Qaireen selalu merasa sendiri, tidak ada yang menyukainya dengan tulus. Semua orang yang dekat dengannya akan memutus hubungan begitu Qaireen hilang dari pandangan mata mereka.
Sampai akhirnya ada satu orang yang datang tiba-tiba dan menyatakan akan membantunya. Qaireen yang tidak percaya dengan orang lagi memutuskan untuk menolak awalnya. Dia masih terus datang tapi Qaireen memperkirakan itu hanya sebentar, paling lama selama satu bulan.
Tapi dia datang lagi, dan lagi. Haruskah Qaireen percaya padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfian Syera Nasution, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terbongkar
"Jadi apa yang kau tahu" tahta Adha tanpa basa-basi setelah mereka duduk di kursi cafe yang tak jauh dari sekolah.
"Aku tahu setengah siluman karena ayahmu adalah siluman. Aku tahu kakekmu berbohong tentang jantung siluman dan hidupmu" jawab Amira serius.
"Apa maksudmu" Adha mulai tak sabar.
...****************...
Flashback
Amira sengaja berkunjung diam-diam ke dunia siluman, dia hanya ingin mengobati rindu pada dunia itu.
Amira menghentikan perjalanannya begitu melihat orang yang mencurigakan di balik pintu gerbang antara dunia siluman dan manusia. Dari hawa yang dirasakan Amira, dia memiliki aura siluman yang cukup kuat.
Amira menggunakan kekuatan untuk menyembunyikan keberadaannya sesuai yang dia pelajari di sukunya.
"Aku tahu kau membuat anak itu membunuh banyak siluman. Dia tidak bersalah. Aku yang bersalah mencintai putrimu" ucap siluman itu.
"Kau harus merasakan bagaimana sakitnya kehilangan anak dan melihat anak mu membenci dirimu" jawab kakek adha.
"Hentikan semua omong kosong ini dan kembalikan padaku Lilia, dia akan tersiksa kalau kau terus begini. Berapa lama lagi dia akan bertahan" jawab siluman itu marah.
"Aku akan mencari mutiara kehidupan siluman yang sama persis dengan milikmu dan akan ku kembalikan dia seperti semula, dia putriku dan jangan mengaturku"
"Kau yang bersalah atas apa yang terjadi pada Lilia. Dia seperti itu karena kau mencoba mengambil mutiara kehidupan itu secara paksa"
"Kembalikan dia padaku dan aku akan membantunya kembali" bujuk siluman itu.
"Aku gak sudi putriku menjadi siluman sepertimu. Berikan saja apa yang ku butuhkan" jawab kakek adha setengah berteriak.
"Kalau bukan karena kesalahan mu dia gak akan mungkin jadi begitu. Berhenti membuat adha membunuh, berhenti membohonginya" balas siluman itu sambil memberi botol kecil yang berkilauan lalu hilang begitu saja.
...****************...
"Kau bisa menyimpulkan semua dari apa yang kau dengar barusan. Kau bisa hidup tanpa jadi pembunuh atau pemburu" Amira menyimpulkan sendiri.
"aku yakin ibumu masih ada di suatu tempat tapi aku tidak yakin keadaannya dan saranku kau harus merahasiakan ini dari kakekmu. Kau lebih tahu watak kakekmu bagaimana" tambah Amira lagi.
Adha diam seribu bahasa. Dia gak mau percaya dengan keberadaan yang baru saja dia dapat. Baik ayah dan ibunya yang masih hidup dan kakeknya yang tega membohongi dia selama bertahun-tahun.
Sudah berapa banyak siluman yang sudah dia bunuh hanya karena kebohongan kakeknya. Dadanya terasa sesak, air matanya bahkan mengalir tanpa dia sadari.
Adha mencoba berdiri namun kakinya gak kuat untuk menopang.
"apa aku bisa mempercayaimu" tanya Adha akhirnya.
"Kau bisa mempercayaiku, kau juga bisa mengandalkan ku" ucap Amira tulus.
...****************...
Adha kembali ke sekolah dengan tatapan kosong. Dia gak tahu harus bersikap pada hidupnya sekarang. Pertanyaan muncul bertubi-tubi di benaknya.
Apa benar ibunya masih hidup? Kalau iya dimana ibunya? Bagaimana sosok ayahnya dan kenapa kakeknya melakukan semua itu padanya.
Adha terus berjalan dan sampai di ruang OSIS. Qaireen yang kebetulan ada untuk meminjam cadangan baju olahraga, karena bajunya basah terkena tumpahan air. Dia melihat kegelisahan dan kesedihan adha bahkan dia melihat adha menangis di hadapannya.
