NovelToon NovelToon
Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Status: tamat
Genre:Misteri / Teen School/College / Tamat
Popularitas:506.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

AWAS JANGAN KELIRU!
Ini bukan bahasa Inggris---bahasa Belanda.
________________________________________



Van Til Hogeschool adalah sebuah sekolah menengah kejuruan milik grup perusahaan perkebunan yang dulunya milik tuan tanah asal Belanda---Mr. Stiller Van Til.

Sejak sekolah didirikan, peraturan yang berlaku sudah ditetapkan berdasarkan hukum zaman penjajahan sampai kepala sekolah baru mereka mengganti peraturannya. Celakanya peraturan yang baru lebih buruk dari zaman penjajahan. Peraturan hukuman---STRAF adalah hal pertama yang diganti. Hukumannya bukan lagi menghabiskan dua jam setelah pulang sekolah. Itu terlalu gampang---tidak menyelesaikan masalah. Tapi jika murid-murid harus mengorbankan satu hari penuh untuk menebus kesalahan mereka...

Dan lahirlah hukuman pada hari Sabtu---STRAF SABBAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapiter 23

Seseorang mengguncang tubuh Magisna.

Ia merasakan cengkeraman kuat di kedua bahunya. Tapi kesadarannya seperti timbul-tenggelam. Seluruh tubuhnya terasa ringan. Seperti sedang mengambang di dalam air.

"Gisna?!"

Ia mendengar suara Hendra. Begitu jauh.

Tak lama ia merasakan tubuhnya terangkat dari tanah. Dan menjauh dari pekarangan samping, menyusuri koridor panjang menuju teras depan. Semuanya terasa seperti mimpi dan terlihat seperti bukan dalam kenyataan.

Kedua matanya terbuka dan tak berkedip, tapi ia tak dapat melihat apa pun kecuali potongan gambar sosok penunggang kuda berjubah gelap yang membekas dalam ingatannya.

Tak lama ia merasakan sebuah tangan mengusap wajahnya. Terasa kasar dan basah.

Magisna terhenyak.

Seraut wajah pria paruh baya merunduk di depan matanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Magisna.

Magisna mengerjap dan menarik menjauh wajahnya secara mendadak hingga kepalanya membentur dagu Hendra yang tengah merunduk di belakangnya.

Hendra memekik kecil.

Magisna menoleh ke arah Hendra dan menyadari bahwa Hendra tengah menopang tubuhnya dari belakang---bisa dikatakan Hendra hampir-hampir memangkunya.

Apa yang terjadi? Magisna bertanya-tanya dalam hati.

Ia mengedar pandang berkeliling dan mendapati dua orang cowok kurus tinggi di kiri-kanannya dan seorang pria paruh baya di depannya.

Kami semua berada di teras depan sekolah, Magisna menyadari. Lalu menatap pria paruh baya di depannya dengan alis bertautan.

Di mana aku pernah melihatnya?

Ia berusaha mengingat-ingat. Lalu menyadari bahwa pria itu adalah penjaga gardu lonceng sekolah. Papa Tibi, katanya dalam hati.

Pria paruh baya itu menyodorkan sebotol air mineral ke arah Magisna tanpa bicara.

Magisna menerimanya seraya memaksakan senyum. "Terima kasih, Pak," ungkapnya. Ia memutar tutup botol itu sambil menoleh ke arah cowok kurus tinggi di sisi kirinya.

Cowok itu menyeringai dengan tampang konyol, sementara cowok satunya lagi hanya menatapnya seraya bersedekap.

Magisna meneguk air dari botol itu hingga hampir setengahnya.

"Ini Ais, yang tadi gua ceritain," Hendra memberitahu Magisna seraya menunjuk ke arah cowok yang tadi menyeringai. "Yang ini Agustin, temen Ais," lanjut Hendra seraya menunjuk cowok yang satunya.

Magisna tersenyum ke arah Ais sambil menutup kembali botol minumnya---Ais membalasnya dengan seringai kekanak-kanakan. Lalu melirik sepintas ke arah Agustin yang kelihatan tidak berselera untuk berbasa-basi.

"Lain kali kalau sedang sambekala, jangan diam di depan pintu," Papa Tibi menegur Magisna dengan suara teduh yang menenangkan.

"Sambekala itu apa, Pak?" Magisna bertanya, bersamaan dengan Hendra.

"Kalian gak tau sambekala?"

Hendra dan Magisna menggeleng bersamaan.

