By She_Vent
Seperti orang yang hilang akal Kalycha senyum-senyum sendiri sambil menggigit kuku jari telunjuknya. Ia sangat terpesona dengan ketampanan pria yang berdiri di depannya itu.
"Hello... Are you okey?" Pria itu menjentikkan jarinya di depan Kalycha membuat Kalycha tersadar dari lamunannya.
"I'm fine. Sorry I did not mean it. (Saya baik, maaf saya tidak sengaja)"
"Oke ga masalah" menjawab dengan cool, lalu berjalan meninggalkan Kalycha. Namun baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar teriakan Kalycha.
"Kak... boleh minta nomor HPmu?"
🎀 Penasaran kelanjutan Ceritanya???
Kepoin yuk 😂
Semoga kamu semua terhibur 🤗
👉 Bebas Komentar apa saja yang penting tetep Sopan ya 👍
👉 Bebas Promo, Iklan dan Lain-lain
Disini mah kita BEBAS yang penting HAPPY 😃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon She_Vent, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat
Kesedihan Pramudja akan kepergian putrinya tak dapat lagi ia bendung. Airmatanya menetes tepat setelah pesawat yang ditumpangi Kalycha lepas landas. Tak ada lagi keceriaan Kalycha yang mengisi kediamannya.
Nayla menghapus lembut punggung suaminya. Ia tahu betul bagaimana perasaan Pram saat ini.
Namun bukan hanya Pram yang merasakan kesedihan itu. Kalycha juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa egonya belum bisa dikuasainya. Airmatanya terus mengalir meskipun tertutup oleh sunglasses yang ia pakai.
"Kalau Nona sangat bersedih kenapa Nona harus keras kepala?" Haidar memberikan tissue kepada Kalycha yang duduk disampingnya tanpa menoleh kearahnya.
"Apa maksudmu? Jangan kurang ajar kamu ya?" ucap Kalycha setengah berteriak, ia tidak terima kalau Haidar mengatai dirinya keras kepala.
"Pelankan suaramu Nona–, apa anda tidak malu di liatin orang-orang?"
Kalycha mengedarkan pandangannya dan benar saja penumpang pesawat itu mayoritas adalah orang Indonesia yang bertujuan sama dengan Kalycha sedang melihat kearahnya. Namun Haidar masih tetap bersikap dingin dan datar padanya. Saat ini ia punya hak khusus dalam menjaga Kalycha. Apapun ia boleh lakukan untuk membuat Kalycha agar kembali lagi bersamanya seperti yang sudah ia janjikan pada Tuannya.
"Kau yang memulainya, kenapa kau bilang aku keras kepala?"
"Karena memang kenyataannya anda itu keras kepala dan sangat egois dan sayangnya anda tidak menyadari itu." Haidar tersenyum sinis
"Iissh, kalau ga karena Daddy yang meminta, aku ga akan sudi pergi bersamamu–!" Kalycha mengalihkan pandangannya keluar jendela pesawat menatap awan yang terasa sangat dekat dengannya.
"Anda kira saya sudi pergi bersama anda? Bocah manja yang tidak tahu berterima kasih."
"Laki-laki gila, awas aja akan ku laporkan sama Daddy atas sikap kurang ajarmu ini."
"Silahkan dan dengan senang hati. Sayangnya kau tidak punya lagi hak untuk protes Nona, mulai anda menginjakkan kaki anda dipesawat ini anda sudah menjadi tanggung jawab saya. Dan anda harus mengikuti semua aturan saya. Karena segala sesuatu yang ada perlukan selama anda tinggal di Jerman akulah yang akan mengaturnya dan suka atau tidak suka anda harus mengikuti aturan saya."
"Apa? gila nih orang berani sekali bersikap kurang ajar. Apa dia ga tahu kalau aku itu putri pengusaha ternama di Asia Eropa." Batin Kalycha.
"Hello...Are you out of your mind (apa kau sudah gila)?" Kalycha memutar-mutar jari telunjuknya di kepalanya.
"Anda boleh bertanya langsung dengan Tuan Pram begitu nanti kita mendarat. Semua kebutuhan dan keuangan Nona sayalah yang akan mengaturnya."
"Akan ku pastikan kau akan bertekuk lutut Nona manja." Batin Haidar.
"Sial–" umpat Kalycha tapi masih dapat terdengar oleh Haidar.
Kalycha memasang headphone ditelinganya ia tidak ingin lagi berdebat dengan Asisten Daddynya itu. Ia lebih memilih mendengar musik dan tidur karena perjalanan mereka masih panjang.
