PERINGATAN!!!
NOVEL INI BIKIN NGAKAK PEMBACA!
"Ini Mengisahkan tentang bocah yang bernama Ardi yang konyol, dia suka sekali memakan coklat dan wafer karamel.
Dia mempunyai kakak yang bernama Astrid, dia suka sekali menganggu kakaknya dengan berbagai cara.
Dia mempunyai sahabat yang bernama Derek, Derek adalah bocah konyol yg suka band seperti Ardi."
Mau tau kisah selanjutnya?
___Silakan Baca___
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiada Tanding, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 24 DUDE3 KONSER (Part 1)
Derek membawa Rooster dan anjing itu berlarian di rumah kami, mencari Astrid. Astrid sudah pergi untuk menemui temannya (pacar, sepertinya). Derek dan aku mengenakan kaus DUDE3 kami, dan terlihat keren.
Dad mengenakan kaus konyolnya yang lain dan celana panjang mengerikan. Dia tidak tampak keren.
Mom setuju denganku dan menyuruh Dad berganti pakaian.
"Dad jangan melakukan crowd surfing,"
pesannya kepada Dad saat kami meninggalkan rumah.
Crowd surfing itu berbaring dengan di sangga dan di gerakkan oleh tangan para penonton. Asyik, kan?
Kemudian, DAD ingat tiketnya disimpan di celana satunya. Jadi, dia kembali untuk mengambilnya. Tapi, Dad tidak menemukan DI MANA-MANA.
...INI MENGERIKAN...
...Aku PANIK!...
Derek berusaha agar tidak panik.
Kami memeriksa di seluruh rumah. Di kamar Astrid, di kamarku, di dapur.
"Jangan khawatir, pasti ada di suatu tempat," kata Dad. Kami memeriksa saku-saku. Kamar tidur, kamar mandi. Kami sudah resmi HISTERIS. Di mana tiketnya?
...YAP! YAP! YAP! YAP! YAP! YAP!...
Rooster berlarian mengejar kami dari ruangan ke ruangan. Itu sangat menyebalkan karena dia menggonggong dan menyakak, membuat semua orang tambah tegang.
Mom mengeluarkan Rooster ke halaman.
Aku sedang memeriksa kamarku lagi saat memandang ke luar jendela dan melihat Rooster bermain-main dengan potongan-potongan kertas. Potongan-potongan itu kelihatan adalah...
...TIKET-TIKETNYA!...
"ROOSTER NAKAL!"
Derek berseru. Tapi, terlambat. Tiket-tiket itu sudah berantakan, tertutup bekas gigitan dan liur anjing.
"Aku akan menempelkannya lagi," kata Dad. "Pasti berhasil." Namun, tidak berhasil. Tiket-tiketnya rusak.
"Mungkin Paman Kevin dan Bibi Alice mau menjual tiket mereka?" Dad bertanya-tanya.
"Jangan mengandalkan itu," tegur Mom.
"Kita akan memikirkan sesuatu," kata Dad.
Tapi, aku terlalu BINGGUNG untuk berbicara sedikit pun. Kami harus segera pergi.
"Aku tak akan pernah bisa mendaptkan anjing," kataku kepada Derek. Itu agak tidak adil, aku tahu, karena itu bukan kesalahnya. Aku hanya sangat marah terhadap anjing ayamnya yang bodoh.
GGGGGrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.
Anisa sudah di sana, menunggu bersama ayahnya. "Ayo kita lihat, mereka mau menerima tiketnya tidak, ya?" ujar Dad. Pria penjaga pintu melirik sekilas cabikan-cabikan tiket dan menggeleng.
"Maaf, Sobat. Tiket tak bisa diterima, terlalu berantakan." Kata penjaga pintu.
Tepat saat keadaan tidak mungkin lebih buruk lagi... Marcus dan ayahnya muncul, menggenggam empat tiket V.I.P ternyata, mereka sekarang memiliki tiket V.I.P. Lebih. Dan ayah marcus menyarankan kami menerimanya. (Marcus tidak mirip ayahnya, yang sepertinya cukup baik.)
Aku SANGAT ingin masuk. Tapi, DAD berkata Anisa dan Derek yang harus masuk. "Karena kita mungkin bisa masuk bersama Paman Kevin."
Aku SANGAT ಠ_ಠ tabah. Aku memberi tahu Anisa dan Derek jika aku benar-benar tidak keberatan dan akan baik-baik saja. Kemudian, aku menyaksikan mereka berempat masuk ke arena konser.
(Dalam hati, aku tak percaya Derek dan Anisa masuk bersama MARCUS!)
...Ini bencana....
Paman Kevin dan Bibi Alice melambaikan tangan dan memanggil Dad. Paman Kevin tampak sangat puas akan dirinya sendiri. Dad menceritakan kejadian tadi dan bagaimana kami tak bisa masuk sekarang dengan tiket-tiketnya yang berantakan. Paman Kevin berkomentar, "KEBIASAANMU" yang membuat Dad marah. Paman Kevin (sebagai seorang sales) telah menjual tiket mereka dengan harga tiga kali lipat dari harga awal. Dia sangat senang dan mereka akan makan malam, bukannya menonton konser.
(Kupikir sepupu-sepupuku lebih suka menonton bandnya.)
Bagus sekali, ini akan berubah menjadi mimpi buruk. Aku TIDAK AKAN PERNAH menonton band favoritku sekarang.
Dad melihat aku BENAR-BENAR gundah.
"Tetaplah di sini, jangan ke mana-mana," kata Dad. "Aku akan membelikan tiket lagi, jangan khawatir, Ardi."
Aku SANGAT menderita.
Aku duduk di lantai dan terlihat sangat muram. Konser akan segera di mulai dan kami tidak punya kesempatan untuk melihat mereka sama sekali.
Kemudian, aku mendapatkan ide
Itu hanya mencoba-coba, tapi TIDAK ADA ruginya.
...----------------...
Kyak apa hiteris y tuh ank" lihat peliharaan Ardi 👀👀
pengen cepat pulang 😂😂😂