Ais menatap keduanya secara bergantian dengan mulut dan mata membulat.

Papa Tibi tersenyum tipis. "Sambekala itu maksudnya sore---petang hari. Orang tua zaman dulu menyebutnya sambekala," jelasnya, sambil meletakkan sebelah lututnya di lantai, sementara kaki lainnya masih terlipat dalam posisi jongkok.

Magisna mengalihkan kembali perhatiannya pada Papa Tibi. "Saya tidak mengerti," ia mengaku. Ia ingat beberapa saat sebelum Ais menerjangnya hingga terpelanting, ia meneriakkan kata itu seperti sebuah peringatan, seolah "Sambekala" merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.

"Di zaman sekarang sebutan sambekala digunakan para orang tua untuk menakuti anak-anak," Papa Tibi tersenyum masam.

Hendra dan Magisna bertukar pandang sekilas.

"Peraturan mengenai tidak boleh berdiam di depan pintu, sebetulnya hanya berlaku pada masa penjajahan," Papa Tibi melanjutkan. "Pada masa itu berdiri di depan pintu terutama pada petang hari hanya dilakukan oleh para tentara. Pasukan musuh akan menembaki siapa pun yang berjaga di depan pintu. Itu sebabnya para orang tua melarang anak-anak berada didepan pintu---pamali katanya."

Magisna melirik Ais dengan raut wajah mencela.

Ais membekap mulutnya dengan kedua tangan---dengan sikap konyol kekanak-kanakannya yang khas---berakting ketakutan.

Hendra mengatupkan mulutnya---menahan tawa.

"Jadi sambekala itu bukan sebutan untuk kabut merah itu?" Magisna bertanya pada Papa Tibi.

"Ya," Agustin menimpali. Tiba-tiba mengambil alih pembicaraan.

Magisna sontak menoleh ke arahnya dengan alis bertautan.

"Masyarakat di sekitar sini memang menamai kabut merah itu "Sambekala". Sebagian orang percaya kabut itu merupakan arwah seseorang yang pernah hilang dan mungkin telah meninggal. Banyak orang hilang sejak rumah ini dipugar menjadi sekolah. Salah satu dari mereka bernama Senja."

Magisna menahan napas dan kembali bertukar pandang dengan Hendra.

"Fenomena kabut itu muncul setelah Senja menghilang. Istilah "Sambekala" itu diambil dari nama Senja. Masyarakat di sini tak berani menyebut namanya secara terang-terangan karena khawatir arwah pemuda itu merasa dipanggil kemudian menghampiri mereka," lanjut Agustin. "Jadi mereka menyebutnya Sambekala!"

Magisna menelan ludah dengan susah payah.

"Itu hanya mitos," Agustin menambahkan. "Namun, secara alamiah, kabut itu mengandung zat berbahaya seperti belerang dan gas beracun yang bisa menyebabkan seseorang mengalami sesak napas dan berhalusinasi."

Aku mengerti sekarang kenapa aku melihat sosok aneh yang kukira malaikat kematian, pikir Magisna seraya mengedar pandang dan menyadari kabut merah telah lenyap digantikan kegelapan.

Hari sudah beranjak malam, dan mereka masih berbincang-bincang di teras depan sekolah bersama penjaga gardu lonceng.

Sesaat suasana mendadak hening.

Tunggu, kata Magisna dalam hati. Aku tidak berhalusinasi. Ais menerjang kami ketika makhluk itu melintas. Ais juga melihatnya---atau Ais juga berhalusinasi. Magisna melirik cowok itu dengan dahi berkerut.

Ais membalasnya juga dengan dahi berkerut kebingungan.

Aku akan menanyakannya pada Ais lain kali, pikirnya.

"Sambekala mungkin hanya istilah," lanjut Papa Tibi. "Larangan berdiam diri di depan pintu juga hanya mitos. Tapi saat kabut merah itu turun, berdiri di depan pintu sangat berisiko. Kadar racun pada kabut merah itu meningkat di dalam ruangan."

Hendra menghela napas pendek.

Magisna tertunduk lesu.

Jadi, Ais mendorong kami menjauh dari pintu untuk menghindarkan kami dari kabut dalam ruangan?

Ia menghela napas berat.

Jadi benar, katanya dalam hati. Aku hanya berhalusinasi.

"Ais dan Agustin akan mengantarkan kalian pulang," kata Papa Tibi seraya menghela napas dan beranjak dari lantai. Lalu berdiri di dekat pilar beton seraya memandang menerawang ke arah perkebunan. Ekspresi wajahnya menunjukkan seolah ia sedang mengingat sesuatu yang sangat dihormatinya.

Magisna menatap Hendra dengan ekspresi bertanya-tanya. Bagaimana dengan Dika, Novi dan Alexza?

Hendra menghembuskan napas berat. Kemudian membuka mulutnya, untuk mengatakan sesuatu.

"Saya akan mencari teman-teman kalian," potong Papa Tibi seolah dapat membaca pikiran keduanya.

Hendra dan Magisna bertukar pandang sekali lagi. Ekspresi keduanya menunjukkan keterkejutan mereka.

"Kepala sekolah kalian membunyikan lonceng tanda bahaya," cerita Papa Tibi. "Jadi saya bergegas ke sini. Saya menggantikannya membunyikan lonceng sementara dia sendiri turun ke basement untuk mencari kalian. Tidak lama lagi, penduduk setempat akan berdatangan. Jadi kalian tidak perlu khawatir."

Pak Isa menyadari kami dalam bahaya, pikir Magisna. Apakah dugaan Hendra benar bahwa Pak Isa mengetahui sesuatu. Apakah nama Michael Isaac yang tertera di dinding adalah namanya?

Tidak! Magisna berusaha mengenyahkan dugaannya. Tengkorak itu berjumlah tiga belas. Nama yang tertera pada dinding juga berjumlah tiga belas. Nama Michael Isaac yang tertulis pada dinding sudah menjadi tengkorak.

Tunggu dulu, pikir Magisna. Agustin bilang salah satu dari mereka yang hilang bernama Senja, dan badai kabut itu muncul setelah dia menghilang. Badai kabut itu tadi membentuk beberapa wajah dan Pak Isa mengenali mereka sebagai teman-temannya.

Apa artinya?

Mungkinkah salah satu tengkorak itu milik anak bernama Senja?

Tapi nama Senja tidak tertulis pada dinding!

Rasanya aku mulai mengerti, pikir Magisna.

Bukan Michael Isaac yang mati, tapi Senja!

Dan…

Entah bagaimana caranya mereka bertukar tempat.

1
Handoko
terima kasih atas karyanya, author ...
Handoko
nah lho ... 😱
Handoko
menangkap tubuh novi.
Handoko
dua puluh tahun yang lalu, atau sepuluh tahun yang lalu, atau tiga puluh tahun yang lalu ?

kalau kejadiannya di tahun 1992, ke tahun 2022 berarti tiga puluh tahun yang lalu.
Handoko
pak isa, dika, novi, dan alexza.
Handoko
kalau agustin masih SMU, bukankah seharusnya ini tahun 90 an dan SMU masih menumpang di gedung sekolah SMP. belum memiliki gedung sendiri ?
Handoko
sekolah menengah kejuruan apa tepatnya ?
Handoko
raganya sudah diambil alih.
Handoko
kalau menjenguk, berarti magisna belum meninggal, mungkin dalam keadaan koma.
Handoko
apakah pak isa dan teman2 magisna berubah menjadi siluman macan kumbang ? dan novi terkena sabetan sabit papa tibi.
Handoko
ini di indonesia, tapi memanggil seseorang yang lebih tua hanya dengan nama saja ?
Handoko
berarti kejadian hilangnya siswa memang 30 tahun lalu, tapi kematian senja sepuluh tahun yang lalu, di tahun 2012 ? 🤔
Handoko
dari tahun 1992 ke tahun 2022 itu kan 30 tahun, author . kenapa di bab ini kejadian kematian senja disebut sepuluh tahun yang lalu ?
Handoko
sepertinya senja sudah meninggal tapi tidak sadar kalau dirinya sudah meninggal. dia bukan diabaikan, tapi memang tidak terlihat dan tidak terdengar suaranya. 😅
Handoko
kalau pak isa adalah michael issac, bukankah seharusnya usianya sudah di atas 45 tahun ?
Handoko
cerita ini ada korelasinya dengan cerita lonceng ketiga belas atau tidak ? kenapa setting waktunya tidak berkesesuaian?
Handoko
sempat sempatnya bawa cat plus kuasnya kemana mana.
Handoko
mosok iya sampai remuk berkeping keping tangganya ?
Handoko
tangga yag jatuh apa tidak bisa disenderkan lagi ke dinding lubang ?
Handoko
seingatku hendra mengenakan t shirt robek di bawah jaketnya, bukan kemeja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!