"Dad, Daddy tidak akan melakukannya kan?" Batin Kalycha dan airmatanya kembali menetes.
...🍥🍥🍥...
Sepulang Dari Mall
Kalycha sangat senang bisa menikmati waktu bersama Daddynya sebelum keberangkatannya ke Jerman. Tadinya ia ingin makan bersama di Restoran favoritnya namun karena Pram berjanji pada Nayla akan makan malam dirumah akhirnya mereka memutuskan untuk pulang kerumah.
Sesampainya dirumah Kalycha dikejutkan dengan kedatangan teman-temannya. Ia melihat yang Nayla sangat gugup melihat murid-muridnya itu memandang pigura foto pernikahannya.
"Kalian ngapain kesini?" Nayla gugup dan bingung melihat Jenny Amanda Kevin Boby dan Frans yang sedang berdiri dan menatap dirinya bergantian lalu menatap ke pigura foto pernikahannya.
"Bu Nay, Mama tirinya Icha?" pertanyaan Jenny mengejutkan semua isi rumah itu. Apalagi Kalycha saat ini tepat berdiri di belakang teman-temannya.
Nayla tidak memperdulikan ucapan Jenny ia langsung menghampiri Kalycha "Sayang kalian sudah pulang." ucapan basa-basi dari Nayla menaikkan sedikit sudut bibir Kalycha
Jenny Amanda Alvin Boby dan Frans pun spontan melihat kearah Kalycha.
"Ngapain mereka datang kesini?" Batin Kalycha.
"Sudah Bu." Kalycha bersikap tenang toh tak ada lagi yang perlu disembunyikan dari teman-temannya mereka sudah melihat bukti nyata didepan mata mereka.
"Kalian ngapain kesini?" Kalycha mempersilahkan teman-temannya untuk duduk.
"Kalian teman-temannya Icha?" tanya Pram.
"Iya Om–" jawab mereka serentak.
"Iya sudah lanjut aja ngobrolnya ya, Om masuk ke dalam dulu." Pram merangkul bahu Nayla mengajaknya masuk kedalam.
"Iya Om–" jawab mereka bersamaan lagi.
Pram dan Nayla masuk kedalam, meninggalkan Kalycha bersama teman-temannya.
"Cha, beneran Bu Nayla itu Ibu tiri lo?" Jenny mengulang pertanyaan yang belum di jawab oleh Nayla tadi.
"Seperti yang lo lihat."
"Kok lo ga pernah cerita sih Cha?" tanya Amanda.
"Apa pentingnya–?" jawab Kalycha datar.
"Kenapa lo jadi berubah gini Cha?" tanya Jenny penasaran dengan perubahan sikap Kalycha.
"Sama aja, emang apa yang berubah dari gue?"
Alvin hanya memperhatikan wanita pujaannya itu. Ia merasa ada yang tak beres dengan Kalycha.
"Lo ada masalah Cha?" Frans tak dapat lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Ga ada–" jawab Kalycha singkat.
"Kalau lo ga ada masalah, kenapa lo ga sekolah dua hari ini?"
"Siapa lo mau tau urusan gue."
Alvin berdiri lalu berkata "Sebaiknya kita pulang, sepertinya kita salah alamat. Benar katamu Man, setiap Rumah banyak cicaknya dan ini bukan rumah sahabat yang kita kenal. Ini hanya rumah cicak biasa kita juga sudah salah orang. Maaf–!" Alvin keluar tanpa permisi lagi kepada Nayla gurunya dan juga Ayah Kalycha.
Alvin sangat kecewa dengan sikap Kalycha. Ia keluar tanpa menunggu teman-temannya yang lain.
"Maaf, aku ga bermaksud kasar sama kalian." Batin Kalycha.
"Cha ajak temannya makan malam dulu yuk!" Nayla baru saja datang dari dapur.
"Maaf Bu, kamu permisi pulang dulu. Nanti takut kemalaman sampe rumah. Terimakasih atas tawarannya Bu–." Amanda memberi alasan lalu pamit di ikuti Jenny, Boby dan Frans.
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya–" Nayla mengantarkan murid-muridnya keluar sampai mereka benar-benar pergi.
Nayla masuk kedalam rumah dan tidak melihat lagi keberadaan Kalycha, ia tahu kalau Kalycha marah dan kesal karena saat ini teman-temannya sudah mengetahui hubungannya dengan Nayla.
Nayla meminta Bi Nani untuk mengantarkan makan malam Kalycha ke kamarnya. Karena malam itu Kalycha tidak keluar lagi dari kamarnya.
...🍥🍥🍥...
Bandara Internasional Jerman Frankfurt.
