Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Malam hari ini terasa dingin, bulan bersinar terang dengan taburan bintang di langit malam.
Tiupan angin sedikit tak ter'arah menyapu rambut bu tania yang terurai di teras rumah, rasa cemas selalu melanda hatinya dikala hubungannya dengan gatra sudah lebih jelas yaitu pernikahan.
Ia mencoba berkali-kali menghubungi gatra tapi selalu saja tak di jawab, bahkan entah berapa puluh kali pesan yang ia kirim tetap saja centang dua itu tak berubah warna menjadi biru.
"Apa gatra gak akan pulang lagi?" pikir bu tania cemas, kemarin malam saja dengan gampangnya gatra tak pulang ke rumah dengan alasan yang tak jelas arahnya.
Namun kali ini suara derungan mesin dan sorot lampu mobil datang dan berhenti di halaman rumah bu tania.
"Gatra, akhirnya dia pulang" ucap bu tania sedikit lega setelah kaki gatra turun dari mobil
Gatra memainkan kunci dengan memutarnya dengan jari telunjuknya sambil bersiul ria penuh senyuman bangga.
"Hei bu" sapa gatra tanpa rasa berdosa, padahal bu tania sudah tersenyum manis sekali pada gatra sambil mengulurkan tangannya hendak mencium tangan gatra
"Siapin air hangat, saya mau mandi" teriak gatra sambil melepas kemejanya, bu tania pun menyiapkan air hangat untuk gatra mandi sambil tersenyum ramah ke arah gatra yang sedang mencuci mukanya menghadap cermin di kamar mandi.
"Kamu habis dimana?" tanya bu tania menyelidik
Gatra terdiam sejenak sambil menoleh ke arah bu tania, ia berpikir juga tak mungkin ia terus menerus berpacaran dengan maudy dibelakang bu tania yang kini sudah menjadi istrinya. lama lama ya ketauan juga, pikirnya.
"Saya ditempat raka" jawab gatra kembali mengusap wajahnya dengan handuk kecil "keluar bu saya mau mandi" suruhnya
"Kamu sama raka? tapi saya tanya haris dia gak sama kamu" ucap bu tania menghentikan langkahnya di samping tubuh gatra
Gatra menghela nafas panjangnya "saya kan sama raka, bukan haris" perjelas gatra, bu tania tersenyum sinis menatap mata gatra "tapi haris itu tadi sama raka ditempat raka, puas" sungut bu tania dengan nada tegasnya
Gatra tersenyum lebar sambil mengelus rambut bu tania "keluar ya bu, saya mau mandi" ucapnya halus namun tetap menyoroti mata bu tania dengan tajam
Ancaman yang dibalut dengan perlakuan manis dan kata kata indah, sungguh bu tania tak bisa menolak bahwa ia pun termakan buaian gatra.
"Tapi kamu masih belum jelasin kenapa kamu sering pergi dari rumah ini?" tanya bu tania lagi dengan nada lembutnya
"Kalau saya bilang keluar, keluar!!!!" bentak gatra dengan suara kerasnya yang bergema di dalam kamar mandi.
Seketika bu tania mengurut dada nya pelan, bentakan itu bukan hanya mengejutkan telinga nya tapi juga hatinya.
Matanya langsung berlinang air mata, ia tak sangka gatra bisa semarah itu padanya.
"Tolong bu, keluar" suruh lagi gatra sambil berjalan ke arah pintu membukakan pintu selebar mungkin
Bu tania mendorong tubuh gatra dengan kasar "satu orang pun gak ada yang pernah bentak saya, bahkan almarhum orangtua saya gak pernah bicara kasar sama saya. kamu memang suami saya, tapi kamu gak bisa bentak saya seenaknya" ucapnya dengan getir sembari menatap tajam wajah gatra
Gatra mengepalkan tangannya kasar dan memukul tembok dengan sekuat tenaganya tanpa merasakan sakit karena amarahnya yang benar-benar memuncak.
"Ibu ngerti gak sih saya mau mandi?" tanyanya sambil mengalihkan pandangannya
Bu tania pun mengusap air matanya dan pergi keluar dari kamar mandi, gatra menatap punggung bu tania sambil menggeleng kepalanya.
