiang
"Terima kasih ayah, Aku mencintaimu" ucapnya sambil memeluk Kaisar Jiang.
"Ayah juga sangat mencintaimu, ayah harap kau akn membuat ayah bangga suatu hari nanti" ucapnya membalas pelukan sang putri.