Kalycha dan Haidar sedang menunggu salah satu Sekretaris perusahaan keluarga Bramasta yang ada di Jerman.
"Tuan Haidar–" Seseorang berlari mendekati Haidar dan Kalycha.
"Peter, apa kabar?" Haidar mengulurkan tangannya.
Peter Muller adalah salah satu orang kepercayaannya Pramudja di Jerman dan selama Pram tidak ada Peter lah yang mengelola semua perusahaan Liemasta Group yang ada di Jerman. Peter keturunan Jerman Indonesia, Ibunya adalah orang Indonesia dan Ayahnya asli dari Jerman tepatnya dari pulau Usedom.
Pulau Usedom di Laut Baltik terkenal karena "nyanyian pasirnya". Dengan kondisi angin yang tepat, butiran pasir bergesekan untuk menciptakan hiruk-pikuk suara-suara aneh. Sementara pantai yang damai dan bermandikan cahaya matahari memancarkan surga bagi para penikmatnya, pedalaman pulau memberikan pemandangan yang unik untuk dijelajahi.
Yang lebih tepatnya Penduduk asli dengan sayang menyebut pulau Wadden Sea ini Towerland (Tanah ajaib) dan pulau itu tentu hidup sesuai dengan namanya. Pantai-pantai yang luas dan pantai-pantai yang indah dan yang lebih unik pulau ini bebas mobil, jadi kamu tidak akan menemukan kendaraan roda empat disana.
Peter menyambut uluran tangan Haidar. "Baik Tuan, maaf saya terlambat."
"Tidak masalah, kami juga baru sampai."
"Nona Kalycha apa kabar?" sapa Peter.
"Siapa laki-laki ini? Perasaan dulu orang ini tidak pernah bersama Daddy. Bagaimana dia tau namaku."
"Gut– (Baik)" jawab Kalycha datar.
"Bitte bringen Sie die Sachen von Herrn Haidar zum Auto. (Tolong bawa barang-barang Tuan Haidar ke mobil)" Perintah Peter pada supirnya.
"Jawohl (Baik Tuan)." jawab supir itu.
Sopir itu pun membawa semua barang-barang Haidar dan juga Kalycha. Namun begitu sampai di depan Mobil Kalycha menghentikan langkahnya.
"Sial, aku harus duduk dimana? Apa aku duduk didepan saja bersama supir?"
"Masuklah Nona–" Haidar sudah membuka pintu belakang mobil untuk Kalycha.
Mau tidak mau Kalycha pun akhirnya masuk kedalam kemudian Haidar duduk disebelahnya.
"Ish kenapa sih si muka datar ini harus duduk disampingku?"
"Peter, apa kau sudah mencarikan yang ku minta padamu?" tanya Haidar saat mereka sudah memasuki mobil.
"Sudah Tuan, dan sekarang kita langsung kesana."
"Apa sih yang mereka bicarakan?"
"Aku ingin kerumah Uncle Brown." Kalycha mengutarakan keinginannya.
"Maaf Nona seperti yang saya ucapkan sebelumnya dipesawat bahwa selama Nona berada di Jerman Nona adalah tanggung jawab saya. Mau tidak mau, suka tidak suka anda harus mengikuti keputusan dan peraturan saya. Dan mulai saat ini Nona dilarang menggunakan handphone." Haidar langsung menarik ponsel yang ditangan Kalycha. "Dan jika Nona ingin menghubungi seseorang atau Tuan sekalipun Nona bisa meminta kepada saya terlebih dahulu."
"Apa-apaan kamu? Kenapa kamu jadi ngelunjak begini?" Teriak Kalycha namun Haidar tidak perduli. Hanya saja seorang supir yang sedang memperhatikan mereka hanya bisa bingung karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan ributkan.
"Sepertinya anda harus mendengarnya langsung dari Tuan."
Haidar mengeluarkan Ponselnya lalu menghubungi Tuannya itu. Haidar memang sudah di tugaskan untuk tidak membawa atau membiarkan Kalycha bertemu apalagi berhubungan dengan Brown Liem saudara laki-laki Ilona. Karena salah satu alasan Pramudja kembali ke Indonesia adalah untuk menghindari Iparnya itu.
"Kamu harus ikuti semua perintahnya sayang, itu semua demi kebaikanmu."
Kalimat yang begitu menyayat hati Kalycha kembali di dengarnya terucap dari mulut Daddynya sendiri.
Akankan Kalycha bertahan dengan Peraturan-peraturan Haidar???
Mau Lanjut? Kasih Like dulu dong 😜
tpi mksh thor dh up