Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar Kerja
Pagi-pagi sekali Nadin sudah bersiap-siap, dengan mengenakan baju yang rapi. Dia akan segera mengantar lamaran kerja. Argan melihat ke arah istrinya, hari ini benar-benar berbeda. Dia tampak cantik, dengan gaya yang sederhana.
"Kamu mau kemana?" tanya Argan.
"Aku ingin mengantar lamaran kerja." jawab Nadin.
"Iya kamu boleh bekerja, tapi dengan satu syarat." Argan mengutarakan maksud keinginannya.
"Apa itu?" tanya Nadin, yang ingin tahu.
"Kamu tidak boleh menabung." Argan takut Nadin pergi, dengan cara mengganti uang.
"Bila aku menabung, itu tidak akan mengganggumu 'kan?" Nadin memastikannya.
"Memang tidak akan menggangguku. Tapi aku tidak ingin kamu menabung, belanjakan saja untuk kedua orangtuamu. Kamu juga bisa bersenang-senang, dengan uang yang kamu punya." Argan meneruskan ucapannya. "Kenapa kamu diam? Setuju tidak, kalau kamu kerja di perusahaan tanpa boleh menabung."
"Baiklah." jawabnya singkat, malas berdebat panjang lebar.
”Apa dia takut kehilangan aku.” batin Nadin, mulai lagi merasa.
Nadin sudah keluar dari kamar, setelah menyalami tangan Argan. Nadin melihat Fendi dan Andi dari jauh.
"Kriwil, kamu sudah tahu belum novel populer yang judulnya "Kucing Tetangga Dipaksa Menikahi Kodok Ijo"?
"Oh iya tahu. Lucu sekali itu novel, genre-nya komedi." Fendi tertawa-tawa, membayangkan isi novel tersebut.
"Eh, aplikasi My Happy Toon mengadakan perlombaan novel season 5 loh. Hadiahnya lumayan besar, untuk juara pertama delapan juta rupiah."
"Wow! Kenapa kamu tidak ikut botak?"
"Aku tidak bisa membuat novel kriwil."
"Gaji di sini juga sudah besar iya, tidak perlu ikut lomba." Fendi tertawa-tawa.
"Iya, lebih enak jadi pembaca." jawab Andi.
Nadin yang lewat, tidak sengaja mendengarnya. Dia merasa ini seperti sebuah jalan, untuk keluar dari belenggu perjanjian dengan Argan.
”Aku akan mengumpulkan uangnya, lalu meminta tuan muda hapus perjanjian. Kami akan menjadi suami istri sungguhan. Iya, ini ide yang bagus. Semangat Nadin mengumpulkan uangnya, kamu harus segera memberi penawaran.” batin Nadin.
Nadin segera melewati mereka, untuk pergi ke tempat tujuan. Tidak lupa menebar senyum, secerah kilauan bintang-bintang. Nadin fokus memperhatikan ponselnya, lalu mulai terpikir ide.
"Aku akan membuat novel dengan judul "Dinikahi Konglomerat Sejagat". Itu pasti menarik, dibarengi isi novel yang islami. Hitung-hitung menyampaikan sebuah kebaikan dan hal bermanfaat, dalam cerita ini. Isinya adalah tentang CEO dan wanita berhijab. Aku pilih genre romantis dan komedi saja." monolog Nadin.
Mulai mengetik naskah episode satu. Nadin merasa lucu lalu tersenyum, seakan menceritakan dirinya sendiri dalam novel.
Ceklek!
Pintu terbuka, Nadin segera meng-klik menu kembali. Dia menyimpan teks naskah dalam draft, takut ketahuan oleh Argan.
"Kamu sedang apa?" selidik Argan.
"Biasalah hanya bermain ponsel, sedikit mengecek hal penting." jawab Nadin gugup, tapi disembunyikan.
"Kamu biasanya jarang bermain ponsel, seserius tadi." Masih bertanya, dengan raut wajah curiga lagi.
"Hehe, aku memang seperti ini sayang." Nadin menjawab, berusaha menyembunyikan perasaan dibenaknya.
"Apa kamu sudah selesai dengan rutinitas bulanan?"
Nadin menggelengkan kepalanya. "Belum sayang."
"Lama sekali. Sampai kapan, aku sudah tidak sabar."
"Sepertinya lama lagi sayang."
"Jangan bohong. Harus melaporkan padaku bila sudah selesai."
"Hmmm...!" Nadin hanya bereaksi deheman, dengan raut wajah lesu.
"Enak saja kamu menjawab hmmm. Ucapan itu hanya boleh aku yang memperagakannya."
"Baiklah." jawabnya.
"Karena aku sedang kesal, kamu harus menghiburku." Argan menunjuk-nunjuk pipinya.
Dengan perasaan tidak karuan, Nadin menurut saja. Dia melakukan yang Argan pinta. Hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dalam hitungan ke lima ratus kali.
"Mengganggu saja, padahal aku sedang bersama istriku enak-enakan." Argan segera menghampiri pintu dan membukanya.
”Dia bilang enak, yang menikmati dia sendiri. Ehh... tidak begitu, aku juga menikmati huaa... hiks... hiks... heheh... hihih... hahah...” Berteriak histeris dalam batin, sambil tertawa tidak jelas.
"Sahara, Kakak kira kamu siapa?"
"Memangnya kakak mengira aku siapa." jawab Sahara, dengan tertawa-tawa kecil.
”Aku kira asisten Heru akan mencuri pandang adegan ini, untuk yang kedua kalinya. Ternyata adik perempuanku yang ke sini.” batin Argan.
"Kakak kira dua asisten pribadi Kakak."
"Oh, Kak Dera dan Kak Heru pasti sudah tidur Kak. Ini 'kan sudah malam."
"Lalu ngapain kamu belum tidur dan ke sini?"
"Hahaha... aku mau bermain petak umpet Kak. Aku juga mau tidur di kamar ini."
"Hah? Benar saja kamu tidur di sini lagi."
"Iya dong Kak." jawab Sahara dengan santainya.
Akhirnya dia masuk ke dalam kamar. Sahara menghampiri Nadin dan duduk di pangkuannya.
"Kak, ayo main petak umpet." ajak Sahara merengek.
"Ayo. Kita berdua saja kan mainnya?" tanya Nadin. Dia memang sengaja memastikan, sedang malas bila Sahara minta bermain dengan Argan juga.
"Tidak Kak, dengan Kak Argan juga."
Argan menghampiri mereka sambil tersenyum, sedang ada ide jail di pikirannya.
"Sahara yang manja, Kakak punya hadiah loh."
"Apa Kak?" tanyanya.
"Lihat ini, lebih dari yang kamu pinta saat itu." Argan langsung memegangi ceruk leher Nadin.
Dia melanjutkan ciuman yang belum selesai tadi. Sahara tertawa-tawa, bahkan melompat-lompat.
"Hore, kalian saling sayang. Hore, aku berhasil mengerjai kalian." ujar Sahara.
”Kenapa dia melakukan ini padaku. Dia saja yang tidak sadar bahwa aku diam-diam menghindarinya.” batin Nadin, bertambah menolak dengan tindakan Argan saat ini.
Nadin teringat senyuman manis Vahisa, yang menyambut kedatangan Argan. Pulang dari luar negeri, malah bertemu dengan kekasih suaminya. Ingin rasanya dia berlari untuk saat ini juga. Hal romantis yang dilakukan oleh Argan barusan, menjadi rasa bimbang baginya. Siapa sebenarnya yang suaminya cinta saat ini, dirinya atau Vahisa?
Drrrt!
Ponsel Nadin yang ada di atas nakas berbunyi. Nadin merasa senang, kesempatan untuk lepas.
"Sayang, lepaskan aku iya. Aku mau mengecek ponselku, mungkin itu panggilan interview." Nadin segera melangkahkan kakinya.
Dia melihat isi pesan obrolan WhatsApp, ternyata itu memang panggilan interview dari perusahaan Shakespeare Group. Nadin membacanya, dengan mata berbinar-binar.
"Kakak ayo bermain sembunyi."
"Ayo Sahara sayang."
Mereka bermain petak umpet. Nadin bersembunyi di bawah ranjang tidur, dan Sahara bersembunyi di dalam lemari baju. Argan yang mencari mereka, karena dia yang kalah dalam suit jari tadi.
"Di mana kalian. Ayo keluarlah, sebelum aku menemukan kalian dan aku gelitik" Argan membuka lemari baju.
Sahara tertawa-tawa karena tertangkap. Argan menggelitik pinggangnya sampai dia berguling-guling.
"Aduh Kakak ampun, hahaha..." Sahara masih saja tertawa.
Beberapa jam kemudian, barulah Argan menemukan Nadin yang bersembunyi di bawah ranjang tidur.
"Ha! tertangkap kamu!" Argan menggelitik pinggang Nadin.
"Hahaha... hentikan sayang. Ini geli sekali."
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