Setelah gatra membersihkan badannya ia pun pergi menghampiri bu tania yang sedang menyusun piring untuknya makan "makan dulu" ucap bu tania
"Saya gak laper, saya cuma mau bilang besok saya kerja bangunin saya pagi pagi" kata gatra langsung kembali ke tempat tidurnya.
Bu tania menghela nafas panjangnya ia baru saja selesai masak untuk suaminya, ia kira gatra akan mau makan bersamanya namun ternyata hanya tolakan yang ia dapat.
"Sabar tania, kamu pasti bisa dapetin hati gatra" ucapnya menyemangati diri sendiri sambil tersenyum
Malam ini maudy berbaring di tempat tidur seorang diri karena memang ia tinggal di apartemen itu sendirian. orangtuanya tetap akan tinggal di singapura karena, bisnis nya melesat disana.
Maudy merasa senang bisa bertemu bahkan kembali bersama lelaki yang juga masih sangat ia cintai dan sayangi, yaitu gatra.
Walaupun tak menutup kemungkinan bahwa maudy telah memiliki beberapa mantan kekasih di luar negeri, tapi cintanya untuk gatra masih tetap tersimpan rapih.
"Maudy, besok aku kerja. aku gak bisa ke tempat kamu" gatra mengirimkan sebuah pesan pada maudy
Maudy hanya membacanya saja karena sebenarnya gatra sudah mengatakan ini berulang kali sejak tadi sore sebelum ia pulang dari tempat maudy.
Esok hari, matahari bersinar amat terang menandakan cuaca yang cukup bagus. bu tania sudah menyiapkan air untuk gatra mandi, pakaian dan juga sarapan.
"Ibu ke kampus hari ini?" tanya gatra sambil menikmati sandwich buatan bu tania
"Saya hari ini mau ke pabrik" jawab bu tania mencoba membuat gatra agar tertarik mengobrol lebih padanya
Namun diluar ekspektasi gatra hanya menganggukkan kepalanya tanpa bertanya ke pabrik mana, pabrik apa bahkan sama siapa.
"Kenapa gatra diem aja?" pikir bu tania sambil beberapa kali melirik wajah gatra
"Dret...dret.."
Pesan datang ke handphone milik gatra, ia membukanya sambil cengengesan girang. siapa lagi yang bisa membuat gatra tersenyum selebar itu hanya karena membaca pesan jika bukan dari maudy.
"Aku bosen kalo cuma di apartemen, aku jalan jalan ke mall ya. kamu jangan sampe genit di kantor, kapan kapan ajak aku ke kantor, oke?" pesan maudy
"Bu saya berangkat" ucap gatra menarik tasnya dan pergi, lagi lagi uluran tangan bu tania tak mendapatkan balasan dari gatra.
Gatra sengaja langsung pergi karena ia tak mau bu tania curiga kalau ia terus tak bisa menahan senyuman di bibirnya karena pesan dari maudy.
"Hallo" sapa maudy diujung telepon setelah mengangkat telepon dari gatra
"Ke mall sama siapa?" tanya gatra sambil mengemudikan mobilnya pelan ke arah kantor
"Sendiri, siang nanti tapi" jawab maudy "oh iya kamu udah di kantor?" sambungnya
"Belum masih dijalan, pulang kerja aku ke tempat kamu. jangan kemana-mana, udah dulu ya maudy" jawab gatra mematikan panggilan teleponnya.
Gatra terus memasang wajah bahagianya bahkan saat ia sampai di kantor.
"Pagi sa" sapa gatra pada marisa yang sedang berdiri merapihkan meja kerja pribadi marisa
"Pagi pak, bahagia banget kayanya" sapa balik marisa dengan ramah
Gatra membalikkan badannya saat ia memegang handle pintu kaca ruangannya "lumayan, sekarang kamu siapin semua yang harus saya kerjain. saya lagi semangat banget nih"
Marisa hanya menganggukkan kepalanya, ia tak menyangka gatra akan sebahagia itu setelah menikah dengan bu tania.
Semoga ini awal yang baik supaya gatra juga bisa berubah jadi lelaki yang bertanggungjawab seperti yang diinginkan pak dario, gumam marisa.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek