Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT
Devan dan Bellinda menikmati sarapan siang mereka dalam diam. Berulangkali Devan melempar pandang ke arah Bellinda yang wajahnya terlihat pucat. Sepertinya nona direktur itu benar-benar sakit.
"Kau ingin ke dokter? Wajahmu terlihat pucat, Bell!" Ujar Devan yang akhirnya buka suara.
Bellinda tak langsung menjawab dan masih menyuapkan makanannya dengan perlahan. Gadis itu mengunyah makanan di mulutnya tanpa selera.
"Aku baik-baik saja. Tak perlu sok perhatian!" jawab Bellinda ketus tanpa melihat ke arah Devan.
Bellinda meletakkan sendok di tangannya, dan beranjak berdiri.
"Aku akan istirahat di kamar. Jangan lupa mengunci pintu jika kau berangkat nanti. Aku tidak ingin diganggu siapapun," pesan Bellinda panjang lebar sebelum gadis itu mengayunkan kakinya meninggalkan ruang makan.
Devan belum sempat menjawab saat terdengar suara pintu kamar yang dibanting. Cepat sekali nona direktur itu masuk ke kamar.
****
[Batalkan semua jadwalku hari ini. Atau kau bisa menggantikanku karena aku tidak ke kantor hari ini.] -Bellinda-
Bellinda mengirim pesan pada Theo.
Tak sampai semenit, balasan dari Theo sudah masuk ke ponsel Bellinda.
[Apa yang terjadi? Kau di apartemen?] -Theo-
[Memangnya dimana lagi? Aku sedang tidak enak badan] -Bellinda-
[Baiklah kalau begitu. Selamat beristirahat] -Theo-
Bellinda menyimpan kembali ponselnya dan merapatkan selimut. Pendingin ruangan di kamarnya sudah di setel ke suhu normal, tapi kenapa Bellinda malah merasa kedinginan? Dan sekarang kepala Bellinda juga berdentum sakit. Mungkin sebaiknya Bellinda tidur dan istirahat, agar rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang.
****
Jam makan siang,
Devan membuka aplikasi pesan berwarna hijau terang di ponselnya. Pesan pertama yang masuk adalah dari Theo sekitar satu jam yang lalu.
[Jadi, apa yang sudah terjadi diantara kalian semalam?] -Theo-
[Aku tak mengerti maksudmu] -Devan-
Theo menelepon.
Segera Devan mengangkatnya.
"Apa maksudmu?" Sergah Devan setelah mengangkat panggilan dari Theo.
"Kau dan Bellinda? Apa kalian lembur sampai subuh?"
Tawa Theo terdengar menggelegar dari seberang telepon. Devan sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Apa kau sedang mengejekku?" Sahut Devan kesal.
"Oh, ayolah! Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa di antara kalian, kan?"
"Kenyataannya begitu. Aku harus bilang apa?"
"Astaga! Kalian dua orang dewasa yang tidur di satu ranjang. Kenapa kau tidak memaksa nona sombong itu semalam?"
Theo masih tak berhenti menggoda Devan.
"Sudahlah! Aku akan menutup telepon kalau kau terus saja membahas hal itu," Devan mulai kesal.
"Tidak, tunggu! Aku hanya penasaran kenapa Bellinda bisa sakit pagi ini setelah kalian tidur sekamar?"
"Mungkin dia kelelahan," jawab Devan sekenanya.
"Kelelahan karena kau ajak lembur?" Goda Theo sekali lagi.
"Astaga! Berapa kali aku harus bilang. Kami tidak melakukan apapun tadi malam!" Devan mulai kesal.
"Tapi ngomong-ngomong kau dimana sekarang?"
"Aku di restorant paman Owen. Banyak pekerjaan yang harus ku tangani," jawab Devan menjelaskan.
"Kau meninggalkan istrimu yang sedang sakit sendirian?"
Nada bicara Theo terdengar tidak senang.
"Tadi Bellinda bilang, kalau dia hanya sedikit pusing saat aku akan berangkat," Devan mencari alasan.
"Aku baru saja menelponnya dan dia tidak mengangkat telepon"
"Benarkah? Aku akan pulang sekarang kalau begitu." Devan buru-buru menutup telepon dari Theo. Pria itu segera turun ke lantai bawah dan menuju ke tempat parkir.
****
Setelah berjibaku dengan aspal hitam selama tiga puluh menit, Devan akhirnya sampai di gedung apartemen nona Bellinda.
Pria itu membuka pintu depan dengan kasar. Rasa khawatir benar-benar memenuhi dada Devan sekarang.
"Bell!" Panggil Devan seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Bellinda di ruang tamu maupun ruang tengah.
Setelah meletakkan makanan yang ia bawa di meja ruang makan, Devan bergegas ke kamar Bellinda. Pria itu membuka pintu dengan hati-hati agar pemilik kamar tidak terganggu.
"Bellinda!" Panggil Devan sekali lagi yang kini sudah masuk ke dalam kamar.
Bellinda terlihat meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang hampir menutupi kepalanya. Devan segera mendekat ke arah nona direktur itu, dan memeriksa kondisinya.
"Bell, kamu baik-baik saja?" Tanya Devan khawatir.
Pria itu sedikit menyibak selimut yang menutupi tubuh Bellinda. Gadis itu terlihat menggigil.
"Bellinda," gumam Devan seraya menaruh punggung tangannya di kening Bellinda.
Panas.
Devan keluar sebentar dari kamar Bellinda untuk mengambil makanan, obat, dan air minum. Tak berselang lama, Devan sudah kembali.
"Bellinda," panggil Devan lembut.
"Hmmm!" Suara Bellinda terdengar serak.
"Kamu harus bangun dan makan dulu sebelum minum obat," bujuk Devan masih lembut.
"Kepalaku sakit, Dev," keluh Bellinda seraya meringis dan memegangi kepalanya yang masih berdentum-dentum menyakitkan.
"Aku tahu."
"Ayo, bangun sebentar!" Devan menyusun bantal agak tinggi agar Bellinda bisa bersandar.
"Aku kedinginan," keluh Bellinda lagi.
Devan merapatkan selimut ke tubuh Bellinda.
"Minumlah dulu!" Ucap Devan seraya mengangsurkan segelas air hangat pada Bellinda. Dengan telaten, Devan membantu istrinya tersebut untuk minum.
Devan membuka bubur yang tadi ia beli saat perjalanan pulang.
"Kau harus makan dulu," bujuk Devan yang mulai menyuapi Bellinda dengan hati-hati.
Meskipun sebenarnya Bellinda sedang kehilangan nafsu makan, Bellinda tetap membuka mulut dan memaksakan diri untuk menelan bubur yang disuapkan oleh Devan.
"Sudah cukup!" ucap Bellinda saat Devan hendak menyodorkan suapan kelima.
Devan hanya mengangguk paham. Biasanya orang sakit memang tidak bisa makan terlalu banyak.
Devan mengangsurkan obat dan segelas air pada Bellinda. Nona direktur itu menelan obatnya dengan cepat.
"Kau bisa istirahat lagi sekarang," ucap Devan yang kembali membenarkan posisi Bellinda agar nyaman berbaring.
Demam Bellinda masih belum turun. Jadi Devan berinisiatif untuk mengompres dahi wanita itu menggunakan handuk basah.
.
.
.
Habis ini Bellinda langsung baper, pura-pura baper, atau tetap gengsi?😶
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