"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Pagi belum sepenuhnya benderang ketika jarum jam di dinding ruang tengah baru menunjuk ke angka enam. Samar-samar, cahaya fajar menembus gorden apartemen yang tertutup setengah. Di dalam kamarnya, Gavin sudah terjaga sejak tiga puluh menit yang lalu. Bukan karena dia mendadak rajin atau tersentuh oleh ancaman Aruna semalam, melainkan karena isi kepalanya dipenuhi oleh rencana licik untuk meloloskan diri dari tugas memomong Kenzie.
"Enak aja aku disuruh mendekam di sini seharian jadi babysiter," bisik Gavin pelan sambil mengancingkan kemeja birunya di depan cermin dengan sangat hati-hati, meminimalkan suara sekecil apa pun.
Pikirannya melayang pada kencan makan siang romantis yang sudah ia rancang bersama seorang model majalah populer pukul sebelas nanti. Membatalkan janji itu demi mengganti popok dan menyuapi makanan dan menjaga bocah kecil? Oh, jelas tidak ada dalam kamus seorang Gavin. Dengan gerakan seringan mungkin, ia menyambar jas, kunci mobil, dan dompetnya di atas meja. Sebelum melangkah keluar, ia melirik pintu kamar Aruna yang masih tertutup rapat.
Sebuah senyum meremehkan terukir di wajah tampannya. "Sorry ya, Una. Kamu ngga bisa ngatur-ngatur hidup aku. Anggap aja ini pelajaran biar kamu tahu kalau aku ngga bisa diancam," gumamnya dalam hati.
Cklek.
Pintu utama apartemen ditutupnya dengan sangat perlahan hingga nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya langkah kaki Gavin setengah berlari menuju lift, melarikan diri dari tanggung jawab yang seharusnya ia pikul bersama.
---
Satu jam kemudian, tepat pukul tujuh pagi, pintu kamar seberang terbuka. Aruna keluar dengan pakaian rapi yang sudah siap untuk mengajar—blus pastel yang sopan dipadukan dengan celana kain hitam. Di dalam gendongannya, Kenzie sudah terbangun, mengenakan kaus bergambar monyet kecil kesukaannya sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Gavin?" panggil Aruna lirih sambil melangkah ke arah dapur.
Suasana apartemen begitu sunyi. Aruna berjalan menuju pintu kamar Gavin dan mengetuknya pelan. "Gavin, aku mau berangkat. Kenzie sudah bangun, tolong mandikan dia."
Tidak ada sahutan.
Perasaan tidak enak mulai menjalar di dada Aruna. Ia memberanikan diri memutar kenop pintu kamar Gavin yang ternyata tidak dikunci. Begitu pintu terbuka, pemandangan tempat tidur yang sudah rapi namun kosong melongpong langsung menyambut matanya. Aroma parfum maskulin khas Gavin masih tertinggal samar, namun pemiliknya sudah lenyap.
Aruna tertegun di ambang pintu. Tangannya mengepal kuat pada kaus kecil Kenzie. Ia bergegas menuju meja makan dan ruang tengah, berharap pria itu hanya sedang turun ke lobi atau membeli kopi atau sarapan. Namun, nihil. Sepucuk kertas atau pesan singkat di ponselnya pun tidak ada. Gavin benar-benar pergi. Dia kabur sebelum jam tugasnya dimulai.
"Dasar Playboy cap Bunglon egois... keterlaluan!" desis Aruna, menahan air mata kemarahan yang mendesak keluar dari sudut matanya. Dadanya naik turun karena rasa dongkol yang luar biasa. Gavin dengan sengaja menantangnya, sengaja meninggalkannya dalam posisi terjepit tepat di hari pertamanya kembali bekerja.
"Ante Una... Oom Apin ana?" suara cedel Kenzie membuyarkan lamunan Aruna. Bocah kecil itu menatap sekeliling dengan wajah polosnya.
Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh emosi di dadanya agar tidak menakuti sang keponakan. Ia memaksakan sebuah senyum manis, lalu mencium pipi gembil Kenzie. "Oom Gavin lagi pergi kerja, Sayang. Hari ini, Kenzie ikut Ante ke sekolah, mau?"
Kenzie mengedipkan matanya yang bulat. "Cekolah? Cama teman-teman?"
"Iya, sama teman-teman kecil di sekolah Ante. Kita main di sana ya?"
Meskipun hatinya bergegas penuh kemarahan pada Gavin, Aruna harus tetap rasional. Menitipkan Kenzie pada babysitter dadakan dalam waktu satu jam jelas mustahil dan berisiko bagi mental Kenzie yang masih trauma. Menghubungi Pak Sidiq atau Mbok Rin juga membutuhkan waktu lama karena jarak rumah peninggalan kakaknya yang cukup jauh di tengah kemacetan Jakarta pagi ini. Satu-satunya jalan terbaik adalah membawa Kenzie bersamanya.
Dengan cekatan, Aruna memasukkan seluruh keperluan Kenzie—mulai dari botol susu, baju ganti, camilan, hingga buku biru catatan almarhumah Adisti—ke dalam tas ransel besar. Setelah memastikan semuanya siap, ia mengunci apartemen dan melangkah pergi dengan tekad bulat.
---
Pukul 07.45 WIB, Aruna tiba di gerbang Children Smart School. Suasana sekolah sudah mulai ramai oleh riuh rendah suara anak-anak dan para orang tua yang mengantar. Kehadiran Aruna yang menggendong seorang balita sambil menyandang ransel besar langsung menarik perhatian beberapa guru yang sedang menyambut murid di depan gerbang.