Adha berjalan mendekati Qaireen dan memeluknya, tangisnya tambah pecah disana. Qaireen heran dengan sikap adha dan ikut merasakan kesedihan adha.
Kesedihan yang sering dia rasakan saat dua merasa sendiri. Qaireen membalas pelukan Adha sambil memeluk punggungnya.
"Semua akan baik-baik saja, aku yakin" ucap Qaireen walau dia tak tahu apa-apa.
"a-pa yang ha-rus kulakukan. Sia-pa yang harus ku per-caya sekarang" tanya Adha gagap karena tangisannya.
"semua akan baik-baik saja" ucap Qaireen lagi.
Setelah keadaan adha mulai membaik. Qaireen beranjak dari sana dan membuka pintu hendak keluar. Dia terkejut melihat Adnan ada di depan pintu.
"Kau udah lama di sana" tanya Qaireen takut Adnan salah paham.
"Apa aku mengganggu kalian jika itu benar" balas Adnan sambil mengepal tangannya kuat dan menatap adha dengan tajam.
"bukan, aku takut kau salah paham" jawab Qaireen berharap adnan mengerti.
"Untuk apa aku begitu, aku gak punya hak untuk itu" balasnya.
"Aku hanya membantunya" ucap Qaireen akhirnya sambil menjauh dari sana.
Adnan masuk ke ruang OSIS dengan amarah yang susah terbakar. Dia berencana membunuh Adha saat itu juga.
"Kau bisa mencari siluman untukku" ucap Adha dengan tatapan sedih.
Ucapan Adha membuat adnan menghentikan niatnya. Dia baru sadar apa yang terjadi pada adha sekarang.
"Katanya ayahku adalah seorang siluman, kau bisa mencarinya untukku? Atau kau bisa membunuhku sekarang karena aku sudah membunuh siluman yang tidak bersalah" ucap Adha menyerah.
"Apa yang kau katakan"
"Bunuh aku sekarang, karena aku sudah banyak membunuh bangsa mu" jawab Adha setengah berteriak.
"Apa yang terjadi" adnan merasa iba bagaimana pun dia sudah cukup lama mengenal adha walaupun sebagai rival.
"Kau tahu, seorang siluman datang padaku dan memberi tahu semuanya"
"Katanya ayahku seorang siluman, ibuku yang sudah lama ku anggap meninggal ternyata masih hidup" tambah Adha.
"Aku sangat merindukan mereka di setiap waktuku dan aku tahu sekarang mereka hanya mengabaikan ku" ucapnya lagi prustasi.
"tolong Carikan siluman itu, biar aku bisa bertanya alasan dia meninggalkan aku dan ibu"
Amarah Adnan menghilang setelah mendengar semua ucapan Adha. Walaupun dia siluman dia masih punya perasaan dan ikut merasakan apa yang telah menimpa Adnan.
Adnan meraih bahu adha dan menepuknya dengan lembut selama beberapa kali.
"Kalau itu membuatmu lebih baik, aku akan bawa ayahmu padamu suatu saat nanti. Aku akan mencarinya"
Qaireen yang memang memutuskan untuk kembali ke ruang OSIS karena takut Adnan dan Adha bertengkar, mendengar semua dengan jelas.
Dadanya juga terasa sesak, karena mengingat dan merasakan kembali apa yang terjadi dulu. Saat dia sendiri dan tidak siapapun memihak padanya. Bahkan saat ini keluarganya tak peduli padanya.
...****************...
Adnan berdiri di depan jendela kaca yang besar. Dia masih memikirkan siapa kemungkinan siluman yang menjadi ayah Adha dan siapa yang memberi tahu pada adha mengenai semua itu.
Qaireen baru masuk dan melihat Adnan sekilas.
"Kau baru pulang? Ini udah malam" tanya Adnan.
"Aku kembali bekerja partime dan hari-hari berikutnya aku akan pulang malam juga" ucap Qaireen datar.
"Banyak siluman yang mengincarmu di malam hari belum lagi manusia jahat, itu bahaya untukmu" jawab Adnan khawatir.
"Itu bukan urusanmu? Hubungan kita tak perlu saling mengkhawatirkan. Kau sendiri yang bilang kau juga gak punya hak untuk salah paham" balas Qaireen kesal mengingat sikap Adnan tadi siang padanya.
Mereka saling tatap dengan perasaan masing-masing.
Bersambung.....
blm mudeng aqu....
tlg dong, thor....