Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.
Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.
Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.
Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
"Seumur hidup, ini kali kedua saya berjanji. Saya selalu berharap bisa menepati janji." Ucap Mahesa serius.
Puspita Dewi cuma mengangguk. Dia belum bisa menguasai diri. Dirasanya Mahesa terlalu berlebihan.
Sudah merupakan hukum alam, seorang Abdi atau Pelayan memang semestinya berbuat lebih pada majikan. Tidak menuntut hal lain. Sebaliknya, seorang majikan tidak perlu merasa berhutang budi pada pelayan.
"Tuan Muda, bisa bersama dengan seorang pendekar besar seperti Tuan, merupakan suatu anugerah. Saya bisa mati dengan tenang. Bisa melayani Tuan adalah suatu kebanggaan bagi Pelayan rendah seperti saya. Mohon untuk tidak Tuan Muda menganggap berlebihan." Setelah bisa menguasai diri, Puspita menjawab meski suaranya masih bergetar.
"Ibarat terhalang dinding kaca, bisa melihat namun tidak bisa menyentuh. Kasta. Bagi saya, tingkatkan itu hanya membuat orang lupa diri. Dimana manusia dibedakan berdasarkan status kehidupan nya. Kita melangkah bersamaan, namun terpisah jurang yang dalam. Pembedaan yang sering menimbulkan Diskriminasi." Mahesa menghela napas. Sulit baginya untuk menjelaskan. Apalagi meyakinkan seorang wanita, dirasa itu adalah kelemahan satu-satunya. Akhirnya, Mahesa cuma bisa tersenyum.
"Tuan Muda, maaf. Apa saya boleh minta sesuatu?" tanya Puspita Dewi.
"Katakan. Apa yang kau inginkan? Aku akan berusaha untuk memenuhinya."
"Tuan Muda, Anda menjawab tanpa berpikir. Saya takut Tuan Muda hanya terbawa suasana." Ucap Puspita lirih, dia menarik tangannya dari genggaman Mahesa.
Mahesa terlihat bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mahesa jadi serba salah. Perasaannya campur aduk. Memiliki ilmu tenaga dalam tanpa tanding, tapi sekarang Mahesa seperti ikan yang terpisah dari air. Puspita berhasil menghancurkan seluruh saraf otak Mahesa hingga menimbulkan kebuntuan saat berfikir.
"Tuan Muda. Apapun yang akan terjadi, izinkan saya untuk selalu bersama Tuan. Saya ingin menjadi pelayan Tuan hingga saya berhenti bernafas. Saya mohon."
Mendengar permintaan Puspita, Mahesa semakin kebingungan. Sepertinya, Puspita telah mengetahui sesuatu. Apa itu?
"Puspita, mengapa kau bicara begitu? Kita berangkat bersama, pulang pun harus bersama. Aku tidak akan meninggalkan dirimu."
Puspita tersenyum dibalik tetes air mata yang sesekali masih bergulir. "Saya hanya takut Tuan Muda akan meninggalkan saya."
Mahesa menggunakan jarinya untuk menghapus bulir bening dipipi Puspita. Dia paling tidak bisa melihat air mata itu mengalir. Jika ada wajah gadis yang sulit membuat Mahesa berpaling, hanya wajah dihadapannya sekarang.
"Sudahlah, jangan menangis. Aku berjanji akan selalu melindungi mu. Percayalah. Aku, aku akan menepati janjiku." Mahesa memeluk Puspita dengan erat. Meskipun dihatinya timbul banyak pertanyaan. Mahesa tidak memungkiri, dia menaruh perhatian pada Puspita.
Lama keduanya berpelukan. Mahesa membiarkan air mata Puspita hingga mengering di pakaiannya.
"Ehem ... Ehem ...." Tabib Wang Yun masuk ruangan dengan batuk yang di buat-buat.
Di tangan tabib tua itu membawa beberapa jenis ramuan.
Mahesa berdiri menyambut.
"Tabib Wang." Ucap Mahesa seraya membungkuk memberi hormat.
"Hehehe ... Maaf. Saya terpaksa mengganggu kalian. Saya sudah menyiapkan beberapa ramuan obat. Saya harap ini cukup membantu pemulihan kondisi mu." Tabib Wang meletakkan ramuan tersebut di atas meja kecil yang ada disamping pembaringan.
"Seumur hidup, saya akan selalu mengingat kebaikan Tabib Wang. Bahkan hingga kehidupan selanjutnya, saya tidak akan mampu membalas budi baik Tuan Tabib." Mahesa masih dalam posisi membungkuk.
Tabib Wang Yun tertawa ringan. Seraya menepuk pundak Mahesa.
"Kau terlalu berlebihan. Aku merasa malu, harus mengakui menyembuhkan dirimu. Aku hanya membantu sedikit. Kau lah yang mampu membuat kesembuhan." Kemudian, Tabib Wang Yun mengajak Mahesa untuk duduk.
"Racun Tengkorak adalah racun terbaik yang pernah ada. Dalam mimpi sekalipun, aku tidak pernah bisa menyembuhkan. Tapi dirimu ... Kau seorang Pendekar yang luar biasa." Puji Tabib Wang Yun.
"Meski masih muda, Dirimu sudah mampu menguasai ilmu tenaga dalam tingkat tinggi dengan sempurna. Kemampuan itu lah yang membuat tubuhmu bertahan saat terkena Racun Tengkorak. Hehe... Sudah saatnya kita berpisah. Bukannya aku tidak senang. Belakangan ini terlalu banyak kejadian diluar nalar. Meski aku percaya kau tidak terlibat, tapi aku harus memikirkan pasien-pasien ku yang lain."
"Saya mengerti maksud Tuan Tabib. Keberadaan Tuan Tabib sangat diperlukan oleh orang banyak. Saya akan merasa sangat berdosa, jika karena saya, Tabib Wang Yun terlibat masalah." Mahesa mengeluarkan bungkusan dari dalam sakunya.
"Saya berniat membantu orang-orang tidak bersalah yang terluka karena perbuatan saya. Saya yakin, Tabib bersedia menyembuhkan mereka. Mohon untuk Tabib sudi menerima."
Tabib Wang Yun tersenyum. "Karena identitas mereka menyamai mu, mengapa kau harus merasa bersalah?"
Mahesa menarik napas panjang.
"Hehehe... Jika sulit, kau tidak perlu menjawabnya. Baiklah, aku akan pergunakan uang ini untuk menyembuhkan orang yang terluka karena perbuatan Pendekar Topeng Perak." Tabib Wang Yun tersenyum kemudian kembali menepuk pundak Mahesa.
"Aku percaya kau bisa mengatasi masalah berat ini. Kalau begitu, aku permisi." Tabib Wang Yun bangkit dan melangkah keluar pondok.
"Terimakasih Tabib Wang." Ucap Mahesa dan Puspita bersama. Keduanya membungkuk hormat.
Tabib Wang Yun menarik daun pintu. Baru satu ayunan langkah, tiba-tiba terdengar suara orang dari luar.
"Tabib Wang Yun, kiranya Anda disini. Aku sudah berulang kali mendatangi tempat praktek mu."
Suaranya mengandung getaran tenaga dalam tinggi. Pasti dia bukan orang sembarangan. Mahesa dan Puspita saling pandang. Mahesa hendak melangkah keluar untuk memastikan siapa yang datang.
"Tuan Muda, sebaiknya jangan." Bisik Puspita. Sambil memegangi tangan Mahesa. Firasat nya mengatakan, bukan pertanda baik. "Izinkan saya untuk memeriksa."
Mahesa mengangguk. Dia perlu mencari tahu titik permasalahan terlebih dahulu. Menurut cerita Tabib Wang Yun, dunia persilatan saat ini sedang mencari keberadaannya. Mahesa yakin, Pendekar yang berada diluar pondok mempunyai tujuan yang sama.
"Ah, Tuan Rangga Wuni. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu seorang tokoh persilatan yang terhormat. Apa ada yang bisa saya bantu Tuan Pendekar?" Tabib Wang Yun menuruni pondok dengan langkah tenang.
Pendekar yang berada dihadapannya adalah tokoh aliran putih. Adik kandung Rangga Sena. Sebenarnya, Tabib Wang Yun sudah bisa menebak maksud kedatangan Rangga Wuni. Pasti berhubungan dengan Pendekar Topeng Perak.
"Akhir-akhir ini, Tabib Wang terlihat sangat sibuk." Ujar Rangga Wuni kemudian. Matanya menatap menyelidik.
Tabib Wang Yun tertawa ringan.
"Hehehe ... Kehidupan seorang tabib tidak pernah berubah. Terlebih, belakangan sangat banyak orang terluka mendatangi kediaman ku. Aku harus ekstra mencari ramuan yang diperlukan."
Rangga Wuni memandangi pondok.
"Mencari ramuan? Apa Tabib Wang menyimpan nya di dalam pondok?"
"Hehehe ... Kebetulan saya melintas, ada orang yang memerlukan pertolongan saya. Sebagai Tabib, tentu saya tidak bisa menolak." Jawab Wang Yun berbohong.
Rangga Wuni memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa isi pondok. Saat itu, Puspita membuka pintu dan menampakkan wajahnya.
Melihat Puspita, Rangga Wuni menyipitkan mata. Meski cantik, wajah Puspita terasa sangat asing.
"Nona, mengapa Anda sudah keluar rumah?" tanya Tabib Wang.
Puspita menangkap dengan baik sandiwara Tabib Wang. Puspita tersenyum dibuat-buat, seolah senyum yang dipaksakan membalut rasa sakit.
"Saya mendengar Tabib Wang bercakap dengan seorang pria. Saya mengira suami saya sudah pulang. Maaf." Puspita berbalik badan berniat masuk lagi.
"Tunggu dulu !!!" suara Rangga Wuni menghentikan langkah Puspita.
"Kami sedang mencari seorang penjahat yang memakai topeng berwarna perak. Aku harap, kalian tidak berusaha melindungi penjahat itu."
"Penjahat?? Di dalam pondok saya, tidak ada siapa-siapa Tuan Pendekar. Saya hanya hidup berdua bersama suami saya. Hari ini, suami saya sedang pergi berburu kehutan. Sementara saya sakit perut. Untung saja, Tabib Wang bersedia menolong." Puspita menunjukkan ekspresi memelas.
Tabib Wang Yun menarik nafas lega. Sebelumnya, dia cemas gadis itu tidak bisa mendukung sandiwaranya. Rupanya dia gadis cerdas.
"Benarkah? Memandang Tabib Wang yang baik hati, aku bisa percaya perkataan kalian. Akan tetapi, ada baiknya izinkan kami untuk memeriksa pondok Nona." Rangga Wuni bersikeras.
"Kami tidak ada hubungan dengan Topeng Perak yang Tuan maksud. Mengapa Tuan begitu curiga?" tanya Puspita. Jantungnya berdebar. Mahesa baru saja akan sembuh, sangat buruk jika harus berhadapan dengan pendekar besar setara Rangga Wuni.
"Topeng Perak adalah komplotan Paron Geni dari Aliansi Bunga Suci. Dia merupakan penjahat besar yang harus ditangkap. Jika tidak, Topeng Perak akan terus menebar kerusakan. Kami sebagai Kelompok Aliran Putih, tidak akan membiarkan itu terjadi. Tolong Nona jangan persulit kami." Rangga Wuni mencoba membujuk Puspita. Dalam hatinya, sebenarnya dia menaruh curiga pada gadis asing itu.
"Maaf, Tuan Pendekar. Bukannya Topeng Perak adalah Pendekar Aliran Putih? Saya mendengar berita mereka bertarung di sumur batu. Apa berita yang saya dengar itu salah Tuan? Mohon maafkan kelancangan saya."
Mendengar pertanyaan Puspita, Rangga Wuni menatap dengan tajam. Dia tahu Puspita memiliki ilmu Kanuragan, dia seorang gadis pendekar. Hal itulah yang membuat Rangga Wuni masih menjaga kehormatan nama besar nya sebagai tokoh aliran putih terhormat.
"Nona, saya tahu Anda seorang pendekar wanita. Baiklah. Saya akan jelaskan duduk perkara yang sebenarnya." Rangga Wuni mengalihkan pandangannya pada Tabib Wang yang juga terlihat serius mendengarkan.
"Hingga hari ini, Paron Geni masih hidup. Bahkan Setan Darah dan kelompoknya masih berkeliaran. Sementara, Pendekar Topeng Perak juga tidak diketahui asal-usulnya. Kami berhasil membuka kedok Pihak Aliansi Bunga Suci mengenai Pendekar Topeng Perak. Sebenarnya, Pendekar Topeng Perak adalah kaki tangan Kelompok Hitam. Dia dipergunakan untuk memecah belah dunia persilatan. Setelah itu, dia dimunculkan sebagai seorang pahlawan. Racun Tengkorak, hanya bagian dari sandiwara Paron Geni. Jadi, jika Nona mengetahui atau pernah melihat keberadaan Topeng Perak, tolong beritahu kami."
Selesai bicara, Rangga Wuni memberi kode pada anak buahnya untuk masuk memeriksa.
Puspita Dewi dan Tabib Wang Yun saling pandang. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Jantung Puspita Dewi berdetak lebih kencang. Gadis itu meningkatkan kewaspadaan. Kapan saja, dia siap untuk bertarung. Detik demi detik berlalu begitu lamban.
Sementara, Mahesa yang ikut mendengarkan pembicaraan dari balik bilik, mengepalkan keras kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak bisa menerima apa yang baru saja didengarnya.
"Mengapa semua kesalahan dilimpahkan padaku?" Desis Mahesa dengan nafas memburu. Mahesa menggigit bibir bawahnya, menahan amarah yang meluap-luap.
"Kreeeekkk...." Pintu pondok terbuka.
Beberapa orang pendekar memasuki pondok.