"Lho, Miss Aruna? Alhamdulillah sudah masuk lagi. Tapi... ini bawa siapa, Miss?" tanya Bu Desi, salah satu rekan guru, dengan dahi berkerut heran.
"Ini Kenzie, Miss... keponakan saya. Anak almarhum kakak saya," jawab Aruna dengan senyum sungkan. "Miss Desi, apa Ibu Kepala Sekolah sudah ada di ruangannya? Saya harus menghadap beliau sekarang."
"Oh, sudah ada di dalam, Miss. Langsung masuk saja."
Aruna berjalan menyusuri koridor sekolah dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tahu betul bahwa membawa anak atau keluarga ke dalam lingkungan kerja, apalagi saat mengajar, adalah hal yang tidak profesional. Namun, keadaan memaksanya untuk bersikap nekat.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," terdengar suara dari dalam ruangan.
Aruna membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan Bu Widya, kepala sekolah Children Smart School yang terkenal tegas namun bijaksana. Wanita paruh baya berkacamata itu mendongak dari tumpukan berkasnya, lalu tersenyum hangat melihat Aruna.
"Aruna! Akhirnya kamu kembali mengajar. Kami semua turut berduka atas musibah yang menimpamu, ya," ucap Bu Widya dengan tulus. Namun, pandangannya langsung beralih pada bocah kecil di gendongan Aruna. "Lalu... siapa anak tampan ini?"
Aruna menurunkan Kenzie dengan hati-hati, membiarkan bocah itu berdiri di dekat kakinya sambil memegangi ujung blusnya. Aruna menunduk dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya.
"Mohon maaf sebelumnya, Bu Widya. Kedatangan saya ke sini... selain untuk melapor bahwa masa cuti saya sudah habis, saya juga ingin meminta izin dan memohon kebijakan dari Ibu," ucap Aruna dengan suara yang sedikit bergetar.
Bu Widya memperbaiki posisi kacamata seleranya, menyimak dengan serius. "Kebijakan soal apa, Aruna?"
"Ini Kenzie, Bu. Dia keponakan saya yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan seminggu lalu. Saat ini, Kenzie masih mengalami trauma berat dan belum bisa ditinggal bersama orang asing atau pengasuh," Aruna menjeda kalimatnya, melirik Kenzie yang sedang asyik memandangi jam dinding berbentuk kucing di ruangan itu.
"Karena situasi mendesak di rumah, hari ini... saya terpaksa membawa Kenzie ke sekolah. Saya berjanji, Bu, Kenzie tidak akan mengganggu proses belajar-mengajar di kelas saya. Saya akan mendudukkannya di sudut kelas dengan mainannya. Saya mohon izin untuk mengajar sambil menjaganya sementara waktu, Bu."
Suasana ruangan mendadak hening. Bu Widya menatap Aruna cukup lama, membuat dada Aruna berdesir panik. Ia takut jika permintaannya ditolak, ia harus memilih antara profesionalitas kerja atau menelantarkan keponakannya.
Bu Widya menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursi kebesarannya. Beliau berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Kenzie yang langsung bersembunyi di belakang kaki Aruna karena malu.
"Namanya Kenzie, ya? Ganteng sekali," puji Bu Widya lembut sebelum kembali menatap Aruna. "Aruna, kamu tahu sendiri kan aturan yayasan kita tentang profesionalitas guru di dalam kelas?"
"Saya tahu, Bu. Sangat tahu. Karena itu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Jika ini melanggar, saya..." kalimat Aruna terputus, tenggorokannya mendadak tercekat oleh rasa bersalah sekaligus lelah yang bertumpuk.
Bu Widya memegang pundak Aruna dengan kebapakan—atau lebih tepatnya, keibuan. "Dengar dulu, saya belum selesai bicara. Secara aturan, ini memang tidak biasa. Tapi saya juga seorang ibu, Aruna. Saya tahu bagaimana beratnya posisi kamu sekarang yang mendadak harus menjadi orang tua bagi anak sekecil ini di tengah rasa duka yang belum hilang."
Beliau tersenyum tipis. "Hari ini dan besok, saya izinkan kamu membawa Kenzie ke kelas. Anggap saja Kenzie sebagai 'murid kehormatan' sementara di kelas bermain. Tapi, kamu harus memastikan dia tetap kondusif, ya? Dan carilah solusi jangka panjang setelah ini. Bagaimana dengan Om dari kenzie? Apa dia tidak bisa membantu?"
Mendengar kata 'Om Kenzie', kilasan wajah Gavin yang tersenyum tanpa dosa saat kabur tadi pagi langsung terlintas di otak Aruna. Rasa kesal dan gemas kembali membakar dadanya.
"Om nya Kenzie, adik dari kakak ipar saya... sedang sangat sibuk dengan urusan perusahaannya yang tidak bisa ditinggal, Bu," jawab Aruna dengan nada getir yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.
"Ya sudah, kalau begitu segera masuk ke kelasmu. Bel sebentar lagi berbunyi. Jaga Kenzie dengan baik, ya."
"Terima kasih banyak, Bu Widya. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Aruna berkali-kali sambil membungkuk hormat.
Saat melangkah keluar dari ruang kepala sekolah menuju kelasnya, Aruna mengeratkan genggaman tangannya pada Kenzie. Di dalam hati, rasa sayangnya pada bocah itu semakin menebal, namun di saat yang sama, rasa muak dan marwahnya kepada Gavin sudah berada di titik tertinggi.
Lihat saja nanti malam, Gavin. Kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja setelah mengacaukan hari ini? batin Aruna tajam, bersiap menuntut balas atas keegoisan pria playboy cap bunglon itu.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor